Single Mamy

Single Mamy
H-2


__ADS_3

"Om Dafi adalah orang yang selama ini suka datang menemui Nathan Mami. Apakah mami ingat sama anak kecil yang dulu pernah mami bantu?"


"Anak kecil yang pernah mami bantu? Siapa Nathan?" Tanya Emilia sambil mencoba mengingat siapa yang sudah Nathan katakan.


"Itu loh mi, Yang namanya Haruka. Mami ingat kan?"


"Haruka? Ooh iya mami ingat, Dia yang dulu ke kurangan Darah bukan nak?"


"Iya itu benar mi, Om Dafi adalah ayahnya Haruka" Jelas Nathan


"Memangnya untuk apa om Dafi menemui Nathan?"


"Tidak ada mi, Om Dafi hanya mengajak Nathan untuk bermain sebentar sama Haruka. Dia sedang sakit dan tidak mau makan. Makan nya om Dafi sering ngajak Nathan untuk makan bersama dengan Haruka di rumahnya"


"Sering? Jadi maksudnya Nathan sudah sering ikut ke rumah om Dafi?"


"Iya mami, Nathan itu kasiaan sekali sama Haruka. Dia di tinggal sama bundanya karna ayahnya Haruka tidak punya banyak uang"


"Untung saja Mami tidak seperti bundanya Haruka, Nathan bahagia sekali karna bisa selalu bersama dengan Mami, Walau pun terkadang Nathan sedih karna tidak memiliki papi, Seperti Haruka" Ucap Nathan yang terdengar begitu pilu


William dan Emilia yang mendengar perkataan Nathan saling pandang. Apa memang ini saatnya Nathan tau siapa William?


"Aku mohon Em, Kamu katakan yang sebenarnya pada Nathan jika aku ini adalah ayahnya" Ucap William yang hanya bisa di dengar oleh Emilia


Wanita itu tak menjawab, Emilia masih terdiam untuk beberapa saat. Mungkin yang di katakan William memang benar, Sebaiknya ini waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya pada anak itu.


Emilia menatap wajah mungil Nathan sambil membawanya dalam dekapan Emilia"Siapa bilang Nathan tidak punya papi, Nathan punya papi. Orang nya baik, Tampan seperti Nathan" Ucap Emilia lembut pada Nathan


"Benarkah? Lalu di mana papi Nathan sekarang mami. Nathan ingin sekali memeluknya" Jawabnya yang terlihat begitu bahagia


"Papi di sini sayang" Pungkas William dan duduk untuk menjajarkan dirinya dengan tubuh mungil Nathan


"Om baik gituan, Suka bercanda sama Nathan. Sebenarnya Nathan ingin memiliki papi seperti om baik. Yang tampan nya sama seperti Nathan" Ucap Nathan sambil tersenyum ke arah Emilia


"Sayang, Apa yang di katakan sama om baik itu memang benar adanya sayang. Om baik adalah papi kandung Nathan. Papi yang selama ini selalu Nathan nantikan" Ucap Emilia lembut pada Nathan.


"M...ami tidak sedang membohongi Nathan kan?"


"Mami tidak bohong sayang. Ini memang benar-benar papinya Nathan" Timpal William sambil memeluk erat tubuh mungil Nathan


"Apa Nathan sedang bermimpi, Apa ini semua hanyalah halusinasi saja Mami?"


"Tidak Nak. Ini bukan halusinasi. Ini adalah kenyataan nya sayang"


Mendengar perkataan Emilia yang begitu meyakinkan Nathan membuat bocah kecil itu menangis dalam pelukan William."Seperti ini kah rasanya di peluk sama papi" Ucap Nathan di sela isak tangisnya


Bukan hanya Nathan, Bahkan Emilia dan William yang mendengar itu ikut menjatuhkan air matanya. Widi yang sejak tadi memperhatikan momen di depan matanya juga ikut menangis.


Wanita itu teringat akan masa kecilnya. Masa kecil yang dia lewati tanpa adanya sosok ayah yang biasa selalu menjadi tempat bermanja anak perempuan.

__ADS_1


Widi masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu menangis saat bayangan masa kecilnya terlintas jelas dalam ingatan Widi.


Sakit saat mengingat akan hal itu, Widi juga ingin tau bagaimana rasanya di cintai, Di sayangi oleh sosok ayah yang selama ini tidak pernah Widi ketahui seperti apa wajahnya.


"Aku juga ingin tau bagaimana rasanya di peluk oleh sosok ayah yang tidak pernah aku ketahui seperti apa" Ucap Widi di sela isak tangisnya.


"Ibu, Widi lelah, Widi sendiri bu. Kenapa ibu harus meninggalkan Widi sendiri? Widi capek bu. Dunia ini terlalu jahat untuk Widi" Ucap Widi sambil menatap gambar mendiang ibunya.


Disaat seperti itu. Tiba-tiba saja Widi mengingat akan ucapan sang ibu. Ucapan saat mengatakan jika ayah kandungnya adalah seorang pengacara bernama Anggara Wirayudo.


Sebelum meninggal. Mira memang selalu mencari tau kabar terbaru tentang Wira dan Melinda. Wanita itu sering melihat Wira saat sedang menangani kasus-kasus yang selalu bisa dia menangkan.


Mira bahagia saat melihat laki-laki yang di cintanya sudah menjadi orang sukses dan bahagia bersama dengan Melinda. Bahkan Mira tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah dia berikan untuk Wira.


"Apa sebaiknya aku mencari ayah kandung ku?" Ucap Widi sambil mengusap air matanya.


"Jika memang dia seorang pengacara. Tentunya dia pasti akan sangat mudah aku temui. Kenapa aku baru kepikiran sekarang" Ucap Widi lagi sambil membuka laman Google dan mencari pengacara dengan nama Anggara Wirayudo.


Mata Widi membulat saat melihat gambar pengacara dengan nama Anggara Wirayudo. Wanita itu mencatat nomor ponselnya dan langsung menghubungi nomor itu.


Namun ternyata nomornya sedang tidak aktif. Widi menundukkan wajahnya saat mendengar suara operator, "Kenapa tidak aktif ya, Apa aku datangi rumah nya saja. Bukan kah di sini sudah ada alamatnya" Ucap Widi lagi.




Malam berlalu, Pagi ini Widi sudah bersiap untuk pergi ke jakarta dan mendatangi alamat yang menunjukkan rumah kediaman Wirayudo.


"Hari ini aku harus datang ke alamat itu" Ucapnya.


Widi memilih untuk menggunakan ojek online agar bisa segera tiba di jakarta. Wanita itu sudah sangat tidak sabar ingin melihat sosok ayah yang selama ini dia rindukan.


4 Jam kemudian, Widi sudah tiba di alamat yang dia dapat kan di aplikasi google.


Gerbang rumah itu terbuka. Widi masuk dan mengetok pintu rumah kediaman Wirayudo.


Tok...tok..tok..


Tak butuh waktu lama, Pintu terbuka lebar dan keluar sosok wanita paruh baya, Siapa lagi kalau bukan mbk Sri.


"Maaf, Cari siapa?" Tanya Sri pada Widi


"Saya mau cari bapak Wirayudo. Apakah beliau ada di rumah?"


"Mohon maaf sekali mbk, Tuan sama nyonya sedang tidak ada dirumah. mereka sedang keluar kota"


Mendengar itu membuat Widi merasa begitu kecewa. Sudah jauh-jauh dari bogor ke jakarta malah tidak bertemu.


"Apa saya boleh minta minum mbk. Saya haus dari bogor" Ucap Widi agar bisa masuk ke dalam rumah itu

__ADS_1


"Boleh-boleh" Balas Sri dan mempersilahkan Widi untuk masuk


Setelah masuk ke dalam rumah itu, Betapa terkejutnya Widi saat melihat ada foto Emilia di dalam ruangan itu.


Deg! Widi merasa dunia nya seakan berhenti berputar saat menemukan sebuah foto keluarga yang ada Emilia di dalam nya.


"Maaf mbk, itu anaknya bapak Wira ya?" Tanya Widi untuk mengetahui rasa penasarannya


"Iya mbk, Dia non Emilia, anak pertama tuan dan Nyonya"


Widi tak lagi bertanya. Wanita itu menatap foto keluarga yang terlihat begitu bahagia.


"Jadi, Emilia adalah adikku. adik kandungku" Ucap Widi dalam batinnya


**


Tanpa terasa hari-hari berganti. Hari ini adalah hari di mana Emilia akan di jemput oleh orang suruhan Liana untuk melakukan beberapa perawatan sebelum pernikahan.


"Apa kamu sudah siap sayang?" Tanya Liana pada Emilia


"Sudah ma, Lalu Nathan bagaimana?"


"Kalau hanya soal Nathan kamu tidak perlu khawatir, Ada mama dan papa yang akan mengurusnya"


"Ada kakak juga Em. Kamu tidak perlu khawatir untuk itu ya"


"Terima Kasih mama, kak Widi" Ucap Emilia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


"Sama-sama sayang. Sampai bertemu di acara ijab qobul 2 hari lagi ya" Ucap Liana sambil memeluk Emilia


"Iya ma" Jawabnya sambil membalas pelukan calon mama mertuanya.


Biarpun hanya calon menantu, Tapi Liana sudah begitu menyayangi Emilia seperti anaknya sendiri. Terlebih lagi Liana tidak memiliki anak perempuan. Dia hanya memiliki anak tunggal, Yaitu William.


Setelah itu. Emilia masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Namun sebelum itu, Emilia masih menitip pesan pada Nathan untuk tidak nakal selama tidak bersama dengan Emilia.


Nathan yang begitu nurut langsung mengangguk paham dengan omongan Emilia. Bocah kecil itu memang sangat nurut dengan apa pun yang Emilia katakan.


Emilia melambaikan tangannya pada Nathan, Widi juga Liana. Setelah mobil yang membawa Emilia sudah menjauh. Widi juga pamit untuk mengantar Nathan sekolah.


"Widi, Tante antar Nathan sekolah dulu ya"


"Iya tante, Nanti bir Widi yang jemput. Tante pasti juga sedang sibuk mempersiapkan acara besok luka kan?"


"Iya Widi. Terimakasih ya"


"Tidak perlu berterimakasih tante, Nathan sudah seperti keponakan saya sendiri" Ucap Widi


"Kamu memang sangat baik Widi. Jarang ada orang yang mau memperlakukan orang lain seperti keluarganya sendiri"

__ADS_1


"Karna mereka memang benar-benar keluarga yang masih saya miliki tante"Ucap Widi dalam batinnya


__ADS_2