
"Mama bisa saja. Emil menurut apapun yang mama katakan" Ucap Emilia pada Liana
"Benar-benar mantu idaman" Ucap Liana sambil memeluk Emilia dengan penuh sayang.
Setelah memutuskan untuk menjadikan Emilia sebagai menantu, Liana memang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Terlebih lagi dia yang hanya memiliki 1 anak. Liana memang begitu menginginkan memiliki anak perempuan, Sehingga saat bertemu dengan Emilia langsung menganggapnya sebagai anak perempuan yang selama ini Liana harapkan.
"Em, Kamu beruntung sekali ya Em. Mama mertua kamu begitu menyayangimu. Sudah terlihat dari cara dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Aku bisa melihat ada rasa sayang yang begitu besar" Ucap Widi pada Emilia
"Iya kak, Aku bersyukur banget bisa di pertemukan dengan mama Liana. Setidaknya aku bisa merasakan kasih sayang layaknya kasih sayang dari seorang mama. Emilia merindukan mama dan papa kak" Ucap Emilia sendu saat mengingat kedua orang tuanya
"Apa kamu tidak mau memberitahukan tentang pernikahanmu pada mereka berdua Em. Biar bagaimana pun. Mama dan papa kamu berhak menjadi saksi pada acara sakral anak mereka Em" Ucap Widi lagi
"Entahlah kak. Aku masih tidak yakin jika mama dan papa mau mendampingi hari spesial aku. Buktinya mereka tidak pernah berusaha untuk meminta aku kembali" Ucap Emilia lagi
"Siapa tau saja kedua orang tua kamu sebenarnya selama ini mencari kamu Em. Tapi mereka kesulitan karna kamu saja sudah pindah kesini sejak 5 tahun yang lalu"
"Entahlah kak. Sebenarnya aku masih ingat jelas nomor ponsel papa, Tapi aku masih belum sanggup mendengar suara kecewa itu kak. Aku sudah membuat suatu kesalahan yang sangat besar. Aku masih sanggup mendengar suara kecewa papa kak" Ucap Emilia yang terdengar begitu pilu
"Baiklah. Kakak tidak bisa memaksa kamu untuk menghubungi kedua orang tuamu Em" Ucap Widi dan langsung berlalu dari hadapan Emilia.
Setelah itu. Emilia masuk ke dalam ruangannya. Emilia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Kali ini Emilia memiliki sebuah pesanan dari istri wali kota bogor. Satu kehormatan bagi Emilia mendapatkan orderan Design dari orang terhormat.
"Kamu belum selesai mendesign pesanannya ibu Wila ya Em?" Tanya Widi dari meja kerjanya sendiri
"Belum kak, Masih kurang sedikit lagi. Aku harus selesai kan ini besok. Karna lusa aku sudah di minta mama untuk mulai perawatan total dengan salon langganannya"
"Semangat Emil. Kamu pasti bisa. Jangan buat bu Wila kecewa, Ayo semangat" Ucap Widi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Iya kak. Oh iya kak, Hari ini kak Widi sedang ada meeting di luar kan?"
"Iya Em. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Aku boleh minta tolong gak kak. Nanti setelah pulang meeting, Kakak tolong jemput kan Nathan ya. Aku hari ini benar-benar sibuk"
"Oke. Kalau hanya soal Nathan, Kamu bisa serahkan pada kakak"
"Kak Widi emang yang terbaik" Ucap Emilia lagi
Tak lama kemudian. Ponsel Emilia berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Awalnya Emilia tidak menghiraukan ponselnya. Namun karna tidak berhenti berbunyi hingga akhirnya Emilia memutuskan untuk menjawab telpon itu.
π:Halo selamat pagi. Dengan Emilia berlianti disini. Ada yang bisa saya bantu?
π:Kak Emil
Ucap seseorang di ujung telpon dengan suara lirih. Mendengar suara yang tidak asing pada indra pendengarannya membuat Emilia terdiam sambil mencoba mengingat suara siapa yang baru saja dia dengar.
π:Kak Emil maafkan aku
Tut....tut..tut...
Emilia langsung memutuskan sambungan telponnya setelah dia mengingat jika yang sudah menghubunginya adalah Siren. Entah kenapa Emilia merasa masih belum siap untuk berhubungan lagi dengan keluarganya. Terlebih lagi dengan Siren yang sudah membuat hidupnya berantakan.
Semua bayangan masa lalunya langsung terlintas jelas pada ingatan Emilia. Bayangan di mana Siren yang berusaha menuangkan bensin pada api yang sedang berkobar.
Emilia memejamkan kedua matanya yang terasa begitu panas. Dadanya mulai terasa sesak saat mengingat kejadian 5 tahun yang lalu. Sehingga butiran bening itu mulai jatuh dengan sendirinya.
Di jakarta
Setelah mendengar sambungan telpon terputus. Siren menatap ponselnya dengan penuh air mata. Wanita itu sudah mulai merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan di masa lalu.
"Maafkan aku kak Emil. Aku benar-benar menyesal sudah melakukan semua itu kak" Ucap Siren di sela isak tangisnya
"Aku menyesal sudah membuat hubungan kita jadi sangat jauh seperti ini. Aku merindukan kak Emil yang dulu" Ucap Siren lagi
__ADS_1
Siren membuka galeri di layar ponselnya dan melihat sebuah foto dirinya dan Emilia saat masih berumur 9 tahun. Sedangkan Emilia berumur 11 tahun.
Siren masih mengingat jelas saat dimana Emilia berkorban untuk menyelamatkan Siren dari kecelakaan waktu itu. Sebuah kecelakaan yang membuat Emilia kehilangan banyak darah.
"Kenapa harus ada rasa iri dari hati aku kak, Kenapa. Seandainya aku tidak pernah merasa iri pada kak Emil. Mungkin saat ini kita masih bisa merasakan kebahagiaan yang dulu aku rasakan. Kenapa rasa iri itu harus tumbuh dari hati aku kak!" Ucap Siren lagi sambil terus memandang fotonya bersama Emilia.
"Sekarang aku bukan hanya kehilangan kak Emil. Tapi aku juga kehilangan kasih sayang papa Wira" Ucap Siren lagi
Sejak dulu. Biar pun kasih sayang Wira tidak sebesar kasih sayangnya pada Emilia. Namun pria paruh baya itu selalu berusaha berlaku adil pada Siren. Biarpun terkadang Siren sering salah mengartikan maksud Wira saat sedang memarahinya dan membandingkan dirinya dengan Emilia.
Sebenarnya Wira tidak ada maksud apa-apa. Pria paruh baya itu hanya ingin Siren mencontoh Emilia yang memiliki nilai positif dan gampang di atur.
β’
β’
"Bagas. Tolong kamu sebarkan undangan ini pada semua karyawan" Ucap William pada Bagas
"Baik tuan muda. Lalu bagaimana dengan teman-teman tuan. Apa saya juga yang akan mengantarkan pada mereka?" Tanya Bagas sopan
"Tidak perlu. Kamu hanya harus membagikan pada semua karyawan BAGASKARA GROUP. kalau soal yang lain biar menjadi urusan saya"
"Baiklah tuan muda. Kalau begitu saya permisi"
Setelah kepergian Bagas. William mengambil ponselnya dari saku jaketnya. Saat ini William sudah bersiap untuk menjadi Driver ojol. Entah kenapa pria itu masih begitu menikmati profesi itu.
Tak butuh waktu lama. Orang yang William telpon yang menjawab saat itu juga.
π:Iya halo Wil. Kenapa, ada apa? Tumben nih telpon pagi-pagi
π:Bagaimana kabar lo Dam. baik-baik saja kan? Gue hanya mau memberitahukan kabar bahagia sih
__ADS_1
π:Gue baik kok Wil. Mau memberitahukan kabar gembira apa nih?
π: 6 Hari lagi gue mau nikah. Lo harus datang dan menjadi saksi acara penting gue ya Dam