
"Kakak kecewa sama Siren. Masih sangat sulit di percaya jika kamu yang sudah melakukan semua itu. Apa kurang nya kakak Siren. Apa kurangnya kakak selama ini" Ucap Emilia yang terdengar begitu pilu
Masih sangat sulit di percaya jika Siren lah yang sudah merusak hidupnya. Hidup yang selama ini Emilia tata rapi untuk masa depannya. Malah berantakan karna ulah Siren. Impian Pernikahannya dengan David juga harus pupus karna hal itu.
"Kenapa kamu harus setega itu Siren. Kenapa!" Ucap Emilia lagi.
Di saat mendengar suara Siren. Lagi-lagi Emilia mengingat malam kelam yang sudah dia lewati bersama dengan William. Malam panas dimana dia habiskan bersama pria asing yang tak pernah Emilia kenal sebelumnya.
Di tempat lain. Siren yang mendengar suara marah Emilia seketika itu langsung menundukkan wajahnya. Wanita itu sangat menyesali apa yang sudah dia lakukan terhadap Emilia. Gara-gara hal itu, Siren kehilangan semuanya. Bukan hanya kasih sayang seorang kakak, Tapi juga kasih sayang dari laki-laki yang selama ini sudah memberikan cinta dan sayangnya untuk Siren.
"Maafkan aku kak Emil, Aku benar-benar menyesal sudah melakukan hal itu. Gara-gara Ambisi yang aku miliki. Sekarang hubungan kita menjadi sangat jauh. Kakak seperti menganggap ku orang lain. Aku merindukan semua tentang kita kak" Ucap Siren dengan penuh penyesalan.
Karna Ambisinya sendiri, Siren kehilangan banyak hal. Kasih sayang serta cinta hang dia impikan, Sekarang sudah tidak bisa lagi Siren rasakan. Karna ulahnya sendiri, Siren harus menelan pahit nya kehidupan yang dia rasakan saat bersama dengan David.
Selama 5 tahun. Siren tidak pernah sekalipun mendengat kata sayang yang keluar dari mulut David. Setiap kali mereka bercinta, yang David ucapkan hanyalah nama Emilia,Emilia dan Emilia.
Siren hanya seperti menjadi sebuah bayang-bayang yang sangat mustahil untuk menjadi kenyataan. Menjadi bayangan yang begitu menyakitkan dan melukai batinnya. Selama 5 tahun, Siren selalu mencoba bertahan demi cinta yang dia miliki dengan harapan suatu saat David akan memperlakukannya seperti David memperlakukan Emilia dulu sebelum hal ini terjadi.
"Apa kurangnya aku mas, Kenapa kamu begitu sulit untuk sekedar memberikan rasa itu, Kenapa yang ada di pikiran kamu hanyalah kak Emil. Memang aku sadari, Jika kak Emil lebih dari segalanya" Ucap Siren yang terdengar begitu pilu.
Siren menundukkan wajahnya saat mengingat semua perlakuan David terhadap dirinya. Mengingat akan hal itu membuat dadanya terasa begitu sesak. Hingga tanpa sadar butiran bening itu berhasil lolos membasahi kedua pipi putihnya.
Siren mengusap kedua matanya saat suara Andini tiba-tiba saja terdengar dan langsung memeluknya daro belakang.
"Mama" Panggil Andini lagi
Mendengar suara itu membuat Siren dengan cepat mengusap kedua matanya serta langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Andini.
"Iya sayang. Andini sudah siap buat berangkat sekolah?" Tanya Siren lembut
"Sudah mama. Andini sudah siap. Mama kenapa, mama habis nangis?" Tanya Andini saat melihat kedua mata Siren
__ADS_1
"Tidak sayang. Memangnya hal apa yang akan membuat mama menangis" Jawabnya
Andini yang begitu peka langsung memeluk sang mama begitu erat. Sudah tidak jarang bocah kecil itu melihat mamanya meneteskan air matanya"Mama tidak bisa membohongi Dini. Dini ini anaknya mama" Ucap Andini sambil memeluk Siren
Mendengar perkataan Andini membuat kedua mata Siren kembali terasa panas. Hingga air mata itu lagi-lagi lolos dan membasahi kedua pipinya. "Mama sayang Dini" Ujar Siren sambil membalas pelukan anaknya.
"Andini juga sangat menyayangi mama. Jangan pernah mengorbankan perasaan mam hanya untuk Dini ya ma. Dini juga terluka saat melihat mam seperti ini" Ucap Dini lembut
Biarpun masih balita, Tapi sikap Andini sudah seperti orang dewasa. Anak itu bisa memahami apa yang sedang di rasakan oleh ibunya. Dini menatap kedua mata Siren yang terlihat begitu sendu.
"Jangan menangis lagi ma. Dini tidak mau melihat mama seperti ini" Ucap Dini sambil mengusap mata Siren
"Iya sayang. Mama janji gak akan pernah nangis lagi. Demi Dini mama harus kuat" Balas Siren sambil mencium Dini penuh sayang
Di Tempat Lain
David tidak berhenti tersenyum saat mendengar perkataan Siren yang sudah menyerah dengan pernikahan mereka. Hal ini yang sudah David nantikan sejak lama. Berpisah dengan Siren lalu menikah dengan Emilia. Wanita yang hingga saat ini masih sangat David cintai.
"Akhirnya sebentar lagi aku akan terbebas dari wanita sialan itu. Setelah menunggu bertahun-tahun, Akhirnya hari ini datang juga" Ucap David dengan senyum merekah dari kedua sudut bibirnya
"Apa sebaiknya aku menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Emilia dan membawanya kehadapan ku. Setelah itu aku nikahi Emilia. Dengan atau tanpa persetujuannya. Emilia harus menjadi milikku" Ucap David sambil menatap gambarnya bersama dengan Emilia.
"Aku sangat merindukan mu, Baby. Aku akan membawamu kembali dan kit akan segera menikah sayang" Ucap David lagi sambil terus fokus pada gambar Emilia.
Tak lama kemudian, Pria itu mengambil ponselnya dan meminta seseorang untuk mencari keberadaan Emilia yang David saja tidak tau saat ini sedang ada di mana. Tak berselang lama, Orang yang ada di ujung telpon langsung menjawab telpon David.
π:Halo bos. Ada apa? Tumben sekali dirimu menelfon, Apa ada sesuatu?
π:Tolong cari seorang wanita yang bernama Emilia. Bawa dia ke tempat yang akan aku kirim lokasinya. sebentar lagi aku akan mengirimkan fotonya padamu
π:Baik bos. Kalau hanya soal cari mencari, Anda sudah menyuruh orang yang angat tepat
__ADS_1
π:Temukan dia segera
Tut...tut...tut..
Setelah itu, David memutuskan sambungan teleponnya. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya saat membayangkan wajah cantik Emilia"Sebentar lagi kita akan segera bersama Emilia ku" Ucapnya sambil mengirimkan gambar Emilia pada orang suruhannya.
***
Tanpa Emilia sadari. Ternyata mobil yang sudah membawanya telah tiba di alamat tujuan. Emilia turun dari dalam mobil itu. Dan ternyata di luar sudah ada beberapa orang yang sudah menunggunya bak putri raja. Di iringi oleh beberapa orang yang akan membantu Emilia menjadi wanita paling cantik saat acara ijab qobul nanti.
"Tidak perlu seperti ini" Ucap Emilia saat orang-orang itu memperlakukannya bak ratu.
"Tidak apa-apa nona muda. Ini sudah perintah dari nyonya besar. Sebelumnya nyonya besar sudah berpesan harus memperlakukan nona muda dengan spesial" Ujar salah satu satu karyawan
Mendengar hal itu membuat Emilia mengambil nafas berat. Apa yang sudah di lakukan calon mama mertuanya sudah sangat berlebihan. Padahal menurut Emilia tidak perlu seperti ini.
"Tapi aku tidak enak sendiri di perlakukan seperti tuan putri" Ucap Emilia yang merasa tidak enak hati
"Tidak perlu merasa tidak enak nona muda. Ini memang pantas di dapatkan oleh nona. Nona itu sangat beruntung memiliki calon mertua seperti nyonya. Dia itu sangat menyayangi nona seperti anak sendiri"
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Memangnya kamu tau dari mana jika mama sangat menyayangiku?"
"Ya nyonya besar sendiri yang mengatakan. Jika nyonya besar begitu beruntung bisa menikahkan nona dengan putra satu-satunya yang dia miliki.
Ini pertama kalinya Emilia mendengar jika Liana begitu beruntung memiliki calon menantu seperti Emilia.
"Benarkan. Bukan hanya mama, Aku juga sangat beruntung bisa memiliki calon mertua yang seperti mama Liana. dia begitu baik dan memperlakukan aku seperti anaknya sendiri" Ucap Emilia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya saat mengingat semua perlakuan Liana terhadap dirinya.
"Iya nona. Nyonya besar mengatakan sangat beruntung bisa memiliki calon menantu seperti anda. Selamat ya nona Emilia"
"Terimakasih ya. Kalian juga sudah memperlakukan saya dengan sangat baik"
__ADS_1
"Sama-sama nona muda"
Emilia tak henti-hentinya mengangkat kedua sudut bibirnya. Namun seketika senyuman itu pudar saat tiba-tiba Emilia terbayang wajah William. "Kenapa aku selalu terbayang wajah William" Emilia bermonolog dalam batinnya