
"Cie yang cemburu. Pepatah pernah mengatakan. Jika cemburu adalah tanda cinta. Itu berarti kamu sudah mulai cinta sayang"Seru William sambil menggoda Emilia
Emilia yang melihat itu langsung memanyunkan bibirnya"Iihhh. Kamu itu memang menyebalkan ya" Jawabnya sambil memukul kecil lengan William
"Kok menyebalkan sih sayang. Tapi beneran nih kamu sudah mulai cinta sama aku?"
"Tau ah. Kamu orangnya gituan" Ujar Emilia sambil duduk di sofa
"Gituan gimana sayang. Tapi aku penasaran loh sayang. Kamu beneran sudah mulai cinta sama aku?" Tanya William lagi sambil ikut duduk di samping Emilia
"Rahasia. Soal itu hanya aku dan tuhan yang tau"
"Yaah sayang. Kok gitu sih. Nanti kalau aku mati penasaran bagaimana?"
"Biarin saja. Abisnya kamu menyebalkan. Suka menguji kesabaran ku tau gak! Kesel banget aku tuh"
"Eh sayang. Kamu kalau lagi cemberut begini jadi makin cantik dan membuat aku tambah sayang"
"Tidak usah merayu" Ujar Emilia sambil menatap William dengan wajah cemberutnya
Tak berselang lama. Kedua orang tua Emilia juga William datang. Bukan hanya mereka, Tapi juga Widi dan Nathan yang sudah siap untuk ikut bersama dengan maminya.
"Mami, Papi" Teriak Nathan sambil berlari ke arah William dan Emilia
"Hei sayang. Nathan sudah siap buat jalan-jalan?"
"Sudah dong mami. Apa kita akan berangkat sekarang?"
"Sebentar lagi ya sayang. Kita tunggu om Alex dulu" Wajah William sambil tersenyum hangat pada Nathan
"Oh iya Wil, Em. Mama masih penasaran. Kenapa waktu itu kalian mengatakan jika Nathan adalah anak kandung William. Maksudnya bagaimana? Mama tidak paham" Tanya Liana sambil melirik Emilia dan juga William secara bergantian.
Bukan hanya Liana. Bagas dan juga Wira juga penasaran dengan maksud mereka. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Bagaimana bisa mereka mengatakan jika Nathan adalah anak kandung William sendiri.
"Iya Em. Papa juga masih tidak mengerti" Timpal Wira sambil menatap Emilia
Mendengar perkataan orang tuanya membuat Emilia dan William saling pandang. Mungkin orang tuanya memang harus tau kejadiannya bagaimana sehingga Nathan lahir ke dunia.
__ADS_1
"Biar aku yang cerita ya sayang" Ucap William dan langsung menerima anggukan pelan dari Emilia
"Jadi begini ma. Apa mama dan papa ingat kejadian 5 tahun yang lalu. Lebih tepatnya saat William menghadiri acara reuni. Mama ingat kan saat Wili pamit untuk datang ke acara itu"
Mendengar perkataan William membuat Liana teringat kejadian malam itu. Malam di mama William tidak pulang hingga pagi.
"Ma. Malam ini Willi mau hadir ke acara Reuni sekolah. Bukan hanya reuni sih. Tapi lebih tepatnya party kelulusan angkatan ke-5 SMA Merah putih" Ucap William pada Liana yang sedang sibuk membuat kue
"Iya Wil. Kamu bareng sama siapa kesana?'
"Biasalah ma, Tentu sam dua cupu itu"
Mendengar kata dua cupu membuat Liana menoleh ke arah William sambil mengerutkan keningnya. "Dua cupu! Maksudnya Andre sama Damar?" Tanya Liana sambil menoleh ke arah William
"Itu mama tau"
"Kamu ini. Teman sendiri kok di bilang cupu"
"Kan memang mereka cupu ma"
Siang berlalu. Tak lama kemudian Andre dan juga Damar sudah datang dan menjemput William. sudah sejak jaman SMA mereka bertiga menjalin persahabatan.
"Andre sama Damar jug pamit ya tan" Seru mereka secara bersamaan
"Iya, Kalian hati-hati ya. Selamat bersenang-senang"
Waktu terus bergulir. Liana melihat jam di rumahnya sudah menunjukkan pukul 02:00. Namun William belum juga kembali. Seketika wanita paruh baya itu merasa sangat khawatir. Apalagi William tidak memberi kabar sama sekali.
"Kenapa Wili belum pulang ma?"Tanya Bagas yang melihat raut khawatir wajah istrinya.
"Mama juga tidak tau pa. Dia juga tidak bisa di hubungi" Jawabnya
"Kemana anak itu. tumben tidak memberi kabar"
Pagi datang. Liana dan Bagas yang menunggu kepulangan William sampai tertidur di sofa ruang tengah. Melihat kedua orang tuanya tidur di sana membuat William mempercepat langkahnya.
"Assalamualaikum ma, Pa" Ucap William sambil membangunkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Liana dan Bagas yang mendengar suara William seketika langsung membuka kedua matanya"Kamu sudah pulang Wil? Kenapa baru pulang jam segini? Kemana saja. Kenapa tidak mengabarkan mama dan papa Apa kamu tau bagaimana khawatirnya mama dan papa" Pungkas Liana sambil menatap William
Mendengar pertanyaan mamanya membuat William terdiam. Pria itu tidak tau harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya. "Kenapa kamu diam saja Wil. Kok baru pulang jam segini?" Timpal Bagas sambil menoleh ke arah William
"Mana mama tanya sama Andre dan Damar mereka bilang tidak tau."
William semakin bingung harus mengatakan apa. Karna memang setelah minum air itu. dia melupakan kedua sahabatnya. "Apa yang harus aku katakan" Batinnya
"Wil. Are you oke?"
"I am fine ma"
"Kamu belum menjawab, Kenapa semalam kamu tidak pulang?"
"W..wili.. Wili semalem sedang ada pekerjaan penting pa. Iya, Tiba-tiba saja Alex mengabarkan jika ada pekerjaan penting yang harus Willi urus"
Entah dari mana datangnya akal itu. Tapi yang pasti William tidak ingin kedua orang tuanya tau apa yang sudah menyebabkan dia pulang hingga pagi begini. Beruntung karna kedua orang tuanya langsung percaya dan tidak banyak bertanya lagi
"Iya mama ingat Wil. Jadi" Perkataan Liana terpotong saat suara William menimpali cepat
"Iya ma. Sebenarnya malam itu aku bukan sedang ada pekerjaan. Tapi aku terjebak dan menghabiskan malam bersama dengan Emilia"
"Dan gara-gara aku, Emilia harus merasakan kehidupan pahit selama 5 tahun lamanya" Ucap William lagi dengan nada sendu
"Sudah, Tidak usah membicarakan hal yang telah berlalu. Semuanya sudah berlalu Wil. Lebih baik kita membicarakan hal yang saat ini saja" Ucap Emilia sambil mengusap punggung William
Mendengar perkataan William membuat Wirayudo mengerutkan keningnya"Sebentar. Tadi William mengatakan terjebak. Memangnya siapa yang sudah menjebak kalian?" Tanya Wira sambil menatap William
"Menurut info yang aku dengar. Katanya yang menjebak kita berdua namanya Siren pa"
"Apa!! Siren?"
Betapa terkejutnya Wirayudo saat mendengar jika Siren yang sudah menjebak Emilia dan membuatnya sampai tega mengusir anak yang amat di sayangnya.
"Jadi semua itu ulah Siren?" Tanya Wira dengan nada tinggi
Melinda yang mendengar itu mengambil nafas panjang. Hal yang selama ini dia tutupi akhirnya terbongkar."Maafkan Siren pa. Maafkan apa yang sudah dia lakukan" Ucap Melinda sendu
__ADS_1
"Jangan bilang kalau sebenarnya mama sudah tau akan hal ini!" Ucapnya sambil menatap tajam Melinda