
Karna terlalu buru-buru membuat Emilia lupa memastikan jika taksi yang saat ini dia naikin bukanlah taksi online yang sudah di pesannya.
Melihat Emilia masuk kedalam mobilnya membuat pria itu tersenyum puas. Akhirnya malam ini Emilia masuk kedalam perangkapnya.
"Nikmati saja sisa hidupmu itu nona" Ucapnya dalam batin
Di sepanjang perjalanan Emilia tidak begitu memperhatikan jalan karna sibuk memikirkan perkataan William. Kata-kat itu sudah mampu terngiang jelas pada indra pendengaran Emilia.
'Apa selama ini kamu benar-benar mencari keberadaan ku. William. Tapi kenapa kita harus di pertemukan di saat yang tidak tepat. Kami benar-benar terlambat Wil" Emilia bermonolog dalam batinnya
Selama ini Emilia memang pernah berharap bisa bertemu kembali dengan pria yang sudah membuatnya memiliki Nathan.
Emilia menatap foto di layar ponselnya. Melihat wajah Nathan yang begitu mirip dengan William membuat Emilia mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Ternyata kalian benar-benar mirip. Seperti pinang di belah dua" Ucap Emilia tanpa sadar
Emilia yang sejak tadi hanya fokus pada ponsel begitu terkejut saat melihat jalan yang dia lewati bukanlah jalan menuju rumah Widi.
"Pak. Ini kita salah arah. Jalannya bukan kesini pak. Seharusnya tadi kita belok kiri" Ucap Emilia pada supir itu
Namun supir taksi tak menggubris ucapan Emilia. Pria itu masih terus melajukan mobilnya hingga ke arah jalan yang cukup sepi. Jalanan itu sangat jarang ada orang yang melewati.
Tiba-tiba perasaan Emilia berubah tidak Enak seketika itu. Hal yang tidak-tidak mulai muncul dalam benaknya.
"Pak tolong putar balik sekarang. Ini salah arah" Ucap Emilia penuh penekanan
"Kita tidak salah arah nona. Nikmati saja sisa hidupmu yang hanya tinggal 2 jam saja. Karna sebentar lagi kamu akan menjadi target selanjutnya" Ucapnya
Mendengar itu membuat Emilia sempat merasa panik. Namun Emilia masih berpura-pura tenang di depan orang itu.
"Hahhaha. Apa kamu bilang. Hidup saya hanya sisa 2 jam saja. Jangan terlalu percaya diri. Takutnya malah hidup anda yang hanya tersisa dengan hitungan menit" Ucap Emilia di sela tawanya
"Apa kamu bilang. Kamu berani sama saya!!?"
__ADS_1
"Kenapa aku harus takut denganmu. Jangankan hanya denganmu. dengan siapapun Emilia tidak pernah takut. Apalagi hanya pada pria yang sudah bau tanah sepertimu" Ucap Emilia lagi
Perkataan Emilia membuat pria itu terlihat begitu marah. dia menghentikan mobilnya dan meminta Emilia untuk turun secara paksa.
"Kamu sudah menghinaku nona. Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar untuk memberimu pelajaran!"
"Lakukan saja apa yang membuatmu senang sebelum bosmu itu menjadikan kamu sebagai alat untuknya bersenang-senang hahahhah"Ucap Emilia lagi
Emilia memang sengaja memancing Emosi orang itu agar mau menghentikan mobilnya. Dengan begitu Emilia bisa lari untuk malam ini.
"Sini kamu. Saya akan membuat perhitungan denganmu" Ucap pria itu dan berniat untuk menyerang Emilia
"Mau bermain-main denganku? Ake siapa takut. Sini maju"
Mendapat tantangan seperti itu membuat orang yang membawa Emilia semakin naik pitam. Pria itu maju dan menyerang Emilia. Namun bukan Emilia namanya jika tidak melakukan perlawanan.
Bruk...brak...brukk.. brak
Sebuah perkelahian antara Emilia dengan anak buah Ferdian terjadi begitu saja. Emilia begitu santai menghadapi orang itu hanya dengan 1 tangannya.
"Ini untuk berobat juga urut ya pak. Jangan lupa bertobat. Masih banyak pekerjaan halal di luar sana. Ingat anakmu jangan di kasih makan dengan uang haram. hidup bapak tidak akan pernah tenang" Ucap Emilia lagi sebelum pergi.
Wanita itu memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah"Tobat pak sebelum penyesalan itu datang" Ucap Emilia lagi
Setelah mendengar perkataan Emilia membuat orang itu menjatuhkan air matanya. Pasalnya semua yang Emilia ucapkan memang benar adanya. Selama ini Agus memang tidak pernah merasa hidupnya tenang. Yang ada hanyalah rasa takut dan tegang yang dia alami setiap hari.
Langkah Emilia terhenti saat suara pria paruh baya itu kembali menerpa indra pendengarannya.
"Kamu benar nona. Saya tidak pernah merasa tenang. Tapi saya harus bagaimana. Bagaimana caranya agar bisa terlepas darinya?"
Mendengar itu membuat Emilia membalikkan tubuhnya. "Berani mengawali bapak juga harus berani mengambil resiko"
Setelah mengatakan hal itu Emilia benar-benar pergi dari sana. Sedangkan Agus sudah terlihat sangat pias dan tertampar dengan ucapan Emilia
__ADS_1
Di Jakarta
Setelah mendengar kebenaran yang membuat hatinya terluka. Siren keluar dari dalam rumah Wirayudo. Wanita itu berlari dan menangis saat mengetahui fakta terburuk yang tak pernah Siren duga selama ini.
"Jadi ini alasan kenapa papa Wira lebih menyayangi kak Emil. Ternyata aku bukan anak kandungnya. hikss..hikss.."
Siren berjalan dengan kedua mata yang sudah berair. Rasanya begitu sakit saat mendengar jika papa kandungnya adalah seorang penjahat yang bernama Baron.
"Kenapa dunia ini begitu tidak adil untukku. Aku hanya ingin bahagia, Itu saja"
David yang dari arah berlawanan melihat Siren sedang menangis membuatnya langsung menghentikan laju mobilnya. "Kenapa wanita itu"Ucap David saat melihat Siren menangis
Melihat sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya membuat Siren ikut menghentikan langkahnya. Tak lama kemudian David keluar dari dalam mobilnya.
Melihat David membuat Siren langsung mendekat dan memeluknya begitu erat. "Maafkan aku mas. maafkan aku"Ucap Siren di sela isak tangisnya
"Kamu kenapa?" Ucap David dan berusaha melepaskan pelukan Siren
"Biarkan seperti untuk beberapa saat mas. Aku benar-benar membutuhkan sandaran." Ujar Siren di sela isak tangisnya
Melihat Siren seperti itu membuat David membiarkan Siren untuk bersandar di atas dada bidangnya.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya
Mendengar pertanyaan dari David membuat Siren terdiam. Wanita itu masih begitu bingung dengan apa yang akan Siren katakan pada David. Bagaimana jika David mengetahui bahwa Siren bukanlah anak kandung Wirayudo. Besar kemungkinan jika Davit akan langsung menceraikannya
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku sadar jika kelakuanku selama ini sudah benar-benar kelewatan. Maafkan aku mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi"
"Buktikan apa yang kamu ucapkan. Aku marah bukan karna aku mencintaimu. Tapi karna ini sudah menyangkut nama baik keluarga kita."
"Aku tau kamu belum juga bisa mencintaiku mas. karna yang ada dalam pikiranmu hanyalah kak Emil dan kak Emil"
Setelah itu Siren melepaskan pelukannya dan pergi dari hadapan David.Hatinya benar-benar terluka dan terasa begitu sakit. Karna semua orang yang Siren sayangi hanyalah mementingkan Emilia saja.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara kak Emilia. aki benci sama dia" Ucap Siren sambil mengepal keras kedua tangannya