
"Mami, Kamu kenapa mami. Kamu baik-baik saja kan mami? Buka pintunya mami" Ucap William sambil mengetuk pintu kamar mandi
"Dasar pria menyebalkan" Teriak Emilia dari dalam kamar mandi
Mendengar perkataan Emilia, William hanya mengulum bibir. Pria itu sudah tau pasti apa yang sudah membuat Emilia berteriak seperti itu. "Rasain tuh Em. Makanya jangan suka ngerjain suami. Kualat kan. Hahah" Ucap William pelan
Emilia terus memperhatikan bekas kissmark yang begitu begitu banyak di bagian tubuh atasnya. Tiba-tiba saja Emilia teringat jika hari ini dia harus menggunakan gaun sebatas dada.
Mengingat hal itu membuat Emilia merasa begitu panik. Bagaimana tidak panik. Jika Emilia menggunakan gaun sebatas dada. Otomatis bekas kissmark itu akan sangat terpampang begitu jelas.
"Ya ampun. Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. semuanya gara-gara William. Aku ada dalam masalah besar" Ucap Emilia sambil berusaha menghapus bekas kissmark itu. Namun usahanya hanya sia-sia. Karna semakin Emilia berusaha menghilangkan, Bekas itu semakin terlihat jelas.
"Aduh, Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan biar bekas kissmark ini bisa segera hilang" Ucapnya sambil mencoba membersihkan dengan sabun mandi.
Namun hasilnya tetap nihil. Karna itu bukan bekas lipstik atau pun pewarna. Itu bekas dari apa yang sudah mereka lakukan malam tadi.
"Aku harus bagaimana. William harus bertanggung jawab untuk ini. Apa aku pura-pura sakit saja. Biar acara hari ini di tunda sampai bekas kissmark ini hilang"
"Tapi apakah semuanya akan percaya kalau aku pura-pura sakit. Aaakkkhhh. Aku benar-benar bingung"
Sudah hampir 1 jam Emilia ada di dalam kamar mandi. Namun wanita itu masih belum keluar juga. William yang sejak tadi menunggu akhirnya memutuskan untuk kembali mengetuk pintu kamar mandi.
Tok....tok...tok
"Mami. Mami baik-baik saja kan? Kenapa mami belum juga keluar dari tadi. Memang nya mami belum selesai mandinya?" Tanya William sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Emilia yang mendengar suara William menjadi semakin kesal. Wanita itu membiarkan William yang terus mengetuk pintu dan terdengar mengkhawatirkannya.
"Mami. Mami beneran belum selesai mandinya?" Ucap William lagi
"Ayo dong mami. Ini sudah hampir satu jam loh mami di dalam kamar mandi. Jangan buat papi Willi khawatir dong mami. Di luar sudah ada Nathan yang menunggu kita"
Mendengar nama Nathan, Akhirnya Emilia membuka pintu kamar mandi dan langsung keluar dari sana dengan wajah yang sudah terlihat di tekuk.
__ADS_1
Melihat wajah murung Emilia membuat William merasa iba. Pria itu mendekat dan langsung menggenggam tangan Emilia penuh sayang.
"Mami kenapa? Kok habis mandi wajahnya di tekuk gitu. Memangnya mami tidak bahagia dengan pernikahan kita?" Pungkas William yang terdengar begitu lembut
"Ayolah cerita sama aku. Ada apa sayang? Apa aku sudah menyakitimu?" Ucapnya lembut
Sayang? Ada angin apa sampai membuat William memanggilnya dengan sebutan sayang dan terdengar begitu halus dan lembut.
"Duduk sini. Ada apa? Cerita sama aku sayang?" Ucap William lagi
Emilia tak menjawab. Wanita itu hanya menatap William sendu serta dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Entah kenapa Emilia merasa ingin menangis hanya karna tidak sanggup harus menahan malu karna bekas Kissmark yang memenuhi tubuh bagian atasnya.
"Kamu jahat Wil. Kenapa kamu melakukan itu. Hikss...hikss"
"Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan ku?"
William yang tidak mengerti dengan perkataan Emilia hanya bisa mengerutkan keningnya. Apa maksud dari ucapan wanita itu. Kenapa harus berbicara tidak jelas begitu!
"Jahat? Tega? Memangnya apa yang sudah aku lakukan mami. Apa yang sudah membuat mami menangis begini. Papi jahat kenapa?" Tanya William sambil membawa Emilia dalam dekapannya.
Emilia tak menjawab. Wanita itu hanya membuka beberapa kancing bajunya dan memperlihatkan bekas kissmark yang sudah pasti ulah William malam tadi.
"Kenapa memangnya mami. Apa yang salah dengan bekas kissmark ini? Kenapa mami sampai harus menangis?"
Mendengar perkataan William, Emilia mengangkat wajahnya dan langsung memberikan William tatapan yang paling tajam" Apa kamu bilang. Apanya yang salah dengan bekas kissmark?"
"Iya, Memangnya apa yang salah dengan bekas kissmark ini mami. Kan gak sakit, Kenapa mami mesti nangis begitu. Cengeng sekali. Masak tidak mali sama Nathan"
"MEMANG TIDAK SAKIT. TAPI AKU MALU WILLIAM" Ujar Emilia dengan kesal tepat di telinga kiri William
Emilia bangkit dari duduknya. Sepertinya memang tidak ada gunanya mengatakan pada William. Pria itu sama sekali tidak bisa membantu masalah yang saat ini sedang Emilia hadapi.
Sedangkan William yang mendengar itu langsung mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Astaga! Ternyata yang sudah membuat mu nangis hanya karna malu. Ya ampun mami" Ucapnya pada Emilia
__ADS_1
"Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana bisa aku menggunakan gaun itu. Nanti yang ada ini akan di lihat semua orang" Ucap Emilia sambil memperhatikan bekas kissmark nya.
William yang melihat wajah panik Emilia hanya bisa tersenyum. Tingkah Emilia benar-benar membuatnya harus menahan tawa. Wanita itu benar-benar unik.
Setelah cukup lama memperhatikan Emilia yang mondar mandir dengan wajah panik. Akhirnya William berdiri dan menghampiri Emilia. Pria itu tau bagaimana caranya agar bekas itu tidak terlihat.
****
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10:30. Emilia yang sudah selesai di rias dan juga menggunakan gaun berwarna silver. Wanita itu menatap William yang saat ini juga sedang menatapnya tanpa berpaling sedetik pun.
"Kamu benar-benar sempurna Em. Sudah siap kan untuk acara resepsi kita" Ucapnya sambil menggandeng tangan Emilia
"Tidak usah membual. Aku masih kesal padamu. Lebih baik kita turun sekarang. Tidak enak sama semua tamu undangan yang sudah menunggu kita"
"Yaelah mami. Jangan gampang marah dong. Nanti papi Willi gigit mau?"
"Gigit saja kalau kamu sudah siap untuk di sunat lagi"
Perkataan Emilia langsung berhasil membuat William terdiam. Pria itu melirik ngeri ke arah Emilia yang saat ini ada di sampingnya.
"Sebenarnya dia itu bidadari atau apa sih. Serem amet" Ucapnya dalam batin
Saat ini Emilia menggunakan sebuah gaun berwarna Silver dengan rambut yang tertata rapi. Ada beberapa helai yang di biarkan begitu saja di bagian depan. Sungguh Emilia terlihat sangat cantik.
Sedangkan William menggunakan setelan jas berwarna silver. Pria itu terlihat sangat tampan dengan kedua lesung pipi yang terlihat jelas saat mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Wil. Aku grogi" Ucap Emilia saat sudah menuruni anak-anak tangga di sana
"Jangan gerogi mami. Anggap saja saat ini kita sedang berdua. Tidak ada orang lain disini. KITA HANYA BERDUA. Saat ini dunia hanya milik kita mami."
"Emangnya yang lain ngungsi. Seenaknya bilang dunia milik kita berdua"
"Mau nya begitu mami"
__ADS_1