
"Jadi semua itu ulah Siren?" Tanya Wira dengan nada tinggi
Melinda yang mendengar itu mengambil nafas panjang. Hal yang selama ini dia tutupi akhirnya terbongkar."Maafkan Siren pa. Maafkan apa yang sudah dia lakukan" Ucap Melinda sendu
"Jangan bilang kalau sebenarnya mama sudah tau akan hal ini!" Ucapnya sambil menatap tajam Melinda
Melihat tatapan tajam suaminya membuat Melinda menundukkan wajahnya. Wanita paruh baya itu tidak tau harus mengatakan apa. Karna memang sebenarnya dia sudah tau akan hal ini sudah sejak lama.
"Maafkan mama pa. Maafkan mama yang sudah menyembunyikan hal ini dari papa. Tapi mama lakukan semua itu hanya karna mama tidak mau jika sampai papa menghukum Siren atas apa yang sudah Siren lakukan. Mama minta maaf atas nama Siren pa" Seru Melinda dengan nada yang terdengar begitu lirih
Wirayudo memejamkan kedua matanya, Ingin marah tapi dia masih memikirkan kondisi kesehatan istrinya yang akhir-akhir ini kurang baik.
"Kenapa mama tidak pernah memberi tahu hal ini ma. Gara-gara masalah ini. Papa mengusir anak kesayangan papa"
"Mama takut papa melakukan yang tidak-tidak terhadap Siren pa. Kasian Siren pa. Karna ulahnya sendiri. Dia harus menjadi bayang-bayang David selama 5 tahun lamanya"
Akhirnya apa yang selama ini Melinda ketahui tentang hubungan rumah tangga Siren dengan terpaksa dia harus mengatakan didepan semua orang.
Wirayudo yang mendengar perkataan Melinda seketika langsung mtengerutkan keningnya. Apa lagi ini. Pikirnya
"Sebentar. Maksud mama bagaimana? Papa tidak paham. Coba katakan yang benar ma"
Melinda tak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu masih menoleh ke arah Emilia dan membuat Emilia langsung paham dengan maksud mamanya. Melihat tatapan itu membuat Emilia mengangguk.
"Jadi, Selama 5 tahun menikah. David tidak pernah memperlakukan Siren dengan baik. Buat David, Siren hanya seperti bayang-bayang yang tidak akan pernah bisa menjadi nyata" Ucap Melinda yang terdengar begitu lirih
"Apa!! Kenapa mama bisa mengatakan seperti itu ma?"
"Karna selama ini David hanya mencintai Emilia. Itulah alasannya pa"
"Bukan hanya itu pa. Dini juga sudah menjadi korban atas apa yang sudah Siren lakukan pa. Siren sudah mendapatkan karma atas apa yang dia lakukan pa"
"Jadi selama ini Siren tidak pernah bahagia dengan pernikahannya?" Tanya Wirayudo sambil menatap Melinda
Melinda tak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Sebagai seorang ibu, Tentu Melinda bisa merasakan apa yang sudah Siren rasakan selama ini.
__ADS_1
Setelah itu Wirayudo menundukkan wajahnya. Dia sadar, semua ini terjadi juga karna kesalahannya. Seandainya saja dulu dia tidak pernah mencontohkan Emilia pada Siren, Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Siren tidak akan merasa di banding-bandingkan dengan kakaknya sendiri. Dan semua ini juga terjadi karna perbuatannya.
"Ini semua salah papa ma. Seandainya saja dulu aku tidak selalu mencontohkan Emilia pada Siren, Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Papa juga salah ma" Ucapnya pilu
"Papa todak marah pada Siren?" Tanya Melinda sambil menatap suaminya
"Kalau di tanya marah. Papa sangat marah ma. Tapi papa cukup sadar, Jika semua ini juga berawal dari papa. Lalu bagaimana hubungan pernikahan mereka saat ini?"
"Saat ini mereka sedang dalam proses perceraian"
"Seandainya Winarto masih ada, Semua ini pasti tidak akan pernah menjadi seperti ini" Ucapnya sendu
Bagas dan Liana yang sejak tadi menyaksikan pemandangan di depan mereka hanya ikut mengambil nafas berat. Tapi setidaknya saat ini semua rahasia sudah terbongkar. Semoga saja setelah ini keluarga Emilia akan baik-baik saja.
Widi yang melihat raut wajah papanya hanya bisa menunduk. Karna mau bagaimanapun, Widi juga ingin Wira tau jika dia adalah anak kandungnya. Benih yang pernah dia titipkan. pada rahimnya Mira.
Tak berselang lama. Alex yang mau mengantar William, Emilia juga Nathan ke bandara akhirnya datang juga.
"Tidak apa-apa. Penerbangan masih 1¹/² Jam lagi kan?" Tanya William memastikan
"Iya tuan. Apa kita akan berangkat sekarang?"
"Tentu, Apa kamu sudah menyiapkan apa yang saya minta?"
"Sudah tuan. Semua sudah saya persiapkan sesuai dengan yang tuan pinta"
"Good"
Setelah itu, William pamit kepada kedua orang tuanya juga pada kedua orang tua Emilia. Kali ini Widi juga akan ikut mengantar William dan juga Emilia ke bandara.
"Ma, Pa. Willi sama Emil berangkat dulu ya" Ujar William sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya juga mertuanya
"Emil juga pamit ya ma." Seru Emilia sopan
__ADS_1
"Iya nak. Hati-hati di jalan ya. Selamat bersenang-senang"
"Iya ma, Pa. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Ucap mereka secara bersamaan
Widi ikut naik ke dalam mobilnya. Wanita itu akan menemani Alex untuk mengantar Emilia dan William ke bandara.
"Selamat bersenang-senang ya Em, Wil, Nathan. Jangan lupa nanti belikan aku oleh-oleh khas bali ya" Ucap Widi sambil menoleh ke kursi penumpang
"Tenang saja Aunty, Nanti akan Nathan belikan sesuatu buat Aunty. Iya kan mami, Papi" Seru Nathan sambil menoleh pada William juga Nathan
"Tentu dong sayang. Nanti kita akan belikan oleh-oleh yang khusus buat Aunty ya" Jawab Emilia sambil mencium pipi Nathan
Setelah itu keadaan di dalam mobil kembali hening. Sejenak tidak ada pembicaraan di antara mereka semua. Hingga Alex memutuskan untuk menanyakan lebih detail tentang apa yang udah William perintahkan padanya.
"Tuan muda, Saya masih kurang paham dengan isi pesan itu" Tanya Alex sambil melirik ke arah William dari kaca spion
"Astaga Alex. Begini nih kalau sudah bucin. Perkara pesan kaya gitu masa gak paham. Intinya, Kamu harus cari tau siapa yang sudah mengirimkan pesan itu pada Emilia"
"Tuan muda ini bisa saja. Yang namanya sudah cinta memang suka begitu. Suka ngelag otak saya. Tapi akan saya usahakan untuk menemukan siapa yang sudah mengirim pesan itu."
"Berapa hari say harus menunggu hasilnya?"
"Kurang lebih 2 hari tuan. Tapi yang pasti secepatnya"
"Baiklah"
*****
Tanpa terasa 2 jam sudah berlalu. Emilia dan William sudah masuk di penginapan Nararaya homestay. Sesuai dengan harapan Emilia. William menggendong Nathan dengan satu tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menggandeng Emilia.
Berjalan seperti itu membuat mereka terlihat seperti satu keluarga yang sangat bahagia. Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi ada seseorang yang sudah mengikuti mereka. Siapa lagi kalau bukan David.
David sudah memiliki profesi baru menjadi seorang penguntit. 2 Jam yang lalu, Saat mendapat kabar jika Emilia akan segera terbang ke bali membuat David membatalkan semua urusannya hari ini sampai 3 hari ke depan.
__ADS_1
"Aku tidak suka melihat mereka terlihat mesra seperti itu" Ujar David sambil mengepalkan kedua tangannya