Single Mamy

Single Mamy
Seperti anak kecil


__ADS_3

Cukup lama Danu memandang wajah itu. Hingga tanpa sadar air matanya meluruh begitu saja. Dadanya terasa sangat sesak saat harus teringat akan perpisahannya dengan Kumala.


Di sisi lain Danu memang merindukan Kanaya. Namun entah kenapa perasaannya terhadap Kanaya sudah tidak sebesar dulu lagi. Sudah tidak ada getaran saat melihat Kanaya. Bahkan tidak ada rasa cemburu saat tadi melihat Kanaya bersama dengan pria lain.


"Kenapa rasanya begitu berat saat teringat akan surat kontrak kita Kumala. Rasanya aku tidak rela jika harus berpisah dari kamu. Hatiku tidak sanggup untuk hal itu" Ucap Danu lagi


Setelah itu. Danu menggendong tubuh Kumala yang masih terus memejamkan kedua matanya. Pria itu menidurkan Kumala di dalam kamarnya, Bukan kamar Kumala sendiri. Karna memang akhir-akhir ini Kumala menginginkan jika mereka tidur terpisah.


Malam ini, Danu mengabaikan apa yang pernah Kumala katakan tempo hari.


Mulai sekarang aku mau kita tidur terpisah mas. Tidur di ranjang yang berbeda dan juga kamar yang berbeda. Kamu tetap tidur di sini, Biar aku yang tidur di kamar tamu. Aku tidak mau perasaanku terhadap kamu jadi semakin besar. Karna hal itu hanya akan menyakiti hati kita setelah perpisahan itu datang


Kata-kata itu kembali terngiang dan mengganggu pikiran Danu"Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang mengabaikan perkataan mu waktu itu. I love you Kumala" Ucap Danu sambil mencium kening Kumala sangat lembut


Setelah itu, Danu juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Kumala. Memeluk tubuh istri kontrak nya dengan sangat erat. Seakan Danu tidak mau berpisah dengannya.


Namun entah kenapa rasanya sangat sulit untuk sekedar tidur. Perkataan Kumala tadi siang selalu berhasil mengganggu pikirannya


Berhenti memanggilku dengan sebutan sayang. Karna pernikahan kita hanyalah sebuah sandiwara dan akan segera berakhir


Mengingat kata-kata itu membuat Danu mengambil nafas berat. Danu semakin mengeratkan pelukannya terhadap Kumala.


Tanpa di sadari malam telah berlalu. Entah jam berapa Danu tertidur. Tapi yang pasti pria itu tidur setelah pagi hampir datang.


Kumala menggeliat saat sinar matahari sudah mulai mengusik tidurnya lewat celah gorden. Wanita itu mengerjab beberapa saat untuk mengumpulkan semua nyawanya.


Kedua matanya membulat saat mendapati Danu yang sedang memeluk tubuhnya sangat erat. "Danu. Kenapa aku bisa tidur di kamar ini" Ucap Kumala sambil terus memperhatikan Danu yang masih begitu lelap dan damai dalam tidurnya.

__ADS_1


"Aku baru ingat. Tadi malam kan aku nunggu Danu pulang kerja di sofa. Apa mungkin aku ketiduran. Lalu Danu membawaku ke kamar ini. Kamar yang begitu dipenuhi dengan kenangan manis antara aku dengannya" Ujar Kumala sambil menatap Danu.


Wanita itu mencium kening Danu cukup lama."Hanya tersisa satu tahun saja kebersamaan kita Danu. Entah kenapa selama satu tahun ini kamu sudah mampu menciptakan begitu banyak kenangan manis yang membuatku berat untuk melepaskan mu. Kamu sudah berhasil mengukir namamu di relung hatiku"


" Bagaimana caranya agar aku bisa menghapus nama itu. Tak bisa aku pungkiri, Aku memang sudah mencintaimu Danu. Sangat mencintai. Bahkan rasa cinta itu sudah begitu dalam. Apa aku sanggup melepaskan mu dan membiarkan kamu kembali pada Kanaya"


"Sanggup tidak sanggup, Aku memang harus melepaskan kamu. Aku tidak boleh egois, Karna Kanaya pasti mengharapkan kamu kembali"Ucap Kumala lagi dan langsung bangun.


Namun Danu kembali memeluk tubuhnya sangat erat"Tetaplah seperti ini sayang. Setidaknya sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi. Biarkan aku menghabiskan waktu bersamamu semestinya seorang suami"


"Aku mohon, Biarkan aku menjalankan peranku dengan sebaik mungkin"


"Tapi" Perkataan Kumala terpotong oleh Danu


"Aku mohon sayang. Setidaknya sebelum aku pergi, Biarkan aku menjalankan tugasku sebagai calon suami dan juga ayah yang baik buat anak kita" Ucapnya lagi sambil mengusap lembut perut Kumala.


Danu mengusap perut buncitnya."Selamat pagi anak ayah. Cepat keluar ya, Ayah sudah tidak sabar mau bermain dengan mu" Ucap Danu sambil mencium perut Kumala penuh sayang. Tiba-tiba saja janin dalam kandungan Kumala bergerak-gerak seakan membalas sapaan yang baru saja Danu katakan.


Mendengar itu membuat Danu mengangkat wajahnya"Sakit ya sayang. Maaf ya. Anak ayah Jangan nendang kayak gitu, Kamu menyakiti bunda sayang" Ucap Danu sambil kembali mengusap lembut perut Kumala


*****


Dua hari berlalu. Hari ini Emilia, William dan juga semua anggota keluarganya termasuk Dika akan kembali ke jakarta. Setelah keluar dari rumah sakit, William dan Emilia memang sudah sepakat untuk pulang ke jakarta dan menginap di rumah kedua orang tua Emilia. Bahkan Widi juga ikut serta kesana.


Karna memang kebetulan besok adalah hari Weekend. Oleh karena itu, Widi langsung setuju saat kedua orang tua Emilia mengajaknya. Sekalian bisa merasakan bersama dengan keluarga.


"Eh bocil, Kamu kau kemana? Kok sudah bawa koper segala?" Tanya William pada Dika. Karna William memang tidak tau jika Dika akan pulang bersama dengan keluarga Emilia

__ADS_1


Dika yang mendengar pertanyaan William hanya melirik sekilas dan memberikan jawaban yang langsung mampu membuat William kesal setengah mati.


"Kamu nanya?" Ucap Dika yang tentu saja membuat William merasa sangat kesal


"Memang benar-benar bocil menyebalkan ya kamu. Kesel aku tuh. Liat itu Dik sayang, Masa aku tanya baik-baik dia jawabnya Kamu Nanya. Kan aku kesel" Rengek William pada Emilia


Emilia terkekeh mendengar perkataan William. William ini memang benar-benar seperti anak kecil. Badan doang yang gede.


"Lagian ngapain kamu tanya-tanya Wil. Ngomong sama Dika memang hanya bisa bikin kamu kesel. Dia orangnya isengan" Jawab Emilia pada William


Dika hanya tersenyum dengan perkataan Emilia. Karna apa yang di katakan Emilia benar adanya. Dika orangnya suka iseng.


"Sudah sudah. Lebih baik sekarang kita langsung ke bandara saja. Memangnya mau karna kalian terus berdebat nanti kita ketinggalan pesawat" Ucap Liana pada William


"Habisnya ini si bocil menyebalkan ma"


"Bocil lagi bocil lagi. Aku pecat jadi kakak ipar baru tau rasa" Ucap Dika dan langsung masuk ke dalam mobil


"Coba saja kalau kau berani. Lagian mami Emil sudah cinta mati sama aku. Weee"


Emilia hanya mengambil nafas "Bener-bener memang kalian berdua. Gak capek apa ya" Timpal Emilia dan langsung masuk ke dalam mobil


"Mami, Papi mau duduk di sampingnya mami" Ujar William pada Emilia


"Sayangnya di samping Emilia sudah aku duluan yang duduk. Jadi kakak ipar di depan saja sama supir" Ucap Dika yang memang sudah duduk di samping Emilia


"Kamu turun gak. Pindah kedepan" Ucap William sambil menarik tangan Dika

__ADS_1


"Gak mau. Aku maunya disini"


Dan akhirnya. Terjadilah perebutan tempat duduk di sana. Semua orang hanya menggeleng dengan kelakuan William dan juga Dika yang seperti anak kecil.


__ADS_2