
Setelah selesai mengadzani bayi laki-laki itu. William meletakkan tubuh mungil bayi yang saat ini menatapnya di atas box bayi. Melihat tatapan mata bulatnya membuat William merasa berat untuk pergi dari sana. Entah kenapa rasanya seperti damai saat ada di dekat bayi itu.
"Sampai bertemu lagi nak. Semoga kamu bisa menjadi laki-laki yang akan melindungi mamamu" Ucap William sambil meninggalkan kecupan singkat pada keningnya.
Tak lama kemudian. Bayi itu tertidur dan terlihat begitu damai. Melihat bayi itu sudah tidur, William keluar dari ruangan IGD.
"Mbk saya permisi dulu ya. Bayinya sudah aku Adzani. Dia sedang tidur sekarang. Sampai kan salam ku sama wanita itu ya. Selamat atas kelahirannya. dan tolong berikan ini ya. Gelang ini adalah gelang pasangan ibu dan anak. Anggap saja ini hadiah dari aku" Ucap William sambil memberikan 2 buah gelang
Beberapa bulan yang lalu. William memang sempat membeli sebuah gelang pasangan dengan tulisan baby dan Mama di bagian dalam gelangnya.
Waktu itu William sengaja membeli saat mendengar jika Emilia hamil karna kejadian malam itu. Sebuah kejadian yang membuat Emilia terusir dari rumahnya.
Tapi karna sampai detik ini William belum menemukan Emilia. Oleh karena itu William ingin memberikan hadiah buat bayi malang yang tidak ada ayahnya. Saat mendengar jika suaminya meninggal membuat William merasa iba.
"Baiklah. Terimakasih kamu sudah sangat membantu"Ucap Widi sambil menerima gelang pemberian William
William keluar dari dalam klinik. disepanjang perjalanan entah kenapa bayangan bayi itu selalu terlintas dalam ingatan William. senyuman serta kedua mata bulatnya membekas jelas pada ingatannya.
"Kenapa aku selalu terbayang wajah bayi itu"
Di Villa
"Semoga dia baik-baik saja" Ucap Liana sambil terus melihat satu persatu baju pesanannya
Tak lama kemudian, Bagaskara, Wira dan Melinda sudah kembali. Namun rupanya Liana tidak menyadari kedatangan mereka bertiga. Wanita paruh baya itu terlalu fokus pada baju-baju di hadapannya
"Waah. Ini baju kamu Li? Bagus-bagus banget. Elegan gitu ya" Ucap Melinda sambil mendekat ke arah Liana
"Eh kalian sudah datang. Kalau kamu mau pilih satu Mel. Ini tuh aku pesan sama Desainer yang baru aku temukan 1 minggu yang lalu"
"Memangnya aku boleh ambil ya Li?"
"Boleh dong Mel. Nanti aku bisa pesan lagi"
"Baiklah. Aku kau yang ini Li. ini pas gak ya buat aku?" Ucap Melinda sambil mengambil 1 gaun berwarna navy
"Bagus Mel. itu sangat cocok buat kamu" Balas Liana
Biarpun sudah memiliki anak yang sudah dewasa. Namun umur Liana juga Melinda masih sekitar 45 tahun. Masih sangat cantik dan terlihat muda.
"Kapan bajunya di antar ma? Desainernya jadi datang kesini?" Tanya Bagaskara pada Liana
"Iya jadi pa. Kan mama menyuruh sopir buat menjemput Desainernya"
"Terus sekarang desainernya mana ma, apa sudah pulang?"
Mendengar pertanyaan Bagaskara membuat Liana menoleh ke arahnya
"Tadi dia sakit perut pa. Kayaknya mau melahirkan deh pa. Jadi mama nyuruh William buat mengantar ke rumah sakit"
"Memangnya Desainernya sedang hamil ya Li?" Tanya Melinda
"Iya Mel. Anaknya itu cantik banget. dia baik juga"
"Seperti apa sih Desainernya Li. Bikin penasaran"
"Pokonya cantik banget deh Mel. Seandainya dia tidak punya suami. Pasti sudah aku jodohkan dengan William"
"Memangnya William belum ada calon sendiri ya Li?"
"Ya gitu lah Mel. William kalau di tanya soal calon. Jawabannya pasti masih sibuk sama kerja" Jelas Liana
"Mungkin memang masih belum siap menikah Li. Sabar aja dulu"
"Oh iya Wir. Bagaimana tentang pencarian anak kalian?" Tanya Bagaskara pada Wira
Mendengar itu membuat Wira dan Melinda mengambil nafas secara bersamaan. Karna sampai detik ini masih belum bisa mengetahui dimana keberadaan anaknya.
"Belum Gas. Sampai detik ini belum mendapat kabar apa-apa tentang Emilia" Ucap Wirayudo sendu
"Aku sangat menyesal sudah mengusirnya gas. Biar bagaimanapun Emilia adalah satu-satunya putriku" Ucap Wira tanpa sadar
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat semua orang yang ada di sana menimbulkan pertanyaan dari apa yang Wirayudo katakan. Sedangkan Melinda sudah terlihat pucat saat mendengar hal itu
"Apa maksud kamu Wir? Kamu kan masih punya putri lagi selain Emilia" Ucap Bagas
"Iya. Tapi aku sangat menyayangi Emilia"
Ada satu rahasia yang tidak pernah orang lain tau tentang Siren. yang tau hanyalah Melinda juga Wirayudo. Dan itu adalah salah satu alasan kenapa Wira lebih menyayangi Emilia dari pada Siren. Hal itu juga yang membuat kenapa Siren sangat berbeda jauh dari Emilia.
Kira-kira rahasia apa yang di sembunyikan oleh Wira juga Melinda?
Di Tempat Lain
Hari ini Siren sedang tidak masuk sekolah karna David melarangnya keluar dari rumah. Pria itu memberikan hukuman pada Siren yang ketahuan ada di Bar bersama pria lain dalam keadaan mabuk berat.
"Mas. aku lapar" Teriak Siren dari dalam kamarnya
"Hari ini kamu tidak akan dapat jatah makan! kamu sudah membuat aku malu Siren. Bisa-bisanya berduaan dengan pria lain di dalam bar" Ucap David
"Iya itu kan karna salah kamu sendiri mas. Kamu selalu menyebut nama kak Emilia. aku tidak suka itu"
"Udah jangan banyak ngomong. Kamu akan dapat jatah makan setelah aku pulang kerja"
Setelah itu David keluar dari dalam kamarnya. Pria itu mengunci pintu kamarnya serta membawa kuncinya.
Namun bukan Siren namanya jika akan membiarkan dirinya terkurung. Selama ini Wirayudo sudah sering mengurung Siren. Namun karna anak itu terlewat nakal. Maka ada saja caranya untuk bisa keluar dari dalam kamarnya
"Kamu tidak tau siapa aku mas. Tanpa kamu buka pun, aku akan keluar dari sini secepatnya. Enak saja mengurungku. Memangnya aku tahanan" Ucap Siren pelan
Setelah memastikan mobil David sudah benar-benar pergi dari rumahnya. Siren mulai melakukan aksinya. Karna di dalam kamarnya ada sebuah jendela. Akhirnya Siren keluar lewat jendela itu.
"Dasar bodoh. Mau mengurungku tapi tidak mikir 2 kali" Pekik Siren sambil turun dari balkon kamarnya menggunakan gorden yang dia sambungkan.
Saat ini kedua orang tua David belum pulang dari luar negeri. Oleh karena itu, Siren dengan mudah bisa keluar lewat balkon kamarnya.
Bisa di bayangkan ya bagaimana kelakuan Siren.
Di tempat Lain
"Kak, Boleh minta tolong siapkan kasur yang waktu itu kita beli ya"
"Oh iya boleh Em. Sebentar ya"
Widi mengambil kasur bayi yang sudah di siapkan oleh Emilia sejak 2 bulan yang lalu. lebih tepatnya sebelum dirinya pindah ke tempat Widi
"Sudah Em. Kamu bisa tidurkan dia di sini"
"Iya kak"
Setelah Emilia menidurkan anaknya. Wanita itu keluar karna di panggil oleh Widi yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu
"Ada apa kak?" Tanya Emilia dan duduk di samping Widi
"Ini Em dari laki-laki yang tadi membantu bawa kamu ke klinik" Ujar Widi sambil memberikan sepasang gelang emas dengan tertulis nama baby dan mama di dalam gelangnya
"Buat aku kak?"
"Iyalah Em buat kamu. Bagus ya"
"Bagus sih kak. Tapi kenapa orang itu memberikan gelang ini buat Emil"
"Kalau soal itu kakak juga gak tau sih Em. Kakak hanya mendapat amanah untuk memberikan gelang ini pada kamu"
"Makasih ya kak"
5 Tahun Kemudian
Tanpa terasa hari, minggu, bulan dan tahun berlalu. Hari ini William kembali ke indonesia setelah 4 tahun meninggalkan kota bogor untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Selama 4 tahun. William belum juga bisa menemukan keberadaan Emilia. Karna dia hanya bisa meminta orang suruhannya untuk mencari di mana keberadaan wanita itu. Namun, Sampai detik ini belum juga ada kabar tentangnya.
Dan hal itu membuat William pasrah begitu saja. Pria itu menerima wanita yang di jodohkan oleh mamanya sejak 6 bulan yang lalu. Tapi William tidak pernah tau seperti apa calon istrinya.
__ADS_1
Setiap mamanya mengirimkan foto wanita yang di jodohkan dengannya. William tidak pernah mau membuka gambar yang dikirim oleh sang mama. pria itu langsung menghapus begitu saja. tanpa William ketahui ternyata wanita itu adalah Emilia.
Setelah Liana mengetahui jika suami Emilia sudah meninggal. Membuat wanita paruh baya itu langsung melanjutkan rencananya untuk menjodohkan Emilia dengan William. Putra satu-satunya di keluarga Bagaskara.
π: Ma, William sudah tiba di bandara. Apa mama sudah menyuruh seseorang untuk menjemput ku?
π: Sudah nak. sebentar lagi dia akan sampai. Apa kamu mau jika malam ini makan malam bersama dengan calon istrimu?
π: Jangan dulu ya ma. Aku masih terlalu lelah. Lebih baik kita bertemu di acara ijab qobul saja ya ma
π: Baiklah jika memang itu yang kamu mau Wil. Pernikahannya 2 minggu lagi ya nak
π: Hmmm
Setelah itu sambungan telponnya terputus. dan bersamaan dengan mobil jemputan sudah tiba di depan William
"Bawa barang-barang saya dan pulang pakai taksi ya pak. saya masih mau ke mall buat beli sesuatu" Ucap William pada supir yang menjemputnya
"Baik tuan muda"
Di tempat Lain
"Nathan. ayo mandi sayang. Katanya mau jalan-jalan ke mall?"Ujar Emilia pada anaknya yang sedang asik bermain di ruang tamu bersama Widi
"Iya mi. Sebentar lagi ya"
"Nathan. kalau kamu gak mandi-mandi kita batalin saja ya jalan-jalannya" Ucap Emilia lagi
"Iya deh mi, Nathan mandi sekarang. Bibi Nathan mandi dulu ya"
"Iya sayang, Sana cepat mandi. nanti mami kamu ngamuk"
"Iya bibi. Mami galak ya bi"
"Sudah sana cepat sebelum mami datang kesini"
1 Jam kemudian Emilia dan Nathan sudah tiba di sebuah Mall. Widi tidak bisa ikut bersama dengan mereka. Karna wanita itu sedang ada pertemuan dengan salah satu klien.
"Mami Nathan mau es krem" Rengek Nathan sambil menarik tangan Emilia
"Iya sebentar ya sayang mami bayar uang taksi dulu"
Di saat Emilia masih sibuk membayar uang taksi.Tiba-tiba Nathan berlari dan mengejar tukang balon yang masuk ke dalam mall itu
"Ayo sayang kita beli es krem sekarang" Ucap Emilia
Namun Emilia tidak mendengar jawaban dari Nathan. Anaknya sudah pergi mengejar penjual balon.
"Astagfirullah, Nathan kemana" Ucapnya setelah menyadari jika Nathan tidak ada di belakangnya.
Emilia panik dan berusaha mencari keberadaan anaknya. Ini pertama kalinya Emilia jalan berdua dengan Nathan tanpa Widi
"Maaf bu. Apa ibu melihat anak ini, dia anak saya" Tanya Emilia pada ibu-ibu sambil memperlihatkan foto Nathan
"Sepertinya tadi dia masuk dan mengejar penjual balon"
"Terimakasih bu"Pekik Emilia sambil langsung masuk ke dalam mall
Setelah tiba di dalam. Ternyata Nathan sedang memakan eskrim dan memegang balon di tangan kirinya.
Melihat keberadaan Nathan membuat Emilia langsung merasa tenang saat itu juga. Emilia berjalan lebih cepat dan langsung memeluk tubuh mungil anaknya yang sedang asyik makan eskrim
"Nathan. Kenapa kamu pergi gak bilang mami. Mami panik mencari kamu sayang" Ucap Emilia
"Maaf ya mi. Tadi Nathan mengejar tukang balon. Untung ada om baik yang mau membelikan Nathan balon juga eskrim"
Mendengar itu membuat Emilia melepaskan pelukannya pada Nathan. Wanita itu membalikkan tubuhnya ke arah pria yang di maksud oleh anaknya.
"Terimakasih mas" Ucap Emilia lembut
Deg! Jantung William seakan berhenti berdetak saat melihat wanita yang selama ini dia cari berdiri di depan matanya.
__ADS_1
"Emilia" Ucap William tanpa sadar