Single Mamy

Single Mamy
Tak sanggup Berpisah


__ADS_3

"Minum dulu obatnya sayang" Pungkas William lembut pada Emilia


"Iya Wil. Terimakasih ya Wil"


"Sama-sama sayang. Aku mau kamu cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini" Ucap William sambil mengusap rambut Emilia penuh cinta


"Terimakasih ya kamu sudah mau berkorban buat aku"


"Iya Wil. Sama-sama. Aku melakukan itu karna entah kenapa aku merasa tidak rela jika sampai kamu terluka."


"Eeem mami. Papi jadi makin sayang deh. Sini tium" Ucap William sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Emilia


Namum seketika William menghentikan hal itu karna Emilia dengan cepat menahan wajah William dengan telunjuknya"Jangan mesum-mesum. Ada kak Widi sama Ferdian disini" Gumam Emilia pelan dan hanya terdengar oleh William.


William menepuk jidatnya pelan"Aku lupa sayang. Aku pikir disini hanya ada aku sama kamu"


"Dasar memang pria mesum" Cibir Emilia pada William


"Biarin saja mesum. Mesum sama istri sendiri"


"Bener-bener mesum tingkat dewa kamu Wil"


William terkekeh dengan perkataan Emilia. Emilia ini ada-ada saja. Suami sendiri di katakan mesum tingkat dewa.


Sedangkan Ferdian terus saja melirik Widi yang saat ini sedang duduk di depannya. Raut wajah Widi sangat cantik. Biarpun usianya sudah memasuki kepala 3, Namun wanita itu masih terlihat sangat muda.


Ferdian menatap wajah Widi dan Emilia secara bergantian. Pria itu mengerutkan keningnya saat merasa ada beberapa kesamaan dari mereka. "Kenapa wajah Emilia dengan wajah Widi terlihat ada sedikit kemiripan. Seperti saudara saja. Padahal kan mereka bukan siapa-siapa. Hanya orang lain" Ucap Ferdian dalam batinnya sambil terus memperhatikan Emilia dan Widi secara bergantian.


"Eh kak. Aku perhatiin kenapa wajah kakak terlihat mirip dengan Emilia. Wajah kalian terlihat ada kesamaan. Apa hanya perasaan ku saja" Ujar Ferdian


"Masa sih Fer. Nggak lah. Jauh lebih cantik Emilia dari pada aku. Aku mah apa"


"Serius kak. Dari tadi aku perhatikan wajah kalian benar-benar ada kesamaan"


William yang mendengar perkataan Ferdian langsung mengamati wajah Emilia serta Widi. "Iya sih sayang. Wajah kamu sama Widi memang terlihat ada sedikit kemiripan"


Tak berselang lama kedua orang tua Emilia dan juga kedua orang tua Ferdian datang. Tak lupa juga Nathan ikut di sana. Namun tidak dengan Siren, Karna memang Siren kembali lebih dulu ke jakarta.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Loh mama sama papa ngapain kesini lagi?. Kan baru saja pulang" Tanya William pada mamanya


"Memangnya kenapa kalau mama balik lagi. Gak suka. Ya udah kamu saja yang keluar dari sini"

__ADS_1


"Lah mama, Kenapa malah William yang disuruh pergi dari sini. Kan Emilia istrinya William. Masa iya William yang di suruh keluar dari sini"


"Emilia juga mantunya mama. Kalau kamu gak suka liat mama, Ya kamu saja yang keluar dari sini. Iya kan sayang" Ucap Liana sambil menoleh pada Emilia


"Iya ma. Benar itu. Lebih baik William yang keluar dari sini"


"Ya ampun. Nasib-nasib. Selalu saja kalau mama sama Emilia bersama, Pasti aku yang langsung di tiri kan"


"Memang kamu hanya anak tiri Wil. Anak mama sekarang adalah Emilia"


"Iiihh mama ngeselin banget deh"


Di saat seperti itu. Tiba-tiba saja ada Dika yang masuk kesana. Pria itu ikut mengerjai William dan membuat William semakin merasa sangat kesal.


"Aku periksa dulu ya Em"


"Aduuh memangnya di rumah sakit ini dokternya hanya kamu. Kok dari tadi kami terus yang datang. Aku tuh bosen liat wajah kamu bocil" Gumam William sambil menatap Dika


"Karna memang hanya saya dokter tertampan di sini. Oleh karen itu, Saya yang di minta memeriksa semua wanita cantik yang ada di rumah sakit ini, Termasuk Emilia"


"Ini bocil memang menyebalkan ya. Merubah mood ku saja"


"Bocil lagi bocil lagi. Liat itu Em. masa dokter tampan sepertiku di katakan bocil"


"Sudah sudah. Kenapa sih kalian itu selalu saja berdebat. Gak.capek apa?"


β€’


β€’


β€’


Damar dan Siren sudah tiba di jakarta. Saat ini sudah ada orang suruhan Damar yang menjemput di sana.


"Dimana yang menjemput Dam?" Tanya Siren sambil melirik ke arah Damar


"Katanya di lobi. Ayo kita langsung ke lobi saja. Apa kamu tidak menghubungi pengasuh anak mu dan menanyakan di mana mereka sekarang"


"Kamu benar juga. Minta tolong pegangin ini dulu ya. Sepertinya aku memang harus menghubungi siti


Siren memberikan barang-barangnya pada Damar. Wanita itu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi pengasuh anaknya.


πŸ“ž:Halo mbk. Sekarang mbk sama Dini ada di mana


πŸ“ž:Saya sekarang ada di rumah teman saya bu. Apakah bu Siren sudah sampai di jakarta

__ADS_1


πŸ“ž:Iya. Tolong kamu sherlock ya. Sekarang


Setelah itu, Siren langsung memutuskan sambungan telponnya. Dan tak berselang lama. Ponselnya berdering. Ada sebuah pesan masuk yang sudah pasti dari pengasuh Andini.


Dtttt...Dttttt....Dtttttr


[ Jalan merdeka nomor 15 ]


"Bagaimana? Apa sudah dapat alamatnya?" Tanya Damar pada Siren


"Sudah. Ayo antar aku ke alamat ini ya"


"Jalan merdeka nomor 15? Itu kan nomor rumah ku"


"Benarkah?"


"Iya Siren. Jalan merdeka nomor 15 itu adalah nomor rumahku. Ayo cepat sedikit jalannya. Itu mobilnya di sana" Ucap Damar sambil menunjuk ke arah mobil yang sudah menjemputnya.


Siren yang mendengar itu langsung berjalan dan mengekor di belakangnya. Sejenak Siren menatap Damar yang saat ini sedang membuka pintu mobil.


"Terimakasih tuhan. Sudah mempertemukan aku dengan pria sebaik Damar. Terimakasih"Ucap Siren dalam batinnya sambil terus menatap Damar. Bahkan wanita itu tidak menyadari saat Damar memintanya untuk masuk terlebih dulu. Siren masih terlalu fokus pada Damar.


"Siren. Ayo kamu masuk duluan" Ucap Damar pada Siren


Namun wanita itu tak menggubris. Siren masih terus menatap Damar tanpa berkedip sedetikpun


"Siren" Panggil Damar lagi


"Eh iya ganteng" Ucap Siren tanpa sadar


Sedetik kemudian. Siren menutup mulutnya saat sudah menyadari apa yang baru saja dia katakan" Astaga. Kenapa aku harus salah bicara. Bikin malu saja" Ujar Siren dalam batinnya


Damar yang mendengar perkataan Siren hanya mengerutkan keningnya. Kemudian pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya"Baru sadar kalau aku ganteng" Ucap Damar dan tentu saja langsung membuat wajah Siren menjadi merah


β€’


β€’


Tanpa terasa hari sudah berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Danu baru saja kembali dari kantor. Karna memang dari tadi begitu banyak pekerjaan yang harus Danu selesaikan. Hingga membuat Danu terpaksa lembur dan pulang hingga larut seperti ini.


Pria itu menemukan Kumala yang tertidur di sofa ruang tengah. Seperti biasa, Setiap hari Kumala memang selalu menunggu Danu pulang dan makan malam bersama.


Namun hari ini Danu melupakan satu hal. Dia yang terlalu sibuk sampai lupa tidak mengabarkan pada Kumala untuk makan lebih dulu dan tidur di kamar.


Danu duduk di samping Kumala. Pria itu menatap wajah Kumala yang terlihat sangat damai dalam tidurnya. Entah kenapa dadanya terasa susah bernafas saat membayangkan perpisahan mereka.

__ADS_1


Karna jujur saja, Sepertinya untuk saat ini Danu lebih mencintai Kumala dari pada Kanaya. Rasa cintanya terhadap Kanaya tidak sedalam dulu lagi.


"Apa aku sanggup jauh dari kamu sayang. Tanpa aku sadari, Ternyata kamu sangat berpengaruh dalam hidupku" Ucap Danu sambil membelai rambut Kumala


__ADS_2