
"LEPASKAN KAMI, KAMI TIDAK MEMPUNYAI MASALAH DENHAN KALIAN SEMUA. TAPI KENAPA KALIAN HARUS MENGIKAT KAMI SEPERTI HEWAN HAH?"
Teriakan demi teriakan terus saja terdengar nyaring di ruangan gelap tapi masih ada cahaya meskipun itu remang remang saja, perempuan dan laki laki yang sedang duduk di ikat kaki dan kakinya membuat keduanya sangat kesal karena banyak sekali pria berbadan tegap dan memakai seragam serba hitam dan kacamata hitam yang lebih menakut kan adalah mereka menatap keduanya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Itu sangat mengerikan di ruangan gelap tersebut, sedari tadi perempuan yang di ikat terus saja berteriak sambil memberontak ingin di lepas kan. Tapi para pria berbaju hitam hanya diam saja sambil menatap mereka tanpa pergerakan sama sekali.
"Selamat datang di permainan Tuan Edo Alindra."
Suara itu tiba tiba dari arah depan mereka membuat semua menoleh ke arah pria tegap memakai jas formal terlihat sangat menawan yang tiba tiba membuat kedua mata perempuan yang di ikat berbinar senang melihatnya.
Edo berjalan menghampiri kedua manusia yang sedang di ikat dengan raut wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun dengan memutar putar kunci mobilnya yang terlihat sangat mewah itu karena ada emas di samping kuncinya.
"Hello, pria tampan." sapa perempuan itu dengan nada centil agar Edo tergoda dengannya yang malah membuat Edo ingin muntah mendengarnya.
"Roy dan Ella, manusia tidak berguna dan sampah." sapaan Edo membuat mereka semua terkejut.
Yang lebih terkejut adalah Ella si perempuan yang tadi sedang menyapa Edo dengan nada centilnya, Roy menatap selidik ke arah Edo dengan tatapannya yang malah di balas oleh Edo dengan senyuman seringai.
"Roy, kau pasti pernah melihat saya? Apa kau lupa." tanya Edo dengan pandangan mengalih ke arah Roy yang terkejut sehingga membuat dirinya tersentak ke belakang karena sudah meneliti wajah dari Edo.
"Anda... Anda sepupunya Almira." ujar Roy dengan nada terbata bata karena tidak percaya melihat langsung wajah Edo.
"Apa?" jerit Ella terkejut menatap Roy dan Edo secara bergantian.
Edo tersenyum seringai lebar yang malah membuat mereka semua merasa kan ketakutan dan merinding secara bersamaan, para penjaga pria yang memakai seragam bewarna hitam dan kacamata warna hitam sampai mundur ke belakang karena aura mencengkam dari Bos mereka yaitu Edo Alindra.
__ADS_1
"Bagaimana? Keinginan kau sudah terkabul kan, saya tau kalau kau sangat ingin bertemu saya saat kau masih menjadi kekasih Adek sepupu tercinta saya. Lalu sekarang saya datang bukan karena ucapan kau yang ingin bertemu dengan saya, tapi saya datang untuk membalas kan dendam Adek sepupu saya kepada kalian berdua. Maka, bersiaplah untuk menikmati permainan dari Mister Edo Alindra." ucap Edo dengan nada dingin dan tatapan tajam mengarah ke arah Roy dan Ella dengan mundur perlahan.
"Yang cowok silahkan kalian pukuli sampai babak belur tapi jangan sampai mati dan yang cewek silahkan nikmati tubuhnya itu buat kalian semua, jangan lupa untuk di rekam juga. Mengerti?" perintah Edo menatap mereka dengan menaikkan satu alisnya menggoda ke arah para bawahannya yang langsung tersenyum mengerti.
"MENGERTI." ucap mereka dengan sangat keras dan semangat.
"JANGAN, SAYA MOHON JANGAN BERBUAT MACAM MACAM KE SEPUPU PEREMPUAN SAYA. SAYA MOHON."
Edo keluar dari ruangan gelap itu dengan wajah kemenangan saat mendengar suara suara aneh dan teriakan memohon menjadi satu membuat senyum seringainya muncul.
"Masalahnya sudah selesai, sekarang ganti untuk menyelesai kan salah paham di antara mereka. Almira, Abang janji akan selalu membuat kamu bahagia dengan cara Abang sendiri, yang penting kamu bahagia. Tanggung jawab kamu masih tanggung jawab Abang meskipun kamu sudah mempunyai suami." gumam Edo lalu memakai topi bewarna hitam kesukaannya.
Tempat yang berbeda tapi waktu yang sama, seorang gadis sedang duduk di taman menatap kosong ke depan dengan pandangan sendu sangat terlihat sekali dari wajahnya.
Sudah beberapa kali dirinya menghubungi nomor sang Suami memakai ponsel Abang sepupu tapi tetap saja tidak di angkat sama sekali pun, Almira tidak tau lagi harus bagaimana menghubungi suaminya yang tiba tiba menghilang.
Es Batu : Kenapa Do? Sorry gue tadi lagi di Bandara makanya gak bisa angkat telpon lo.
Itu pesan dari Kenzo yang masuk ke ponsel Edo yang sedang di pegang oleh Almira, Almira terkejut melebar kan kedua mata saat membaca pesan yang terpampang di layar ponsel yang berada di genggamannya.
Drt... Drt... Drt...
Bunyi ponsel tiba tiba membuat Almira makin terkejut saat melihat nama yang tadi mengirim kan pesan, dengan cepat Almira menggeser tombol hijau dan mengarah kan ke arah telinga kirinya dengan gerakkan pelan.
"Assalamualaikum, kenapa Do?"
__ADS_1
Suara itu membuat Almira tiba tiba menetes kan air mata tanpa di sengaja dan tidak ada isakkan sama sekali. Suara yang sangat dia rindu kan kembali terdengar lagi.
"Do, kenapa? Eh iya, boleh tanya bagaimana kabar Almira? Apa istri gue baik baik saja disana?" tanya Kenzo di seberang sana menatap ke arah jendela yang menampil kan awan dengan pandangan lekat.
"Do, jangan bilang ke istri gue, kalau gue ke Jakarta. Gue mau nenangin hati sama pikiran dulu, baru gue temui Almira. Lo tenang saja, perasaan cinta gue ke istri masih sama, malah makin besar. Gue cuman butuh waktu saja."
Ucapan Kenzo membuat Almira sangat terkejut kalau ternyata pria yang dia cari cari sekarang berada di Jakarta dan meninggal kan dirinya di kota ini tanpa pamit.
Saat Almira akan menutup sambungan ponselnya, tiba tiba suara Kenzo terdengar lagi.
"Jaga Almira dengan baik, jangan sampai dia sedih dan sskit. Do'a kan saja Do, semoga pilihan Almira memilih gue dari pada mantan pacarnya itu. Padahal kemarin gue ingin sekali bahagia sama istri gue, ternyata malah dapat kejutan dari Almira dan mantan pacarnya. Ternyata mereka menjalin hubungan lagi di belakang gue, gue kira Almira sudah mencintai gue Do, ternyata tidak. Sebenarnya gue ingin sekali curhat ke lo apa yang gue lihat kemarin dan gue dengar, tapi saat maau cerita hati gue rasanya sakit, seperti melihat kejadian di restoran waktu itu. Gue pesan ke lo, jaga istri gue dengan baik, awas saja kalau dia sedih atau pun sakit itu salah lo Edo Alindra, paham hah. Gue tutup telponnya dulu, gue tau pasti lo lagi sibuk makanya tidak bicara sama sekali. Assalamualaikum."
Tut... Tut... Tut...
"Waalaikum salam..." lirih Almira setelah mendengar sambung telepon mati dengan pandangan kosong dan sedih.
"Maaf, maaf kan aku Mas. Sekarang aku mulai paham, kamu marah bukan karena ulang tahun, tapi kamu marah karena aku bertemu dengan Roy dan pria sampah itu mengucap kan kata kata aneh dan jijik. Aku harus pergi ke Jakarta juga, nyusul Kenzo. Harus hari ini juga, iya hari ini juga." ujar Almira dengan suara penuh tekad.
Almira pergi dari taman itu dengan terburu buru, tanpa sadar Almira menabrak badan seseorang yang berdiri di depannya membuat Almira tersungkur ke bawah sambil mengelus keningnya yang tiba tiba memerah.
Saat ada uluran tangan di depannya membuat Almira mendongak kan wajahnya melihat siapa yang dia tabrak itu.
"Bang Edo?" panggil Almira dengan kening mengerut yang di balas dengan senyuman manis dan Almira langsung menerima uluran tangan dari Edo.
"Ayo ke Jakarta, kita selesai kan kesalah pahaman di antara kamu dan Kenzo. Urusan kantor sudah aku handle dan ada orang kepercayaan ku yang berada di sini. Kita berangkat sekarang juga memakai Jet pribadi ku, Dek." ujar Edo dengan nada lembut dan mengelus kening Almira yang masih memerah.
__ADS_1
Almira mengangguk semangat sambil tersenyum dan Edo pun tersenyum kecil tapi sudah terlihat sangat menawan.
"Aku akan selalu membuat kamu bahagia, Dek. Itu janji ku untuk kamu." batin Edo sambil merangkul pundak Almira dengan sebelah tangannya lalu berjalan ke arah mobil hitam yang terlihat sangat mahal itu.