
Di sebuah kamar sedari tadi, seorang cowok tampan duduk di kasur empuk sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Tanpa sadar, sudut bibir tertarik keatas saat pintu itu terbuka menampilkan sang istri yang sedang menggosok-gosokan beberapa helaian rambut yang basah.
Almira yang merasa di perhatikan langsung menoleh kearah seorang laki-laki yang menatap diam sambil tersenyum membuat dia langsung melemparkan handuk yang sudah sangat basah akibat rambutnya.
Terdengar helaan nafas kasar dari mulut cowok itu dan menaruh handuk di tempatnya.
“Al, diam disini dulu.” ujar Kenzo yang tidak dapat jawaban dari Almira.
Senyum manis masih terpancar di wajahnya, dia sadar kalau dirinya sendirilah yang salah dan membuat pujaan hati kecewa. Dengan cepat membuka almari yang berbentuk persegi bewarna gold.
Ternyata Kenzo mengambil alat pengering membuat Almira tertegun beberapa saat. Dengan cepat, Almira membuyarkan pikirannya yang masih labil itu.
Nafas keduanya beradu saat Kenzo mengeringkan rambut panjang Almira dengan telaten. Tidak ada yang membuka suara, hanya terdengar helaan nafas dari pasutri baru itu.
Tanpa di sengaja, tatapan mereka bertemu membuat jantung Almira tiba-tiba berdetak sangat kencang. Bagi Almira ini sangat aneh, kenapa saat bersama Kenzo selalu merasakan membuncah seperti ini. Tapi saat bersama Roy tidak sama sekali merasakan perasaan aneh ini.
“Sudah, Al.” ujar Kenzo membuat lamunan Almira buyar dan menatap Kenzo dengan intens.
“Terima kasih.”
Selesai mengucapkan kata itu, Almira berjalan meninggalkan Kenzo yang menatap lurus ke depan dengan wajah cengo.
Kenzo berbalik menghadap Almira yang sedang mengambil hijab instan dan berada di depan kaca. Semua yang dilakukan Almira terus saja di tatap Kenzo dengan intens.
“Ayo!” ajak Almira yang di angguki Kenzo lalu mereka bejalan keluar berdampingan.
Tanpa di ketahui Kenzo, Almira menatapnya sendu dan mengingat kenangan manis dulu mereka. Almira sangat kecewa kepada Kenzo, sangat disayangkan kejadian tidak enak muncul di kenangan manis mereka.
“Seandainya kejadian itu tidak ada di antara kita, pernikahan ini pasti indah. Hanya bisa seandainya, Gara.”
***
“Oma.”
Panggilan dengan nada pelan saat melihat sang Oma berada di depan televisi beralih menatap Almira yang memanggilnya.
__ADS_1
Senyuman manis terpancar dari bibir sang Oma, lalu melambaikan tangan untuk menyuruh sang cucu menghampirinya.
Grep!
Pelukan sangat erat, sangat tiba-tiba di dapatkan oleh Oma membuat dia makin melebarkan senyuman. Elusan lembut di kepala Almira yang tertutupi hijab instan yang di pakai.
“Kenapa Oma? Kenapa harus sama dia?” lirih Almira meneteskan air mata tanpa sadar.
Tidak ada jawaban, yang di dapat Almira hanya elusan lembut membuat dia melepaskan pelukan itu dan mendongakkan kepala menatap sang Oma yang masih mempertahankan senyuman lebar dan manis tentunya.
“Almira, cucu Oma yang cantik. Kenzo tepat untuk Almira.” ujar Oma sambil menjawil hidung Almira.
Saat Almira akan melayangkan protes, Oma menggelengkan kepala menandakan menyuruh Almira untuk diam mendengarkan.
“Oma tahu masalah kamu sama Kenzo, Oma ingin menyatukan cinta cucu Oma yang tertunda ini. Oma tahu Al, kalau kamu selalu setiap malam nangis sambil menatap foto yang ada kamu sama Kenzo berpelukan. Al, sekarang Kenzo ada di hidup kamu. Tidak perlu lagi nangis ke foto.” jelas Oma memberi pengertian.
“Tapi Oma, dia—“
“Sudah, tidak ada tapi-tapi. Sana tidur, kasihan suami kamu sendirian di kamar.” sahut Oma memotong ucapan Almira dengan sengaja menggoda yang hanya di tanggapi mencondongkan mulut.
Oma yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala saat melihat Almira pergi dengan hentakan kaki menandakan dia sedang kesal.
“Kamu harus hindarkan Almira dengan pacarnya itu yang ada di sekolah, kalau mereka bertemu ataupun berbicara, pisahkan mereka apapun caranya. Mengerti?” ujar Oma menatap lurus ke depan.
“Mengerti, Oma.” jawab seseorang dengan senyuman manis yang diangguki sang Oma yang saling melemparkan senyuman mereka.
“Saya akan membalas budi kalian, saya akan menyatukan Almira dan Kenzo untuk selama-lamanya, meskipun melawan orang yang saya suka dari dulu.”
***
“ALMIRA?”
Teriakan sangat keras dan kencang memenuhi ruang kelas saat ini. Semua orang yang berada di ruangan itu menutup kedua telinga sambil meringis kecuali kedua sahabatnya yang biasa saja.
Almira yang duduk di tempatnya hanya menyengir memperlihatkan kedua jari keatas menatap kedua sahabatnya.
“Berangkat jam berapa lo?” tanya Nera memperlihat wajah datar seperti biasa kepada Almira.
__ADS_1
Berbeda lagi dengan Danera yang sedari tadi sudah heboh, Danera lah sang pelaku yang berteriak sangat kencang tadi.
“Jam setengah enam, tadi di temani Kenzo disini sebelum berangkat tugas.” jawab Almira pelan takut ada yang mendengar ucapannya.
“OMO… OMO…” teriak sangat heboh dari mulut Danera yang tidak bisa berhenti.
Almira yang memberikan kode ke Nera yang di mengerti langsung, Nera menatap tajam kearah Danera yang langsung memelankan suaranya saat melihat bahaya.
Danera memberikan kedua jari kehadapan Nera sambil menyengir membuat Nera menstabilkan tatapan menjadi biasa saja.
Mereka berhamburan untuk duduk di tempat masing-masing saat ada Guru yang memasuki kelas.
Pembelajaran di mulai dengan tenang, berbeda lagi dengan Almira yang menatap lurus ke depan mengingat kejadian pagi tadi antara dia dan Kenzo.
Flashback On
“Turunin gue di depan halte i—“
“Diam!” ucapan Almira terhenti saat Kenzo memotong ucapannya dengan nada datar.
Almira menatap depan tanpa membalas ucapan Kenzo, dia akan menuruti ucapannya untuk sekarang karena sedang sangat lapar. Karena pagi-pagi sekali harus pergi ke sekolah.
“Maaf.” ucap Kenzo memecahkan keheningan membuat Almira menoleh menatapnya.
“Ngapain minta maaf? Masalah kecil saja lo minta maaf, apa kabar sama masalah besar itu. Lo sama sekali gak minta maaf?” ujar Almira sambil mengepalkan kedua tangan di dalam saku jaketnya.
Kenzo yang mendengar itu tiba-tiba merasakan sakit di hatinya, ini memang salah dia. Tapi, tidak adakah kesempatan kedua untuknya? Ingin menanyakan itu, tapi tidak bisa. Mulutnya terasa kelu.
Almira yang melihat Kenzo yang hanya diam saja menatap sinis, berbeda lagi dengan di dalam hati yang rasanya sakit sekali tidak ada jawaban. Almira dari dulu sampai sekarang masih mencintai Gara-nya.
Mobil berhenti di parkiran sekolah yang masih sangat sepi dan berkabut. Almira yang akan membuka pintu mobil berhenti saat ada yang mencengkal sebelah tangan. Saat menatap siapa pelaku itu, Almira hanya menatap biasa saja saat tahu siapa orang itu.
Siapa lagi kalau bukan Kenzo Sagara Samudra.
“Dulu aku masih kecil, masih labil. Tapi meskipun aku masih kecil sudah membuat seorang yang berharga untukku kecewa sampai meninggalkanku, sepertinya dia sudah benci sama aku. Say, dia itu Say. Sampai sekarang ini dia masih kecewa, dulu aku sangat bodoh, bodoh sekali membuat dia benci. Tapi selalu ingat ini, meskipun dia benci dan kecewa ataupun tidak mau menganggapku suaminya. Aku tidak akan melepaskannya ataupun meninggalkannya apapun terjadi. Sepertinya, Cinta ini sudah menjadi Obsesi sayang.”
Flashback Off
__ADS_1
“Cinta menjadi Obsesi? Tidak akan ku biarkan, aku akan membuat itu menjadi rasa Benci dan Kecewa.” ucap Almira penuh penekanan menatap meja yang coret-coret itu.