
Emilia berlari dan melindungi tubuh William dari peluru itu, Hingga tanpa dia sadari, Emilia sudah mengorbankan dirinya sendiri untuk William.
Siren dan Nathan yang melihat itu tentu saja langsung berteriak panik"Kak Emil, Mami" Ucap mereka secada bersamaan saat peluru yang David tembakkan terkena tepat pada punggung Emilia.
William yang mendengar suara tembakan langsung membalikkan tubuhnya dan sudah menemukan Emilia yang hampir terjatuh. Dengan cepat William berlari dan menangkap tubuh Emilia. "I love you Wil" Ucap Emilia dan langsung tidak sadar kan diri.
Melihat Emilia seperti itu membuat dunia William seakan berhenti berdetak, Dadanya terasa sakit dan sangat sulit untuk sekedar bernafas. Bukan ini yang William harapkan.
"Em, Kanapa kamu harus lakukan ini Em. Kenapa kamu tidak membiarkan aku yang tertembak" Ucap William sambil membawa tubuh Emilia dalam dekapannya
Melihat begitu banyak darah yang keluar dari bekas tembakan membuat William menjadi semakin panik. "Bertahan sayang. Aku akak segera membawamu ke rumah sakit" Ucapnya dan langsung menggendong Emilia
William menetap tajam David dengan kedua mata yang terlihat sangat merah"Kalau sampai dia kenapa-napa, Ku bunuh kamu!" Ucapnya dan langsung berlalu dari hadapan David
"Tolong bukakan pintu mobilnya" Ucap William sambil melirik Siren
Setelah itu, William menidurkan Emilia pada paha Siren di kursi penumpang. Sedangkan Nathan duduk di depan bersama dengan William.
"Bertahanlah kak. Aku mohon kak Emil harus bertahan"Ucap Siren sambil membelai rambut Emilia dan menutupi bekas tembakan itu agar darah yang keluar tidak semakin banyak.
"Mami, Jangan tinggalkan Nathan, Nathan mohon mami harus selamat demi Nathan dan juga papi" Ucap Nathan lirih sambil menoleh ke belakang
William yang mendengar suara lirih anaknya semakin menambah kecepatan mobilnya"Doakan mami ya sayang. Mami kuat, Mami pasti akan bertahan demi kita" Gumam William sambil menggenggam sebelah tangan Nathan.
Beruntung karna jarak rumah sakit dari tempat kejadian tidak terlalu jauh. Hingga William hanya memerlukan waktu 10 menit untuk tiba di sana dengan kecepatan di atas rata-rata.
Setelah melihat ada rumah sakit, William dengan cepat masuk ke halaman rumah sakit itu dan langsung turun dari mobilnya dan menggendong Emilia kembali untuk masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter tolong urgen." Ucap William dengan raut wajah panik
Melihat ada begitu banyak darah yang keluar dari punggung Emilia membuat dokter itu berlari sambil meminta suster untuk membawa brankar.
"Dokter tolong selamatkan istri saya" Ucap William yang terdengar pilu
"Dia kenapa pak?" Tanya dokter itu
"Tertembak dokter" Ucapnya sambil menidurkan Emilia pada brankar yang baru saja di bawakan oleh suster di sana
"Cepat bawa ke IGD"
__ADS_1
William mendorong cepat brankar itu. Sedangkan Nathan di gendong oleh Siren dan mengekor di belakangnya. Melihat keadaan maminya membuat Nathan menangis. Bocah itu benar-benar merasa takut saat melihat ada banyak darah yang keluar.
"Tunggu di sini ya pak. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik" Ucap dokter itu pada William
Setelah pintu IGD tertutup, William duduk di kursi tunggu sambil mengusap kasar wajahnya"Kenapa kamu harus berkorban Em. Kenapa kamu gak biarkan aku saja yang tertembak" Ucap William lirih
"Papi" Panggil Nathan yang baru saja tiba di sana
Mendengar suara itu membuat William mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah Nathan yang terlihat sembab karna menangis di sepanjang perjalanan.
"Papi mami akan baik baik saja kan?" Tanya Nathan pada William
"Iya sayang, Mami akan baik baik saja. Nathan doakan mami ya" Ucap William sambil membawa Nathan pada pangkuannya.
Tak berselang lama, Dokter yang menangani Emilia keluar. Melihat pintu IGD terbuka membuat William bangun dari duduknya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?"
Dokter itu tak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu masih menatap William dan Nathan"Istri bapak harus segera di operasi" Ucapnya
"Apa! Operasi? Kenapa harus sampai operasi dokter?"
"Lakukan apapun yang bisa menyelamatkan istri saya dokter. Berapapun biayanya, Asal istri saya selamat" Ucapnya
"Baiklah"
Setelah itu, Dokter yang tadi kembali masuk dan meminta suster untuk menyiapkan ruang operasi dan meminta mereka untuk memanggil dokter Dika buat membantu menangani Emilia. Karna dokter yang tadi mendapat kabar jika harus menangani pasiennya yang tiba-tiba anfal.
"Siapkan ruang operasi, dan tolong panggil dokter Dika untuk membantu menangani operasi ini, Saya harus kembali menangani pasien saya yang tiba-tiba anfal" Terang dokter itu
"Baik dokter"
10 Menit kemudian, Emilia sudah di bawa ke ruangan operasi untuk mengeluarkan pelurunya dari punggungnya. William terus berdoa dan berharap semoga Emilia bisa di selamatkan.
"Tolong selamatkan istri saya dokter" Ucap William saat melihat dokter Dika masuk ke ruangan operasi
"Insya allah ya pak. Bapak berdoa saja semoga semuanya di permudah" Ucap Dokter Dika dan langsung menutup ruangan operasi
Saat sudah tiba di dalam, Dokter Dika cukup terkejut saat melihat wanita yang akan dia operasi. "Emilia" Ucapnya pelan
__ADS_1
Di Tempat Lain
"Ma, Mama kenapa terlihat gelisah seperti itu?" Tanya Wirayudo mada Melinda yang sejak tadi terlihat gelisah
"Iya Mel, Kamu kenapa? Kok dari tadi aku perhatiin seperti sedang gelisah. Ada apa memangnya Mel?" Timpal Liana
"Entahlah, Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Aku kepikiran sama Emilia" Ucapnya
"Kepikiran sama Emilia? Emilia akan baik-baik saja kok Mel. Saat ini kan mereka sedang bulan madu. Sedang liburan"
"Tau nih mama. Saat ini Emilia sedang bersenang-senang sama William juga Nathan" Timpal Wira sambil menatap Melinda
"Mama tau pa, Tapi entah kenapa sejak tadi perasaan mama tidak enak" Jawab Melinda lagi
"Biar aku telpon William ya" Seru Bagas dan langsung mengambil ponselnya
Dering pertama masih belum di angkat. Dering kedua juga belum di angkat,"Tidak di angkat. Aku coba lagi ya" Ucap Bagas sambil menatap mereka
Tak berselang lama, Sambungan telponnya langsung terhubung. Bagas mengerutkan keningnya saat mendengar suara lirih William di ujung telpon.
π:Halo pa. Ada apa?
π:Kamu kenapa Wil. kenapa suaranya terdengar seperti sedang menangis. Kalian baik baik saja kan?
Mendengar kata menangis membuat Melinda, Wira dan Liana menjadi penasaran. Mereka meminta Bagas untuk ganti dengan mode spiker
William terdiam saat mendengar pertanyaan dari papanya. Dadanya terlalu sesak untuk mengatakan apa yang saat ini sedang terjadi. Hingga tak lama Siren yang mengambil alih ponsel itu.
π:Halo om. Ini saya Siren, adiknya kak Emilia
π:Siren? Adiknya Emilia? Kenapa kamu bisa ada disana?
π:Ceritanya panjang om. Tapi yang pasti saat ini kak Emil sedang tidak baik-baik saja. Dia tertembak
π:Apa!
π:Bagaimana bisa?
π:Ceritanya panjang om. Saat ini kak Emil sedang di operasi
__ADS_1
Setelah itu sambungan telponnya terputus. Betapa terkejutnya semua orang yang mendengar bagaimana keadaan Emilia saat ini. Terutama Melinda. Ternyata firasat seorang ibu memang sekuat itu.