
π:Cepat katakan. Siapa pelakunya?
π:Pelakunya adalah seorang wanita bernama Kanaya.
π:Kanaya?
π:Iya tuan. Yang bikin saya terkejut
Alex menghentikan perkataannya. Pria itu mengurangkan niat untuk mengatakan jika di akun instagramnya ada satu foto laki-laki yang sangat mirip dengannya.
"Apa sebaiknya aku tidak memberitahu dulu akan hal ini pada tuan muda. Bukankah saat ini tuan muda sedang berbulan madu. Jadi sebaiknya untuk saat ini biar hanya aku saja yang tau soal ini" Alex bermonolog dalam batinnya
π:Halo Alex. Apakah kamu masih di sana?
Suara itu berhasil membuat Alex kembali tersadar.
π:Iya maaf tuan muda, Disini sinyalnya kurang bagus
π:Masa iya. Tadi saya gak dengar. Omongan kamu terpotong. Apa yang membuatmu terkejut?
π;Tidak ada tuan. Maksudnya saya terkejut karna pelakunya perempuan
π:Baiklah. Terimakasih. Kalau bisa kamu terus cari tau wanita yang bernama Kanaya.
Setelah itu William langsung memutus sambungan telponnya saat melihat Emilia keluar dari mini market. Karna William masih tidak ingin Emilia tau jika orang yang mengirim pesan padanya bernama Kanaya.
Emilia yang melihat William seperti sedang telponan membuat wanita itu mempercepat langkah kakinya. Namun tiba-tiba saja Nathan terjatuh dan membuat Emilia harus menghentikan langkahnya.
"Aduh mami sakit" Ucap Nathan sambil mengusap lututnya
Melihat lutut Nathan mengeluarkan darah. Membuat Emilia terlihat panik"Sayang. Lutut kamu berdarah" Seru Emilia sambil meniup lutut Nathan yang berdarah
William yang melihat itu tentu juga merasa panik saat melihat Nathan seperti menahan sakit"Ada apa ini?" Tanya William setelah tiba di tempat Emilia
"Ini Wil, Nathan jatuh. Kakinya berdarah. Kamu ada kotak p3k gak?"
"Sepertinya ada sayang. Sebentar ya"
William kembali berjalan cepat menuju mobil untuk mengambil kotak p3k. Untuk mengobati luka di lutut Nathan.
"Aduuh sayang, Maafkan mami ya. Tadi mami jalannya terlalu buru-buru" Seru Emilia sambil membawa Nathan ke tempat duduk yang ada di depan Mini market
"Tidak apa mami. Nathan gak akan nangis kok. Katanya om Daffi Kalau anak laki tidak boleh cengeng"
Mendengar perkataan Nathan membuat Emilia mengejutkan keningnya. Memangnya Nathan sudah sedekat itu dengan orang yang Nathan panggil om Daffi.
"Memangnya kapan om Daffi mengatakan itu sayang?" Tanya Emilia sambil menatap Nathan
"Dulu mami. Saat teman-teman Nathan selalu ngatain Nathan tidak punya ayah. Om Daffi selalu mengatakan jika laki-laki itu harus kuat"
__ADS_1
Emilia tak menjawab. Wanita itu hanya terbesit dalam benaknya satu pertanyaan. Memangnya sedekat apa Nathan dengan pria itu? Pertanyaan itu tentu saja terbesit dalam benak Emilia.
Tak berselang lama. William datang dan membawa kotak P3k. Sangat terlihat dari raut wajahnya jika saat ini William begitu menghawatirkan Nathan.
"Kenapa Nathan bisa sampai jatuh sayang?" Tanya William pada Emilia
"Tadi aku jalannya terlalu buru-buru Wil. Maaf ya. Gara-gara aku Nathan sampai terluka" Ucap Emilia sendu sambil terus mengobati luka di lutut Nathan.
"Kenapa kamu sampai buru-buru sayang?"
"Tadi aku buru-buru karna liat kamu sedang telponan dan terlihat serius"
Mendengar perkataan Emilia membuat William bingung harus mengatakan apa. "Ooh tadi Alex yang menelpon sayang. Katanya ada sedikit masalah di kantor. Tapi sudah aku Handle tadi" Ucapnya berbohong
"Oh ya. Kenapa kamu keluar lagi? Memangnya sudah membeli apa yang mu di beli" Tanya William lembut
"Tadi aku keluar karna tas aku ketinggalan di mobil"
"Oooh yasudah. Ayo kita masuk. Biar Nathan aku gendong"
William dan Emilia masuk ke dalam mini market. Mereka memilih beberapa keperluan yang memang di butuhkan selama di dalam penginapan. "Nathan mau ini" Ucap Nathan sambil menunjuk pada sosis Hanzel
"Boleh. Nathan mau yang varian apa?" Tanya Emilia pelan
"Mau yang varian keju saja mami. Nathan suka keju"
"Baiklah. Mau apa lagi sayang?"
Setelah mendengar perkataan Nathan. Emilia kembali memilah milih barang yang akan dia beli.
Tanpa mereka sadari. Ternyata ada David yang sejak tadi menguntit di tempat itu. David menggunakan kaos oblong juga celana pendek. Serta topi dan kacamata hitam.
Melihat Emilia terlihat sangat bahagia bersama dengan William. Membuat David semakin merasa tidak suka. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat pemandangan di depan matanya.
"Ini tidak bisa di biarkan. Emilia tidak boleh bahagia kecuali bersamaku. Emilia hanyalah untukku" Ucap David pelan tapi masih bisa di dengar jelas oleh Siren
Wanita itu juga mengikuti David saat melihat David keluar dari penginapan. Siren sudah mewanti-wanti agar tidak sampai kecolongan. Wanita itu tidak akan membiarkan David melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Emilia atau pun Nathan.
"Wil, Aku sudah belanjanya. Kamu tadi mau beli apa?"Tanya Emilia sambil menatap William
"Aku tadi kan mau beliin makan buat kalian. Juga cemilan buat Nathan sayang. Oh ya, Mumpung kita lagi di luar. Bagaimana kalau kita sekalian makan siang"
"Boleh Wil. Aku juga sepertinya sudah lapar" Jawab Emilia sambil menoleh pada William
"Kita bayar dulu ya. Ini kamu aja yang ke kasir. Aku sama Nathan nunggu di luar ya" Seru William sambil memberikan sebuah black card pada Emilia dan langsung melangkah keluar.
Namun langkahnya terhenti saat Emilia memanggil namanya" Wil Tunggu" Ujar Emilia pada William
Mendengar itu membuat William menghentikan langkahnya dan menoleh pada Emilia
__ADS_1
"Iya sayang. Kenapa ?"
"Password nya apa?" Tanya Emilia sambil menatapnya
"Tanggal lahir kamu"
Perkataan William membuat Emilia mengerutkan keningnya"Tanggal lahir aku?. Kamu bercanda ya" Ucap Emilia sambil terus menatap William. Pasalnya selama ini Emilia tidak pernah mengatakan tanggal lahirnya pada siapapun. Apalagi William
"Kok bercanda sih sayang. ini beneran. Kalau kamu tidak percaya coba saja" Pungkas William sambil menatap Emilia dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
Wanita itu tak lagi menjawab. Emilia hanya berjalan ke arah kasir dan membayar semua barang belanjaannya."Mau tambah apa lagi kak?" Tanya kasir itu sopan
"Sudah. Itu saja. Jadi berapa ya?"
"340 ribu kak" Jawab kasir itu
Emilia langsung memberikan black card yang tadi sudah di berikan oleh William"Pin kak" Ucap kasir itu
Mendengar itu membuat Emilia dengan cepat memasukkan password yang sudah William katakan. Yaitu tanggal lahirnya.
"Lah kok beneran bisa" Gumam Emilia dalam batinnya
Setelah itu. Emilia keluar dari mini market dengan beberapa kantong kresek di tangannya. Dia mulai penasaran dari mana William bisa tau tanggal lahirnya. Padahal sebelumnya William tidak pernah mengatakan hal itu pada William
"Bagaimana sayang. Aku tidak bagong kan?" Seru William setelah melihat kedatangan Emilia
"Iya Wil. Tapi aku penasaran. Dari mana kamu tau kalau tanggal lahir aki 15 08 98" Tanya Emilia dengan sangat penasaran
"Apapun yang bersangkutan dengan kamu, Aku selalu tau sayang" Jawabnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Iiiihhh Wil. Aku serius nanya. Kamu tau tanggal lahir aku dari mana? Pasti dari mama, Atau papa atau kak Widi"
"Aku tidak tau dari mereka kok sayang. Aku cari tau sendiri. Waktu itu aku minta Alex untuk mencari data kamu di SMA merah putih"
"Oooh begitu. Tapi kenapa password ATM kamu harus tanggal lahir aku?" Tanya Emilia lagi
"Kalau nomor password harus yang gampang di ingat bukan"
"Iya, Lalu kenapa harus tanggal lahir aku?"
"Ya karna aku selalu mengingat kamu setiap detik dan menit sayang. Dengan begitu aku tidak akan bisa melupakan password ATM yang sudah ke blokir untuk yang ke sekian kalinya" Seru William sambil terkekeh
"Maksudnya. Terblokir untuk yang kesekian kalinya bagaimana?"
"Jadi aku itu orangnya pelupa sayang. Sudah berapa kali ATM aku ke blokir karna lupa password. Tapi setelah aku ganti dengan tanggal lahir kamu. Kata lupa itu sudah tidak ada lagi" Ucap William sambil terkekeh
"Masa iya. Baru tau kalau ternyata kamu orangnya pelupa"
"Hanya sama saja aku yang tidak pernah bisa lupa sayang"
__ADS_1
"Gombal" Jawab Emilia sambil memanyunkan bibirnya