
"Terimakasih untuk malam ini sayang" Ucap Baron pada Melinda yang saat ini sudah menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Pergi!" Sentak Melinda dengan air mata yang sudah menumpuk di kedua pelupuk matanya
Kejadian malam ini benar-benar membuat dunia Melinda seakan berhenti berputar. Hal yang tak pernah terbayang terjadi bagaikan mimpi. Apa yang akan Melinda katakan pada Wirayudo jika sampai suatu hari nanti dia hamil karna kejadian yang tak pernah Melinda inginkan.
Melinda masuk ke dalam kamar mandinya. Wanita itu membiarkan tubuhnya di bawah guyuran air shower hingga cukup lama.
"Kenapa semua ini harus terjadi. Kenapa! Hiks...hiks.."
Malam berlalu. Pagi ini Melinda masih enggan untuk membuka kedua matanya. Rasanya dia merasa tubuhnya seperti remuk karna ulah Baron malam tadi.
1 jam kemudian. Melinda terbangun saat suara Emilia memanggilnya. Melinda baru tersadar jika anaknya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut sesuai anjuran dari dokter 1 minggu yang lalu.
"Maaf ya sayang. Mama baru bangun. Emilia hari ini sudah siap di periksa sama dokter kan?"
"Iya mama" Ucap Emilia dengan suara mungilnya
Tak lama kemudian ada panggilan masuk dari Wirayudo. Melihat nama suaminya membuat Melinda terdiam. Rasanya dirinya sudah tidak pantas untuk mendapatkan panggilan istri dari nya.
Melinda masih membiarkan telponnya berdering tanpa mau menjawabnya. hingga ponselnya berdering sampai berkali-kali.
π: Iya pa
π: Mama kemana saja ma. Mulai tadi malam papa menghubungi mama tapi mama gak ada jawab. Papa khawatir sama mama dan Emil. apa kalian baik-baik saja?
Mendengar perkataan Wira membuat Melinda menangis dalam diam. Entah apa yang harus Melinda katakan untuk saat ini
π: Halo ma. Mama masih di sana kan
π: I...iya pa. Mama masih di sini kok. Papa tadi malam sampai jam berapa?
π: Mama baik-baik saja kan ma. Tadi malam papa sampai jam 12 malam. Papa menelfon mama tapi gak di jawab. Mungkin mama sudah tidur
Mendengar itu membuat air mata Melinda semakin tak terbendung. "Maafkan mama pa. maafkan mama. Tapi semua ini bukan kemauan mama pa." Batinnya
π: Ma. Mama baik-baik saja kan?
π: Iya pa. tadi malam waktu papa telfon mama sudah tidur. ini mama sekarang mau bawa Emil buat menjalankan pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran dari dokter
__ADS_1
π: Baiklah. Mama hati-hati sama Emil ya. Jujur entah kenapa mulai tadi malam perasaan papa tidak enak
Deg! Mendengar itu membuat Melinda kembali mengingat kejadian malam tadi. Sebuah kejadian yang sudah merenggut kesucian pernikahannya dengan Wirayudo
"Brengsek kami Baron. Laki-laki gak tau diri" Batin Melinda
π: Mama sama Emil baik-baik saja kok pa. Papa tidak perlu khawatir ya. Mama doakan semoga papa menang dalam kasus kali ini ya, Supaya Emilia bisa cepat kita operasi
π: Iya ma amin. Papa akan berusaha memenangkan kasus ini demi mama dan Emil. Mama kalau mau ke rumah sakit hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa jangan lupa telfon papa
π:Iya pa
Setelah itu sambungan telpon terputus. Melinda semakin terisak karna sebuah kesalahan yang tak pernah dia inginkan.
"Maafkan aku pa" Ucapnya lirih
1 Bulan berlalu. Hari ini Wirayudo akan kembali ke jakarta karna sudah memenangkan kasus yang dia tangani. Wirayudo mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat transferan yang masuk pada rekeningnya.
"Alhamdulilah. Gak nyangka bonus yang aku dapat ternyata sangat besar" Ucap Wirayudo saat sedang di arah jalan pulang
Saat ini Wirayudo memang sedang ada di dalam pesawat dan akan segera tiba di jakarta. Setelah tiba di bandara Jakarta. Wira memesan taksi online untuk mengantarnya pulang dan bertemu dengan anak dan istrinya yang sudah dia tinggal kurang lebih 1 bulan.
Tok...tok...tok...
Mendengar ada suara Wirayudo di depan rumahnya membuat Melinda sedih. Wanita itu sudah bertekad akan mengatakan pada suaminya tentang apa yang sudah terjadi di malam tepat saat kepergian Wirayudo
"Waalaikum salam pa" Ucap Melinda sambil membuka pintu rumahnya
Setelah pintu itu terbuka dan menampakkan sosok seorang pria yang amat di cintanya membuat kedua mata Melinda tak bisa menahan genangan air yang sudah menumpuk di kedua pelupuk matanya.
"Papa, maafkan mama" Ucap Melinda sambil bersimpuh di hadapan suaminya
Melihat tingkah sang istri membuat Wirayudo mengerutkan keningnya. Pria itu menyentuh bahu Melinda dan memintanya untuk berdiri
"Mama kenapa. Berdiri ma jangan seperti ini. Mama kenapa kok malah nangis. bukannya seneng papa sudah pulang" Ucap Wirayudo begitu lembut
"Maafkan mama pa" Hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut Melinda.
Wanita itu merasa lidahnya seakan kelu untuk sekedar bercerita tentang kebenaran yang mungkin akan mematahkan hati suaminya.
__ADS_1
"Mama dari tadi bilang maaf. Ada apa ma. Ayo bicara pelan-pelan sama papa" Ucap Wirayudo sambil membawa melinda dalam dekapannya
Mendapat dekapan seperti itu membuat Melinda semakin terisak dan hal itu tentu saja membuat Wira tampak bingung. sebenarnya ada apa dengan istrinya?
"Tapi papa janji jangan marah ya pa. Hiks...hikss. semua ini terjadi bukan karna kemauan mama pa. Mama di ancam. Hikss.. hikss ."
"Papa janji tidak akan marah sama mama. Sekarang mama cerita apa yang sebenarnya terjadi?"
Melinda memandang Wira dengan tatapan sayu. Wanita itu mengambil nafas panjang sebelum mengatakan hal yang sebenarnya.
"Malam itu. saat papa sudah berangkat ke makasar. tiba-tiba ada seseorang yang memeluk mama dari belakang. Awalnya mama mengira itu papa. Tapi ternyata dia adalah..." Melinda menghentikan perkataannya.
Walaupun hanya ingin mengatakan sebuah kebenaran, Namun rasanya lidah Melinda terasa sangat kelu dan sulit untuk sekedar meneruskan ucapannya
"Apa maksud mama! Dia siapa ma?" Ucap Wirayudo dengan kedua mata yang mulai memerah
"Baron pa. dan dia mengancam akan membunuh mama dan Emil jika mama tidak mau melayaninya malam itu, Maafkan mama pa Hiks...hiks.."
Mendengar ucapan Melinda membuat lutut Wira seakan begitu lemas. Pria itu terduduk karna shock saat mendengar wanita yang amat di cintanya melakukan hal itu dengan pria lain
"Apa!! Maksudnya mama sama baron.."
"Iya pa. Maafkan mama.. hikss...hiks..."
Flashback off
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 20:00. Liana dan Bagaskara menawarkan Emilia untuk pulang bersama mereka. Namun Emilia menolak karna masih ada urusan sebentar.
"Beneran kamu gak mau pulang bareng mama sama papa Em?" Tanya Liana pada Emilia
"Iya ma. Emil masih ada urusan sebentar ma. Makasih atas makan malamnya ya ma, Pa" Ucap Emilia sopan
"Ya sudah nak. kalau begitu papa sama mama pulang dulu ya. kamu hati-hati" Ucap Bagaskara
"Iya pa, Papa sama mama juga hati-hati ya" Emilia mencium punggung tangan Liana juga Bagaskara
Setelah kepergian Liana dan Bagaskara. Emilia berjalan menjauh dari Restoran itu. Emilia memang masih ingin membeli barang-barang stok bulanan yang sudah habis. oleh karena itu Emilia menolak di antar oleh Bagaskara dan Liana
π: Sekarang saatnya. Target sedang menunggu taksi di samping restoran. kamu bisa menyamar menjadi supir taksi online yang sudah dia pesan
__ADS_1
π: Baiklah
Setelah itu sambungan telponnya terputus. dan tak lama kemudian. Ada sebuah taksi online berhenti tepat di depan Emilia. Karna terlalu buru-buru membuat Emilia lupa untuk memastikan jika taksi itu bukanlah taksi yang dia pesan melainkan seseorang yang tadi sudah menerima sebuah telpon dari salah satu partnernya.