
"Semua ini gara-gara kak Emilia. Aku benci sam dia" Ucap Siren di sela langkahnya
Semua ucapan Wira juga David masih terngiang jelas pada indra pendengaran Siren. Dan hal itu membuat Siren semakin ingin membalaskan rasa sakit hatinya pada Emilia. Gara-gara Emilia dia tidak mendapatkan rasa sayang dari kedua laki-laki yang dia sayangi.
Selama ini Siren memang sangat menyayangi Wirayudo. Karna yang Siren tau Wirayudo adalah papa kandungnya. Laki-laki pertama yang hadir dalam hidup Siren, Cinta pertama yang Siren miliki.
Biarpun bukan anak kandung. Wirayudo memang selalu memperlakukan Siren dengan baik. Biarpun terkadang dia bersikap keras pada Siren yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengan Emilia anak kandungnya sendiri.
Siren mengambil ponselnya lalu mencari akun Emilia untuk mengetahui di mana tempat tinggalnya saat ini. Yang ada dalam benak Siren hanya satu. Ingin melihat Emilia menderita.
Entah kenapa wanita itu tidak pernah merasa senang saat melihat kakak kandungnya sendiri bahagia.
Di Tempat Lain
Emilia pergi meninggalkan Agus yang saat ini sudah terbaring lemah di atas jalanan yang cukup sepi. Agus menatap layar ponselnya yang berdering dan menampilkan sebuah nama tuan Ferdian di layar itu.
Melihat nama Ferdian membuat seluruh tubuh Agus bergetar karna rasa takutnya. Entah apa yang akan Agus katakan pada pria itu.
"Kenapa dia tidak mengangkat telpon ku! " Ucap Ferdian dengan nada marah
"Awas saja kalau sampai dia gagal membawa Emilia datang kemari. Aku akan memberi pelajaran padanya juga anak istrinya"
Tak lama kemudian ada sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya. Melihat itu membuat Ferdian langsung mengusap tombol hijau di layar ponselnya
π: Bagaimana, kalian berhasil kan?
π: Maaf tuan. Agus ternyata ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan wanita itu sudah tidak ada di dalam taksi
π: Apa! Jadi maksudnya kalian gagal membawa Emilia
π: M.....maaf tuan
π: Dasar tidak berguna
Tut....tut...tut...
Setelah mendengar hal itu membuat Ferdian terlihat sangat marah. Pria itu mengepalkan keras kedua tangannya serta mengatupkan giginya.
__ADS_1
"Awas saja Emilia. Aku sendiri yang akan menangkap mu" Ucap Ferdian
Emilia berjalan cepat agar segera tiba di jalan yang cukup ramai. Wanita itu masih sedikit was-was atas kejadian tadi. Untung saja Emilia memiliki ilmu karate yang sangat kuat. Sehingga dengan mudah dia melawan Agus yang memang usianya jauh lebih tua dari pada pada Emilia
"Kok kamu baru datang Em. Kakak khawatir sama kamu?" Ucap Widi saat Emilia baru saja tiba di rumahnya
Wanita itu tak langsung menjawab ucapan Widi. masih terlalu lelah jalan kaki dari tempat tadi. Karna Emilia tidak menemukan taksi ataupun ojek online. Tidak ada satu pun yang mau menerima orderannya.
"Air kak, Ambilkan aku air. Hauss banget kak Widi" Ujar Emilia dan langsung duduk di depan Widi
Melihat Emilia ngos-ngosan seperti itu membuat Widi mengerutkan keningnya dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.
"Kamu kenapa Em. Kok kayak habis di kejar maling?"
"Ambil aku minum dulu kak. Aku benar-benar haus"
"Sebentar ya"
Widi bangkit dari duduknya dan mengambilkan minuman untuk Emilia. Baru kali ini Widi melihat Emilia seperti itu.
5 Menit kemudian Emilia sudah kembali dengan membawa segelas air putih dingin dan langsung memberikannya pada Emilia.
Emilia meneguk habis segelas air putih yang di bawa oleh Widi. Wanita itu mengambil nafas berat dan panjang. Masih teringat jelas saat tadi dia di kejar oleh orang gila karna di kira istrinya.
Beberapa saat yang lalu
Saat sudah pergi dari hadapan Agus. Emilia duduk sambil mencoba memesan taksi online lewat aplikasi. Di saat Emilia masih sibuk mencari taksi atau ojek online. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berpenampilan acak-acakan mendekat ke arahnya dan hampir saja memeluknya.
"Istriku. kamu istriku. Kemana saja istriku, Aku sangat merindukanmu sayang" Ucap orang itu sambil melihat ke arah Emilia dengan dua tangan yang sudah terbuka lebar siap memeluk Emilia
Mendengar itu membuat Emilia melihat ke arah sekitarnya yang ternyata tidak ada siapa-siapa. di sana hanya ada Emilia seorang.
"Apa maksud orang ini. Istrinya. Astaga. Jangan bilang dia mengira aku adalah istrinya. Oh no. Dia benar-benar melihat ke arahku. apa orang itu gila karna di tinggal istrinya. Lebih baik aku kabur sekarang" Emilia bermonolog dalam batinnya
Dan ternyata dugaan Emilia memang benar. Melihat Emilia bangkit dari duduknya membuat orang itu mempercepat langkahnya dan mengejar Emilia yang sudah berlari.
"Jangan pergi sayang. Jangan tinggalkan aku istriku. Aku tidak bisa hidup tanpamu sayang" Ucap orang itu sambil terus mengejar Emilia
__ADS_1
Emilia semakin cepat berlari dan menjauh dari orang gila yang sudah mengiranya sebagai istrinya.
"Aduuuuh kenapa hari ini apes banget ya allah. sudah mau di culik dan sekarang di kejar orang gila. Benar-benar hari yang sial" ucap Emilia setelah hampir tiba di rumahnya
Mendengar cerita Emilia membuat Widi tertawa berbahak-bahak. Wanita itu hingga memegang perutnya yang terasa begitu sakit karna terlalu lama tertawa.
"Kak Widi kok malah ketawain aku. bukannya prihatin"
"Iya iya maaf maaf Em. Habis nya kamu bercerita seperti itu. kasian juga ya orang gila itu. Pasti dia sangat terluka karna di tinggal istrinya" Ucap Widi
"Eh Em. tadi kamu kan bilang sempat mau di culik. Bagaimana ceritanya Em. Apa kamu punya musuh?"
"Iya kak. Tadi itu aku sudah di bawa ke jalanan sepi. Untung saja aku cepat menyadari jika jalan yang di lewati bukan jalan menuju ke sini"
"Bagaimana bisa kamu lepas darinya?"
"Emilia gitu kak. Jangankan melawan 1 orang, Melawan 10 orang pun Emilia sanggup"
"Oh iya kak, Nathan gak kebangun kan?"
"Nggak kok Em. Nathan tidurnya nyenyak"
Setelah mendengar itu Emilia masuk ke dalam kamarnya dan memperhatikan Nathan yang ternyata memang sedang tidur begitu nyenyak. memandang wajah mungil Nathan membuat Emilia teringat pada William.
"Mungkin kita memang tidak berjodoh Willi. Aku tau bagaimana rasanya. Kamu pasti sangat kecewa saat mendengar aku sudah mau menikah dengan pria lain, Tapi kamu datang di saat yang tidak tepat. Maafkan aku"
Di saat Emilia sudah mau tidur. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Mata Emilia memicing saat melihat foto profil nomor itu.
[ Hai mamy nya Nathan. Sudah tidur? ]
Emilia membaca pesan itu dan memicingkan matanya saat melihat foto profilnya. Melihat foto dirinya dan Nathan membuat Emilia mengangkat kedua sudut bibirnya
[ Baru mau tidur. Ada apa? ] Send
[ Aku merindukan kalian. Apa besok aku boleh ikut mengantar Nathan? ]
[ Boleh sih. Tapi bagaimana jika calon suamiku tau ]
__ADS_1
[ Masa calon suami kamu mau cemburu sama tukang ojek. Aku kan hanya tukang ojek. Nanti kita pura-pura sebagai tukang ojek dan penumpang ]
[ Baiklah. Demi Nathan ] Send