
Melihat keberadaan Emilia di siaran televisi membuat kedua mata Melinda berkaca-kaca. Rasanya sudah sangat lama tidak melihat senyuman anaknya yang dulu selalu mampu membuat harinya berwarna.
Apalagi Wirayudo. Pria paruh baya itu terlihat begitu bangga saat melihat Emilia sudah tumbuh menjadi seorang pengacara hebat seperti yang dulu pernah Emilia ucapkan pada papa nya.
'Pa nanti kalau Emil sudah dewasa, Emil mau jadi pengacara hebat seperti papa.'
Ucapan itu kembali terngiang pada indra pendengarannya. saat mengingat itu membuat Wirayudo menitikan air matanya.
"Ternyata kamu sudah benar-benar dewasa anakku. Maafkan papa yang sudah membuat kamu berjuang sendiri" Ucapnya sendu
Emilia dan Wirayudo masih terus menyaksikan Emilia yang sedang di wawancara. Tak lama kemudian. Mereka melihat seorang anak kecil laki-laki yang ada di sebelah Emilia dan memanggil wanita itu dengan sebutan mami.
"Pa. apa itu adalah cucu kita" Ucap Melinda
"Mungkin saja ma. Papa akan segera ketempat Emilia"
"Mama ikut pa"
Tadi saat setelah selesai makan. Tiba-tiba ada beberapa wartawan yang datang menghampiri Emilia. Mereka semua ingin mewawancarai Emilia yang saat ini memang sudah menjadi seorang pengacara hebat.
Nama Emilia saat ini sedang naik daun karna berhasil memenangkan kasus pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Namun, Karna hal itu Emilia sedang ada dalam pengawasan seseorang. Mana Emilia sudah masuk dalam catatan pembunuhan berencana selanjutnya.
Tanpa Emilia sadari. Ternyata yang ada di balik itu semua adalah seorang psikopat si raja tega. Kira-kira bagaimana jika Emilia benar-benar menjadi target selanjutnya?
Tanpa terasa jam berputar begitu cepat. Kali ini Emilia sudah tiba di rumah Widi. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
"Sudah pulang Em?"Tanya Widi saat Emilia masuk ke dalam rumahnya
"Iya sudah kak. Sebentar ya aku akan menidurkan Nathan dulu. Aku ingin cerita sesuatu sama kak Widi"
"Baiklah Em. Aku akan menunggu di sini"
Melihat wajah lesu Emilia membuat Widi penasaran dengan apa yang akan Emilia ceritakan. Karna tidak biasanya wanita itu menekuk wajahnya di saat pulang dari mengajak Nathan jalan
5 Menit kemudian. Emilia keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu duduk di depan Widi sambil mengambil nafas panjang.
"Ada apa Em. Kenapa kamu kelihatan gelisah seperti itu?" Tanya Widi yang memang sudah memahami Emilia
"Aku bertemu dengannya kak"
__ADS_1
Mendengar itu membuat Widi mengangkat sebelah alisnya."Dengannya. Maksud kamu siapa Em?"
"Ayahnya Nathan"
"What! Kamu bertemu dengan ayahnya Nathan. Bagaimana ceritanya Em?"
"Jadi tadi pas lagi di Mall. Nathan sempat hilang dari jangkauan aku saat aku sedang bayar taksi kak. Dan aku mencari keberadaan Nathan dong. Aku panik dan khawatir. Nah, aku dapat info dari ibu-ibu katanya Nathan mengejar penjual balon"
"Lalu"
"Aku masuk ke dalam mall. Dari kejauhan aku melihat Nathan sedang makan esktrim dan pegang balon di tangan kirinya. Aku samperin lah kak. Di saat aku menoleh ke arah pria itu. Ternyata dia tau nama aku. Aku sempat bingung dong. Soalnya aku tidak pernah merasa kenal dengannya. Hanya saja suara dia seperti tidak asing buat aku"
"Terus Em"
"Singkat cerita. Aku sudah mau mengajak Nathan pergi dari sana. Tiba-tiba dia menanyakan perihal tentang malam party kelulusan SMA MERAH PUTIH. Mendengar itu membuat aku jadi teringat akan suara yang buat aku tidak asing. Ternyata dia adalah Nathan kak"
"Seperti apa Em ayah kandungnya Nathan. Aku penasaran deh Em"
"Sebentar kak aku ambil ponselku dulu"
Setelah kembali dari dalam kamarnya. Emilia duduk di sebelah Widi. Wanita itu memperlihatkan sebuah foto yang sudah mereka ambil saat sedang makan di restoran atas permintaan Nathan
Mata Widi membulat saat melihat wajah dari ayah Nathan yang tak lain adalah William.
"Iya kak. Aku baru tau jika laki-laki yang waktu itu sudah menghabiskan malam bersamaku setampan ini"
"Lalu apa Nathan sudah tau tentang hal ini?"
Emilia menggeleng. Sebenarnya sudah sempat terlintas untuk memberitahu Nathan tentang ayahnya. Namun Emilia masih ragu. Emilia masih sangat takut jika William tiba-tiba saja menghilang dan membuat Nathan terlalu berharap.
"Kenapa belum di kasih tau Em. Pasti Nathan akan sangat bahagia jika tau ayah yang selama ini dia tunggu akhirnya datang"
"Entahlah kak. Aku belum siap jika suatu saat William tiba-tiba menghilang. Aku gak mau Nathan kecewa kak"
"Kakak ngerti apa maksud kamu Em. Semoga ada jalan yang terbaik buat kalian berdua"Ucap Widi sambil menepuk pundak Emilia..
"Sebenarnya tadi dia sudah mengajak aku nikah dan mengurus Nathan sama-sama"
"Lalu apa kamu mau?"
"Ya nggak lah kak. Aku kan sudah mau menikah dengan anaknya bu Liana. Aku hanya mengatakan jika dia datang di saat yang tidak tepat"
__ADS_1
"Pasti dia kecewa mendengar itu ya Em?'
"Sepertinya begitu sih kak. Dia mengatakan jika selama 5 tahun ini sudah berusaha mencari aku"
"Tunggu deh Em. Wajah ayahnya Nathan ini seperti tidak asing. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya?"
"Mukanya pasaran kali kak" Ucap Emilia
Di tempat Lain
William baru saja tiba di Apartemen miliknya. Dan ternyata di sana sudah ada sang mama yang menunggu kedatangan William.
"Mama kok disini?" Tanya William sama Liana
"Kok kamu gitu sih Wil. Memangnya kamu gak kangen sama mama. Mama kangen banget loh Wil sama kamu"
"Iya iya"
"Oh iya Wil. Besok kamu ada acara fitting baju pengantin"
"Tapi ma. William capek ma. Bisa kan bajunya suruh antar kesini saja?"
"Tapi Wil. Itu Desain calon istri kamu sendiri. Kamu belum tau kan seperti apa wajah calon istri kamu. dia orangnya cantik sekali. Biarpun sudah punya anak satu, tapi wajahnya itu imut banget Wil. Dan satu lagi. Anaknya itu tampan dan sedikit ada kemiripan dengan kamu"
"Kamu harus liat ini fotonya" Ucap Liana.
Namun belum juga wanita itu menunjukkan foto Emilia. William sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
"Liat dulu Wil"
"Gak mau ma. William gak mau liat fotonya. Biarkan saja William tau nanti saat acara ijab Qobul" Ucap William dari dalam kamarnya
Mendengar itu membuat Liana membuang nafas berat. Wanita paruh baya itu sudah tau pasti bagaimana sifat William. Jika sudah tidak mau maka tidak bisa di paksa lagi
"Dasar keras kepala" Ucapnya
William orangnya memeng sangat keras kepala. Pria itu sedikit susah di kasih tau. kecuali jika Liana. sudah memohon.
DI TEMPAT LAIN.
Di tempat lain. Lebih tepatnya di sebuah ruangan yang sangat gelap. Seorang laki-laki sedang memutar pisau di tangan kanannya. Pria itu selalu saja menyebutkan nama Emilia.
__ADS_1
"Kamu sudah berani mengganggu ku nona. Maka jangan salahkan aku jika kamu yang akan menjadi target selanjutnya. Emilia" Ucapnya