
"Kamu memang orang yang baik Wid. Jarang ada orang yang mau memperlakukan orang lain seperti keluarganya sendiri" Ucap Liana pada Widi
"Karna mereka memang benar-benar keluarga yang masih saya miliki tante"Ucap Widi dalam batinnya
Setelah itu, Liana masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Nathan. Hari ini wanita paruh baya itu yang akan mengantar Nathan sekolah. Sedangkan tugas Widi yang menjemput Nathan.
Liana menatap Nathan sambil menggenggam tangan mungilnya. Liana berharap jika suatu saat nanti dia bisa memiliki cucu seperti Nathan. Cucu dari William dan Emilia.
"Nathan. Tadi sebelum berangkat apakah Nathan sudah makan?" Tanya Liana sambil menatap Nathan
"Sudah oma. Tadi Nathan sudah makan sama mami. Ini mami juga sudah siapin bekal buat makan siang Nathan nanti" Balas Nathan sambil mengeluarkan kepalanya di jendela. Menikmati angin pagi di sana
Liana yang melihat kelakuan Nathan langsung menarik kepala bocah itu, Karna biar bagaimana pun, Itu sangat bahaya.
"Nathan, Kepalanya jangan seperti itu sayang. Itu bahaya" Ucap Liana pada Nathan
"Iya oma" Jawabnya pelan
Di tempat Lain
Mulai pagi ini, William sudah memutuskan untuk tidak lagi berpura-pura menjadi seorang driver online. Mulai hari ini William akan memperkenalkan dirinya sebagai CEO atau pewaris utama BAGASKARA GROUP.
William mengambil nafas pelan saat mengingat akan pernikahannya yang sudah tinggal menghitung jam. Namun, Entah kenapa bayangan Emilia terus saja muncul dalam pikiran William.
"Astaga. Jika seperti ini terus aku bisa gila" Ucap William sambil mengacak rambutnya
"Bagaimana bisa aku mencintai istriku nanti, Jika bayangan Emilia saja tidak pernah lepas"
"Bagaimana caranya agar aku bisa melupakan Emilia. Kenapa begitu sulit walaupun hanya untuk membuang perasaan ini. Aku sudah benar-benar mencintainya" Ucap William lagi
Tak lama kemudian. William Mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Pria itu sudah bisa menebak jika yang ada di depan pintu saat ini adalah sanga papa.
"Iya pa, Ada apa?" Tanya William setelah membuka pintu kamarnya
"Wil, Hari ini kamu tidak perlu ke kantor dulu. Biar papa yang menghandle semuanya" Ucap Bagaskara pada William.
"Iya pa. Hari ini William juga belum siap untuk ke kantornya papa. Tolong papa handle dulu ya"
"Iya Wil. Jangan lupa persiapkan dirimu untuk acara besok lusa"
"Iya pa" Jawab William yang terdengar begitu pilu.
Setelah kepergian sang papa. William kembali menutup pintu kamarnya. Hari ini pria itu benar-benar tidak ada semangat sama sekali. William tidak henti-hentinya memikirkan Emilia, Emilia dan Emilia.
Bayangan wajah wanita itu tidak sedetikpun lepas dari ingatan William. Tak sedetikpun waktu William terlewat dari wajah Emilia.
Di Tempat Lain
"Pa, Bagaimana tentang pencarian Emil"Tanya Melinda pada Wira
Mendengar pertanyaan sang istri membuat Wira mengambil nafas berat, Pria itu tidak tau harus mengatakan apa pada istrinya.
"Belum ma" Jawab Wira yang sengaja berbohong. Padahal sebenarnya Wirayudo sudah pernah bertemu dengan Emilia beberapa hari yang lalu. Tepatnya saat Wira sedang pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu.
"Maafkan papa ma, papa sengaja berbohong sama mama. Maafkan papa yang belum bisa mengatakan pada mama jika hari itu papa sudah bertemu dengan Emilia" Ucap Wira dalam batinnya sambil menatap melinda sendu
__ADS_1
Flashback beberapa hari yang lalu
"Ma, Papa mau ke minimarket dulu ra. Ada barang yang harus papa beli. Apa mama mau nitip sesuatu?" Tanya Wirayudo pada Melinda
"Papa tolong beliin mama martabak telor ya, Kayaknya enak dingin-dingin begini makan martabak telor" Balas Melinda sambil mendekat ke arah Wira yang sudah bersiap
"Oke ma. Papa berangkat dulu ya" Ucapnya dan langsung melangkah kan kakinya keluar dari dalam kamar hotel.
Saat ini Melinda dan Wirayudo sedang menginap di salh satu hotel di Bobor, Karna jarak Apartemen Bagaskara lebih dekat dari hotel ini dari pada Villa milik mereka.
Wira turun dari hotel lalu naik ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya menjauh dari area hotel itu. Malam ini suasana nya memang sangat dingin. Oleh karena itu, Wira menggunakan jaket yang cukup tebal untuk mengurangi rasa dinginnya.
Di tempat lain, Emilia juga pamit pada Widi untuk membeli barang-barang bulanan yang sudah menipis. Widi dan Emilia memang selalu gantian untuk belanja barang bulanan. Dan kali ini adalah giliran Emilia.
"Kak, Mumpung Nathan sudah tidur, Aku ke mini market depan sebentar ya. Mau belanja bulanan" Ucap Emilia sama Widi
"Oh iya Em. Kamu hati-hati ya. Kakak boleh nitip sesuatu?"
"Mau nitip apa kak?" Tanya Emilia sambil mendekat ke arah Widi
"Beliin martabak ya Em. Kayaknya enak nih dingin-dingin makan yang anget-anget"
"Ooooh iya boleh kak. Aku titip Nathan ya kak"
"Iya. Hati-hati di jalan ya Em"
"Iya kak"
Setelah itu, Emilia keluar dari dalam rumahnya. Dan di luar ternyata sudah ada William yang menunggu. "Ngapain kamu disini?" Tanya Emilia saat melihat keberadaan William di sana
"Tadi kan kamu order ojek. Aku yang nerima orderannya. Memangnya kamu gak sadar jika foto profil akun itu adalah foto kamu dan Nathan"
"Aku cancel saja ya Wil. Aku pesan ojol yang lain saja" Ucap Emilia sambil mengambil ponselnya dan bersiap untuk cancel pesanannya. Namun dengan cepat William mengambil alih ponsel itu agar Emilia tidak membatalkan pesanan nya.
"Jangan Em. Aku mohon jangan lakukan itu. Biarkan aku menghabiskan waktu yang tersisa bersama kamu Em. Aku mohon ijinkan aku untuk malam ini saja menerima orderan kamu" Ucap William memohon
"Ayolah Wil. Jangan terus-terusan seperti ini. Mau sampai kapan Wil. Kita sudah tidak mungkin lagi bisa bersama. Pernikahan ku sudah tinggal 4 hari lagi. Jangan seperti ini Wil" Ucap Emilia pada William
"Kali ini saja Em. Sekalipun kamu mau bersikap layaknya penumpang dan tukang ojek" Ucap William yang terdengar begitu sendu
"Baiklah. Tapi hanya sebatas penumpang dan tukang ojek" Jawab Emilia dan langsung naik ke atas motor William
Di tengah perjalanan, Tidak ada obrolan apa-apa di antara mereka berdua. Emilia sama sekali tidak berpegangan pada William. Sedangkan William hanya bisa menatap raut wajah Emilia dari pantulan cermin.
30 menit kemudian. Mereka berdua sudah tiba di depan mini market. Emilia masuk seorang diri dan meminta William untuk menunggunya di sana.
Saat Emilia sedang sibuk memilih bahan makanan. tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya. Dan suara itu terdengar begitu familiar pada indra pendengaran Emilia.
"Emilia" Panggilnya lagi.
Akhirnya Emilia memutuskan untuk menoleh ke arah sumber suara yang tak jauh dari tempatnya. Betapa terkejutnya Emilia saat melihat sosok pria paruh baya yang sudah sangat Emilia rindukan.
"Papa" Ucapnya begitu terkejut hingga tanpa sadar barang belanjaan Emilia terjatuh
Setelah Emilia membalikkan tubuhnya. Wirayudo mendekat ke arah Emilia dan langsung memeluk anak gadisnya yang sudah dia usir beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
"Emilia, Anak papa. Ternyata kamu benar-benar ada di sini nak" Ucap Wira sambil memeluk Emilia. Namun Emilia hanya bisa diam dan terpaku tanpa mau membalas pelukan sang papa. Pelukan yang sudah sangat Emilia rindukan
"Lepaskan aku pa" Jawab Emilia dingin. Emilia masih merasa begitu sakit saat hari itu sang papa sudah membuangnya hanya karna takut di cemooh oleh tetangga.
"Emil, kamu ini bicara apa? Apakah kamu tidak merindukan papa dan mama. Ayo ikut pulang bersama papa nak" Ucap Wira sambil menatap kedua mata Emilia.
Namun sama sekali Emilia tidak mau melihat ke arahnya. Wanita itu terdiam membeku sambil menatap ke lain arah.
"Tidak bisa pa. 3 Hari lagi Emilia akan menikah. Tolong sampaikan kata maaf Emilia pada mama. Maafkan Emil pa" Ucap Emilia dan langsung berlalu dari hadapan papa Wira tanpa menoleh ke arahnya.
"Emilia. Tunggu nak" Ucap Wira sambil mengejar Emilia. Namun Emilia sama sekali tidak memperdulikan panggilannya.
Wanita itu berlari keluar dari mini market sambil menahan rasa sesak dan juga rasa panas pada kedua matanya.
Hingga tak lama kemudian. Air mata itu pun berhasil lolos membasahi pipi putihnya. "Maafkan Emilia pa" Ucapnya yang terdengar begitu lirih
Flashback off
"Pa. Papa kenapa malah bengong?" Tanya Melinda saat melihat Wirayudo bengong.
"Tidak apa-apa ma" Ucap nya sambil menoleh ke lain arah
Sedangkan Emilia. Wanita itu hanya terdiam sambil teringat akan suara serta wajah William tiba-tiba saja mengganggu pikirannya.
"Kenapa tiba-tiba saja aku mengingat William" Ucap Emilia pelan
Kemudian, Wanita itu mengambil ponselnya dan membuka galeri. Emilia menatap gambar William yang dia simpan pada ponselnya.
"Kenapa bayangan kami terus saja muncul Wil. Bagaimana caranya agar aku bisa membuang perasaan yang entah sejak kapan tumbuh dalam hati ini" Ucap Emilia sambil terus menatap foto William
"Tanpa aku sadari. Ternyata kamu sudah menjadi orang spesial di hati ini Wil. Bagaimana caranya agar aku bisa membuang bayangan kamu" Ucap Emilia lagi
"Aku sudah benar-benar mencintai mu William" Ucapnya lagi.
Tak lama kemudian, Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang sudah tidak asing bagi Emilia. Tapi Emilia lupa siapa pemilik nomor itu.
π:Siapa
π:Ini aku Siren kak. Aku dengar katanya kak Emil mau menikah ya. Aku mohon ijinkan aku datang dan menjadi saksi kak
π:Untuk apa. Bukan kah kamu yang sudah merusak hidupku!
π:Aku minta maaf kak. Aku benar-benar minta maaf
π:Semuanya sudah terlambat Siren. papa dan mama sudah membenciku karna perbuatan mu
π:Aku janji, Akan mengembalikan keadaan seperti semula kak. Ijinkan aku datang kak, Aku mohon
π:Sebuah bubur tidak akan pernah bisa menjadi nasi kembali
π:Maafkan aku kak
π:Aku kecewa sama kamu Siren. Masih tidak percaya kamu setega itu sama kakak mu sendiri
π:Sekali lagi maafkan aku kak. Aku menyesal
__ADS_1
Emilia tak lagi menjawab. Wanita itu langsung memutus sambungan telponnya terhadap Siren. Entah kenapa Emilia begitu sulit untuk sekedar memberikan kata maaf terhadap Siren. Karna perbuatannya, Emilia harus di usir dari rumahnya sendiri
"Aku kecewa sama kamu Siren. Apa kurang nya kakak selama ini, Kenapa kamu tega menghancurkan hidup kakak" Ucap Emilia yang terdengar begitu pulu