Single Mamy

Single Mamy
Sepupu menyebalkan!


__ADS_3

"Mama. Aku kok seperti anak tiri saja. Mama selalu marahin Willi di depan Emilia. Sebenarnya anak mama itu Willi apa Emilia sih ma" Ucap William sambil memanyunkan bibirnya


Semua yang ada di sana hanya terkekeh saat melihat raut wajah William yang begitu lucu. Bagaimana tidak lucu, Bibirnya manyun serta wajahnya sendu dan menunduk. Benar-benar lucu.


"Iiiih kayak anak kecil. Gak malu apa sama Nathan kamu itu Wil" Cibir Emilia sambil menatap William


"Biarin aja kayak anak kecil. Habisnya kamu gak mau maafin aku" Jawab William pelan.


Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Dan tak lama kemudian, Ponsel Siren berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Siren mengerutkan keningnya karna merasa tidak kenal dengan nomor itu.


"Kok gak diangkat Ren?" Tanya Melinda saat melihat Siren membiarkan ponselnya terus berdering


"Biarin saja ma. Nomornya tidak di kenal" Ujar Siren yang memutuskan membiarkan ponsel itu terus bergetar.


"Awas nanti penting loh Ren. Lebih baik kamu angkat saja" Timpal Wira sambil melirik pada Siren.


Mendengar perkataan papanya membuat Siren akhirnya menjawab telpon itu. Dan ternyata yang menelpon adalah Baron, Ayah kandungnya.


πŸ“ž:Halo, Maaf ini dengan siapa?


πŸ“ž:Saya ayahmu. Jangan lupa dengan apa yang kamu janjikan malam tadi. Saya tunggu transferannya.


πŸ“ž:Iya


πŸ“ž:Sebentar lagi akan saya kirim nomor rekening. Kirim uangnya secepatnya


Setelah mengatakan hal itu Baron langsung memutuskan sambungan telponnya. Karna yang Baron butuhkan hanyalah uang, Uang dan uang.


Melihat raut wajah Siren, Melinda dan Wira merasa begitu penasaran. Siapa yang sudah menelponnya hingga membuat Siren seperti itu.


"Siapa yang telpon Ren?"


"Ooh bukan siapa-siapa ma. Hanya orang salah sambung" Ujar Siren yang sengaja berbohong.


Ada rasa menyesal sudah tau seperti apa sosok ayah kandungnya. Laki-laki yang hanya mementingkan uang dan uang.


Di Jakarta


Widi sudah bersiap untuk berangkat ke bali dan melihat keadaan Emilia. Mendengar adiknya tertembak membuat Widi merasa sangat khawatir. Karna memang Widi sudah benar-benar menyayangi Emilia.


Namun saat Widi sudah mau berangkat dari rumahnya. Tiba-tiba saja dia mendapatkan kabar dari Alex jika Alex tidak bisa menemani Widi. Karena mendadak dia ada urusan.


Dtttt..Dttttt...Dttttt


Mendengar ponselnya berdering Widi langsung membuka pesan itu. Kedua matanya memicing saat membaca pesan yang Alex kirimkan.


[ Maaf sayang, Aku tidak bisa antar kamu ke bali. Tiba-tiba saja aku ada urusan mendadak yang harus aku urus. ]


Membaca itu membuat Widi mengambil nafas pelan. Alasan Widi minta untuk di temani pada Alex karna dia merasa takut naik pesawat. Apalagi itu adalah pengalaman pertama bagi Widi. Sebab memang tidak pernah naik pesawat sebelumnya.


"Aduh bagaimana ini. Kalau aku naik pesawat sendiri. Aku kan gak pernah naik pesawat sebelumnya" Ucap Widi dengan wajah yang terlihat gelisah


Di saat Widi sedang bingung. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Mendengar itu tentu saja membuat Widi langsung berjalan keluar dan membuka pintu rumahnya.


Ternyata yang datang bertamu ke rumahnya adalah Ferdian. Untuk apa Ferdian datang pagi-pagi seperti ini ke rumahnya. Ada urusan apa yang membuat pria itu bertamu pagi buta seperti ini.


"Ferdian. Ngapain kamu pagi-pagi datang kesini. Oh bukan bukan. Maksud aku ada kepentingan apa kamu kerumah aku pagi-pagi begini? Ayo masuk dulu"


Ferdian tak langsung menjawab. Pria itu hanya masuk dan mengekor di belakang Widi. Setelah tiba di dalam, Widi menawarkan Ferdian mau minum apa.


"Mau minum apa Fer? Biar kakak buatkan"


"Kopi boleh deh kak. Sepertinya pagi-pagi minum kopi enak, Apalagi kopi buatan kak Widi. Udah lama Ferdian gak minum kopi buatan kak Widi" Ucap Ferdian sambil mengangkat kedua sudut bibirnya

__ADS_1


Widi tersenyum mendengar perkataan Ferdian"Tunggu sebentar ya. Aku buatkan kamu kopi dulu" Ucap Widi dan masuk ke dalam meninggalkan Ferdian yang terus menatapnya tanpa berkedip.


"Apa salah jika aku mencintai mu kak? Apa salah jika aku berharap kita bisa bersatu sebagai pasangan suami istri? Apa semua harapan yang aku miliki bisa menjadi kenyataan kak" Ferdian bermonolog dalam batinnya sambil terus menatap punggung Widi yang sudah menghilang di balik tembok


Harapan. Semua orang memang pasti memiliki yang namanya harapan. Begitu juga dengan Ferdian yang memiliki begitu banyak harapan dalam hidupnya. Salah satunya adalah harapan untuk bisa memiliki Widi.


Seorang wanita cantik yang sudah berhasil mengambil hatinya sejak beberapa tahun yang lalu. Memendam perasaan terhadap orang yang memiliki umur 6 tahun lebih tua dari pada dirinya. Tapi bagi Ferdian umur bukanlah sebuah masalah. Karna hati tidak bisa memilih kepada siapa akan berlabuh.


Memang setelah perpisahan dengan Widi. Ferdian sempat berusaha untuk membuang perasaannya dan mencari wanita lain yang bernama Larasati. Namun apa yang Ferdian dapatkan di saat mencoba mengutarakan perasaan yang dia miliki, Bukan balasan yang Ferdian dapatkan, Melainkan penolakan dan hinaan yang langsung menusuk hingga ke relung hatinya.


"Ini kopi nya Fer, Maaf ya lama" Ucap Widi dan menyerahkan kopi itu pada Ferdian


"Iya kak gak papa. Aku sangat kangen dengan kopi buatan kak Widi. Dulu hampir tiap hari kak Widi membuat kan kopi ini untukku" Ucap Ferdian sambil meminum kopi itu


Widi hanya tersenyum. Karna memang dulu Widi sering membuatkan kopi Ferdian. Apakah mereka dulu sedekat itu? Memang, Dulu mereka sempat sangat dekat. Bahkan Widi dulu pernah tinggal bersama dengan Ferdian dan juga bundanya. Walaupun hanya sebentar, Karna Widi harus terpaksa pergi dari rumah Ferdian setelah bundanya Ferdian di tegur oleh ketua RT di sana.


"Bagaimana rasanya. Apa masih seenak dulu. soalnya aku udah jarang membuat kopi"Ujar Widi sambil menatap Ferdian yang sedang menyeruput kopi itu


Mendengar pertanyaan Widi membuat Ferdian mengangkat wajahnya"Rasanya lebih enak dari pada yang dulu kak Widi buat. Ini kalau aku kasih nilai sih sudah 9/10. Benar-benar mendekati kata sempurna" Ucap Ferdian sambil menatap Widi begitu dalam


"Kamu ada-ada saja deh Fer. Jangan muji kopi buatan kakak seperti itu dong, Nanti yang ada kakak terbang" Ucap Widi sambil terus mengangkat kedua sudut bibirnya


Tanpa Widi sadari, Pandangan Ferdian tidak pernah lepas dan terus menatapnya yang pagi ini terlihat sangat cantik dan membuat Ferdian benar-benar terpana.


"Oh iya Fer, Kalau boleh tau untuk apa kamu kesini pagi-pagi?" Tanya Widi pada Ferdian


"Gak ada kak, Aku hanya kangen saja sama kakak. Ingin mengobrol setelah sekian tahun tidak bertemu dengan kakak"


"Oh iya kak. Kak Widi mau kemana kok sudah rapi aja. Apa aku datang di saat yang tidak tepat?" Tanya Ferdian saat baru menyadari penampilan Widi yang sudah rapi


"Oh, Aku mau ke bali Fer. Mau liat kondisinya Emilia"


Ferdian mengerutkan keningnya. "Mau liat kondisinya Emilia? Memangnya Emilia kenapa kak. Bukannya dia bulan madu ya?" Tanya Ferdian begitu penasaran saat mendengar perkataan Widi


"Apa kak. Emilia tertembak? kok bisa kak. Memangnya apa yang sudah terjadi?"


"Entahlah Fer. Kakak juga belum tau pastinya seperti apa"


"Kak Widi bareng sama siapa?" Tanya Ferdian pelan


Mendengar pertanyaan Ferdian membuat Widi mengambil nafas panjang"Awalnya sama Alex Fer, Tapi tiba-tiba saja dia ada urusan. Aku bingung mau bareng sama siapa, Soalnya aku belum pernah naik pesawat sebelumnya" Ucap Widi lesu


"Biar aku yang temani kak" Ucap Ferdian cepat


"Serius kamu mau temani kakak Fer? Tanya Widi sambil menatap Ferdian


Melihat tatapan Widi jantung Ferdian berdegup sangat kencang. Kedua bola mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Namun dengan cepat Ferdian memutuskan tatapan itu karna belum siap jika Widi menyadari perasaan yang dia miliki saat ini.


"Iya kak. Ferdian serius. Tapi bagaimana dengan tiket pesawatnya. Penerbangan kakak jam berapa?"


"Jam 07:00 sih Fer. Kalau memang kamu benar-benar mau menemani kakak, Kamu masih bisa pesan tiket itu. Karna penerbangan masih 1 jam lagi"


Ferdian tak lagi menjawab. Dia hanya mengambil ponselnya dan memesan sebuah tiket pesawat dari jakarta ke bali. Sesuai dengan pesawat yang akan Widi tumpangi


"Sudah kak. Aku sudah booking tiket sesuai pesawat yang akan kakak naiki. Kalau begitu aku beres-beres dulu di rumah kak. Apa sekalian kak Widi ikut ke rumah ku? Nanti kita berangkat dari sana. Bagaimana?" Tawar Ferdian yang terlihat begitu bahagia


"Boleh juga" Jawab Widi sambil tersenyum


"Akhirnya ada waktu buat berduaan dengan kak Widi" Ucap Ferdian dalam batinnya


Di rumah sakit


Kedua orang tua Emilia dan juga William sudah kembali. Begitu juga dengan Siren dan Nathan yang ikut pulang bersama dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Saat ini di rumah sakit hanya ada William yang menjaga Emilia. Wanita itu masih terus cuekin William yang sedang duduk tepat di depannya. Pria itu ikut naik ke ranjang rawat Emilia.


"Sayang, Maafin aku dong. Aku ngaku salah. Maafkan aku yang terlalu cemburu ya. Aku melakukan itu hanya karna tidak mau melihat kamu di peluk sama pria lain. Aku cemburu sayang. Masa kamu gak ngerti" Ucap William sambil menggenggam tangan Emilia


"Mami. Maafkan papi dong. Plesss"


Melihat raut wajah William membuat Emilia menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk William tebak.


"Kenapa kamu liatin aku seperti itu Mami?" Tanya William saat melihat tatapan Emilia


"Tutup matanya" Ucap Emilia sambil terus menatap William tanpa ekspresi apapun


Hal itu membuat William merasa takut dan was was. Tatapan itu benar-benar membuatnya tidak mengerti.


"Ada apa dengan wanita ini" Ucap William dalam batinnya


"Untuk apa aku harus tutup mata sayang?"


"Tidak usah banyak tanya. Tinggal tutup mata saja apa susahnya"


"Baiklah"


Akhirnya dengan berat hati william memejamkan kedua matanya. Pria itu cukup penasaran kenapa Emilia memintanya untuk menutup kedua matanya.


Setelah memastikan William benar-benar menutup kedua matanya. Emilia mendekat dan mencium bibir William cepat.


William yang merasakan ada benda kenyal menempel pada bibirnya membuat pria itu membulatkan kedua matanya. Entah apa alasan Emilia malah mencium bibir William seperti itu.


"Mami cium papi?" Tanya William pada Emilia dengan kedua sudut bibir yang terangkat


Emilia mengangguk"Terimakasih kamu sudah cemburu. Itu artinya kamu benar-benar mencintaiku" Jawabnya sambil menatap William


Tidak pernah menyangka jika Emilia akan melakukan hal ini. Padahal sebelumnya William mengira Emilia akan melakukan hal yang merugikan William. Tapi ternyata dugaannya salah. Karna Emilia justru malah memberikan satu kecupan singkat pada bibirnya. Hal yang tak pernah William bayangkan sebelumnya.


"Aku memang sangat mencintaimu sayang. Kamu adalah hal terbesar yang selama ini ingin aku miliki. Harapan terbesar yang aku punya adalah kebersamaan kita dan juga Nathan." Ucapnya lembut sambil menggenggam tangan Emilia


"Betapa indahnya takdir menyatukan menyatukan kita dengan cara yang tak pernah sedikitpun aku duga sebelumnya sayang. Harapan itu ternyata sudah menjadi kenyataan" Ucap William lagi


"Iya Wil. Aku juga tidak pernah menyangka jika takdir mempertemukan kita dengan cara seperti ini." Ucap Emilia sambil membalas tatapan William


William dan Emilia saling tatap sambil terus mendekatkan wajahnya. Tanpa sadar mereka hampir saja menyatukan bibirnya. Namun, Tak lama kemudian, Pintu ruangan rawat Emilia terbuka dan ada suara langkah kaki yang berjalan ke sana.


Mendengar suara langkah kaki itu membuat William menjauhkan tubuhnya dari Emilia. Beruntung saat ini mereka tertutup oleh tirai, Sehingga seseorang yang sedang berjalan ke arahnya tidak bisa melihat apa yang saat ini William dan Emilia lakukan.


"Siapa lagi sih. Mengganggu saja. Masa iya dokter mau melakukan pemeriksaan kepada Emilia lagi" Gerutu William dalam batin


Pria itu benar-benar merasa sangat kesal karna sejak tadi ada saja seseorang yang datang mengganggu kemesraannya dengan Emilia.


Tak berselang lama. Seseorang itu membuka tirai tempat Emilia. Ternyata dia adalah Dika. Mahardika Alberto. Saudara sepupu Emilia dari pihak mama Melinda.


Melihat wajah Dika membuat William mengambil menatapnya kesal. "Aiihh, Si pengganggu datang lagi" Ucap William sambil menatap kesal Dika


"Hai Em. Bagaimana kondisi kamu saat ini. Apa masih merasa sakit di bagian bekas operasi?" Tanya Dika pada Emilia


"Ngapain sih kesini terus. Tadi sudah ada dokter lain yang memeriksa Emilia" Ucap William kesal


"Terserah aku dong. Emilia kan saudaraku, Jadi aku harus terus memantau keadaannya" Jawab Dika dan hanya melirik sekilas pada William


Melihat lirikan Dika membuat William merasa sangat kesal"Dasar sepupu menyebalkan" Umpatnya kesal


Mendengar perkataan William membuat Dika menoleh ke arah pria itu"Apa kamu bilang. Sepupu menyebalkan? Apa mau aku pecat jadi sepupu. Gak sadar apa kalau dirinya sendiri lebih menyebalkan" Ucap Dika dan langsung keluar dari sana


Emilia yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ada apa dengan mereka berdua. Baru juga bertemu sudah seperti tikus dan kucing.

__ADS_1


"Sudah sudah. Tidak perlu berdebat seperti itu. Kalian ini seperti Tom and Jerry saja"


__ADS_2