
Kamu tidak perlu memikirkannya. Aku bisa membesarkan dia sendiri. Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak kita" Ucap Kumala dan langsung berlalu dari hadapan Danu
Perkataan Kumala seakan menampar hati Danu. Memang tidak bisa di pungkiri jika Danu begitu merindukan Kanaya dan juga Salsa. Tapi Danu juga mencintai Kumala serta anak dalam kandungannya.
Kumala keluar dari ruangan Danu dengan membawa sejuta luka. Rasa sakit karna ternyata Kumala juga sudah mencintai Danu. Cinta yang seharusnya tidak boleh ada itu akhirnya muncul dalam hati Kumala setelah dia mengandung anak dari Danu.
Setelah keluar dari ruangan Danu. Ternyata Kumala tidak langsung keluar dari perusahaannya. Wanita itu masih masuk kedalam kamar mandi untuk menumpahkan air mata yang sudah sejak tadi dia bendung dan dia tahan.
Saat sudah tiba di dalam kamar mandi, Tangis Kumala benar-benar pecah. Menyesali perasaan yang mulai tumbuh dalam hatinya. Menyesali apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Danu sehingga membuatnya harus mengandung anak dari pria yang sudah berhasil mengambil cintanya.
"Kenapa rasanya sesakit ini. Bahkan aku merasakan sakit saat Danu belum kembali pada istrinya. Bagaimana jika hari itu datang. Apa aku benar-benar kuat untuk melepaskannya" Ucap Kumala di sela isak tangisnya
Sedangkan Danu, Setelah kepergian Kumala, Pria itu mengusap dada kirinya yang terasa berdenyut nyeri. Entah kenapa Danu merasa dadanya sesak saat teringat akan perkataan Kumala. Tanpa sadar satu butir air matanya berhasil lolos begitu saja.
"Apa aku egois jika aku menginginkan kalian berdua" Ucapnya sangat lirih
"Tapi bagaimana jika hari itu datang. Bagaimana caranya aku pergi meninggalkan kamu Kumala. Apa aku sanggup meninggalkan kalian berdua. Terimakasih sudah menjadi istri yang sangat baik untuk ku selama satu tahun ini"
"Aku tau, Pernikahan kita berawal dari sebuah sandiwara. Tapi tidak bisa aku pungkiri, Rasa ini sudah benar-benar dalam" Pekik Danu lagi sambil menatap makanan yang baru saja Kumala antarkan untuknya.
Danu menatap masakan Kumala. Masakan yang sudah menjadi makanan favorit untuknya selama satu tahun ini. "Suatu saat nanti aku akan merindukan masakan kamu ini Kumala" Ucapnya sambil menikmati makanannya
Di Tempat Lain
"Wil aku bosen di sini teru" Ujar Emilia pada William dengan wajah yang terlihat sangat sendu.
Siapapun akan merasa bosan jika seharian harus di kurung di dalam kamar"Mau jalan-jalan?" Tawar William lembut sambil menatap wajah Emilia
Mendengar perkataan William membuat Emilia mengangkat wajahnya dengan kedua sudut bibir yang terangkat."Mau mau"Jawab Emilia cepat
William mengambil kursi roda untuk membawa Emilia jalan-jalan. Pria itu menggendong Emilia tubuh Emilia dan mendudukkannya di kursi roda.
"Kita ke taman mau gak sayang?" Tanya William lembut pada Emilia
"Iya mau ayang Willi."Jawabnya sambil menoleh ke arah William
__ADS_1
Saat ini Willi sudah mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan Emilia. Sesekali mereka bercanda tawa di sepanjang koridor. Seperti muda mudi yang sedang kasmaran.
Senyum merekah terukir jelas dari bibir keduanya. "Sayang, Bagaimana kalau hari ini kita pacaran" Ucap William sambil terus mendorong kursi roda Emilia
"Sepertinya itu menyenangkan. Bukan kah selama ini kita belum tau bagaimana pacaran. Sepertinya pacaran setelah menikah itu menyenangkan" Ucap Emilia setuju
William terus mendorong kursi roda itu dengan penuh rasa sayang. Akhirnya William bisa merasakan hal manis dalam pernikahannya. Pacaran dengan istri sendiri. Benar-benar lucu.
Tanpa sadar William terus mengangkat kedua sudut bibirnya. Berpacaran dengan wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Emilia yang menyadari raut wajah William menoleh ke arah pria itu"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu Ayang Wil?" Tanya Emilia pada William
"Kalau orang senyum itu artinya apa sayang"
"Bahagia" Jawab William sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya
"Nah itu kamu tau sayang. Saat ini aku merasa benar-benar bahagia. Kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku bahagia akhirnya takdir menyatukan kita dengan caranya sendiri. Memang benar apa yang di katakan pepatah. Ikuti alurnya, Maka kamu akan merasakan happy ending dari alur ceritamu. Seperti dalam sebuah drama korea sayang"
Perkataan William langsung berhasil membuat Emilia terkekeh. William ini ada-ada saja. "Kamu ini ada ada saja deh Wil. Mana ada pepatah seperti itu" Ucap Emilia sambil menutup mulutnya
"Loh ini bener loh sayang. Aku tidak mengada-ngada" Ujar William yang mencoba meyakinkan Emilia
"Kata aku sendiri. Wkwkwkw"
"Dasar kamu ini ya"
Setelah tiba di taman, William duduk di kursi panjang sambil menghadapkan Emilia padanya."Kamu mau sesuatu sayang?" Tawarnya
"Aku pengen eskrim Wil. Cuaca seperti ini cocok kayaknya makan eskrim
"Sebentar ya sayang, Aku belikan dulu"
Emilia hanya mengangguk. Setelah kepergian William, Emilia menatap sekeliling taman yang terlihat cukup banyak orang-orang yang berlalu lalang.
Tanpa sengaja netranya melihat seorang anak kecil yang sedang duduk sendiri tak jauh dari tempat Emilia. Melihat anak itu membuat Emilia melajukan kursi rodanya pada anak itu.
__ADS_1
"Hai adek" Sapa Emilia pada anak itu
"Kakak. Kakak siapa?"
"Nama kakak Emilia, Nama kamu siapa?"
"Nama aku Berlin kak." Jawabnya sambil menatap Emilia
Emilia menatap wajah anak itu yang terlihat sangat pucat. "Kamu sakit apa dek?" Tanya Emilia penasaran saat menatap raut wajahnya Berlin
"Aku sakit kanker stadium akhir kak. Kalau kakak sakit apa?"
"Kakak habis tertembak. Tapi sudah tidak apa-apa. Orang tua kamu di mana?"
Perkataan Emilia membuat anak yang bernama Berlin terdiam. Anak itu menundukkan wajahnya "Aku yatim piatu kak. Kedua orang tuaku sudah meninggal" Ucapnya yang terdengar sangat lirih
"Inalillahi. Lalu kamu sekarang tinggal di mana?"
Entah kenapa melihat anak ini membuat Emilia banyak tanya. Ada rasa simpati dari dalam hatinya.
"Aku tinggal di panti kak."
Di saat Emilia masih mau bertanya lagi, Tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya datang menghampiri Berlin. "Maaf ya kak, Aku masuk dulu. Sudah waktunya kemo"
"Iya, Semangat ya. Semoga cepat sembuh"
William yang sudah kembali mengerutkan keningnya saat tidak mendapati Emilia di sana. Sedetik kemudian netranya melihat Emilia yang saat ini sedang menatap seseorang yang tidak William tau.
"Sayang, Kok kamu disini?" Tanya William setelah tiba di tempat Emilia
"Kamu sudah kembali Wil. Mana eskrim nya?"
William membawa Emilia kembali ke tempat duduk yang tadi. Pria itu membukakan eskrim rasa coklat milik Emilia.
"Ini sayang" Ucapnya sambil memberikan eskrim rasa coklat itu
__ADS_1
William menatap Emilia yang menikmati eskrim itu tanpa banyak bicara. Bayangan wajah pucat Berlin berhasil mengganggu pikirannya"Kasian anak itu. Masih sangat kecil tapi sudah menderita penyakit seperti itu. terlebih lagi dia sudah kehilangan kedua orang tuanya. Aku baru sadar, Ternyata di luaran memang banyak orang yang memiliki ujian lebih berat dari pada aku" Emilia bermonolog dalam batinnya
"Intinya memang harus bersyukur. Karna bersyukur itu perlu" Batinnya lagi