Single Mamy

Single Mamy
Harapan Widi


__ADS_3

"Kumala" Ucap Danu pelan sambil menatap Kumal yang saat ini sedang menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Bagaimana bisa Kumala juga ada disini" Ucap Danu lagi sambil mengalihkan perhatiannya pada sosok seorang wanita cantik yang amat dia rindukan.


"Kanaya" Ucapnya lagi


Melihat kedua wanita yang sama-sama di cintanya berada dalam bahaya membuat Danu merasa bingung. Siapa yang harus Danu bantu.


Situasi ini sungguh membuat Danu bingung. Antara Kanaya atau Kumala. Siapa yang harus Danu selamatkan. Kumala atau Kanaya!


"Bagaimana ini. Siapa yang harus aku selamatkan. Di antara mereka sama-sama aku cintai. Bagaimana ini. Siapa yang harus aku utamakan" Ucap Danu bingung


Sedetik kemudian. Danu kembali menoleh pada Kumala yang sudah terduduk di atas jalanan sambil menutup kepala dengan kedua tangannya. Samar-samar Danu bisa mendengar suara suara Kumala yang begitu lirih.


"Siapapun tolong aku. Aku mohon tolong aku"


Mendengar suara itu membuat Danu dengan cepat langsung turun dari dalam mobilnya dan dengan cepat membawa tubuh Kumala keluar dari sana.


Melihat tubuh Kumala yang sedikit bergetar membuat Danu langsung memeluknya sangat erat"Tenanglah, Kamu sudah baik-baik saja" Ucap Danu sambil mengusap rambut Kumala


Seketika Kumala mengangkat wajahnya"Varo" Ujarnya dan langsung melepaskan pelukan Danu


"Lepaskan aku" Ucapnya dan langsung menjauh dari tubuh Danu


Danu mengerutkan keningnya"Hei, Ada apa dengan mu sayang?" Tanya Danu yang tentu saja merasa aneh dengan Kumala.


Tidak biasa Kumala seperti ini.Biasanys setiap kali Danu memeluknya, Kumala akan membalas pelukan itu. Tapi tidak dengan hari ini. Entah apa yang sudah membuat Kumala seperti ini.


"Sayang, Ada apa? Kenapa kamu seperti menghindari setiap sentuhan yang aku berikan. Ada apa dengan mu?" Tanya Danu lagi


Kumala mengangkat wajahnya"Aku bilang stop memanggilku dengan sebutan itu Varo. Mulai hari ini aku tidak mau ada interaksi fisik lagi di antara kita. Aku mau mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi 1 tahun lagi" Ucap Kumala sambil melihat ke lain arah


"Kenapa? Kenapa harus dari sekarang sayang. Bukan kah waktunya masih sangat lama. Masih ada banyak waktu untuk kita menghabiskan waktu itu bersama" Ucap Danu sambil menggenggam tangan Kumala


"Karna kalau aku melakukan hal ini setelah waktunya tiba, Aku tidak yakin jika hati ini akan ikhlas melepaskan mu. Jadi aku mohon, Mulai hari ini bersikaplah seperti orang asing terhadapku"


"Jangan seperti ini sayang. Aku sudah mencintaimu" Ucap Danu sambil memeluk Kumala dari belakang


"Tapi cinta itu adalah sebuah kesalahan Danu. Kesalahan yang seharusnya tidak boleh kamu lakukan. Lepaskan aku" Ucap Kumala sambil mencoba melepaskan tangan Danu dari pinggangnya.


Namun Danu bukannya melepaskan malah semakin mempererat pelukan itu"Aku tidak yakin jika hari itu tiba aku bisa meninggalkan mu. Perasaan ku sudah sangat dalam Kumala. Apa kamu tau alasan aku datang ke tempat ini?"


"Tidak. Dan aku tidak mau tau"

__ADS_1


"Tapi kamu harus tau. Sebenarnya awalnya aku datang kesini karna orang suruhan aku mengatakan jika Kanaya terjebak dalam tawuran. Setelah aku tiba disini, Ternyata aku melihat kamu. Dan entah kenapa aku malah memprioritaskan kamu dari pada Kanaya. Aku pun tidak mengerti dengan diriku sendiri" Terang Danu pada Kumala


"Apa! Jadi di sini ada Kanaya. Lalu kenapa kamu tidak menolongnya terlebih dahulu. Kenapa kamu malah menolongku?"


"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Entah kenapa hatiku lebih memprioritaskan kamu dari pada Kanaya. Aku tidak paham itu" Ucapnya


"Cepat kamu bantu Kanaya" Ucap Kumala pada Danu


Kanaya ternyata masih terjebak dalam tawuran. Di saat Danu sudah melangkah kan kakinya untuk menolong Kanaya. Tiba-tiba ada seorang pria yang datang dan membawa Kanaya keluar dari situasi itu.


Melihat tentu saja Danu langsung menghentikan langkahnya"Siapa pria itu? Kenapa dia menolong Kanaya?" Ucap Danu pelan sekaligus merasa sangat penasaran


Kanaya yang sejak tadi di landa rasa takut serta panik seketika rasa itu hilang setelah dirinya berhasil keluar dari kerumunan tawuran. "Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Daffi sambil memperhatikan Kanya yang saat ini masih menutup wajah dengan kedua tangannya.


Mendengar suara itu membuat Kanaya menurunkan tangannya. "Terimakasih sudah mau menolongku" Seru Kanaya sambil menoleh pada Daffi


Sejenak Daffi mengamati wajah Kanaya yang menurutnya tidak terlalu asing. Daffi seperti pernah melihat wajah Kanaya tapi di mana. Cukup lama Daffi terdiam"Dia kan wanita model itu. Orang yang sudah meneror istri dari pak Alex" Ucap Daffi dalam batinnya


"Kenapa liatin saya seperti itu?" Tanya Kanaya karna Daffi memperhatikannya


"Maaf maaf. Wajah kamu seperti tidak asing. Aku baru teringat jika kamu model yang sering keluar di media sosial itu kan?"


Kanaya mengangguk"Iya, Aku memang model. Sekali lagi terimakasih ya. Kamu sudah menolongku" Ujar Kanaya lagi


"Kanaya" Jawab Kanaya pelan


"Kenapa kamu bisa terjebak dalam tawuran itu?"


"Entahlah. Tadi saya lari dari kejaran wartawan. Eh tau nya tanpa sadar saya berlari ke sini" Terang Kanaya


"Sekali lagi terimakasih ya. Saya permisi dulu, Soalnya masih harus jemput anak saya di tempat penitipan anak" Ucap Kanaya dan langsung berlalu dari hadapan Daffi


Langkahnya terhenti saat suara Daffi kembali terdengar pada telinganya"Tunggu" Ucap Daffi pada Kanaya


"Iya Daf. Ada apa?" Tanya Kanaya serta membalikkan tubuhnya


"Mau aku antar?"


"Memangnya tidak merepotkan?"


"Tentu saja tidak. Ayo naik ke motorku"


Kanaya mengekor di belakang Dafi dan naik ke atas motornya. Namun sebelum itu, Dafi memasangkan helm pada Kanaya.

__ADS_1


Danu yang melihat semua itu entah kenapa merasa biasa saja. Tidak ada rasa cemburu dari dalam hatinya. Apa cinta Danu terhadap Kanaya sudah tidak sedalam dulu. Atau posisi Kanaya sudah tergantikan oleh Kumala?


Di Tempat Lain


Siren dan Damar sudah berangkat menuju bandara. Tidak banyak obrolan yang terjadi. Karna Siren memilih fokus menatap ke luar jendela. Sedangkan Damar memilih untuk tidak banyak bertanya.


Ingin membiarkan Siren menenangkan hatinya yang mungkin terasa sangat kalut. Kalut karna kejadian hari ini yang sudah sangat melukai hatinya.


30 Menit kemudian. Mobil taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di bandara. Damar menoleh pada Siren yang ternyata sudah tertidur.


Melihat Siren sudah damai dalam tidurnya membuat Damar merasa sangat tidak tega. Hingga akhirnya Damar memutuskan untuk tetap membiarkan Siren tidur dan dis gendong keluar dari sana.


Damar meminta supir taksi untuk membawakan barang-barang Siren dan juga Damar. Setelah tiba di dalam pesawat, Damar menidurkan Siren di kursinya. Sejenak Damar memperhatikan wajah itu.


"Kenapa wajahnya terlihat mirip dengan seseorang yang pernah aku temui. Tapi siapa ya" Ujar Damar sambil memperhatikan Siren yang terlihat sangat lelap dan damai dalam tidurnya.


Setelah cukup puas memperhatikan Siren, Damar ikut memejamkan kedua matanya. Penerbangan dari Bali ke jakarta sepertinya cukup untuk sekedar istirahat.


Meninggalkan Siren dan Damar. Kita kembali pada Emilia dan juga William.


Saat ini William dan Emilia sudah tiba di ruangan rawat inap Emilia. Di sana juga ada Widi dan Ferdian yang mengekor di belakang.


"Mami makan dulu ya. Papi Willi suapi ya" Ucap William pada Emilia


Emilia mengangguk sambil membuka mulutnya. Kedua sudutnya terangkat sambil menikmati makanan nya.


Sesekali Emilia tertawa sambil melihat ke arah William. Sejak tadi Widi selalu memperhatikan adiknya yang sudah terlihat sangat bahagia.


POV WIDI


Hatiku terasa sangat bahagia saat melihat adikku, Adik kandung ku sudah bahagia bersama dengan laki-laki yang selama ini dia harapkan. William Bagaskara. Sosok laki-laki yang ternyata adalah ayah kandung dari anaknya sendiri.


Aku pernah berharap bisa memiliki seorang adik. Dan ternyata harapan itu menjadi kenyataan. Tuhan sudah mengabulkan harapan yang sudah sejak lama aku pinta.


Biarpun saat ini masih tidak ada satu orang pun yang tau siapa aku sebenarnya, Aku tak perduli. Yang penting aku tau siapa mereka. Setidaknya ada masih memiliki keluarga yang ternyata selama ini sudah ada di sekelilingku.


Harapan aku saat ini. Semoga saja suatu saat nanti akan ada keajaiban dan membuat papa Wira tau siapa aku.


Aku pandang wajah papa kandungku saat acara resepsi pernikahan Emilia. Memang benar apa yang di katakan tante Liana. Wajah kami seperti ada kemiripan. Dan aku baru menyadari hal itu.


Di saat melihat papa memeluk Emilia, Ada rasa iri dalam hatiku. Aku juga ingin merasakan pelukan dari sosok ayah yang selama ini tidak pernah aku tau.


Semoga suatu saat nanti aku bisa merasakan apa yang Emilia rasakan saat itu.

__ADS_1


__ADS_2