
Emilia tersenyum sambil menatap papanya"Iyalah pa, Sekarang Emilia sudah dewasa, Emilia juga sudah bisa menjadi seorang pengacara seperti papa" ucap Emilia pada papanya
"Papa sangat bangga sama kamu nak. Akhirnya, Papa bisa melihat kamu menjadi orang sukses. Maafkan papa atas kejadian waktu itu sayang. Papa benar-benar merasa sangat menyesal"
"Sudah pa, Tidak ada yang perlu di sesali. Yang lalu biarlah berlalu. Kita sudah gida perlu lagi menoleh ke belakang, Yang terpenting saat ini semuanya sudah jelas"
"Papa sangat bangga sama kamu sayang"
Tak lama kemudian, Nathan datang bersama dengan Melinda. Mereka berdua langsung ikut bergabung bersama dengan Emili, Wira dan juga William.
Sore ini mereka memang menghabiskan waktu bercengkrama bersama keluarga, Semakin mendekatkan satu sama lain. Setelah kejadian masa lalu yang cukup melukai perasaan Emilia.
"Mami. Papi, Opa" ucap Nathan yang berlari ke arah mereka
"Pelan-pelan sayang. Nanti kamu jatuh bagaimana?"ucap Emilia terhadap Nathan saat Nathan berlari ke arahnya.
"Iya mami. Maafkan Nathan ya, Mami tadi buat kue apa?"
"Ini mami buat kue tiramisu sama rasa greentea sayang, Nathan mau yang mana?"
"Nathan mau yang rasa tiramisu aja mami. Ini pasti enak deh. Makanan buatan mami kan eman enak banget. Papi harus cobain ini" ucap Nathan sambil menoleh pada Wiliam.
"Tolong ambilkan ya sayang, Papi mau cobain kue bikinan mami."
William membelalakkan kedua matanya saat merasakan kue buatan Emilia. Rasanya memang benar-benar sangat enak. Bahkan lebih enak dari pada kue yang sering dia beli di toko kue langganannya.
"Bagaimana papi, Enak kan kue buatan mami?"tanya Nathan pada William sambil terus makan kue yang ada di tangannya.
"Iya sayang, Ini benar-benar kue terenak yang pernah papi makan. Gak nyangka kalo ternyata Emilia bisa bikin kue seenak ini" serunya sambil terus menikmati kue yang ada di tangannya.
Melinda yang sejak tadi akhirnya ikut mengambil kue buatan Emilia. Wanita paruh baya itu jadi teringat saat waktu Emilia kecil yang memang sudah suka membantunya membuat kue.
"Sejak kecil Emilia memang sangat suka membantu mama buat kue. Sampai dia dewasa pun, Emilia jadi suka masak dan juga membuat kue kesukaan papa"
"Benarkah ma?" tanya William sambil menatap Melinda
__ADS_1
"Iya Wil, Semenjak masuk SMP, Emilia sudah bisa masak dan membuat kue"
Tanpa terasa. Sore itu sudah mereka lalui hanya dengan mengobrol santai di ruang keluarga. Bukan hanya Emilia, Tapi Widi juga Ferdian ada di sana dan ikut bergabung. Menikmati secangkir kopi dan juga kue buatan Emilia.
"Ma, Emilia naik dulu ya. Nanti makan malam nya biar Emilia saja yang masak ya"
"Iya Em. mbk Sri kan lagi pulang kampung, Jadi tidak ada yang mau masak. mama juga sedang tidak enak badan"
"Udah, Mama istirahat saja. Selama Emilia masih di sini, Mama hanya perlu duduk manis bersama dengan papa"
"Nanti Widi biar bantu Emilia juga ma" timpal Widi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya
Semenjak hari itu, Widi memang sudah memanggil Melinda dengan sebutan mama, Sedangkan sama Wira, dia memanggil dengan sebutan papa.
Ada raut bahagia yang terpancar dari wajah Widi. Wanita itu merasa sagat bahagia saat Melinda memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan mama dan juga papa pada Wira, Sosok ayah yang selama ini tidak pernah Widi tau. Laki-laki pertama serta cinta pertama seorang anak perempuan.
"Terimakasih ya sayang. Seandainya saja Siren ada di sini. Pasti di sini akan semakin rame"
Di saat Melinda merindukan Siren, Tiba-tiba saja Siren datang bersama dengan seorang pria yang tak lain adalah Damar.
"Assalamualaikum ma. Siren datang ma" ujar Siren dengan kedua sudut bibir yang terangkat.
Setelah itu, Pandangan Melinda tertuju pada Damar yang berdiri tepat di belakang tubuh Siren. "Siren, Dia siapa?" tanya Melinda sambil melepaskan pelukannya.
"Ooooh ini, Damar ma. Dia yang sudah menolong Siren dari ayah kurang ajar itu"
Wiratudo yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya. Karna Wira memang tidak tau jika Siren sudah bertemu dengan ayahnya yang bernama Baron.
"Apa maksud kamu Siren. Ayah kurang aja" tanya Wira sambil berdiri dan berjalan ke arah Siren.
Siren mengambil nafas panjang. Masih terlalu sakit saat teringat akan apa yang sudah di lakukan oleh Baron padanya. Sulit di percaya jika ayah kandungnya sudah tega menjualnya dengan harga 500 juta.
"Ceritanya panjang pa. Akan Siren ceritakan kalau da waktu" ucap Siren sendu
"Ini nak Damar beneran yang menolong Siren?"
__ADS_1
"Iya tante. Maaf ya semalem Siren sama Dini nginep di tempatnya Damar"
William yang sejak tadi asyik menemani Nathan main ponsel, Seketika mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang sangat familiar pada indra pendengarannya.
"Damar. Kamu kok di sini?"tanya William sambil menatap Damar yang masih berdiri di samping Siren.
Bukan hanya William yang terkejut dengan kedatangan Damar. Damar sendiri pun merasa sangat heran kenapa William bisa ada di rumah kedua orang tua Siren.
"Loh Wil, Kenapa kamu ada di sini?" tanya Damar sambil menatap William.
"Ini kan rumah mama mertua ku Dam, Rumahnya Emilia"
"Jangan bilang kalau Emilia adalah kakaknya Siren?"
"Iya mas, Kak Emil memang kakak ku"
"Ya ampun, Kenapa dunia sangat sempit seperti ini" ucap Damar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
*****
"Papa. Kenapa papa jarang pulang sih pa. Memangnya papa tidak merindukan aku? Aku juga pengen kayak teman-teman ku pa, Diantar jemput sama kedua orang tua mereka" rengek anak kecil sambil bergelayut manja pada tangan kekar laki-laki yang dia panggil papa.
"Maaf ya sayang. Tapi kak papa kerja juga buat Alesha. Maafkan papa jika jarang ada waktu buat Lesha juga mama ya" jawabnya lembut sambil mengusap rambut panjang anaknya.
"Iya Lesha. Papa jarang pulang kan juga demi kita sayang" ucap sang mama
"Maaf ya sayang kalau aku jarang pulang. Akhir-akhir ini aku memang sangat sibuk. Banyak pekerjaan tuan muda yang harus aku handle" ucapnya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Tidak apa, Mas. Aku paham kok, Tidak perlu dengarkan apa perkataan Lesha"
"Terimakasih sayang, Kamu selalu mengerti aku"
"Iya mas, Alex. Sebagai seorang istri, Aku memang harus selalu memahami mas. Terimakasih ya malam ini sudah pulang"
"Aku sangat beruntung memiliki mu sayang" ucapnya sambil mendaratkan satu kecupan di kening istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Sari, Maafkan aku yang sudah mengkhianati pernikahan kita, Aku benar-benar minta maaf" ucap Alex dalam batinnya.
Ya, Laki-laki itu adalah Alex. Alex kekasih dari Widi dan kaki tangan dari seorang William Bagaskara. Selama ini Alex memang sudah memiliki keluarga, Istri dan juga anak. Tapi tidak ada satu orangpun yang tau tentang hal itu.