Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

"Kenzo, kamu ngapain berantakin lemari ku?"


Suara dari ambang pintu membuat cowok yang sedang mengacak-acak lemari terlonjak kaget.


Membalikkan badan dengab gaya pelan menatap Almira dengan raut wajah tegang, kedua mata Almira memancarkan rasa emosi dan kemarahan tanpa sadar membuat Kenzo mengepalkan kedua tangan di samping badannya.


Padahal Kenzo mendapatkan pesan dari Rio kalau ketiga gadis itu akan telat pulang karena mereka mampir ke rumah makan. Tapi sekarang saat Kenzo sedang memeriksa barang-barang Almira, si punya sudah pulang dan malah mengetahui apa yang di lakukan Kenzo.


"Kamu-"


"Saya pamit dulu, ada tugas mendadak."


Setelah Kenzo mengucapkan kata-kata itu yang memotong ucapan Almira, Kenzo berjalan dengan wajah datar dan tegap melewati tubuh Almira yang masih berada di ambang pintu.


Almira hanya menatap dengan diam punggung Kenzo yang sedikit demi sedikit mulai menjauh.


Beralih menatap lemari yang masih acak-acak barangnya, Almira mengernyitkan heran memikirkan apa yang di cari Kenzo sampai segini parahnya?


Almira tidak merasa ada yang dia sembunyikan.


Berjalan menghampiri lemari, lalu mengambil barang-barangnya yang berserakan di lantai sambil memasukkan kembali barang-barang itu.


Tiba-tiba Almira tersenyum seringai memandang lemari itu dan bertepuk tangan dengan pelan.


"Tidak akan ada yang bisa menemukan, apalagi lo Kenzo. Tidak akan pernah. Dasar bodoh."


***


Semester telah selesai, semua para murid langsung saja pergi menuju ke rumah masing-masing dengan wajah semangat. Sebab selama tiga hari ini, mereka sangat nerasa pusing dan frustasi dengan mata pelajaran tersebut.


Almira berada di rooftop sendirian menatap lurus ke depan menampilkan para murid yang lainnya sedang berlarian karena senang.


Sangat berbeda dari Almira, dia hanya termenung tiba-tiba merasakan perasaan tidak enak dalam hatinya. Tidak tau kenapa, Almira merasa seperti sendirian di dunia ini.


Angin kencang membuat hijabnya bertebangan dan badannya terasa sejuk, tapi tidak dengan hatinya yang masih merasa gelisah dan takut.


"Ada apa ini, Ya Allah? Apa ini kabar buruk atau kabar baik?" tanya Almira berbicara sendiri menatap ke atas langit yang cerah.


Almira menghembuskan nafas lelah memandang lurus ke depan. Mengingat masa kecil saat dirinya dan Kenzo sedang bermain petak umpet yang mengakibatkan Almira menangis.

__ADS_1


Almira senyum manis mengingat kejadian itu. Almira menangis karena Kenzo yang menjahili sampai dirinya selalu menjaga dan mengakibatkan kekalahan.


Kenzo sangat jahil dan juga sangat sayang kepadanya.


Saat dirinya menangis dan mengakibatkan Oma Diana melotot kearah Kenzo kecil yang di balas hanya cengiran tidak jelas dan menghampirinya.


Saat menghampiri Almira, Kenzo langsung saja memeluk badab kecil Almira dengan erat dan membisikkan kata lucu yang membuat Almira kecil berhenti menangis dan tertawa senang.


"Andai kita masih sama seperti dulu, pasti sangat menyenangkan dengan hubungan ini. Tapi ini salah mu yang membuat aku sangat benci kepada mu, Gara. Aku sangat benci kamu, Gara." lirih Almira yang sudah kedua mata berkaca-kaca.


"Aku kangen saat ketika kita masih kecil, betapa bahagianya diriku kenal sama kamu, Gara." sambungnya.


"Kamu pahlawan ku dan juga kamu penjahat untuk ku."


"AKU BENCI KAMU, GARA." teriak Almira sangat kencang.


Almira menunduk saat air mata menetes di kedua pipinya, menyembunyikan wajah sedihnya.


Seseorang yang sedari tadi berada di belakang jauh tapi bisa mendengar semua ucapan Almira, memandang Almira sangat lekat dan penuh rasa bersalah.


Menatap punggung Almira yang bergetar membuat hatinya merasakan sesak hanya untuk bernafas.


Kenzo mendapatkan pesan dari Nera kalau Almira tidak mau pulang, makanya dirinya pergi ke sekolah Almira saat para murid sudah pulang semua dan mengakibatkan sekolah kosong.


Saat mencari Almira, dia mendengar suara ketuk-ketuk sehingga membuat dia berada di rooftop belakang Almira. Sejak tadi, Kenzo sangat ingin menghampiri Almira lalu memeluknya sangat erat dan membisikkan kata-kata lucu untuk menghibur seperti masa kecil dulu.


"Maaf, Say. Aku belum siap jujur sama kamu dan memberikan penjelasan yang aku lakukan di masa lalu. Tapi, aku sangat mencintai mu, Almira Sayyida Alindra." batin Kenzo masih menatap Almira dari belakang.


***


"AKH... GUE DI KEJAR WARIA."


Teriakan sangat kencang dari mulut cowok berpakaian baju dinas Polisi masuk ke kantor Polisi yang hanya kotak kecil berisikan Kenzo dan Nigel saja. Menatap cowok itu dengan pandangan datar dan kesal dari kedua temannya itu yang sedang menikmati permainan catur.


Nigel yang tidak tahan dengan teriakan dari Rio yang terus menerus melemparkan kulit kacang kearah wajah Rio membuat si empu berhenti teriak dan memandang Nigel penuh permusuhan.


"Ini semua gara-gara lo, Nigel. Tuh waria kejar-kejar gue, gue geli..." tunjuk Rio kepada Nigel yang hanya memandang tanpa wajah bersalah.


Nigel menjawab dengan menghendikkan bahunya acuh lalu melanjutkan permainan yang sempat tertunda gara-gara Rio. Kenzo pun sama, dia hanya memandang diam tanpa berkomentar apapun lalu melanjutkan permainan catur bersama Nigel.

__ADS_1


Rio yang merasa di abaikan, mendengus kesal menatap kedua sahabatnya yang sama-sama acuh kepadanya.


"Gue kalau dapat informasi dari Danera tentang Almira ataupun Nera, tidak akan membocorkan ke kalian berdua."


Ucapan Rio dengan nada serius membuat permainan catur kedua pria berhenti, lalu menoleh kearah Rio yang sudah berlalu begitu saja tanpa menatap mereka.


Dengan cepat, kedua cowok tadi langsung menarik badan Rio membuat si empu memekik kaget yang di lakukan mereka kepadanya.


Bagi Rio, ini adalah bukan perhatian melainkan penyiksaan.


"Nasib gue, miris amat." lirih Rio menghela nafas lelah.


***


"Hallo... Nera cantik."


Sapaan lembut dan sedikit kencang membuat semua yang berada di lampu lalu lintas menatap kearah pria yang sedang melambaikan tangan kepada gadis berhijab yang menaikki kendaraan bermotor.


Pak Polisi itu yang sedang bertugas langsung menghampiri Nera yang memutar bola matanya malas dari dalam helm itu menatap Nigel yang menghampiri.


Nigel menoleh keatas menatap lampu lalu lintas yang masih merah dan angka delapan puluh sembilan, sudut bibir Nigel terangkat keatas karena senang waktu lampu merah sangat lama.


"Bawa STNK nona Nera yang cantik?" tanya Nigel sedikit basa-basi saat dia tersadar sedang mengenakan pakaian dinas Polisi.


Tidak ada jawaban, hanya Nera langsung mengeluarkan kartu STNK lewat tas sekolahnya. Memberikan kearah Nigel tanpa menatap.


Nigel yang melihat itu tersenyum kecil, dengan pikiran cerdiknya. Nigel mengambil kartu itu dan langsung menggenggam tangan Nera sambil mengelus lembut kecil membuat Nera tersentak kaget.


Setelah lama, Nera langsung menyentak tangan Nigel dengan kasar sambil menatap tajam meskipun Nigel tidak mengetahui karena kepalanya tertutupi kaca helm yang di sengaja Nera.


"Sialan lo." umpat Nera dengan pelan tapi mengena di jantung Nigel yang hanya dia mendengar.


"Maaf, janji gak lagi deh. Maaf, Nera." ucap Nigel dengan nada bersalah sambil memegang kaca spion kendaraan Nera.


Tin... Tin... Tin...


Suara klakson dari belakang Nera membuat dia menatap keatas kearah lampu lalu lintas yang sudah berganti warna hijau.


Tanpa mempedulikan Nigel, Nera langsung melajukan kendaraannya dengan sangat cepat membuat Nigel hanya memandang tanpa suara.

__ADS_1


"Sial." ucap Nigel sambil menendang kerikir kecil tanpa arah karena kesal.


__ADS_2