
"Mimpi apa semalem. Kenapa harus kembali bertemu dengan wanita jadi-jadian itu. Harus berangkat bareng pula. Bener-bener menyebalkan" ucap Nathan di sela langkahnya.
Nathan menuruni anak-anak tangga di sana. Berjalan ke arah meja makan yang saat ini sudah ada Emilia dan juga William yang menunggu untuk sarapan bersama.
William mengerutkan kecil keningnya saat melihat wajah Nathan yang cukup di tekuk tidak seperti biasanya. Hal itu tentu saja membuat William penasaran terhadap anak sulungnya. Bukan hanya anak sulung, Tapi Nathan adalah anak satu-satunya Emilia dan William. Karna anak kedua mereka meninggal karna tabrak lari beberapa tahun yang lalu.
"Ada apa denganmu, Boy. Kenapa wajahnya di tekuk seperti itu, Why?" tanya William pada Nathan yang baru saja duduk dan bergabung di meja makan.
"Tanya aja sama mami, Pi" balas Nathan sambil mengambil nasi goreng buatan maminya.
Mendengar jawab Nathan membuat William melirik pada Emilia, Seakan meminta penjelasan dari apa yang saat ini dia lihat dari ekspresi wajah anaknya.
"Kenapa sayang. Ada hal apa sampek membuat anak kita yang paling tampan ini seperti tidak mood?" tanya William pada Emilia.
Emilia mengulum bibirnya"Mami hanya meminta Nathan buat menjemput Haruka, Papi. Tapi dia keberatan. Padahal kan satu minggu yang lalu kita sudah janji sama mas Daffi juga mbk Kanaya, Biar hari pertama sekolah Haruka berangkat bareng Nathan" terang Emilia pelan..
William mengangguk paham"Lagian kenapa boy? Kan cuma berangkat bersama dengan Haruka. Bukan kah dulu waktu masih sekolah Tk kalian sahabat, Kenapa sekarang terlihat seperti berjarak. Ada masalah?" tanya William lagi pada Nathan.
"Iya itu dulu, Papi. 12 tahun yang lalu, Sudah tidak untuk saat ini" balas Nathan sambil menikmati nasi goreng buatan Emilia.
"Memangnya ada masalah apa dengan kalian?" tanya William lagi.
"Tidak ada. Hanya saja Nathan tidak suka dengan sikapnya yang rese banget" balas Nathan lagi. .
Setelah menyuapkan habis semua nasi goreng yang ada di piringnya, Nathan langsung pamit pada kedua orang tuanya. Hari ini memang bukan hanya Haruka yang awal masuk sekolah, Tapi Nathan dengan yang lain juga sama. Ini pertama kalinya sekolah masuk setelag libur panjang habis ujian kenaikan kelas.
"Nathan berangkat dulu, Mami, Papi" ujar Nathan sambil mencium punggung tangan Emilia dan juga William
"Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan ya. Jangan lupa itu baju di masukin. Gak baik sekolah seperti berandal begitu" Emilia berkata sambil menatap tajam Nathan.
"Kenapa mami bisa tau kalau baju Nathan tidak rapi? Kan Nathan pakai hoodie" balas Nathan pada Emilia.
"Ya mami tau lah sayang. Karna dulu mami juga seperti kamu. Mami sudah pernah mengalami apa yang saat ini kamu lakukan. Sudah, Mami gak mau tau, Kamu tidak boleh terlihat seperti berandal, Harus rapi. Kamu kan sudah naik kelas 3. Sebentar lagi lulus. Jangan sia-siakan waktu yang tersisa" Emilia menatap Nathan hangat sambil menepuk pelan pundaknya.
"Iya iya mamiku sayang yang paling cantik. Yaudah, Nathan berangkat dulu ya, Assalamualaikum, Mami, Papi"
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Ingat jangan ngebut-ngebut bawa anak orang" ucap Emilia sebelum Nathan berlalu dari hadapannya.
"Iya mami iya. Nathan juga masih sayang kali sama nyawa Nathan"
Setelah mengatakan hal itu, Nathan berlalu dari hadapan Emilia dan juga William. Emilia menggelengkan pelan kepalanya sambil terus menatap punggung Nathan yang sudah keluar dari dalam rumahnya.
"Kenapa kamu liatin Nathan seperti itu, Sayang?" tanya William pada Emilia.
"Gak papa, Aku hanya memikirkan bagaimana reaksi Nathan jika seandainya dia tau kalau kita memiliki rencana untuk menjodohkan Nathan dengan Haruka. Apa dia mau" serunya sambil menoleh pada William.
"Entahlah, Sayang. Kalau aku liat dari raut wajah Nathan tadi, Sepertinya akan sangat sulit. Lebih baik untuk saat ini kita tidak perlu memberitahu hal ini terlebih dahulu sama Nathan, Kita kasih taunya nanti setelah mereka kuliah. Untuk saat ini biarkan mereka berdua fokus belajar"
"Kamu benar juga, Wil. Sepertinya itu adalah ide yang bagus. Oh iya, Hari ini jadi kan bertemu dengan Damar juga Siren?"
"Jadi, Sayang. Tadi malam Damar sudah mengirim lokasi pertemuannya. Kamu jangan lupa, Hadiah yang mau kita kasih pada Aulia ya"
"Iya, Mas. Sudah aku simpan dalam tas kok"
2 minggu yang lalu. Emilia dan juga William baru saja kembali dari luar negri karna urusan pekerjaan. Mereka berdua memang akan selalu membelikan hadiah untuk anak kedua Siren yang umurnya sama dengan anaknya yang sudah meninggal. Bahkan bukan hanya itu, Wajah mereka berdua juga ada kemiripan seperti anak kembar.
[ Kalian jalan duluan saja, Tidak usah nunggu gue ] Send
Setelah itu, Nathan menyalakan mesin motornya dan melajukan motor itu keluar dari halaman rumahnya. Di sepanjang perjalanan, Tidak ada henti-hentinya Nathan mengumpat. Merasa sangat kesal karna harus berangkat bersama dengan wanita yang menurutnya rese dan menyebalkan.
Di Rumah Haruka
"Haruka. Kamu sudah siap buat masuk di sekolah baru kan?" tanya Kanaya pada Haruka.
"Sudah, Ma. Ini kenapa Haruka harus berangkat sama si Nathan sih ma, Kan Haruka bisa bawa motor sendiri" protes Haruka sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah. Itu sudah keputusannya papa. Kamu ikuti saja dulu apa maunya papa ya. Dari pada nanti kamu di pindah keluar negri beneran. Dan satu hal yang mau mama minta, Jangan melakukan hal seperti di sekolah lamamu ya, Sayang" seru Kanaya yang terdengar sangat lembut.
Perkataan Kanaya membuat Haruka mengambil nafas panjang"Sudah Haruka katakan berkali-kali. Itu bukan Haruka yang mulai duluan ma. Mereka yang mencari gara-gara sama Haruka" Haruka terus saja mengelak saat Kanaya ataupun Daffi. Karna memang di sini dia adalah korban Bully di sekolah lamanya.
Karna terlalu sering di Bully membuat Haruka brontak. Anak itu membalas bukan dengan adu bacot tapi langsung adu mekanik. Dan karna itu, Haruka sampai membuat salah satu anak yang sering membully nya masuk rumah sakit.
__ADS_1
"Iya mama tau. Jangan galak-galak jadi cewek ya, Sayang."
"Gak bisa ma, Haruka sudah trauma menjadi anak pendiam. Haruka tidak mau lagi ada orang yang membully Haruka. Cukup di sana Haruka merasakan semua itu"
"Terserah kamu saja. Satu pesan mama yang harus kamu ingat ya. Jangan melakukan hal yang bisa merugikan dirimu sendiri" ucap Kanaya lagi yang terdengar sangat lembut
Beberapa tahun yang lalu, Setelah kematian Salsa, Kanaya dan Daffi jadi semakin dekat hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Karna memang saat itu hanya Daffi satu-satunya orang yang selalu memberi semangat terhadap Kanaya yang sangat terpukul karna kepergian Salsa anaknya.
"Iya, Ma. Terimakasih mama sudah mau mengingatkan Haruka"
Tak berselang lama. Terdengar suara mesin motor yang berhenti di depan rumah mereka. Haruka sudah bisa menebak jika yang datang saat ini sudah pasti Nathan untuk menjemputnya dan berangkat bersama.
"Assalamualaikum" ucap Nathan sopan.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk Nathan, Haruka masih bersiap, Duduk dulu" ucap Daffi pelan pada Nathan.
"Iya, Om"
"Ayo. Gue udah siap" kata Haruka yang baru saja turun dari dalam kamarnya.
"Papa, Haruka berangkat ya" ucapnya lagi sambil mencium punggung tangan Daffi.
"Pamit ya om" kata Nathan sopan.
"Iya. Kalian hati-hati di jalan ya. Nathan, Om titip Haruka ya, Kalau dia nakal, Jewer saja kupingnya"
"Ih papa, Memangnya aku anak kecil mau di jewer. Apalagi sama pria menyebalkan ini" ucapnya sambil melirik pada Nathan.
"Apa lho bilang, gue menyebalkan? Heh! Yang ada di sini itu elo yang rese. Tak sadar diri" seru Nathan sembari keluar dari dalam rumah Haruka.
"Enak saja ngatain gue sere. Elo yang menyebalkan"
"Terserah elo sajalah. Gak ada gunanya berdebat sama wanita jadi-jadian"
Mendengar perkataan Nathan membuat Haruka membulatkan kedua matanya"Apa lo bilang, Wanita jadi-jadian! Bener-bener ya pria menyebalkan"
__ADS_1