Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
LIMA PULUH DUA


__ADS_3

"Bagaimana cara menghilangkan rasa rindu kepada Oma? Al sangat rindu sama Oma. Oma kenapa cepat sekali meninggalkan Al seperti ini? Oma, Al sendiri sekarang tanpa Oma."


Suara lirih dari rooftop apartemen yang sudah malam sehingga di langit gelap tapi ada banyak sekali ribuan bintang sedang mengkilap terang. Angin berhembus sejuk tidak di pedulikan oleh Almira, gadis tersebut hanya memandang lurus ke depan yang menampilkan bangunan bangunan yang megah dan indah dari atas.


Tiba tiba di pikiran Almira terlintas kenangan saat bersama Oma Diana di dalam hidupnya yang membuat gadis tersebut menundukkan wajah tidak kuat menahan kesedihan yang sangat dalam bagi hatinya.


"Dari dulu sampai sekarang, Oma berharga bagi Al. Tapi kenapa Oma berbohong tidak pernah pergi?" tanya Almira menatap ke langit gelap dengan pandangan sendu sambil menahan air mata yang sejak tadi ingin menerobos keluar.


Tidak mendapatkan jawaban dari siapapun membuat Almira mengepalkan kedua tangan di samping badannya, dia butuh jawaban untuk pertanyaan kenapa Oma Diana pergi meninggalkan dirinya sendiri di dunia yang begitu kejam.


Tapi, saat mengingat Allah SWT. Almira langsung beristigfar menyebut nama Allah dengan suara lirih, memohon ampun.


Almira mencoba untuk ikhlas atas kepergian Oma Diana, tapi hatinya sangat susah sekali saat di ajak seperti itu agar Oma Diana tenang di alamnya.


Melihat ponsel yang sedari tadi berbunyi menandakan panggilan, saat melihat siapa mebelponnya ternyata itu adalah nomor Kenzo.


Almira memandang rumit kearah nama Kenzo yang terpapar di ponselnya, tatapan sedih Almira berubah menjadi sinis tidak tau kenapa.


"Permainan ini akan di mulai." ucap Almira dengan nada menyeringai menatap senang kearah nama tersebut yang terus saja menelpon dirinya tanpa henti.


Di lain tempat, seorang pria yang berada di dalam kamar apartemen sambil berjalan mondar mandir dengan mengacak acak rambut hitam legam menjadi tidak rapi.


Raut wajah khawatir dan frustasi sangat terlihat sekali dari muka Kenzo yang biasanya terlihat datar tanpa ekspresi ataupun menyeramkan, sangat berbeda sekali dengan sifat dan watak pria dewasa tersebut.


"Halo?"


Suara dari sambungan telepon membuat Kenzo memberhentikan berjalannya dan melepaskan tarikan di rambut hitamnya yang sudah berantakan tidak jelas.


"Sayang, kamu dimana sekarang? Kamu buat aku khawatir, sayang..." balas Kenzo dengan nada lirih menatap nama panggilan yang tersambung menampilkan nama istri tercinta dengan emot love.


Sangat alay memang, tapi Kenzo sangat suka dengan nama tersebut meskipun bukan dirinya yang kasihkan nama tersebut.


Tawa kecil dari seberang telepon membuat Kenzo ikut tersenyum kecil tanpa yang melihat apapun.


"Aku di roftoop apartemen, sini kalau kamu ingin temani aku." balas dari mulut Almira membuat Kenzo sangat senang di dalam hatinya yang sudah berbunga bunga.


"Aku kesana."


Setelah Kenzo mengucapkan kata tersebut, pria tersebut mematikan sambungan telepon dengan sepihak membuat gadis yang berada disana cemberut kesal menatap benda pipih tersebut.


"Dasar pria tua, seenaknya saja mematikan sambungan telepon sepihak. Awas aja kalau kamu datang, aku pastikan kamu aku bejek bejek, sangat ke-"

__ADS_1


"Apa hem?"


Sahutan dari mulut Kenzo yang tiba tiba sudah berada di samping Almira langsung mendudukan diri di kursi panjang mendekat kearah Almira.


Melihat Almira yang cemberut membuat Kenzo sangat gemas, tanpa kata kata Kenzo menarik kepala gadis itu membawa ke pelukannya yang hangat membuat Almira merasakan nyaman seperti biasa.


Almira sangat senang saat berada di pelukan Kenzo, karena proa dewasa tersebut bisa membuat dirinya nyaman.


"Kenapa malam malam disini, hem? Ayuk masuk ke kamar." ucap Kenzo dengan nada berat membuat kedua pipi Almira tiba tiba memerah tanpa sadar.


Almira menggelengkan kepala sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah Kenzo yang sesang menunduk, jarak mereka sangat dekat sehingga satu sama lain merasakan hawa panas dari nafas mereka masing masing.


Mereka saling tatap, mencoba menyelami kedua mata yang indah satu sama lain.


"Kenapa kamu datang saat aku mencoba melepukan kamu, Gara. Dari dulu aku sudah sangat menderita karena kamu, tapi kenapa sekarang kamu seolah olah menjadi pahlawan ku." ucap Almira menatap sendu kearah Kenzo.


Kenzo yang mendengar ucapan Almira seketika membuat hatinya sesak melihat tatapan sedih dari kedua mata indah Almira. Kenzo tidak tau harus menjawab dengan kata seperti apa.


"Suatu saat nanti, kamu pasti tau jawabannya. Tapi sekarang, aku meminta maaf ke kamu." ujar Kenzo dengan nada pelan tapi lembut.


Almira hanya diam tidak menjawab ucapan dari Kenzo, pikirannya bingung tidak tau harus bagaimana saat dekat seperti ini.


***


"DANERA... BANGUN LO, SEKARANG JUGA..."


Teriakan heboh membuat semua orang yang berada di apartemen mewah sedang berjalan akan ke ruang tamu terhenti karena suara teriakan itu, saat menoleh mendapati Almira sedang teriak dan menggedor gedor pintu kamar Danera dengan kencang dan raut wajah yang sudah sangat kesal.


Berbeda lagi dengan Nera yang berada di sampingnya sedang menutup kedua telinga dengan kedua tangannya karena berada di samping Almira lumayan dekat.


Telinga langsung berdenging hanya karena teriakan heboh dari Almira Sayyida Alindra.


"KALAU LO GAK BUKA, GUE AKAN MEMBUKA SEMUA AIB LO, DANERA. GUE SEKARANG SAMA NERA DAN YANG LAIN, WOW BETAPA TERKEJUTNYA MEREKA KALAU MENDENGAR AIB L-"


"ALMIRA...." belum sempat Almira melanjutkan teriakannya, tiba tiba suara Danera terdengar sangat nyaring membuat mereka semua terkejut.


Berbeda lagi dengan Almira yang menyunggingkan senyuman menyeringai kecil tanpa ada yang tau.


Ceklek!


Pintu terbuka sangat kasar lalu membantingnya membuat Almira makin melebarkan senyuman mengejek kearah Danera yang sudah cemberut kesal menatap sang sahabat.

__ADS_1


Ctak!


Sentilan keras sehingga berbunyi dari Danera ke kening Almira membuat mereka semua makin melebarkan kedua mata kecuali Nera tentunya yang malah memutar bola matanya malas.


Capek melihat kedua sahabatnya yang sudah gila, makin gila.


"BERANI LO, DAN? SINI LO, AWAS LO." teriak kesal dari mulut Almira menatap Danera yang sudah menyengir menampilkan deretan gigi putihnya.


"KABUR..... ADA SETAN."


Setelah Danera mengucapkan kata kata seperti itu, dengan cepat Danera berlari menghindari dari kejaran Almira mengelilingi semua sudut apartemen yang mewah tersebut.


"GUE BUANG LO, DAN." teriak Almira di belakang Danera mencoba menggayuh bahu Danera tapi tidak bisa.


"NER, BANTU GUE."


"JANGAN NER, PLIS JANGAN LAH. SEKALI KALI LO ADA DI PIHAK GUE."


"NER, BANTUIN GUE, SYAINERA DWI DULLOND."


Sahutan demi sahutan dengan teriakan terus saja memenuhi apartemen mereka sehingga sangat ramai. Almira maupun Danera tidak mau mengalah, di antara mereka terus saja menyebutkan nama Nera yang membuat gadis itu menghela nafas dengan kasar karena lelah.


"Gue capek punya sahabat gila." gumam Nera yang masih bisa di dengar oleh mereka.


Para lelaki yang melihat dan mendengar gumaman Nera langsung tertawa dan ada juga yang hanya tersenyum kecil saat melihat raut wajah Nera yang seperti tertekan dengan Almira atau pun Danera tentunya.


Selang beberapa menit lamanya, kedua gadis yang sedang saling mengejar tiba tiba berhenti sambil tiduran di sofa empuk ruang tamu membuat mereka yang menonton sedari tadi menghampiri ingin melihat bagaimana raut wajah kedua gadis tersebut yang sudah olahraga pagi.


"Gue haus." ucap Danera dengan nafas tidak beraturan.


"Sama, gue juga haus." balas Almira dengan mengipasi badannya dengan sebelah tangan yang tidak terasa anginnya.


"Capek gue... jadi sahabat kalian berdua, gue nyerah deh jadi sahabat kalian." ucap Nera dengan tiba-tiba yang sudah duduk di sebelah mereka sambil menatap kedua sahabatnya dengan tatapan datar secara bergantian.


Kedua mata Almira dan Danera terbuka saat mendengar suara Nera di dekatnya, menatap Nera dengan wajah datar tanpa ekspresi kearah Nera membuat semua para pria menatap heran di antara keduanya.


"TERNYATA NERA BISA BERCANDA, DAEBAK." teriak heboh dari mulut Almira dan Danera dengan nada semangat.


Nera dan semua para laki laki menatap datar kearah kedua gadis tersebut, sudah capek menghadapi kegilaan mereka kalau sedang dalam mode aktif.


"Ternyata mereka makin gila." gumam Nera frustasi karena capek dengan sifat Almira dan Danera tentunya.

__ADS_1


__ADS_2