Single Mamy

Single Mamy
Mantu idaman


__ADS_3

Siren berjalan dan masuk ke dalam kamar Dini. Wanita itu merasa sangat terluka setiap kali melihat Andini menjatuhkan air matanya karna ulah papanya sendiri.


Siren mendekat ke arah Dini sambil membawa anak kecil itu dalam dekapannya. "Kenapa sih ma papa seperti tidak pernah sayang sama Dini. Memangnya Dini bukan anak kandung papa ya?" Tanya Andini yang terdengar begitu pilu


Walaupun usia Dini masih sangat kecil. Tapi Dini sudah bisa memahami apapun yang dia dengar. Terlebih lagi spa yang di katakan David sudah benar-benar melukai batinnya.


Mendengar pertanyaan anaknya membuat Siren memejamkan kedua matanya yang sudah mulai terasa panas. Namun sebisa mungkin Siren tidak menjatuhkan air mata itu di depan Dini.


"Siapa bilang Dini bukan anaknya papa. Dini itu anak kandung papa dan mama. Mama harap Dini jangan pernah mendengarkan apapun yang papa katakan ya nak, Dini tau sendiri kan bagaimana sifat papa, Dia memang dingin, Tapi papa sayang kok sama Dini. Hanya saja papa lagi ada meeting penting hari ini, Makanya gak bisa ikut antar Dini sekolah" Ucap Siren lembut pada anaknya


"Tapi ma. Kenapa papa selalu saja sibuk. papa tidak pernah memiliki waktu sedikitpun bersama Dini, Dini juga ingin merasakan apa yang di rasakan teman-teman Dini ma" Ucap Dini yang semakin terisak dalam dekapan Siren


"Papa kerja kan juga buat Dini sayang. Dini harus bisa mengerti papa ya. Yasudah lebih baik sekarang Dini berangkat sekolah ya. Mama sudah siapkan bekal buat Dini di sekolah"


"Iya ma"


Sejahat-jahatnya seseorang. Dia pasti ingin menjadi sosok yang baik untuk anaknya. Seperti halnya Siren. Biarpun terkadang dia suka punya niat tidak baik, Tapi Siren selalu ingin melihat anaknya tersenyum. sekalipun dia harus terlihat tak berharga di depan David. Demi Dini Siren akan melakukan segala cara agar pria itu mau memberikan kasih sayangnya kepada Dini.


"Mama janji Dini. Mama akan membuat papa menyayangi kamu, apapun akan mama lakukan. Sekalipun itu harus menyakiti mama sendiri" Siren bermonolog dalam batinnya sambil menatap Dini.


Siren sudah memikirkan matang-matang atas apa yang sudah David katakan beberapa tahun yang lalu. Demi Dini Siren mau melepaskan David, Meskipun harus merasakan sakit. Setidaknya Dini bisa merasakan seperti apa kasih sayang dari seorang ayah.


"Dini masuk ke dalam mobil dulu ya, Mama mau bicara sebentar sama papa" Ucap Siren pada Dini


"Iya ma"


Setelah kepergian Dini. Siren masuk kedalam ruangan kerja David. Karna memang sudah biasa sebelum berangkat kekantor David selalu menyelesaikan semua pekerjaannya di ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Mas aku mau bicara" Ucap Siren yang langsung masuk ke dalam ruangan David


"Mau bicara soal apa?" Jawabnya dingin tanpa menoleh ke arah Siren


"Ini soal surat perjanjian yang kamu tunjukkan beberapa bulan yang lalu"


Mendengar itu membuat David langsung menoleh ke arah Siren yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.


"Ada apa? Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu" Ucap David masih dengan nada yang sama


"Aku menyerah mas. Aku mau melepaskan mu asal kamu bisa menyayangi Dini seperti dia menyayangi kamu"


Perkataan Siren berhasil membuat David mengangkat kedua sudut bibirnya. "Bagus. Kenapa barus sekarang kamu kepikiran untuk melepaskan ku. Kamu tenang saja, Kamu akan tetap mendapatkan harta gono gini setelah perpisahan kita" Ucap David yang terlihat begitu bahagia dengan apa yang Siren katakan.


Setelah mendapatkan semua harta kekayaan kedua orang tuanya. David memang langsung membuat surat perjanjian untuk Siren. Saat itu David meminta Siren untuk menggugat cerai David, Tapi karna Siren begitu mencintainya membuat Siren langsung menolak saat itu juga.


Dalam surat itu tertulis. Jika Siren mau berpisah dengan David. Maka David akan menyayangi Dini dan akan membuatnya merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah Dini dapatkan.


"Kenapa kamu baru mengambil keputusan sekarang sayang. Jangan lupa langsung ajukan gugat cerai ke pengadilan agama. Aku janji akan memberikan kamu harta gono gini"


"Iya" Ucap Siren dan langsung pergi dari ruangan David dengan membawa seribu luka


Terkadang rasa sakit hati Siren yang membuatnya terus-menerus membenci Emilia. padahal jauh di lubuk hatinya. Siren sebenarnya begitu menyayangi Emilia. Dia hanya saja suka iri karna terkadang Siren tidak nampak saat di bandingkan dengan Emilia yang berkilau. Emilia yang begitu sempurna.


"Kenapa dunia harus tidak adil untukku. Aku juga ingin merasakan bagaimana menjadi kak Emil. Di sayang, dimanja, di bangga-banggakan" Ucap Siren dalam batinnya


"Maafkan aku kak. Maafkan keegoisanku yang sudah membuat papa mengusirmu dari rumah. Sekarang aku baru sadar, Ternyata semakin aku berusaha merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu, Aku jadi semakin ingin yang lebih" Batin Siren lagi

__ADS_1


"Mama" Suara itu berhasil menyadarkan Siren yang hampir saja mengingat tentang masalalu saat bersama Emilia. Masa lalu dimana mereka berdua masih begitu menikmati hidup yang sangat bahagia. Entah kenapa tiba-tiba saja Siren jadi merindukan masa-masa itu.


Di Bogor


Setelah mengantarkan Nathan sekolah. Emilia langsung ke butiknya Widi. Wanita itu sudah membuat janji temu dengan calon mertuanya. Hari ini Liana datang menemui Emilia untuk membahas soal dekorasi pernikahannya dengan William.


"Selamat pagi ma, Mama sudah nunggu Emil lama ya? Maaf ya ma tadi Emil masih nganter Nathan sekolah" Ucap Emilia sambil mencium lembut tangan Liana


"Tidak kok sayang. Mama juga baru saja sampai" Ucap Liana lembut


"Apa kamu sudah punya pandangan seperti apa dekorasi yang kamu inginkan nak? Ini kebetulan mama sudah membawa IO yang akan membantu memenuhi seperti apa keinginan kamu" Ucap Liana sambil melirik ke arah IO yang sudah dia bawa.


"Kalau Emil pengennya dekorasi yang sederhana tapi elegan gitu ma. Nanti acara ijab qabulnya Emil pengennya di out dor aja ma. Kan ijab qabulnya jam 8 pagi, Jadinya tidak akan panas biarpun diadakan diluar ruangan"


"Oke, saya sudah mencatat apa yang mbk Emil mau. Lalu untuk variasi bunganya mau seperti apa mbk?"


"Kalau masalah bunga, Kayaknya lebih bagus full warna putih deh mbk. Lebih elegan gitu. Iya kan ma"


"Iya sayang. Kalau putih kayak lebih sakral gitu ya" Timpal Liana


"Saya mengerti seperti apa yang mbk Emil mau. Ternyata selera mbk Emil benar-benar elegan dan berkelas ya" Puji IO itu


"Mbk ini bisa aja deh"


Setelah itu, Liana juga IO itu pamit pada Emil. Karna Liana masih harus mengantar IO untuk menyurvei lokasi yang akan di jadikan tempat acara. Acaranya akan di gelar di puncak. Tepatnya di Villa BAGASKARA


"Mama pamit dulu ya sayang. 2 hari lagi orang suruhan mama akan datang menjemput kamu. Kamu harus melakukan perawatan total sebelum acara. Biar nanti anak mama benar klepek-klepek saat liat bagaimana cantiknya kamu" Ucap Liana lembut

__ADS_1


"Mama bisa saja. Emilia nurut apapun kata mama"


"Benar-benar mantu idaman" Ucap Liana lagi


__ADS_2