Single Mamy

Single Mamy
Emilia sadar


__ADS_3

Tak berselang lama. Siren yang tak sengaja menoleh pada Emilia merasa sangat terkejut saat melihat jari-jari Emilia bergerak. Melihat itu membuat Siren langsung mengatakan pada dokter di sana.


"Dokter, Barusan saya lihat tangannya kak Emil bergerak" Ucap Siren sambil menoleh pada Dokter dan juga William


"Benerkah?" Ucap dokter itu dan kembali mendekat pada Emilia lalu memeriksanya


William yang mendengar perkataan Siren langsung mengangkat wajahnya dan mengusap kedua matanya "Apa saya bilang dokter. Istri saya masih hidup" Ucap William sambil menatap dokter yang saat ini sedang memeriksa Emilia


Dokter itu mengangkat kedua sudut bibirnya, Kemudian menoleh pada layar Elektrokardiogram atau biasa di sebut EKG sudah terlihat normal kembali.


"Alhamdulillah dokter. Detak jantung pasien kembali normal" Ucap suster pada dokter itu


Mendengar itu membuat tangis William reda saat itu juga. Akhirnya detak jantung Emilia sudah kembali normal.


"Alhamdulilah pak. Puji syukur, Atas izin Allah istri anda masih di beri kesempatan untuk hidup" Ucap dokter itu sambil menatap William


"Ini benar-benar mukjizat. Jaga istri anda baik-baik. Saya permisi dulu"


"Baik dokter. Terimakasih" Ucap William dan langsung menoleh kembali pada Emilia


William menatap wajah Emilia yang sudah tidak terlihat pucat. Pria itu menggenggam tangan Emilia yang sudah mulai terasa hangat. Tidak terlalu dingin seperti beberapa saat yang lalu.


"Terimakasih sudah bertahan untuk aku dan juga Nathan sayang" Ucapnya sambil mencium kening Emilia


William sudah bisa merasakan denyut nadi Emilia yang sudah kembali normal. Merasakan itu membuat William mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Jangan seperti tadi lagi sayang. Aku mohon jangan buat aku dan Nathan ketakutan sayang" Ucap William lagi


Tanpa terasa 1 jam sudah berlalu. William sudah tertidur di kursi samping Emilia. Sedangkan Nathan tidur bersama dengan Siren di sofa tunggu yang ada di ruangan Emilia.


Jari-jari Emilia bergerak. Hingga tak lama, Emilia membuka kedua matanya dan mulai mengerjab untuk beberapa saat. Setelah kesadarannya sudah terkumpul sempurna, Emilia menoleh ke arah samping saat merasa tangannya sudah mulai kram.


Sejenak Emilia memperhatikan wajah William yang terlihat begitu lelap. Kedua matanya sembab."William."Ucapnya pelan sambil mengusap kepala William dengan tangan kirinya


Kemudian Emilia menoleh ke arah sofa yang mana di sana ada Siren sedang tidur bersama dengan Nathan. Kedua sudutnya terangkat saat melihat anak dan juga suaminya baik-baik saja.


Jangan pernah tinggalkan aku sayang, Aku tidak tau bagaimana harus menjalani hidup tanpa kamu. Aku mohon jangan buat aku merasakan mimpi buruk ini. Aku tidak sanggup. Ini terlalu menyakitkan


Kata-kata itu terngiang pada indra pendengaran Emilia. Karna sebenarnya saat tadi William mengatakan hal itu, Emilia bisa mendengar jelas. Hanya saja dia merasa begitu susah untuk sekedar membuka kedua katanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah ninggalin kamu dan juga Nathan Wil. Aku akan selalu di sini untuk kalian berdua. you are my everything" Ucap Emilia sambil mengusap lembut rambut William dengan penuh cinta.


Ternyata Emilia sudah benar-benar mencintai William. Rasa cintanya sudah cukup dalam, Sehingga membuatnya hampir kehilangan nyawa karna tidak mau melihat William terluka.


"I love you my husband" Ucapnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya


Emilia mengatakan itu karna tau jika William tidak akan mendengar apapun yang dia katakan. Kalau sampai Wiliam mendengarnya, Sudah sangat jelas jika William akan besar kepala.


Di Tempat Lain


Kedua orang tua Emilia dan juga kedua orang tua William sudah tiba di bandara bali. Di sana ternyata sudah ada seseorang yang menjemput kedatangan mereka. Orang yang sudah Alex siapkan setelah mereka terbang dari jakarta.


Alex memang bukan hanya asisten pribadi William, Tapi terkadang dia juga bisa melakukan segala hal yang William perintahkan. termasuk menjadi bodyguard.


"Selamat malam. Dengan keluarga tuan William dan nona Emilia?" Tanya supir itu


"Kok tau?" Tanya Bagas pada orang itu


"Karna saya di tugaskan oleh pak Alex untuk menjemput tuan ke bandara ini. Mari silahkan naik" Ucapnya sangat sopan


Mendengar itu, Mereka semua langsung naik ke atas mobil Alphard warna hitam itu."Kita langsung ke hotel atau ke rumah sakit dulu pak. Bu?" Tanya supir itu sopan


"Baiklah" Jawab supir itu lagi


Setelah itu, Supir sudah langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan, Tidak ada pembicaraan di antara mereka, Perjalanan ke rumah sakit hanya di lalui dengan keheningan saja.


Melinda yang duduk di kursi dekat jendela tanpa sengaja melihat sosok yang amat di bencinya. Melihat orang itu membuat Melinda teringat akan masalalu yang cukup buruk untuknya.


"Baron, Ternyata dia memang benar-benar ada di kota ini" Ucap Melinda dalam batinnya


Wira yang melihat raut wajah Melinda berubah tentu saja merasa sangat penasaran. Ada apa dengan wajah itu.


"Kenapa ma?" Tanya Wira sambil menepuk punggung Melinda dan membuatnya sempat terkejut.


"Eh papa"Ucapnya dan langsung menoleh pada Wira


"Mama kenapa, Pap perhatiin kok seperti ada sesuatu. Ada apa ma?" Tanya Wira lagi


"Tadi mama liat Baron pa" Ucapnya sangat pelan dan hanya bisa di dengar oleh Wirayudo

__ADS_1


"Apa! Mama liat bajingan itu?" Ucapnya Wirayudo dengan wajah yang langsung terlihat merah


Melinda mengangguk."Iya pa, Barusan mama liat Baron di sebuah club."


"Sudah biarkan saja. Jangan sampai pria bajingan itu mengganggu pikiran mama. Kita harus fokus pada Emilia dulu" Ucap Wira sambil menggenggam tangan Melinda.


"Kamu benar pa. Lebih baik saat ini kita fokus pada Emilia" Jawab Melinda pelan


Tak lama kemudian. Mobil itu sudah tiba di depan rumah sakit tempat Emilia di rawat. Mereka berempat turun dan langsung berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Emilia.


"Selamat malam bu, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster penjaga resepsionis


"Saya mau tanya, Ruangan Emilia berlianti Wirayudo dimana ya. Saya mamanya" Tanya Melinda pada resepsionis itu


"Sebentar ya bu saya cek dulu"


Beberapa saat kemudian. Penjaga resepsionis itu mengatakan jika ruangan rawat Emilia ada di lantai 2. Kamar VVIP nomor 5.


"Ruangan rawat nona Emilia ada di lantai 2 kamar VVIP Nomor 5 ya bu. Tapi waktu menjenguk sudah habis. Ibu beserta keluarga bisa datang lagi besok. Karna batas menjenguk pasien hanya sampai jam 20:30. Dan sekarang sudah jam 22:00" Terang resepsionis itu


"Ayolah sus. Biarkan saya masuk sebentar saja. Saya hanya mau melihat kondisi anak saya" Ucap Melinda dengan wajah sendunya


"Mohon maaf bu, Tapi disini peraturannya sudah seperti itu. Ibu bisa kembali lagi besok pagi"


Mendengar itu tentu saja membuat Melinda sedih. Karna mau bagaimanapun tujuannya datang malam-malam ke bali memang hanya mau melihat kondisi anaknya. Hanya saja mereka lupa jika peraturan di rumah sakit memang seperti itu. Batas menjenguk pasien hanya berakhir sampai jam 20:30.


Melihat wajah sendu istrinya membuat Wira membawa Melinda menjauh dari tempat resepsionis. "Sudah ma. Kita tunggu sampai besok saja ya. Mau maksa pun pasti tetap tidak di ijinkan" Ucap Wira pada Melinda


"Apa mereka tidak tau kalau aku sangat menghawatirkan keadaan Emil pa. Bagaimana bisa mama nunggu sampai besok. Itu terlalu lama pa" Jawab Melinda sambil menatap Wira


"Wira bener Mel. Kita sekarang ke hotel dulu. Besok pagi baru kesini lagi." Timpal Liana pelan


"Tapi aku sangat ingin tau keadaan Emilia Li. Mereka tidak mengerti" Jawabnya sendu


Tak lama kemudian. Dokter Dika yang melihat ada suara sedikit bising dari lobi membuatnya menghentikan langkahnya. "Mohon maaf bapak ibu, Tolong jangan berisik ya. Pasien sedang pada istirahat" Ucap dokter Dika sopan


Mendengar suara itu membuat Melinda dan Wirayudo menoleh ke belakang. Mereka berdua mengerutkan keningnya saat merasa tidak asing dengan wajah dokter yang ada di depannya.


"Kamu" Ujar Melinda sambil berusaha mengingat siapa dokter itu

__ADS_1


__ADS_2