Single Mamy

Single Mamy
Gagal Lagi


__ADS_3

"Ayo dong Dika, Kamu tutun pindah ke depan. Aku mau duduk sama istriku. Turun gak!" Ucap William lagi sambil menatap Dika serta menarik tangannya


"Apaan sih. Aku gak mau. Lagian siapa cepat dia yang dapat lah. Siapa suruh dari tadi hanya sibuk ngatakan aku bocah. Pokoknya aku tetep mau di sini. titik!" Ucap Dika yang tidak kau kalah


"Ini bocil emang nyebelin banget ya. Katanya dokter, Tapi kelakuan kayak anak kecil. Dokter apaan begitu"


Dika yang mendengar itu tentu saja merasa tidak terima. Dika membalas tatapan William"Hello. Ngatain saya seperti anak kecil. Lalu bagaimana dengan anda pak ceo. Kalau sampai semua karyawan mu tau kelakuan direkturnya kayak gini, Pasti langsung di diketawain habis-habisan, Ngatain orang tapi tidak berkaca. Huuu, Padahal dirinya juga kayak anak kecil" Cibir Dika pada William.


Nathan yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut berkomentar"Papi sama om Dika kayak Nathan saja. Masa rebutan tempat duduk. Sampai berantem lagi, Kayak Nathan kalau lagi di sekolah" Ucap Nathan


Mendengar itu membuat semua orang yang ada di sana tertawa"Denger tuh kata Nathan. Masa anaknya sampek ngomong sepert itu Wil" Timpal Emilia


"Ya habisnya Dika ngeselin sayang. Kan aku mau duduk di sini"


"Tapi aku juga mau duduk di sini" Timpal Dika cepat


Emilia yang sudah males mendengar perdebatan itu, Akhirnya keluar dari mobil"Kamu mau duduk di sini kan. Yaudah, Biar aku yang duduk di depan. Kalau begini terus, Yang ada kita ketinggalan pesawat" Ujar Emilia dan langsung masuk ke dalam mobil. Duduk di samping supir taksi


"Ayo cepet masuk Wil. Atau kamu mau tetep berdiri di sana" Ucap Emilia pada William


Akhirnya dengan sangat terpaksa, William naik dan duduk bersebelahan dengan Dika. Hal itu membuat William menekuk wajahnya. Sedangkan Dika sudah mengulum bibir saat melihat raut wajah Dika


"Ngapain kamu senyum-senyum begitu?" Tanya William saat melihat Dika mengulum bibir


"Ngomong sama aku?" Ucap Dika sambil terus mengulum bibir


"Dasar bedebah menyebalkan. Awas saja nanti ya. Aku balas apa yang sudah kamu lakukan"


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan. Aku tidak memukul mu" Ucap Dika yang langsung berhasil membuat William semakin kesal


William sungguh di buat kesal oleh Dika. Benar-benar kesal tingkat dewa."Menyebalkan!" Ucap William


"Memangnya situ tidak menyebalkan" Jawab Dika sambil mengulum bibir


Sungguh Dika merasa sangat terhibur dengan mengerjai William. Kakak iparnya ini memang gampang sekali di buat kesal.


"Sudah sudah. Kalau kalian masih mau berdebat, Lebih baik turun saja dari taksi ini. Kalian bisa melanjutkan di luar" Ucap Emilia yang sudah merasa sangat kesal


Akhirnya, Dika dan juga William tidak lagi melanjutkan perdebatannya. Dika memilih menatap ke luar jendela. Sedangkan William memilih main ponsel.


Namun, Di saat William sedang membuka sosial media. Tanpa sengaja William melihat sebuah foto wanita dan laki-laki. Melihat itu membuat William cukup terkejut. Bagaimana tidak terkejut, Foto yang William lihat adalah foto seorang wanita cantik dengan laki-laki yang wajahnya begitu mirip dengannya.


"Siapa orang ini. Kenapa wajahnya begitu mirip dengan wajah ku. Apa jangan-jangan wanita ini yang sudah mengirim kan pesan teror pada Emilia waktu itu. Bukan kah Alex memang pernah mengatakan jika orang yang mengirim pesan pada Emilia adalah seorang modeling. Apa jangan-jangan ini orangnya" Ucap William dalam batinnya


William terdiam sejenak sambil terus memperhatikan akun yang ada foto seseorang mirip dengan wajahnya. "Aku harus cari tau siapa orang ini. Kenapa wajahnya begitu mirip denganku" Batin William lagi. Setelah itu William mengirimkan pesan pada Alex.


[ Tolong kamu cari tau tentang wanita yang bernama Kanaya. Saya melihat ada sebuah foto Kanaya bersama dengan seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan saya ] Send


Dttttt...Dttttt....Dttttt


[ Jadi tuan muda sudah tau prihal foto itu? ]


[ Jangan bilang kalau sebenarnya kamu juga sudah tau tentang foto itu? ] Send


Dtttt....Dttttt..


[ Heehe, Iya tuan muda. Sebenarnya saya sudah tau sejak hari itu. Tapi saya tidak mengatakan perihal itu karna tidak mau mengganggu tuan muda yang sedang Honeymoon. Membuatkan adik untuk Nathan ]


Membaca pesan alex membuat William mendengus kebal. Kenapa hari ini semua orang membuatnya kesal"Asem. Kenapa dia tidak mengatakan dari awal padaku" Ucap William sambil terus menatap ponselnya


Bagaskara yang mendengar itu tentu saja merasa penasaran"Ada ada Wil. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Bagas pada William


William mengangkat wajahnya"Oh tidak ada apa-apa kok pa. Hanya saja ini si Alex. Menyebalkan kayak Dika" Jawab William sambil tersenyum


Dika yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh ke arah William"Hei, Kenapa anda membawa-bawa nama saya" Ucapnya

__ADS_1


"Kan memang seperti itu kenyataannya" Ucap William sambil kembali fokus pada ponselnya


"Siapa sebenarnya mereka. Kenapa wajah laki-laki ini begitu mirip dengan wajahku" Batin William lagi


Di mobil yang berbeda


"Wid. Nanti kamu nginep di rumahnya om sama tante ya. Kamu bisa tidur di kamar tamu" Ucap Wira pada Widi


"Iya om. Terimakasih sudah mengijinkan Widi nginep di sana om" Ucap Widi sopan


"Tidak perlu berterimakasih Wid, Selama ini kamu sudah sangat baik pada Emilia. Oleh karena itu, Mulai hari ini. Tante sama om akan mengangkat kamu sebagai anak kami" Ucap Melinda sambil menoleh pada Widi yang duduk di kursi belakang dengan Ferdian.


Mendengar itu membuat Widi sangat terkejut"T...tante serius?"Tanya Widi


"Iya nak. Jadi mulai hari ini, Panggil kami dengan sebutan papa dan Mama. Tapi kalau boleh tau, Orang tua kamu di mana nak?" Tanya Melinda yang memang belum mengetahui jika Widi sudah tinggal sendiri sejak masih umur 10 tahun.


Widi terdiam sejenak. Wanita itu menundukkan wajahnya sedih. Saat teringat akan mendiang sang mama belasan tahun yang lalu.


"Mama sudah meninggal tante. Sejak kecil, Widi memang sudah tinggal sendi dan berjuang sendiri atas hidup Widi"Terang Widi dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca


Melinda menggenggam tangan Widi. Seakan memberi semangat serta mencoba menenangkannya."Yang sabar nak. Doakan saja mendiang mamamu. Jangan sedih lagi, Mulai hari ini, Kamu sudah menjadi anak kami" Ucap Melinda pada Widi


"Apa kamu punya foto mendiang mama mu?" Tanya Wira yang membuat Widi tertegun dan terdiam untuk beberapa saat


"Iya nak, Apa kamu punya foto mendiang mama. Tante penasaran seperti apa wajah mamamu. Karna wajah kamu mengingatkan tante pada seseorang."Ujar Melinda pada Widi


Widi terdiam. Tidak tau harus menjawab apa. Karna kalau seandainya Widi sampai menunjukkan foto mamanya, Tentu saja Melinda dan Wira akan langsung mengenal mendiang mamanya.


"Widi. Kamu dengar Tante? Ucap Melinda sambil terus menatap Widi


Awalnya Widi ragu untuk memperlihatkan foto mendiang mamanya. Namun sejenak Widi teringat perkataan sang mama. Jika Wirayudo tidak pernah tau jika saat itu Mira hamil karna perbuatan tidak sengaja itu.


"Apa sebaiknya aku kasih tau foto mama pada mereka berdua" Ucap Widi dalam batinnya.


Setelah cukup lama terdiam. Akhirnya Widi mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Wanita itu memperlihatkan foto masa kecilnya bersama dengan seorang wanita cantik. Yang tak lain adalah Mira, Mamanya.


Melinda mengerutkan keningnya sambil terus menatap foto di ponsel Widi. "Ini kan Mira" Ucap Melinda sambil menoleh pada Widi


"Liat deh pa. Ini kan Mira, Teman kita dulu pa" Ujar Melinda lagi sambil memperlihatkan foto itu pada Wira.


Deg!


Melihat foto Mira membuat Wirayudo teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Pria paruh baya itu terdiam beberapa saat. Ingatannya kembali pada masa itu, Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya.


"Pa, Kok papa malah diam saja" Ucap Melinda sambil menepuk punggung Wira


"Eh iya ma. Ada apa?" Tanyanya


"Papa kok malah melamun"


"Iya ma. Ini kan Mira" Jawabnya pelan


****


"Selamat pagi" Ujar Siren pada Damar yang saat ini sedang meminum secangkir kopi sambil membaca koran. Sudah seperti biasa, Setiap hari Weekend Damar akan bersantai ria di rumahnya sambil membaca koran.


Kalau biasanya Damar Sendirian di rumahnya, Tidak dengan hari ini. Karna memang Siren dan juga Dini ikut tinggal di sana sejak 2 hari yang lalu.


"Pagi" Jawab Damar sambil menoleh pada Siren


"Aku sudah masak. Ayo kita sarapan dulu" Ajak Siren


"Aku tidak biasa sarapan Si"


"Ayolah Mar. Aku udah terlanjur masak loh, Kalau gak kemakan kan sayang"

__ADS_1


"Baiklah. Dini sudah bangu"


"Sudah, Sebentar lagi aku akan membawanya turun"


Damar mengekor di belakang Siren. Pria itu langsung berjalan menuju meja makan dan memperhatikan beberapa menu makanan yang sudah tersaji di atas meja.


Sedangkan Siren masih naik ke lantai atas untuk memanggil Dini dan sarapan bersama. Di rumah sebesar ini, Damar memang tinggal sendirian. Karna kedua orang tuanya sudah meninggal dunia saat Damar masih berusia 20 Tahun.


Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Damar memang bekerja keras dan mempertahankan perusahaan yang selama ini di bangun susah payah oleh mendiang papanya.


10 Menit kemudian. Siren dan Dini sudah turun dan langsung bergabung dengan Damar di meja makan. "Ini semua kamu yang masak?" Tanya Damar pada Siren


Siren hanya mengangguk pelan"Semoga kamu suka sama masakan aku ya. Selamat makan" Ucap Siren sambil mengambil kan nasi untuk Dini


Sejenak Damar terdiam. Pria itu menatap Siren dan juga Dini yang saat ini sudah menikmati makanan di piring mereka masing-masing.


"Seandainya kita adalah keluarga. Mungkin aku akan menjadi orang yang sangat bahagia, Memiliki istri dan juga anak seperti Dini." Ucap Damar dal batinnya sambil terus menatap Siren dan juga Dini


****


2 Jam sudah berlalu. Emilia dan juga William sudah tiba di kediaman orang tua Emilia. Begitu juga Widi dan kedua orang tuanya.


Sedangkan Ferdian, Pria itu memutuskan untuk menginap di salah satu hotel di jakarta, Karna Ferdian tidak mau kembali ke Bogor jika Widi masih di jakarta.


"Widi. Kamu tidur di kamar tamu itu ya. Selamat istirahat" Ucap Melinda pada Widi


"Iya tante" Jawab Widi sambil menundukkan wajahnya


"Kok tante. Mama, Ingat jangan lupa loh ya Wid. Mulai hari ini kamu sudah menjadi kakaknya Emilia"


"Iya, Mama" Jawab Widi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Sedangkan Wira, Sejak tadi hanya terdiam. Pria paruh baya itu jadi teringat akan perkataan Liana saat sedang pernikahan Emilia dan William.


"Apa jangan-jangan Widi adalah anakku. hasil dari kejadian waktu itu. Tapi selama ini Mira tidak pernah mengatakan apa-apa. Bahkan dia benar-benar menghilang seperti di telan bumi setelah kesalahan yang pernah aku dan dia lakukan. Mira benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengganggu hubungan ku dengan Melinda" Ucap Wira dalam batinnya


Pikiran Wirayudo masih terus berkelana. Wira benar-benar tidak bisa fokus karna memikirkan hal ini. Sampai-sampai Wira tidak sadar saat Melinda memanggilnya.


"Papa" Panggi Melinda lagi dan langsung menyadarkan Wira


"Mama panggil papa?" Tanya Wira setelah menyadari jika Melinda memanggil


"Iyalah pa. Memangnya siapa lagi yang mau mama panggil. Papa kenapa sejak tadi hanya diam saja?" Tanya Melinda lagi


"Papa tidak kenapa-napa kok ma. Hanya saja papa sedang memikirkan tentang kasus yang akan papa tangani" Jawabnya berbohong


Tanpa terasa hari sudah berlalu begitu cepat. Malam ini Nathan tidak mau tidur dengan Emilia dan juga William. Entah kenapa anak kecil itu meminta untuk tidur bersama dengan Widi di dalam kamar tamu. Membiarkan Emilia dan William hanya berdua saja.


Emilia berdiri di atas balkon kamarnya. Menikmati rintik hujan yang tiba-tiba saja datang mengguyur kota itu. Tak berselang lama, William datang dan langsung memeluk Emilia dari belakang.


Mendapat pelukan seperti ini membuat Emilia cukup terkejut"Kamu ngagetin aku saja deh Wil" Ucap Emilia sambil membalikkan tubuhnya menatap William yang saat ini sedang tersenyum sangat lebar. Menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Maaf ya sayang. Kalau aku mengagetkan kamu"


"Iya" Jawab Emilia sambil terus memainkan air hujan dengan tangannya


Tiba-tiba saja William membisikkan sesuatu yang langsung membuat Emilia membulatkan kedua matanya.


"Sayang, Kalau lagi hujan seperti ini, Aku tau enaknya itu ngapain" Ucap William sambil terus memeluk Emilia dari belakang


"Apa memangnya?"


"Membuatkan adik untuk Nathan. Sepertinya cuaca malam ini sangat pas sayang" Ucap William sambil menggigit daun telinga Emilia


Wanita itu semakin membulatkan kedua matanya. Emilia membalikkan tubuhnya sambil menatap tajam William"Kamu itu ya Wil. Pikirannya itu terus"

__ADS_1


"Biarkan saja. Pokoknya aku mau malam ini kita membuatkan adik untu Nathan. Kan Nathan sudah sangat pengertian membiarkan kita berdua malam ini. Itu artinya Nathan sudah memberi kode untuk kita segera membuatkan dia adek bayi" Ujar William dan langsung menggendong Emilia masuk ke dalam kamarnya


Namun setelah tiba di dalam kamar, Saat William sudah bersiap mencium Emilia, Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Hal itu tentu saja membuat William merasa sangat kesal."Gagal lagi" Ucap William lesu


__ADS_2