
William terus menatap wajah Kanaya. Begitu juga dengan Kanaya yang saat ini juga sedang menatapnya. Kanaya menatap William tanpa mau berkedip sedetikpun. Kedua matanya memicing saat melihat keberadaan Emilia dan juga anak laki-laki di sana.
"Danu, Dia bersama dengan istri barunya" Ucap Kanaya dalam batinnya
Di saat Kanaya masih terus menatap William dan Emilia. Tiba-tiba saja lampu sudah berubah jadi hijau. Melihat itu, Kanaya langsung melajukan mobilnya karna kendaraan di belakangnya sudah pada klakson.
Di sepanjang perjalanan. Kanaya tidak bisa fokus mengemudi. Sampai-sampai dia hampir saja menabrak kendaraan yang ada di depannya. Beruntung karna Salsa melihat dan langsung menyadarkan sang mama yang masih terlihat tidak fokus.
"Mama awas" Teriak Salsa saat mobil yang Kanaya bawa hampir saja menabrak penjual di depan mereka
Mendengar teriakan Salsa, Seketika membuat Kanaya tersadar. Wanita itu segera menghentikan laju mobilnya dengan menginjak pedal rem.
"Mama. Mama kenapa kok kayak tidak fokus seperti itu?" Tanya Salsa pada mamanya
Kanaya mengambil nafas berat. Karna dia yang tidak fokus hampir saja membuat anak dan juga dirinya celaka. "Astagfirullah. Maaf ya Salsa. Maafkan mama yang tidak fokus tadi" Ujar Kanaya sambil membawa Salsa dalam dekapannya
Salsa menatap wajah sang mama"Mama mikirin apa ma. Kenapa mama sampai tidak fokus seperti itu?" Tanya Salsa penasaran
Belum sempat Kanaya menjawab pertanyaan Salsa, Pintu kaca mobil Kanaya ada yang mengetuk. Mendengar suara ketukan membuat Kanaya melepaskan pelukan Salsa.
Tok...tok...tok..
"Buka kaca spionnya" Ucap orang itu
Kanaya sudah bisa menebak apa yang membuat orang itu mengetuk kaca mobilnya. Itu pasti karna apa yang hampir saja Kanaya lakukan. Beruntung Salsa menyadari itu.
Kanaya keluar dari dalam mobilnya"Maaf ya pak, Saya tidak sengaja. Saya tadi sedang tidak fokus" Ujar Kanaya pada pria itu
"Lain kali hati-hati mbk. Karna anda hampir saja mencelakai orang lain. Jangan mentang-mentang anda naik mobil. Saya sarankan, Jika sedang banyak pikiran jangan bawa mobil. Karna itu bahaya" Ujar pria itu pada Kanaya
Kanya mengangguk"Iya pak, Saya paham dan saya mengaku salah. Sekali lagi saya minta maaf ya pak. Saya memang sedang banyak pikiran. Maafkan saya" Ujar Kanaya sambil menundukkan wajahnya
Setelah kepergian orang tadi, Kanaya kembali masuk ke dalam mobilnya. Sejenak Kanaya memejamkan kedua matanya sambil mengambil nafas panjang.
Apa yang baru saja dia liat sudah membuatnya kehilangan fokus dan membuatnya hampir mencelakai orang lain.
"Mama gak papa kan ma?" Tanya Salsa sambil menatap Kanaya
"Maaf ya sayang. Mama memang sedang banyak pikiran"
"Memangnya apa yang sedang mama pikirkan?" Tanya Salsa sambil terus menatap mamanya
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Salsa membuat Kanaya membalas tatapan mata bulat anaknya"Ini masalah orang sayang. Sekalipun mama mau cerita sama Salsa, Salsa tidak akan mengerti" Jawabnya sambil mencium kening Salsa
"Kenapa sih ma. Urusan orang dewasa itu sangat repot. Salsa tidak paham"
"Salsa memang tidak akan mengerti nak. Tapi suatu saat nanti kalau Salsa sudah dewasa, Salsa akan paham. Kita jalan lagi ya sayang"
Sedangkan William. Pria itu mengemudikan mobilnya sambil terus teringat akan wajah seseorang yang dia lihat tadi. "Wanita itu, kenapa tadi dia menatap aku seperti itu. Dari kedua matanya aku seperti melihat ada luka di sana. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa foto pria yang aku liat kemarin begitu mirip dengan ku" Ujar William dalam batinnya
"Kamu kenapa Wil. Kenapa terlihat gelisah seperti itu?" Tanya Emilia pada William yang memang terlihat sedikit gelisah karna memikirkan sosok wanita yang baru saja dia lihat saat di lampu merah.
Mendengar pertanyaan Emilia membuat William Menoleh sekilas. Pria itu baru sadar jika saat ini dia sedang mengemudi.
"Astaga. Kenapa aku jadi tidak fokus karna wanita itu. Fokus Wil, Fokus" Ucap William dalam batinnya.
"Wil. Are you oke?" Tanya Emilia lagi
"Iya sayang. Aku baik-baik saja kok." Ujar William sambil menoleh sekilas pada Emilia
"Beneran. Gak ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku kan Wil?" Tanya Emilia lagi
"Nggak kok sayang. Memangnya apa yang mau aku sembunyikan dari kamu"
"Awas saja kalau sampai kamu berani menyembunyikan sesuatu dari aku. Aku ngambek 7 hari 7 malam"
45 Menit kemudian. Mobil William sudah tiba di salah satu mall terbesar di jakarta. William memarkirkan mobilnya dan langsung turun dari mobil.
"Sayang. Kita mau langsung ke tempat bermain?" Tanya William pada Emilia
"Sepertinya nanti saja deh Wil. Kita ke tempat pusat pembelanjaan dulu ya. Aku mau beli baju buat Nathan"
"Oooh yaudah ayo sayang. Biar Nathan di gendong papi ya"
"Iya papi" Jawab Nathan yang langsung nurut apa perkataan William
Tak berselang lama, Emilia dan William yang baru mau mau ke dal mall tiba-tiba langkahnya harus terhenti saat mendengar suara khas Widi dari belakang tubuhnya.
"Em. Tunggu"
Emilia membalikkan tubuhnya"Kak Widi. Sama siapa kesini?"
Belum sempat Widi menjawab, Ferdian datang dan menyapa Emilia"Hai Em." Ucap Ferdian sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
__ADS_1
"Ooh kak Widi bareng sama Ferdian. Yaudah lebih baik kita barengan saja ya"
Di Tempat Lain
Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya. Siren dan Damar akan membawa Dini jalan-jalan ke taman pusat kota. Jika biasanya Dini hanya pergi jalan-jalan bersama dengan Siren. Kali ini akan sda Damar yang menemani Weekend mereka.
"Sudah siap kan sayang?" Tanya Damar pada Dini yang baru saja turun bersama dengan Siren
"Sudah om papa" Jawab Dini sambil memeluk Damar
Siren yang mendengar perkataan Dini langsung merasa tidak enak."Dini, Manggilnya om saja. Gak usah pakai papa ya" Ujar Siren yang merasa sangat tidak enak pada Damar.
"Sudah tidak apa Siren. Manggil papa saja juga boleh kok" Jawabnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Ayo lebih baik kita berangkat sekarang saja" Ujar Siren yang merasa cukup malu
Siren dan Dini sudah naik ke dalam mobil Damar. Pria itu langsung melajukan mobilnya menjauh dari kediaman nya. Namun sejenak Damar masih berhenti disebuah mini market untuk membeli sesuatu yang dia butuhkan.
"Kok berhenti om papa?" Tanya Dini saat melihat Damar menepikan mobilnya
"Iya sayang, Om papa masih mau membeli sesuatu di sana. Apa Dini mau ikut?"
"Mau mau om. Mama juga ikut ayo ma"
"Mama tunggu di sini saja ya sayang. Kalau Dini mau ikut sama om Damar gak papa"
"Gak mau. Pokoknya Dini mau mama juga ikut. Ayo ma ayo"
Melihat Dini sudah mulai merengek membuat Siren mau tidak mau mengiyakan permintaan anaknya. Tanpa di sengaja, Ternyata mereka bertemu dengan David di luar mini market.
"Siren, Mas David" Ucap Mereka secara bersamaan
David menatap Dini yang terlihat nyaman dalam gendongan Damar tanpa mau menoleh ke arahnya sedikitpun."Dini"Ujar David sambil menatap Dini. Namun ternyata Dini sama sekali tak menggubris panggilan David.
Melihat sosok papanya membuat Dini teringat akan hal-hal yang sudah membuatnya merasa terluka dan sakit hati atas David. "Om papa kenapa masih disini. Ayo kita masuk" Ucap Dini tanpa memperdulikan David sama sekali.
Melihat Dini seperti itu entah kenapa membuat David merasa sakit. Pria itu baru tau bagaimana rasanya di cuekin seperti ini. Sejenak ada rasa penyesalan dalam batinnya. "Ternyata seperti ini rasanya tidak di anggap" Ucap David dalam batinnya dengan penuh penyesalan sambil menatap kepergian Dini yang terlihat nyaman dengan Damar.
David terus menatap Dini dan Siren yang sudah masuk ke dalam minimarket bersama dengan Damar. Pria yang lebih segala-galanya dari pada David.
"Ternyata memang benar apa yang di katakan oleh pepatah. Jika penyesalan hanya akan datang di saat kita sudah benar-benar kehilangan. Dan sekarang aku menyesali semua itu. Apa yang dulu aku miliki sekarang sudah benar-benar hilang. Tidak akan ada yang mau dengan pria menyedihkan sepertiku" Ujar David dengan penuh penyesalan sambil terus menatap Dini dan juga Siren.
__ADS_1
"Ada hubungan apa mereka. Kenapa terlihat sangat dekat begitu. Dan kenapa aku merasa tidak suka melihatnya" Ujar David lagi
Entah kenapa saat melihat Siren dan Dini tertawa bersama dengan Damar membuat David menatap dengan tidak suka. Ada rasa penyesalan yang terbesit dalam benaknya. Apa mungkin David sebenarnya mulai ada rasa terhadap Siren?