
"Ternyata kamu bisa cemburu juga."
Suara Kenzo dengan nada menggoda membuat Almira menoleh kearah pintu yang sudah tertutup oleh Kenzo.
Saat Kenzo menghampiri Almira yang sedang memainkan ponselnya, berniat mengacuhkan Kenzo yang terkekeh kecil kepadanya.
Saat Kenzo memegang bahu Almira, tiba-tiba suara telepon berbunyi dari ponsel Almira yang langsung mengangkat tanpa mempedulikan Kenzo yang merubah raut wajahnya menjadi datar.
"Assalamualaikum, Al."
"Waalaikum salam, gimana kabar Oma disana? Kenapa baru telepon hah? Gue disini cemas, Justin." ujar Almira dengan nada emosi membuat Kenzo langsung mendekati gadis itu.
Menempelkan sebelah telinga di ponsel Almira yang sudah menempel di telinganya, Almira menatap sinis kearah Kenzo yang membuat cowok itu tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Emm, Al. Besok kamu harus kesini, Oma mau bicara sama kamu. Kalau gitu, aku tutup dulu sambungannya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah sambungan telepon dari Justin terputus, Almira menatap datar kearah Kenzo yang langsung memeluk tubuhnya dengan erat tapi lembut membuat gadis itu merasa nyaman.
Almira menatap Kenzo dengan wajah memelas membuat cowok itu membenamkan kepala Almira ke dada bidangnya yang tertutupi kaos polos bewarna hitam.
"Kita besok kesana."
Ucapan Kenzo dengan nada tegas membuat Almira terpaksa menganggukkan kepala membuat sudut bibir Kenzo terangkat keatas. Masih berada di pelukan hangat, Kenzo mengelus bahu Almira dengan lembut.
"Apa sahabatku sama sahabat kamu akan ikut kita?" tanya Almira setelah melepaskan pelukan meskipun Kenzo masih berada di pinggang rampingnya.
"Mungkin." jawab Kenzo yang hanya di angguki saja oleh Almira.
Suasana menjadi hening karena mereka sedang berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
"Semoga perasaan buruk ini tidak ada kaitannya dengan Oma, semoga saja." batin Almira.
***
"Gue dengar-dengar, kalian akan pergi ke Surabaya. Tenang saja, kita semua sudah membuat keputusan kalau kita akan ikut dengan kalian berdua. Mantap kan?"
Suara dari nada ceria dan kencang membuat Kenzo ataupun Almira terlonjak terkejut saat menoleh mendapati Danera, Nera, Nigel, dan juga Rio yang sedang menatap berbagai pandangan.
__ADS_1
Almira dan Kenzo saling memandang satu sama lain, saat Kenzo memgangguk kepala yang langsung di balas oleh Almira dengan menghembuskan nafas lelah mendapati mereka yang selalu ikut dirinya dan Kenzo.
Padahal tadi tidak ada siapa-siapa di rumah besar ini, tapi dengan tiba-tiba mereka sudah berada di depan pintu kamar dirinya.
Tamu yang tidak undang seperti jalangkung saja.
Kenzo mengelus puncak kepala Almira yang tertutupi hijab instan kesukaannya saat melihat raut wajah kesal sangat kentara sekali dari wajah Almira.
Danera langsung menarik Almira berada di tengah-tengah antara dirinya dan Nera.
"Kita akan keluar membicarakan masalah diantara kami, jangan ada yang mengikuti kami satu orang pun. Kalau kalian masih melanggar ucapan gue, tidak segan-segan kami akan membalas ke kalian semua." ucapan Danera dengan nada serius membuat ketiga cowok yang memandang gadis itu dengan wajah syok dan bingung.
Mereka tidak pernah tau raut wajah serius Danera, karena gadis itu selalu menunjukkan sisi ceria dan aktifnya.
Tapi bagi Almira dan Nera tau bahwa Danera ingin persahabatan mereka tidak canggung seperti hari-hari ini. Danera akan serius saat menyangkut orang tersayang dan sangat berarti bagi hidupnya.
Karena Almira dan Nera, bagi Danera adalah manusia yang sangat berharga.
Rio menganggukkan kepala berkali-kali berbeda dengan kedua cowok yang masih menatap ketiga gadis yang sudah mulai pergi meninggalkan suasana hening diantara mereka.
Rio langsung merangkul bahu kedua sahabatnya lalu menggiring ke tempat olahraga yang ada di rumah Oma Diana. Rio mengerti kalau Danera sedang bersikap serius kepada kedua sahabatnya, bagi Rio itu baik karena sang kekasih sedang berusaha menyatukan kedua sahabatnya.
Pertanyaan dari mulut Kenzo denhan nada datar seperti biasa membuat lamunan Rio buyar yang sedang memikirkan Danera.
"Berikan mereka waktu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, kita sebagai pria hanya mendukung saja jangan pernah ikut campur." ucap Rio membuat Kenzo dan Nigel terdiam memandang sahabatnya yang tersenyum menenangkan.
***
"Kalian berdua gue bawa kesini untuk menyelesaikan kecangguan ini. Karena ucapan nenek lampir itu, persahabatan kita terasa seperti sangat jauh. Tidak seperti biasanya."
Ucapan Danera setelah mereka duduk di depan meja bundar saling menatap membuat mereka langsung terpenuhi aura serius dari Danera tersebut.
Sebenarnya Danera disini sangat tidak suka melihat orang-orang yang dia sayangi dan jaga merasa tersakiti ataupun sedang sedih, itu sama saja menyakitkan hati dirinya sendiri saat melihat itu.
Almira tanpa sengaja melihat raut wajah gelisah dari Nera yang membuat gadis itu tersenyum kecil, Almira tidak marah kalau Nera menyukai mantannya itu. Tapi dia marah jepada diri sendiri karena sudah membuat Nera sakit hati setiap hari saat dirinya masih mempunyai hubungan dengan cowok itu.
"Disini canggung karena perasaan tiba-tiba dari Nera ke Roy itu. Maaf, gue beneran tidak tau sama sekali." ujar Danera dengan nada santai.
Almira langsung menatap kearah Danera yang memandang santai tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Nera, silahkan jelasin ke kita." pinta Danera yang langsung di anggukki oleh gadis memakai hijab instan bewarna coklat.
Almira hanya diam menatap Nera, dia tidak tau harus bagaimana menanggapi ceritanya.
"Dari kelas sepuluh, gue sudah suka sama Roy karena dia pernah nolongin gue. Tapi tiba-tiba, dua hari ke depan ada berita kalau Roy nembak cewek. Ternyata itu sahabat gue. Gue hanya diam mendukung mereka, yang gue lakukan cuman itu. Tapi sekarang gue gak ada rasa itu lagi ke Roy." ucap Nera panjang membuat dia menghembuskan nafas berkali-kali.
"Sudah. Capek." lanjut Nera dengan wajah datar seperti biasa.
Danera ingin tertawa tapi tidak jadi karena suasana tidaklah cocok, meremas baju yang bawah untuk menahan tawa yang akan keluar. Almira yang melihat Danera hanya bisa geleng-geleng kepala, ada ada saja sahabat satunya itu.
"Ketawa saja, jangan di tahan." ucap Nera dengan memandang Danera tajam karena kesal.
"HAHAHAHA."
Ternyata bukan Danera saja yang tertawa, Almira juga tertawa kencang membuat Nera menatap sendu.
Saat melihat wajah Nera yang sedang bicara kepada Danera, itu sungguh lucu dan terhibur.
Dengan cepat Nera memeluk kedua sahabatnya erat tapi tidak membuat kehabisan nafas. Danera dan Almira meredakan tawanya lalu memeluk Nera erat juga tidak mau kehilangan.
"Sudah jangan pedulikan cowok aneh itu, kita harus jauh-jauh sama Roy Saputra itu. Oke, kalian faham kan?" tanya Danera yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Almira dan juga Nera.
"ROY SAPUTRA GAME OVER." teriak lantang dari ketiga gadis itu dengan kencang.
Mereka menatap satu sama lain dengan senyuman manis.
Persahabatan mereka adalah sangat indah, diam bukan berarti mereka marah dan lama berbaikan. Tapi karena seperti itulah persahabat mereka yang sangat unik.
Dari kecil sudah bersama membuat mereka seperti saudara.
Persahabat mereka karena Oma Diana, Kakek Dirga, dan Kakek Zidan yang menjalin persahabat sangat sejati.
Tidak ada yang tau kalau ada seseorang pria sedari tadi memandang ketiga gadis yang masih berpelukan dengan raut wajah datar karena marah dan emosi.
Dia mendengar apa saja yang mereka ucapkan dengan jelas, kedua tangan mengepal erat di sisi badannya.
Tiba-tiba sudut bibir terangkat menampilkan seringai masih menatap ketiga gadis yang sedikit berada jauh di depannya. Sangat menyeramkan untuk di lihat raut wajah seseorang itu.
"Para gadis, kalian akan merasakan kejamnya dunia ini. Permainan akan segera di mulai, saya tidak sabar menikmatinya. Kalian akan menuju ke neraka dunia, pasti itu sangat menyenangkan bagi diriku dan sepupu perempuan ku. Tunggu saja, para gadis bodoh."
__ADS_1