Single Mamy

Single Mamy
Ajakan konyol William


__ADS_3

Setelah sambungan telponnya terputus, Emilia mengajak William untuk mengantarkan nya pulang ke rumah Widi. Saat mendengar jika Nathan sudah ada di rumah dan sedang tidur, Perasaan Emilia menjadi sangat tenang saat itu juga.


"Apa katanya Widi Em?" Tanya William yang memang belum mengetahui apa kata Widi.


"Nathan sudah di rumah. Ayo cepat antar aku pulang" Ucap Emilia sambil berjalan cepat keluar dari sekolah itu


"Benarkah. Apa yang aku bilang Em, Anak kita pasti baik-baik saja" Ucap William


William melajukan motornya menuju kediaman Widi. Namun di saat sudah setengah jalan, Tiba-tiba hujan turun dan langsung besar saat itu juga.


"Aduh Em. Kok malah hujan. Kita berteduh dulu ya" Ucap William pada Emilia.


"Tidak perlu, Kita lanjut saja Wil"


"Ayolah Em. Ini hujan nya sangat deras, Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit. kita berteduh dulu sebentar ya, Setidaknya sampai hujannya sedikit reda. Memangnya kamu mau Nathan khawatir karna kamu sakit"


"Aku ingin segera bertemu Nathan Wil. Aku tidak perduli jika pun harus basah-basahan seperti ini" Ucap Emilia yang masih kekeh tidak mau berteduh.


Akhirnya dengan berat hati William terus melajukan motornya di bawah hujan yang semakin deras. hingga setengah jam kemudian, Hujan itu bukan nya reda malah semakin besar.


William bisa merasakan jika tubuh Emilia sudah semakin dingin.


"Ayolah Em. Kita berteduh dulu ya, Ini hujan nya semakin lebat. Jika di paksakan hingga ke rumah kak Widi, Nanti yang ada kami nyampe sana sakit Em" Ucap William lagi yang mencoba membujuk Emilia yang sedang keras kepal.


"Baiklah" Jawab Emilia setelah mendengar perkataan William.


Akhirnya William Mendengar jika Emilia mau di ajak berteduh. William menepikan motornya di sebuah Halte. Pria itu turun sambil membawa Emilia dan duduk di halte itu.


William memperhatikan wajah Emilia yang terlihat sedang menahan rasa dingin. Bibir nya sudah mulai biru, Serta badan nya juga gemetar.


"Astaga Em. Kamu kedinginan" Ucap William sambil membuka jaket nya lalu dia pakai kan pada Emilia.


Setelah itu, William menggenggam kedua tangan Emilia untuk membantunya mengurangi rasa dingin yang saat ini sedang Emilia rasakan.


"Em, Biarkan aku memeluk mu ya" Ucap William sambil mendekat ke arah Emilia dan bersiap memeluk wanita itu.


"Jangan Wil. Aku tidak mau ada yang salah paham. Ini tempat umum. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat kamu memeluk ku" Ucap Emilia sambil memeluk tubuhnya sendiri


"Tapi Em. Ini kan keadaannya berbeda. Kamu sedang kedinginan. Tidak akan ada yang melihat kita Em. Ini hujannya sangat deras" Ucap William lagi

__ADS_1


"T...terserah kamu saja Wil" Ucap Emilia gemetar


William membawa Emilia dalam dekapannya. Ini pertama kalinya William bisa bersama dengan Emilia hanya berdua.


Tak lama kemudian, Emilia yang sudah merasa sedikit hangat memejamkan kedua matanya. Karna hujan semakin besar dan tidak memungkin kan mereka berdua untuk kembali melanjutkan perjalanannya.


William menatap raut wajah Emilia yang sudah terlelap damai dalam tidurnya. Wajah itu ternyata sama sekali tidak ada perubahan. Masih sama seperti wajah yang William lihat 5 tahun yang lalu.


"Seandainya kita bisa bersama Em, Mungkin aku akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini"


"Kenapa waktu itu takdir harus mempertemukan kita dan menghadirkan Nathan di antara kita, Jika akhirnya aku tidak bisa memiliki kalian berdua" Gumam William sambil membelai lembut rambut Emilia


"Bertahun-tahun aku mencari kalian berdua, Aku berharap bisa bertemu dengan kalian dan kita bisa hidup bersama dalam satu ikatan keluarga"


"Tapi kenapa takdir harus berkata lain. Bagaimana bisa aku membuang perasan yang selama ini aku jaga untuk kamu Em. Apakah aku bisa mencintai calon istriku, Jika yang ada dalam pikiran ku hanyalah kamu"


"Hanya kamu satu-satu nya wanita yang ingin aku halalkan Em. Apa aku salah jika terus mengharapkan kita menjadi sepasang suami istri dan membesarkan Nathan bersama-sama" Ucap William pada Emilia yang begitu lelap dan damai dalam tidurnya


"Kamu masih menjadi wanita yang paling aku harapkan. kamu segalanya Emili" Ucap William lagi yang terdengar begitu pilu


"Apakah setelah ini aku tidak bisa lagi menatap mu Em. apa kita benar-benar harus saling melupakan? Apakah semua mimpi yang aku miliki harus aku buang?"


William mengira jika Emilia benar-benar tertidur. Padahal sebenarnya wanita itu hanya memejamkan kedua matanya. Emilia bisa mendengar jelas apa yang saat ini sedang William utarakan. Sebuah perasaan yang tidak pernah sampai!


Mendengar semua perkataan William, Membuat Emilia semakin enggan untuk membuka matanya. Rasanya begitu sakit saat mendengar semua ucapan itu.


Bukan hanya William yang menginginkan sebuah kebersamaan. Emilia pun menginginkan hal yang sama.


"Maafkan aku Wil. Aku juga sebenarnya sudah mulai mencintaimu. Entah kenapa semudah itu rasa ini tumbuh. Kamu juga sudah berhasil menjadi pemilik hati ini"Ucap Emilia dalam batinnya.


Emilia merasa dadanya begitu sesak saat mengingat bagaimana takdir mempertemukan dirinya dengan sosok William.


Namun, Dengan sangat Emilia menahan agar butiran bening itu tidak jatuh saat ini. Emilia masih bisa merasakan belayan lembut William pada rambutnya. Kemudian ada tetesan air mata yang jatuh tepat di pipi Emilia.


Merasakan itu membuat Emilia membuka kedua matanya."Kamu nangis Wil?" Tanya Emilia saat merasakan ada butiran bening jatuh tepat di pipi kanannya


"Em, Kamu sudah bangun" Ucap William sambil mengusap kedua matanya yang sudah mulai basah


"Wil aku tanya, Kamu nangis?" Tanya Emilia lagi sambil menatap kedua sorot mata William yang terlihat merah.

__ADS_1


"Tidak, Ini tadi hanya kelilipan saja" Jawabnya berbohong


"Jangan berbohong Wil. Aku mendengar semua yang sudah kamu katakan" Ucap Emilia lagi sambil terus menatap dalam William


"A...aku"


Melihat William seperti itu membuat Emilia memeluknya erat, "Bukan hanya kamu yang menginginkan kebersamaan kita Wil. Aku juga memiliki harapan yang sama. Karna tak bisa aku bohongi, semudah itu aku mencintaimu" Ujar Emilia sambil menjatuhkan air mata yang sejak tadi Emilia tahan.


Mendengar itu membuat William ikut memeluk erat Emilia. Ini pertama kalinya William mendengar jika Emilia juga mencintainya. "Bagaimana kalau kita kawin lari Em?" Ucap William yang langsung membuat Emilia melepaskan pelukannya


"Jangan gila kamu Wil. Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?"


"Aku sangat sadar Em, Bahkan lebih dari kata sadar"


"Jangan Wil. Hargai calon pasangan kita masing-masing. Bagaimana nanti jika kita sampai hilang saat acara. Kamu tidak mungkin kan mengecewakan kedua orang tua kamu"


"Iya Em" Ucap William begitu lirih


Tanpa mereka sadari, Ternyata hujan sudah reda entah sejak kapan. Tapi yang pasti saat ini Emilia dan William bisa melihat orang yang sudah berlalu lalang.


"Hujan nya sudah reda Wil. Sebaiknya kita pulang sekarang. Aku ingin segera bertemu dengan Nathan" Ucap Emilia dan langsung bangun dari duduknya.


William melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Karna biasanya habis hujan akan membuat jalanan licin. Di sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan antara mereka berdua. Emilia memilih bungkam setelah mendengar ajakan konyol William.


40 Menit kemudian, Mereka sudah tiba di rumah Widi. Dan tak lama Nathan keluar serta langsung memeluk Emilia


"Mami. Akhirnya mami pulang juga" Ucap Nathan sambil mencium kedua pipi Emilia


"Nathan sayang. Apa Nathan tau bagaimana paniknya mami saat mendengar Nathan tidak ada di sekolah"


"Maafkan Nathan ya mi" Ucap Nathan pelan


"Iya. Tapi mami penasaran siapa yang sudah mengantar mu pulang"


"Oooh, Yang sudah mengantarku pulang adalah om Dafi"


Mendengar perkataan Nathan membuat Emilia serta William mengerutkan keningnya."Om Dafi! Siapa dia Nathan?"


"Om Dafi adalah"

__ADS_1


Siapakah sosok om Dafi?


__ADS_2