Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

"DANERA SAYANG, KAMU DIMANA? AKU JANJI TIDAK AKAN MENGERJAI KAMU LAGI, JANJI SAYANG."


Teriakan sangat kencang memenuhi taman rumah sakit yang sangat lebar membuat pria itu leluasa berteriak sambil mencari sang kekasih. Menatap kemana-mana tapi tidak bisa menemukan badan sang pacar, menghela nafas sambil mengusap wajahnya gusar.


Saat Rio menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ada tepukan lembut dari belakang membuat proa itu langsung menoleh ke belakang. Saat melihat siapa pelaku yang menepuknya, Rio langsung memeluk sangat erat.


Danera tersenyum di pelukan hangat Rio, Dia selalu nyaman di pelukan pria itu.


Melihat Rio yang sangat gusar dan frustasi membuat dia keluar dari persembunyian dan menghampiri pria tersebut, Danera tidak menyangka dengan Rio yang langsung memeluknya dan sangat senang terlihat dari senyuman leganya.


"Aku janji tidak akan membuat kamu seperti ini lagi, maaf." bisik Rio tepat di samping telinga Danera membuat gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


Danera ingin melepaskan pelukan itu tapi Rio menahannya membuat gadis itu geleng-geleng kepala heran. Membalas pelukan dari Rio sambil menepuk-nepuk bahu sang kekasih dengan pelan, jangan lupakan dengan senyuman manis dari bibir Danera.


Danera tidak merasakan di cintai seperti ini oleh pria, tapi sekarang Danera di cintai sangat dalam oleh Rio sang Polisi yang dulu membuat dia kesal dengan ucapan dan perilakunya. Tapi sekarang, dia sangat senang bisa bertemu dengan Rio meskipun saat pria itu mengklaim dirinya menjadi pacar dengan ancaman.


Perlahan-lahan Danera menerima Rio sebagai kekasihnya, tanpa sepengetahuan pria tersebut.


"Aku sangat mencintai kamu, Danera. Aku tidak akan membuat kamu sedih ataupun meninggalkan ku, aku pasti menjaga kamu dan membuat kamu selalu bahagia karena ku. Ingat ini Danera, sekali kamu masuk dalam hidup ku, maka kamu tidak akan bisa keluar dengan mudah." bisik Rio dengan nada serius membuat Danera seketika menegang di tempat.


Danera mencoba menguasai seluruh badannya agar menjadi santai tanpa beban, gadis itu sudah sangat yakin dengan Rio.


"Jangan pernah menyakiti ku, karena aku baru bertama kali ini berpacaran. Kalau kamu melakukan apa yang kamu ucapkan itu, maka aku akan selalu bersama kamu, Rio." balas Danera dengan nada santai tapi serius.


Wajah Rio berseri sangat senang mendengarkan ucapan Danera yang mengatakan kalau dirinyalah yang pertama menjadi kekasih gadis cantik itu. Rio memeluk sangat erat tapi tidak membuat Danera susah nafas, sedikit menggoyangkan badannya karena hatinya sedang senang.


"Aku berjanji, aku tidak akan pernah membuat kamu kecewa, sayang." batin Rio di dalam hati.


***


Berbeda lagi dengan seorang pria yang sedang berjalan bolak-balik sambil meremas kedua tangan lalu mengusap wajahnya yang terlihat sedang gusar menunggu sang sepupu yang tidak datang. Pikirannya sedang sangat kacau, tidak tau harus bagaimana.


"Bagaimana ini?" lirih Justin dengan nada pelan sambil mengusap wajahnya lagi.


Sedari tadi Justin sedang memikirkan apa yang akan dia bicarakan kepada Almira tentang sang Oma, dalam otaknya sekarang hanya gelisah kalau Almira akan menolak keinginan Oma Diana.


"Kenapa harus Justin yang berbicara ke Almira, kenapa bukan Oma saja sih?" tanya Justin kepada diri sendiri dengan nada mendumel.

__ADS_1


Justin masih bolak-balik di depan ruangan Oma Diana di kursi tunggu, sudah sejak tadi Justin menghubungi nomor Almira tapi hasilnya nihil, nomornya tidak bisa di hubungi.


"Apa gue harus membujuknya? Tapi kan dia bukan anak kecil lagi yang mudah di bujuk." gerutu Justin membuat dia menghela nafas berat karena frustasi.


"AKKHH... BAGAIMANA INI...." teriakan Justin sangat kencang sambil menarik rambut dengan genggaman tangan.


"Justin, lo kenapa heh?"


Suara penuh ke khawatiran membuat Justin tersadar lalu mendongak menatap Almira yang sedang berlari menghampirinya. Justin hanya diam menatap Almira yang sudah mulai merapihkan tatanan rambutnya, sudah seperti biasa aktivitas yang mereka lakukan.


Almira tau kalau Justin sedang bingung dan frustasi, makanya pria itu mengacak-acak tatanan rambutnya menjadi berantakkan. Almira masih setia merapihkan tatanan rambut dan Justin menunduk agar Almira bisa menjangkau rambutnya.


Melihat kedua mata Almira yang sedikit memerah membuat dia menampilkan raut wajah bingung dan khawatir.


"Lo habis nangis? Kenapa?" tanya Justin sambil mengambil sebelah tangan Almira yang berada di kepalanya.


Almira menghela nafas menatap Justin yang selalu tau apa yang dia lakukan, Justin selalu sangat peka terhadap dirinya. Almira pun tidak bisa membohongi apapun dari sang sepupu ini.


"Gue cuman capek aja." jawaban dari mulut Almira membuat Justin langsung memeluknya menyembunyikan raut wajah sedih dari sang sepupu perempuan satu-satunya dan dia sayangi seperti adek kandung sendiri.


"Oh iya, lo mau bicara apa ke gue? Katanya penting, apa?" tanya Almira membuat tangan Juatin yang sedang mengelus puncak kepala gadis itu menjadi berhenti diam.


Almira mendongakkan kepala menatap Justin yang tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi, Almira heran dan penasaran apa yang akan Justin bicarakan kepadanya sehingga membuat pria itu menjadi sangat frustasi.


"Ayok ikut gue, cari tempat yang nyaman buat bicara hal penting ini." ajak Justin yang langsung di anggukki pelan oleh Almira.


Saat Justin membawa Almira pergi dari tempat tadi, ada seseorang yang sedari tadi mengintip di belakang pohon besar sehingga mereka berdua tidak sadar ada seorang pria.


Seorang pria itu tersenyum seringai menatap punggung Almira yang mulai menjauh, pria itu langsung saja mengikuti mereka kemana pergi.


"Ini pasti bisa membuat ku membalaskan dendam ke pacar ku, eh ralat tapi mantan pacar ku. Pasti sangat menyenangkan."


***


"Dimana sih kamu sayang? Masih pagi sudah hilang saja."


Ucapan dengan nada kesal dari mulut Kenzo sambil bolak-balik mencari Almira ke setiap sudut apartemen yang mereka tempati karena masih berada di Surabaya. Pukul enam pagi Almira sudah tidak ada di dalam kamar mereka membuat Kenzo khawatir karena gadis itu tidak meminta izin atau mengabari kepadanya.

__ADS_1


Kenzo siap-siap untuk keluar dari kamar tersebut akan pergi ke apartemen yang di huni Rio dan Nigel di lantai atas.


Setelah beberapa menit menyita waktu karena Kenzo sambil beres-beres kamar yang kotor, dengan cepat Kenzo menuju lantai atas dan membuka pintu kamar sahabatnya karena dia tau password.


Saat sudah membuka pintu kamar sahabatnya, raut wajah syok sangat terlihat sekali saat melihat kedua laki-laki sedang tiduran di sofa dan di sekitar mereka sangatlah kotor banyak sekali makanan ringan yang berserakan.


Kenzo geleng-geleng kepala tidak habis pikir kepada kedua sahabatnya itu.


Tanpa aba-aba Kenzo menimpuk wajah mereka dengan guling panjang sehingga mengenai wajah mereka dengan tepat membuat Nigel ataupun Rio membuka kedua mata lalu duduk menatap Kenzo yang memandang tajam, sangat menyeramkan bagi mereka.


"Cepat bangun, lalu bantu gue lacak lokasi keberadaan istri gue." ucap Kenzo dengan nada tegas membuat kedua sahabatnya memutar bola matanya malas.


Rio kira merekamendapatkan tugas penting dari pemimpin pusat, eh ternyata ini tugas pribadi dari ketua kepolisian yaitu Kenzo Sagara Samudra. Rio kesal karena Kenzo mengganggu acara tidur nyenyaknya, padahal mereka baru saja tidur saat setelah sholat subuh di masjid.


"Gue ngan-"


"SEKARANG." ucap Kenzo memotong ucapan Rio dengan nada tegas dan penuh penekanan membuat pria itu mendengus kesal.


Rio berjalan mendahului mereka menuju ke kamar lalu mengambil iPad bewarna hitam, layar lebar menyala.


Kenzo dan Nigel tidak tau mau dari simbol-simbol yang berlayar bewarna hijau di iPad itu, mereka hanya diam menunggu penjelasan dari Rio setelah selesai melakukan tugasnya.


"Istri lo di restoran Penuh Indah bersama Justin, tenang saja." ucap Rio sambil menunjuk kearah tanda titik bewarna biru bernama Almira dan berada di seberangnya ada tanda bertuliskan Justin yang membuat Rio mengerti.


Kenzo menghembuskan nafas lega melihatnya membuat kedua sahabatnya memandang penuh tanda tanya tapi Kenzo hanya menatap ke layar iPad itu dengan seksama.


"Tenang saja, Almira tidak akan melakukan hal aneh. Gue saja percaya sama Danera meskipun sifatnya yang sangat ajaib itu." ucap Rio mencoba menghibur sahabatnya yang langsung di anggukki oleh Kenzo.


"Thanks, kalau gitu gue pergi dulu." pamit Kenzo langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua yang hanya melihat kearahnya dengan diam.


"Kenzo akan kemana ya?" tanya Nigel menatap pumggung Kenzo yang sudah membuka pintu apartemen mereka.


"Tidak tau." jawab Rio sambil menatap ke punggung Kenzo yang mulai menghilang dengan pikirannya yang terus bekerja.


Rio dan Kenzo sudah bersahabat sangat lama, maka Rio mengetahui kalau Kenzo sedang banyak pikiran yang membuat dia pusing.


"Semoga lo bisa menyelesaikan masalah ataupun urusan lo, Kenzo. Gue percaya kalau lo pasti bisa menghadapi semuanya ini." batin Rio sambil menghembuskan nafas pelan agar tidak di curigai oleh Nigel yang berada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2