
Mendengar perkataan pengasuh Dini membuat Siren merasa sangat terkejut. Apa yang sudah terjadi. Pikirnya
Damar yang melihat raut wajah Siren mengerutkan keningnya. Jujur pria itu merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
"Ada apa?"Tanya Damar pada Siren
"Anak aku Dam. Pengasuh anakku bilang jika rumah di sita pihak bank. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi. Aku harus segera kembali ke jakarta" Ucap Siren dengan wajah anaknya
"Aku antar kamu pulang"
Setelah mengatakan hal itu, Damar langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk di pesan kan 2 tiket pesawat untuknya dan juga untuk Siren
π:Halo tuan. Ada apa?
π:Pesan kan saya tiket pesawat yang penerbangannya sekarang atau 30 menit ke depan. Atas nama Damar Alexander dan Siren Wirayudo
π:Baiklah tuan. Secepatnya akan saya pesan kan
Setelah itu, Damar menatap Siren yang sudah terlihat panik. Pria itu menarik tangan Siren dan membawanya keluar.
Namun setelah tiba di luar. Ternyata di sana sudah ada mami Barbie yang menunggu bersama dengan seorang pria paruh baya yang sudah antre untuk memboking Siren.
"Akhirnya kalian keluar juga" Ujar Mami Barbie sambil menatap Siren dan Damar
"Siren, Kamu jangan kemana-mana. Sudah ada tuan Adam yang akan memboking kamu selanjutnya"
Mendengar itu membuat kedua mata Siren membulat"Apa maksudnya?" Tanya Siren pada mami Barbie
"Kamu kan sudah saya beli dari ayahmu. Jadi kamu sudah tidak bisa kemana-mana. Kamu akan selamanya di sini"
"Saya akan membeli Siren dari mami. Berapa uang yang mami mau?" Tanya Damar cepat
"1 Milyar. Karna dia aset berharga" Ucap mami barbie sambil menatap Damar
"Deal. Saya akan membayarnya sekarang"
Setelah itu Damar langsung mengambil ponselnya. Pria itu mengirimkan uang 1 milyar pada mami Barbie atas Siren. "Sudah saya transfer. Mulai sekarang mami sudah tidak ada hak atas Siren. Karna Siren sidah menjadi milik saya sepenuhnya" Ujar Damar dan langsung membawa Siren keluar dari sana.
Wanita itu terdiam saat mendengar jika dirinya diperjual belikan. Rasanya teramat sakit. Damar yang menyadari Siren terdiam sejenak menghentikan langkahnya. Pria itu menatap kedua mata Siren yang terlihat berkaca-kaca. "Kenapa?" Tanya Damar lembut
Siren masih diam. Rasanya terlalu sesak untuk menjawabnya. Melihat wajah sayu Siren serta kedua matanya yang berkaca-kaca seketika membuat Damar paham.
Pria itu membawa Siren dalam dekapannya"Menangislah jika itu bisa mengurangi sesak dalam hatimu" Ujar Damar sambil mengusap rambut Siren lembut
Mendengar itu membuat tangis Siren pecah. "Aku tidak menyangka jika ayah kandungku tega menjual aku seperti ini Dam. Rasanya sangat sakit" Ucapnya di sela isak tangisnya.
Damar semakin mengeratkan dekapannya."Sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang kamu tidak akan pernah datang ke tempat ini lagi. Aku akan menikahi mu nanti" Ucapnya pelan sambil membelai rambut Siren
Siren mendongak menatap wajah Damar"Apa! Kamu mau menikahi ku?" Tanya Siren sambil menatap Damar
Damar mengangguk sambil menangkup kedua pipi Siren."Iya. Setelah masa iddah mu berakhir, Aku akan menikahi mu. Akan aku jadikan kamu wanita yang beruntung" Ucapnya sambil mengusap kedua mata Siren
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Dam?. Tapi apa alasan kamu mau menikahi ku. Bukankah kita baru saja kenal. Kamu belum tau seperti apa aku"
"Aku sangat yakin. Bukan kah kita memiliki nasib yang hampir serupa. Apa salahnya jika mencoba saling menyembuhkan luka itu. Masih ada banyak waktu untuk kita saling mengenal. Dan alasan aku mau menikahi mu, Agar ayah kandung mu tidak lagi berani menjual mu dan menjadikan kamu sebagai wanita penghibur. Selagi aku bisa membantu, Akan aku lakukan"Ucap Damar sambil mengusap kedua mata Siren
"Aku berhutang banyak padamu Damar. 1 Milyar. Bagaimana aku akan mengganti uang sebanyak itu" Ucap Siren sendu
"Hei, Memangnya siapa yang meminta kamu menggantinya. Kamu hanya harus mengganti jika kamu menolak menjadi istriku" Ujar Damar sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
"Sudah. Lebih baik kita segera ke bandara. Ini tiket buat kita sudah ada"
Siren tak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk dan menuruti perkataan Damar. Merasa bersyukur karna di pertemukan dengan pria seperri Damar.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Damar pada Siren
"Awalnya aku datang kesini karna mengikuti mantan suamiku yang memiliki rencana jahat atas anak kakak ku. Kebetulan kakak ku sedang bulan madu di sini"
"Jadi maksudnya, Awalnya kaku datang kesini karna mengikuti suami kamu yang memiliki niat tidak baik pada anak kakak kamu. Lalu bagaimana bisa kamu ada di tempat tadi?"
"Aku baru mengetahui fakta jika aku bukan anak kandung papa. Dan mamaku mengatakan jika ayah kandung ku tinggal di bali. Karna kebetulan aku ada di sini, Akhirnya aku memutuskan mencari sosok ayah yang tidak pernah aku tau"
"Berbekal ciri-ciri dan juga nama, Akhirnya aku bisa menemukan ayah kandungku. Aku meminta bantuannya untuk menggagalkan rencana mantan suamiku. Tanpa aku sadari, ternyata aku sudah masuk ke sarang buaya"
"Tidak pernah menyangka aku memiliki ayah kandung yang hanya gila uang" Ucap Siren yang terdengar sangat lirih
"Untung saja pria yang sudah membeli ku adalah kamu. Kalau orang lain, Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku selanjutnya"
Di Tempat Lain
Widi dan Ferdian yang melihat Emilia dan William di taman langsung berjalan ke arah mereka. Tanpa sadar, Widi dan Ferdian bergandengan tangan. Sambil sesekali tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Tapi yang pasti senyum Widi terukir jelas dari kedua sudut bibirnya.
Emilia masih terus terdiam sambil menghabiskan eskrim ditangannya."Kamu kenapa sayang. Aku perhatiin kamu sejak tadi diam saja. Ada apa?" Tanya William lembut sambil menangkup kedua pipi Emilia.
"Entahlah Wil. Aku merasa sangat terluka saat melihat kondisi Berlin. Ada rasa sakit dari relung hatiku. Rasanya aku ingin menjadi orang gua angkat untuk anak itu" Ujar Emilia dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Nanti kita bantu pengobatannya ya. Apa kamu tau di mana ruang rawatnya Berlin?" Tanya William sambil menatap Emilia.
Mendengar perkataan William, Seketika wajah Emilia terlihat sangat bahagia. "Benar ya Wil. Kita akan bantu pengobatannya"
"Iya sayang, Aku janji. Bahkan kalau perlu, Kita sendiri yang carikan dokter spesialis buat dia. Tapi kaki tidak boleh sedih lagi ya"
"Iya Wil. Tapi apa tidak sebaiknya kita angkat Berlin menjadi anak kita?" Ucap Emilia pada William
"Tidak perlu sayang. Karna Berlin tentunya harus selalu ada yang mendampingi. Sedangkan kita sama-sama sibuk dan jarang di rumah. Jadi akan lebih baik kalau Berlin tetap di panti asuhan"
"Kamu benar juga Wil. Terimakasih ya Wil. Terima Kasih karna kamu sudah mau ikut membiayai Berlin" Ucap Emilia sambil memeluk William.
Tak berselang lama, Ferdian dan Widi sudah tiba di sana. Kedua orang itu masih terus bergandengan tangan tanpa sadar.
Ada apa dengan mereka berdua. Pikirnya
"Kak Widi. Kakak kok di sini?" Tanya Emilia pada Widi
"Iya Em. Saat mendengar jika kamu tertembak, Aku langsung panik dan khawatir. Awalnya aku kesini mau bareng Alex, Tapi tiba-tiba saja ada pekerjaan yang harus Alex selesaikan"
"Aku sudah tidak kenapa-napa kok kak. Emil sudah baik-baik saja. Terimakasih ya kalian sudah mau kesini. Terimakasih Fer" Ujar Emilia sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Iya sama-sama Em."
Tiba-tiba saja William mengatakan hal yang membuat Widi dan Ferdian cukup terkejut.
"Apa kalian sedekat itu sampai tidak mau melepaskan tangan"
Perkataan William seketika membuat Ferdian dan Widi melepaskan genggaman tangannya. Ferdian yang baru menyadari itu tentu saja jantungnya langsung kembali berdetak sangat cepat. Bahkan Widi bisa dengan jelas mendengar detak jantung itu.
Tak lama kemudian, Ada Dika yang menyusul ke taman. Pria itu mengatakan jika ini sudah waktunya Emilia untuk minum obat.
William yang melihat kedatangan Dika mendengus kesal. Wajah Dika entah kenapa selalu membuat Wiliam merasa sangat kesal. "Em. Ini sudah waktunya minum obat. Ayo kembali ke kamar" Ujar Dika dan langsung menggendong Emilia duduk di kursi roda
Setelah itu Dika langsung mendorong kursi roda Emilia tanpa memperdulikan William di sana. William yang melihat itu tentu saja merasa sangat kesal. Apa tidak bisa sedetik saja Dika tidak membuat rasa kesal dalam hati William ada. Merusak mood saja.
"Eh Dika. Kok kamu malah main bawa Emilia sih. Main gendong-gendong juga. Apa kamu gak liat ada aku. Tidak sopan!" Ucap William sambil mengejar dan mengekor di belakang Dika
Dika yang mendengar suara William langsung mengulum bibir. Memang ini yang Dika inginkan, Pria itu ingin mengerjai William dengan membuatnya kesal.
"Memang aku tidak melihatmu" Ucap Dika santai tanpa menoleh ke arah William..
__ADS_1
Mendengar perkataan Dika tentu saja William semakin merasa kesal. "Hei bocil. Kamu itu menyebalkan sekali ya" Ucap William sambil mempercepat langkahnya dengan amaran yang sudah naik turun
Mendengar itu membuat Dika semakin mengulum bibir. Ingin rasanya merekam raut wajah William saat ini. Pasti kakak iparnya itu sudah terlihat sangat lucu karna menahan amarah.
"Biarin aja bocil. Bocil tapi ganteng ini mah" Jawab Dika pelan sambil mengulum bibirnya
"Dasar bocil menyebalkan. Bisa tidak kamu itu tidak mengganggu Aku dan Emilia. Seperti toxic saja"
"Biarin saja toxic. Toxic tampan" Ucap Dika lagi
William yang sudah benar-benar kesal mengepalkan kedua tangannya"Anak ini bener-bener ya. Menguji kesabaran ku saja" Ucap William kesal
Seketika Dika menghentikan langkah kakinya. Pria itu membalikkan tubuhnya serta kursi roda Emilia ke arah William yang sudah mengangkat tangannya dan siap menyerang Dika.
"Ada apa dengan tangan mu kakak Ipar" Tanya Dika sambil mengulum bibirnya
"Tidak. Tidak apa-apa. Hanya gatel saja bagian sini" Ucap William sambil pura-pura menggaruk kepalanya karna melihat Emilia sudah menatapnya tajam
"Ooooh gatal. Sini Dika bantu garuk" Ucap Dika dan langsung menarik kepala William sambil mengulum bibir
Rasanya hari ini Dika benar-benar puas mengerjai William"Rasain. Siapa suruh bilang Dika bocil menyebalkan. Hahaha" Ucap Dika dalam batinnya
Sedangkan William yang merasa sakit di kepalanya akibat perlakuan Dika hanya bisa diam"Awas saja anak ini ya. Kita tunggu kalau sudah tidak ada Emilia. akan aku pastikan, Kamu menyesali apa yang kamu lakukan hari ini anak kecil!" Ucap William dalam batinnya
Setelah merasa puas mengerjai William. Dika memutuskan untuk mengembalikan Emilia pada William. Pria itu membisikkan sesuatu yang tentu saja semakin membuat William merasa sangat kesal"Bagaimana rasnya di kerjain. Enak. Hahaah" Ucap Dika pelan dan hanya terdengar oleh William
"Em, Aku ke sana dulu ya. Sepertinya ini sudah waktunya aku periksa pasien. Jangan lupa minum obatnya ya Em" Ujar Dika pada Emilia
"Jangain Emilia ya kakak ipar. Jangan sampai hal ini terjadi lagi. Atau siap-siap Dika pecat jadi kakak iparku" Ucap Dika sambil menepuk pundak William sambil mengulum bibir.
"Bedebah. Dasar bocil menyebalkan!" Umpat William pada Dika
Emilia yang mendengar semua itu hanya bisa mengambil nafas berat. Kenapa setiap kali bertemu adik sepupu dan juga suaminya tidak pernah damai.
"Kenapa sih kalian itu setiap kali bertemu selalu saja seperti tikus dan kucing" Ucap Emilia setelah kepergian Dika
"Habisnya itu sepupu kamu menyebalkan sayang. Dia yang suka cari gara-gara sama aku. Ngeselin banget itu anak memang. Untung saja sepupu kamu. Coba saja kalau bukan, Udah aku geprek" Ucap William sambil menahan rasa kesal
Emilia hanya menepuk jidatnya pelan" Ampun deh" Ucap Emilia pelan
Di Tempat lain
Danu menghabiskan semua makanan yang di bawakan oleh Kumala. Pria itu benar-benar menghabiskan tanpa ada sisa. Masakan Kumala memang benar-benar enak.
Setelah itu, Tiba-tiba saja ponsel Danu berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari seseorang yang Danu minta untuk selalu mengawasi Kanya. Melihat nama di layar ponselnya membuat Danu dengan cepat menjawab telpon itu.
π:Halo, Ada apa?
π:Tuan. Nyonya Kanaya sedang dalam bahaya
π:Apa maksudmu?
π:Saat ini nyonya Kanaya sedang terjebak di sebuah tawuran
π:Saya tidak mampu membantunya
π:Sherlock
Setelah mendengar itu, Danu langsung memutuskan sambungan telponnya. Tak berselang lama, Ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari orang suruhannya.
Setelah mendapatkan Alamatnya. Dengan sangat cepat Danu melangkah kan kakinya keluar dari ruangannya. Pria itu merasa cemas saat mendengar kabar jika Kanaya terjebak di antara orang tawuran.
Danu masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil itu dengan sangat cepat. Hingga tak butuh waktu lama mobil itu sudah tiba di tempat lokasi yang sudah di kirimkan oleh orang suruhannya.
__ADS_1
Sebelum turun, Danu menggunakan masker, kaca mata hitam dan juga topi. Sejenak pria itu mencari keberadaan Kanaya disana. Namun tiba-tiba saja tanpa sengaja netranya melihat seorang wanita hamil sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kumala" Ucap Danu pelan