Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

"Kamu pasti tau apa yang di rencanakan Almira ke Kenzo. Beritahu Oma sekarang, Justin?"


Ucapan sang Oma membuat Justin tiba-tiba tersedak salivanya dengan susah payah, pertanyaan yang tidak pernah Justin pikirkan bahwa akan ada seseorang yang menanyakan tentang seperti itu.


Jawaban yang tidak pernah Justin pikirkan.


"Maksud Oma apa?" balik tanya Justin mencoba meredakan suara yang ragu menjadi seperti biasa.


"Jangan bersikap seperti kamu tidak mengerti apa-apa, Justin. Oma tau tentang kamu yang selalu mengetahui rahasia para sepupu mu yang lain. Jadi, jangan bersikap pura-pura di depan Oma." ucap Oma Diana dengan nada tegas.


Justin menatap wajah Oma dengan raut wajah yang sudah gelisah.


"Apa rencana Almira kepada Kenzo, Justin?" tanya Oma Diana nengulang lagi menatap tajam kearah Justin.


Dengan ragu, Justin menatap wajah datar Oma Diana yang masih terbaring di brankar. "Almira ber-"


"Justin?"


Suara seseorang yang memotong ucapan Justin membuat pemuda itu menghela nafas pelan tanpa di ketahui dan sang Oma menoleh kearah seseorang di ambang pintu masuk.


"Kalian..." ujar Oma Diana dengan nada lirih menatap ke empat paruh baya menatap sendu kearahnya.


"Kenapa kamu tidak kasih kabar kita kalau kamu sakit di Surabaya, hem? Malah yang kasih kabar ke kita cucu perempuan kamu itu." ujar wanita paruh baya yang langsung duduk di sofa panjang bewarna putih.


"Betul. Kita itu sudah bersahabat sejak sekolah menengah pertama." lanjut wanita paruh baya yang memakai hijab pasmina.


Oma Diana mengkode kearah Justin untuk pergi keluar meninggalkan mereka yang sedang memulai obrolan dan melepas rindu.


Justin yang mendapatkan kode itu, langsung saja pergi dengan pamitan dan salam kepada mereka satu persatu.


Saat Justin sudah pergi meninggalkan ruang rawat Oma Diana. Seseorang yang sedari tadi mengintip di jendela itu menatap di dalam ruangan yabg sedang bercanda gurau. Tatapan datar dan sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tanpa ada yang tau.


Seseorang itu membalikkan badan menjadi membelakangi ruang rawat Oma Diana lalu pergi meninggalkan tempat itu. Tapi sebelum itu, seseorang membersihkan pakaian yang seperti terkena kotoran dengan senyuman devilnya.


"Pekerjaan ku sangat bagus, sangat mudah. Aku tidak akan membiarkan Oma mengetahui rencana yang sudah ku susun sejak lama. kalau Oma tau, maka rencana itu akan hancur. Oma hanya bisa melihat dan menikmati pertunjukan diriku membalaskan dendam."


***

__ADS_1


"RIO, AWAS YA KAMU."


Teriakan sangat kencang dari mulut Danera yang sangat nyaring membuat para pasien dan para suster menoleh mwnatapnya.


Danera sedang mengejar Rio yang sedang membawa sandalnya, lalu berlari ke taman Rumah Sakit membuat mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


Para teman-temannya hanya bisa menutup wajah dengan kedua telapak tangan karena malu dengan perilaku mereka yang seperti anak kecil. Nera dan Almira menggelengkan kepala makin malu karena Danera berteriak memanggil nama mereka untuk meminta tolong mengejar Rio.


Mereka sangat malu, sangat.


"ALMIRA, NERA. TOLONGIN GUE BUAT TANGKAP RIO."


Almira menarik pergelangan tangan Nera untuk pergi meninggalkan mereka dengan jalan cepat karena sudah sangat malu. Kenzo dan Nigek hanya mengikuti para cewek dari belakang tanpa menimbulkan suara.


Danera yang tidak sengaja menoleh kearah sahabatnya yang sudah pergi membuat dia berteriak protes dan Rio menyadari bahwa mereka di tinggalkan.


Tanpa sengaja, tatapan Rio menatap sekeliling membuat dia meringis malu. Dengan cepat, Rio mengampit kepala Danera di sela-sela ketiaknya dan menarik membawa Danera menghampiri para teman-temannya.


Rio sangat malu, tapi berbeda dengan Danera yang sangat kesal.


"Lebih baik lo pergi dari sini aja." ucap sang cewek dengan nada kesal menatap cowok yang ada di depannya.


"Gak akan." jawab cowok itu dengan cepat menatap bengis kearah si cewek.


Lama mereka masih mendebatkan terus saja sehingga mereka sekarang menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang berlalu lalang di jalan. Si cewek yang terus saja mengeluarkan ucapan kesal kearah cowok tersebut, berbeda lagi dengan si cowok yang untuk menyanggah perkataan si cewek.


Di dalam perjalanan masih saja mereka berdebat tidak jelas.


"Gue akan membuat dia hancur tanpa lo tau, Roy."


***


"Al, kamu kenapa?"


Pertanyaan dari mulut Kenzo yang sambil menepuk bahu Almira membuat si empu terkejut menatap Kenzo dengan wajah sendu.


"Gak tau, perasaan ku gak enak aja." jawab Almira dengan nada gelisah dan takut menjadi satu membuat Kenzo langsung memeluk sangat erat.

__ADS_1


Kenzo mengelus pundak Almira dengan lembut mencoba menenangkan gadis itu dan sesekali mengecup puncak kepala yang tertutupi hijab instan.


Berbeda dengan Almira yang tiba-tiba pikirannya menjadi kosong dan hatinya merasa gelisah. Almira tiba-tiba merasa takut dengan sendirinya.


Almira melepaskan pelukan mereka dengan kasar tanpa mempedulikan Kenzo yang terkejut. Almira berlari ke ruangan Oma Diana dengan cepat dan Kenzo yang mengejar Almira membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat mereka dengan pandangan berbeda.


Saat Almira membuka pintu ruang rawat Oma Diana, dia melihat Oma sedang tersenyum kearahnya membuat Almira langsung memeluk sangat erat.


"Kenapa, hen?" tanya Oma Diana terkejut saat mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dan sangat erat dari cucu kesayangannya.


Almira tidak menjawab, dia mencoba menenangkan pikiran dan hatinya tapi sia-sia belaka. Bukannya baik, pikiran dan hati Almira makin menggebu-gebu.


Almira mendongakkan pandangan menatap Oma Diana dengan wajah sendu yang hanya di balas senyuman manis di bibir Oma. Sedikit aneh bagi Almira.


"Perasaan Al tiba-tiba tidak enak." jawab Almira yang langsung di balas senyuman dan jangan lupakan dengan elusan lembut di kepala sang cucu kesayangannya.


Hening, suasana yang sangat di benci seorang Almira Sayyida Alindra. Tidak tau kenapa menatap Oma Diana membuat dia tidak mau jauh-jauh dari dari sang Oma.


Kenzo hanya diam di ambang pintu kamar menatap sejak tadi apa yang dilakukan Oma Diana dan Almira.


"Semoga tidak ada kejadian buruk menimpa istri ku, jangan buat istri ku sedih dan buatlah dia tertawa senang karena bahagia." batin Kenzo.


Oma Diana yang tiba-tiba menoleh kearah pintu melihat Kenzo yang hanya diam kaku menatap mereka membuat wanita paruh baya itu tersenyum dan memanggil agar mendekat kearahnya. Almira ikut menoleh kemana arah pandangan Oma Diana, ternyata saat melihat ternyata kearah pintu masuk yang ada cowok tegap dan sangat tampan menatap mereka dengan pandangan seperti biasa.


Datar!


"Sini, Nduk." pinta Oma Diana sambil melambaikan sebelah tangan menyuruh Kenzo menghampiri.


Kenzo yang melihat itu dengan langkah santai dan pelan menghampiri kedua cewek yang sangat berarti dalam hidupnya selama ini.


Saat Kenzo sudah berada di samping tubuh Almira yang hanya menatap tanpa mengeluarkan suara. Oma Diana memegang sebelah tangan Kenzo lalu mengarahkan ke atas punggung tangan Almira yang sedari tadi dia pegang.


Senyuman manis dan senang sangat tercetak jelas di raut wajah Oma Diana sambil menatap mereka bergantian. Sangat berbeda dengan suami istri yang saling menatap satu sama lain, sedang beradu dengan pemikirannya masing-masing.


"Jangan pernah berpisah apapun masalahnya. Karena kalian berdua sudah kami jodohkan sejak kecil saat masih ada Dirga dan Zidan yang masih hidup. Kalau kalian mempunyai pikiran untuk berpisah, maka kami akan sangat kecewa dengan kalian berdua." ujar Oma Diana menjelaskan kepada mereka dengan nada lembut dan baik-baik agar keduanya bisa memahami.


"Almira, Kenzo ini adalah Suami Pilihan Oma."

__ADS_1


__ADS_2