
Satu minggu berlalu. Setelah pulang dari rumah sakit, Widi memang sudah di minta untuk tinggal besama dengan Melinda dan juga Wira di rumah utama. Sedangkan Emilia dan William memutuskan untuk kembali ke bogor. Melanjutkan pekerjaannya di sana.
"Em, Kakak titip butik ya. Jika kamu butuh bantuan kakak, Kamu bisa langsung hubungin kakak..Kakak akan berusaha untuk datang ke bogor" ucap Widi sambil menatap Emilia yang sudah bersiap untuk melakukan perjalanan ke Bogor.
"Kakak tenang saja. Serahkan semuanya sama Emil. Insyaallah Emil bisa mengurus semuanya. Kak Widi jangan capek-capek dulu ya. Habis operasi pencangkokan ginjal gak baik jika terlalu kelelahan" balas Emilia sambil memeluk Widi.
"Iya, Em. Terimakasih kamu sudah mau perhatian sama kakak"
"Kak, Tidak perlu berterimakasih. Karna apa, Itu sudah kewajiban aku sebagai adikmu memberikan perhatian sama kakak. Justru aku yang mau berterimakasih sama kakak. Kalau bukan karna kakak, Mungkin saat ini aku sudah tidak bisa lagi melihat papa. Mungkin aku sudah akan kehilangan papa untuk selamanya" ucap Emilia yang terdengar sangat lirih.
Widi menatap kedua bola mata Emilia"Em. Tidak perlu berterimakasih. Karna itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai anak untuk berkorban buat orang tuaku. Apalagi papa adalah orang yang selama ini ingin aku temui. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Akan melakukan apapun demi papa. Sosok yang aku rindukan sejak aku masih kecil" gumam Widi lagi.
Hingga tanpa sadar air mata itu berhasil lolos begitu saja. Masih teringat jelas bagaimana masa kecilnya dulu. Besar tanpa ada sosok ayah yang menemani.
"Semua sudah berlalu kak. Jangan menangis seperti ini" gumam Emilia sambil mengusap air mata Widi.
Setelah cukup lama. Akhirnya Emilia dan William pamit pada semua orang di sana."Mama, Papa. Emil sama William pamit dulu ya. Kalau ada butuh kita mama sama papa bisa langsung telfon" kata Emilia sembari memeluk serta mencium punggung tangan Melinda dan juga Wira.
"Iya, Sayang. Kamu bisa ke sini tiap sebulan sekali kan. Mama sama papa akan sangat merindukan Nathan" seru Melinda sambil membalas pelukan Emilia.
"Insyaallah ma, Emilia akan usahakan untuk bisa pulang setiap sebulan sekali. Papa sama mama jangan lupa jaga kesehatan ya. Emil pamit"
"Nathan juga pamit ya oma, Opa. Nanti kalau Nathan libur sekolah Nathan bakal ngajak mami sama papi buat main kesini. Nathan sayang banget sama oma sama opa" gumam Nathan sambil memeluk Melinda dan juga Wirayudo secara bergantian.
Di tempat lain
"Kak Widi kemana ya, Kenapa dia tidak pernah balas pesan yang aku kirim. Semuanya bahkan belum dia baca" ucap Ferdian sambil terus menatap layar ponselnya.
Semenjak kembali dari bali, Ferdian memang belum tau jika Widi sempat menjalani operasi transplantasi ginjal untuk papanya satu minggu yang lalu.
[ Assalamualaikum, Kak. Apa kabar? ] send
__ADS_1
Ferdian kembali mencoba mengirimkan pesan pada Widi. Hingga tak berselang lama, Pesan itu pun centang biru yang menandakan jika Widi sudah membacanya.
Melihat itu membuat Ferdian mengangkat kedua sudut bibirnya. Apalagi saat melihat jika Widi sedang mengetik.
Kling
Kak Widi
[ Maaf ya, Fer. Aku baru balas chat kamu. Aku baru saja pegang hp. Soalnya satu minggu yang lalu aku habis menjalani opersi ]
Membaca balasan Widi tentu saja membuat Ferdian mengerutkan kecil keningnya. "Kak Widi menjalankan operasi. Memangnya di sakit apa" gumamnya sambil menekan tombol panggil di sana.
Membaca kata operasi membuat Ferdian mersa sangat penasaran terhadap keadaan Widi saat ini. Tak butuh waktu lama, Widi langsung menjawab panggilannya.
π±:Halo, Fer. Maaf ya aku baru bisa pegang handphone
π±:Iya kak. Gak papa. Kak Widi operasi apa? Memangnya kak Widi sakit?
π±:Oh enggak ko Fer. Satu minggu yang lalu aku memang menjalani opersi, Tapi bukan karna sakit.
π±:Transplantasi ginjal Fer. Aku melakukan pencangkokan ginjal untuk papa Wira.
π±:Hah! Papa Wira. Maksud kak Widi ok Wira papanya Emil?
π±:Iya, Fer. Papa Wira adalah ayah kandungku
π±:Jadi, Kak Widi saudara Emilia?
π±:Iya, Fer. Emilia adalah saudara kandungku Fer
π±:A...apa! Jadi Emilia adalah saudara kandung kak Widi. Oh iya kak, Ada satu hal yang mau aku kasih tau sama kakak
__ADS_1
π±:Apa itu Fer?
π±:Aku gak bisa jika hanya mengatakannya lewat telfon. Akhir pekan aku akan ke tempat kak Widi.
Setelah mengatakan hal itu, Ferdian langsung memutuskan sambungan telponnya. "Mungkin ini memang sudah saat nya kak Widi tau bagaimana kelakukan Alex. Kak Widi harus tau jika sebenarnya Alex sudah memiliki istri dan juga anak" ucapnya pelan.
Hal itu membuat ingatan Ferdian kembali pada kejadian 3 hari yang lalu. Tepatnya saat Ferdian sedang ingin membeli vitamin di Apotek. Tanpa sengaja Ferdian melihat Alex bersama anak serta istrinya ada di barisan antrian di sana.
Flashback dua hari yang lalu
Ferdian duduk di salah satu kursi tunggu di sana. Melihat antrian yang cukup panjang membuatnya mengambil nafas sejenak.
"Duh kenapa bisa lupa kalau jam segini pasti banyak orang yang akan antri menebus obat di apotek ini" gumam Ferdian sambil duduk di sana.
"Mama, Mama sama Gita duduk saja di sana. Biar papa yang mengantri menebus obatnya ibu"
Mendengar suara yang cukup familiar membuat Ferdian membalikkan tubuhnya. Mencari sumber suara yang cukup dia kenal menerpa indra pendengarannya.
"I-itu kan si Alex. Laki-laki yang menjadi kekasihnya kak Widi. Apa maksud dari perkataannya? Mama. Jangan-jangan wanita itu adalah istrinya. Dan anak kecil itu adalah anaknya" ucap Ferdian sambil terus menatap Alex serta anak kecil dan juga wanita dewasa yang terlihat sangat dengan dengan Alex.
"Iya, Mas. Aku sama Gita tunggu di sini saja" balas istrinya pada Alex.
Mendengar jawaban istrinya membuat Alex langsung melangkahkan kakinya menuju tempat antrian..
Setelah memastikan Alex berdiri di barisan yang lain, Ferdian bangun dari duduknya. Rasa penasaran itu tentu saja terbesit dalam benaknya.
"Permisi. Maaf mau tanya. Apa bapak tadi adalah tuan Albert, Tunangan dari nona Wila?" tanya Ferdian yang pura-pura bertanya.
"Oh maaf anda salah orang. Tadi itu suami saya. Namanya Alex" balas sosok wanita yang tak lain adalah istri dari Alex.
"Ah, Iya. Berarti saya salah orang. Terimakasih ya"
__ADS_1
Ferdian berlalu dari sana."Apa kak Widi sudah tau tentang hal ini. Apa dia tau jika sebenarnya Alex sudah memiliki istri dan juga anak" gumam Ferdia. sambil keluar dari dalam Apotek itu.
"Aku harus secepatnya kasih tau hal ini sama kak Widi. Karna aku yakin, Jika kak Widi tidak tau kalau seandainya Alex sudah memiliki keluarga"