
"KENZO, INI ADA TELPON DARI PUSAT KEPOLISIAN CARI LO. KATANYA LO DI SURUH KE KANTOR SEKARANG... KENZO, BUKA PINTUNYA ES BATU... CEPAT..."
Teriakan dari mulut Edo membuat Kenzo yang berada di depan Almira mendengus kesal menatap ke arah pintu kamarnya. Almira yang melihat Kenzo hanya mengusap usap lembut sebelah pipi Kenzo dengan lembut sambil melirik ke arah pintu yang terus saja di gedor gedor oleh Edo tanpa henti.
"Edo, ganggu sayang..." rengek Kenzo keluar dari mulutnya dengan memaju kan bibirny ke depan yang malah terlihat sangat imut di mata Almira.
Almira ingin sekali Kenzo tetap berada di sampingnya dengan sifat manjanya seperti sekarang ini, Almira sangat menikmati kalau bersama Kenzo. Dirinya merasa nyaman bila berada di dekat suaminya.
Almira berdiri dari pangkuan Kenzo lalu mengambil hijab instannya yang berada di meja kaca karena pria di depannya ini. Kenzo berdiri dari duduknya dengan wajah cemberut ke arah sang istri yang di balas dengan tunjuk dari dagu dari Almira yang mau tidak mau harus membuka kan pintu kamar itu.
Ceklek.
Pintu terbuka menampil kan wajah Edo yang tidak bersalah sambil tatapan datar seperti biasa dan di sambut oleh Kenzo dengan tatapan tidak suka membuat Edo yang melihat itu malah menaik kan satu alisnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Kenzo dengan nada ketus tidak bersahabat.
"Nih, ada telepon dari tadi. Ponsel lo ketinggalan di dapur dari tadi bunyi terus, ganggu waktu tidur nyaman gue saja tuh ponsel." balas Edo dengan nada datar dan kesal juga sambil mengembalik kan benda pipih tersebut ke Kenzo.
"Oh iya, gue lupa kalau nada dering ponsel gue kaca pecah yang keras banget. Sorry bro!" ujar Kenzo dengan meringis saat melihat tatapan tajam dari Edo seperti ingin menerkamnya.
Kenzo lupa kalau kamarnya Edo lumayan dekat dengan dapur dan ponselnya berada di dekat kamar Edo dengan nada dering yang sangat keras, bukan apa apa Kenzo kasih nada dering yang seperti itu, karena ada alasannya yang sangat konyol bagi semua orang kecuali Kenzo tentunya.
Padahal mereka sama sama mengeri kan dengan tatapan tajam itu, Almira sejak tadi hanya melihat saja memilih diam di tempat karena kedua pria tampan itu sedang saling menatap tajam satu sama lain tidak mau kalah dari salah satunya.
Saat Edo akan berbalik dari pintu tanpa sengaja dirinya melihat Almira yang sedang menatap ke arah mereka, Edo langsung merubah raut wajahnya yang semulanya tajam berubah menjadi santai dan lembut menampil kan senyuman kecil yang langsung di balas oleh gadis itu. Kenzo yang melihat itu mendengus kesal saat Edo malah melambai kan tangannya ke arah sang istri tercinta.
"BALIK KE KAMAR LO, EDO." teriak Kenzo sangat kencang membuat Almira terlonjak kaget, berbeda dengan si punya nama yang malah tersenyum mengejek ke arah Kenzo tentunya.
Brak!
Kenzo menutup pintu kamar mereka dengan cukup keras membuat Almira terkejut lagi atas perlakuan dari Kenzo, tiba tiba saja Almira merasa kan perasaan takut saat melihat raut wajah tidak enak dari sang suami.
"Mas..." cicit Almira dengan nada sangat pelan sambil menunduk tapi masih bisa di dengar oleh Kenzo karena suasana kamar mereka menjadi sunyi dan hening seketika.
"Sayang, Edo mengejek aku, ih... Akh sayang..." rengek Kenzo dengan nada super manja sambil memeluk tubuh Almira dan menggelam kan wajahnya ke ceruk leher Almira yang tertutupi oleh hijab instannya.
Almira tersenyum melihat Kenzo yang langsung berubah manja kepadanya, padahal tadi sebelumnya hanya ada raut wajah tidak enak dan sangat menyeram kan, tapi sekarang Kenzo malah menampil kan raut wajah memelas seperti kucing yang membuat Almira sangat gemas kepadanya sehingga membalas pelukan itu dengan sangat erat sambil menggoyang goyang kan badan mereka seperti mengikuti alunan musik meskipun tidak ada suara musik sekali pun, seperti menimang nimang anak bayi yang ingin tidur.
"Akhiranya aku mendapat kan kamu lagi sayang, setelah aku kehilangan kamu waktu kecil rasanya aku menjadi orang gila tanpa kamu meskipun waktu itu aku masih bocah. Sekarang aku mendapat kan kamu, kamu tidak akan ku biar kan pergi dari ku, apa pun itu sayang. Karena seorang Almira hanya milik Kenzo, begitu pun sebaliknya." batin Kenzo tersenyum seringai tidak ada yang tau apa arti dari senyuman itu sambil mengerat kan pelukan hangat mereka.
***
"Aamiin..."
__ADS_1
Setelah Almira mengucap kan kata itu sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan melihat ke arah Kenzo yang sudah berbalik ke arahnya dengan raut wajah senyum dan berseri seri membuat suaminya terlihat sangat tampan di matanya.
Almira langsung saja mengulur kan tangannya untuk salim ke Kenzo yang langsung di terima oleh pria itu dan setelah selesai Kenzo menarik kepala Almira untuk dekat kepadanya.
Cup.
Kenzo mengecup kening Almira lumayan lama sehingga mereka menikmati perasaan nyaman dan hangat di dalam hati masing masing dengan diam, setelah selesai tiba tiba Kenzo mendekat kan wajahnya ke wajah Almira sangat dekat sampai sampai gadis itu menahan nafas dan menegang tidak bisa bergerak kemana pun.
Cup.
Kenzo tiba tiba saja menempel kan bibirnya ke bibir Almira dan langsung ******* kecil dengan pelan dan lembut membuat Almira terbuai lalu menutup kedua mata sambil mengalung kan kesua tangan di leher Kenzo yang malah membuat mereka semakin dekat dan menempel tidak ada jarak sama sekali.
"Masih pagi, Mas." ucap Almira setelah Kenzo melepas kan pungutan mereka tanpa mau menjauh dari wajah sang istri.
Kenzo membalas dengan senyuman dan mengerling kan kedua matanya yang malah membuat Almira menghela nafas panjang karena pasrah, Kenzo tersenyum mendapat kan jawaban itu dari sang istri dan tanpa lama lama pria itu mencium bibir Almira memperdalam gigitan gigitan kecil yang pria itu kasih ke sang istri.
"Shhh... Mas." lenguh Almira tiba tiba karena Kenzo menggigit bibir bawahnya lumayan keras membuat Kenzo menegang dan menelan salivanya susah payah mendengar lenguhan dari sang istri yang seperti *******.
"Sayang..." ujar Kenzo dengan suara seraknya seperti orang tertekan menatap ke arah Almira yang menampil kan raut wajah bersalah.
"Maaf Mas tidak sengaja, kamu sih jangan terlalu keras gigitnya." balas Almira dengan nada meringis melihat kedua mata Kenzo yang sudah berkabut membuat gadis itu was was sendiri.
"Kamu membangun kannya sayang..." suara serak masih terdengar dari nada Kenzo yang langsung Almira memeluk tubuh sang suami dengan mengelus elus lembut rambut hitam legamnya untuk menghilang kan perasaan yang tidak enak dari suami.
Almira tau, di umur Kenzo yang sekarang sedang hormon naik naiknya, Almira tiba tiba merasa bersalah kepada Kenzo karena masih belum bisa memberi kan haknya.
Almira menahan lenguhannya karena Kenzo malah menggigit leher mulusnya dengan gaya pelan seperti ingin main main, Almira menahan dengan mencengkram kasur empuk yang berada di sampingnya untuk tidak bersuara aneh aneh. Tapi Kenzo malah makin menggodanya dengan meniup kan sebelah telinganya.
"Tidur Mas, jangan main main. Memangnya kamu mau hem itu bangun terus aku tidak tanggung jawab?" tanya Almira dengan nada pelan tepat di samping telinga Kenzo.
"Tidak mau, tapi kalau kamu bertanggung jawab aku tidak apa apa sayang, aku siap lahir dan batin buat kamu. Kita juga bisa bermain berbagai bentuk yang kamu suka, tapi jangan lupa dengan berdoa sayang. Ayo sayang sekarang saja saat ini masih pagi dan suasananya sangat indah, kalau kita bikin anak sekarang pasti akan lebih nik-"
"DASAR OTAK MESUM KAMU MAS..." teriak Almira memotong ucapan panjang dari Kenzo karena dirinya sebenarnya sudah sangat malu dengan ucapan sang suami yang sangat frontal baginya.
Untung saja kamar mereka kedapnsuara sehingga tidak ada yang mendengar suara apa pun dari luar. Kedua pipi Almira sudah memerah seperti kepiting rebus dan malah Kenzo dengan santainya pria itu malah membahas hubungan intim yang belum pernah mereka lakukan sama sekali.
Kenzo yang mendengar itu tersenyum geli dan perasaan senang saat tidak sengaja melihat wajah memerah dari Almira.
"Tenang saja sayang, kita kalau melakukan itu akan ku pasti kan kamu menikmati dan ingin lagi dan lagi sampai kamu tidak mau berhenti. Aku pastinya tidak akan membiar kan kamu berhenti, kita akan melakukannya semalaman tanpa henti sayang. Bersiap lah, dua hari lagi pekerjaan kamu akan selesai dan aku juga akan selesai, kita akan menikmati surga dunia hem." bisik Kenzo tepat di telinga Almira lalu menggendong tubuh Almira kasur empuk dan membaring kan dengan lembut dan pelan lalu Kenzo ikut berbaring di samping tubuh Almira dengan memeluk pinggang ramping sang istri dengan erat dan sangat dekat.
"Mampud gue, sangat mengeri kan..." batin Almira dengan menatap wajah Kenzo yang sudah terlelap lalu gadis itu juga ikut terlelap masuk ke alam mimpi sambil memeluk tubuh Kenzo juga menyandar kan kepalanya ke dada bidang sang suami dengan nyaman.
***
__ADS_1
"Kalian kok lama sekali sih keluar dari kamar, gue udah nunggu dari lama karena laper."
Dengusan itu keluar dari mulut Edo yang sudah duduk di meja makan yang sedang menatap sepasang suami istri yang mana pria memeluk pinggang perempuan itu, berbeda lagi dengan perempuan itu hanya acuh saja tidak mempeduli kan dari sang suami. Ingin sekali Edo menertawa kan Kenzo tapi saat melihat tatapan curiga dari Almira membuat mengurung kan niatnya.
"Maaf ya Bang." ujar Almira dengan nada tulus lalu duduk di ikuti Kenzo yang sudah duduk di sampingnya dengan pandangan seperti biasa dan raut wajahnya.
"Sayang, ngapain sih minta maaf segala sama Edo. Biarin aja dia, salah sendiri ngapain nungguin kita." protes Kenzo dengan tatapan tajam ke arah Edo yang membulat kan kedua nata karena terkejut dengan ucapan pria itu yang sangat cerewet sekali baginya.
Saat Edo akan membalas dengan protesan lagi, Almira lebih dulu membuka suaranya.
"Diam, sekarang waktunya sarapan, tidak boleh ada yang berbicara. Paham para pria tampan?" ujar Almira yang langsung di anggukki oleh Kenzo dan Edo karena mereka merasa tampan.
Kenzo maupun Edo itu mempunyai sifat sama, tapi hanya bersama Almira saja tidak ada yang lain. Edo bersama Nera saja masih sama datar dan dingin, kedua laki laki itu sangat menyayangi seorang Almira Sayyida Alindra.
Kenzo dan Edo akan siap menjadi perisai bagi Almira, mereka akan memberi kan kebahagiaan apa pun caranya untuk Almira saja, begitu lah sifat dari Kenzo dan Edo untuk Almira.
Mereka mulai melahap makanan yang setelah di siap kan oleh bibi An tanpa mengeluar kan suara sekata pun karena itu bagi mereka cara sopan untuk makan.
Setelah beberapa menit berlalu, ketiga manusia sudah selesai dengan makanannya lalu saling menatap satu sama lain seperti akan berbicara tapi bingung.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya sayang, ada tugas tiba tiba." pamit Kenzo yang sudah berdiri dari duduknya mengulur kan sebelah tangan ke arah Almira yang langsung di sambut dengan baik.
"Oh iya, aku nanti pergi ke Butik buat lihat lihat pekerjaan mereka." ucap Almira sambil berjalan menghampiri Kenzo yang sudah di ambang pintu dan membawa topi Polisinya berhenti karena ucapan sang istri.
"Iya sayang, hati hati." balas Kenzo yang langsung mencium sebelah pipi Almira membuat gadis itu melotot jarena terkejut dan malu karena disana bukan hanya dirinya saja tapi ada Edo dan bibi An yang melihat.
"Assalamualaikum..." salam Kenzo sambil membenar kan hijab Almira dengan sebelah tangannya.
"Waalaikum salam..." cicit Almira membuat Kenzo tersenyum kecil melihatnya.
Saat Kenzo sudah keluar dari gerbang ruamah mereka, Almira membalik kan badannya menatap Edo yang bengong dan bibi An yang tersenyum menggoda.
"DASAR KULKAS BERJALAN TIDAK TAU TEMPAT." teriak Edo sangat kencang membuat Almira meringis lalu menghampiri dengan cengengesan tidak jelasnya ke arah sang Kakak sepupunya.
Edo menatap ke arahnya dengan pandangan selidik seperti sedang mencari tau dari raut wajah Adek sepupunya dari kedua mata gadis itu membuat Almira langsung mengalih kan pandangan ke sembarang arah agar Edo tidak bisa membaca apa pun dari raut wajahnya.
Almira tau, pasti Edo akan tau apa yang selama ini terjadi antara dirinya dan Kenzo.
"Kamu sudah mencintai Kenzo, Dek?" tanya Edo dengan nada pelan tapi menusuk seperti pisau dan membuat Almira menelan salivanya susah payah karena pertanyaan apa yang dia tebak terucap kan dari mulut Edo.
Almira hanya diam saja tidak membalas ucapan dari Edo dengan meremas kedua tangannya yang berada di belakang tubuhnya tanpa di ketahui oleh Edo pastinya. Almira tidak menyangka kalau pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Edo kepadanya di waktu yang sangat cepat bagi dirinya.
Suara Almira rasanya seperti tercekat di tenggorokan hanya untuk menjawab pertanyaan dari sang sepupu.
__ADS_1
"Almira jawab Abang, jawab dengan jujur." lanjut Edo lagi dengan memegang kedua lengan Almira dengan pelan tapi penuh penekanan.
"Iya, aku mencintainya Bang. Sebenarnya aku sudah mencintai Kenzo sejak aku kecil, tapi tiba tiba sekarang ini aku jatuh cinta lagi ke Kenzo Bang, aku tidak bisa mencegah perasaan ini yang tiba tiba ada di hati aku." jawaban dari Almira membuat Edo maupun Bibi An tersenyum lega dan senang secara bersamaan menatap ke arah Almira yang menunduk kan wajahnya.