Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
LIMA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"Lo sih bang, selalu tidak bisa mencegah mulut lo bicara kasar saat sedang emosi. Yang lo lampiaskan emosi amarah lo itu Almira, Bang."


Ucapan Eza membuat Alex langsung menoleh terkejut menatap kearahnya, melototkan kedua mata kepada Eza karena terkejut dan tidak percaya.


"Maksud lo apa?" tanya Alex dengan nada tidak percaya.


"Lo memang lupa atau pura pura tidak mau mengingat?" tanya Eza lagi yang di balas tatapan tajam dari kedua mata Alex membuat Eza menyengir tidak jelas sambil menunjukkan tanda peace kepada Alex.


Sebelum bercerita selanjutnya, Eza menghela nafas memikirkan Almira yang tidak mau keluar dari kamar meskipun Kenzo sudah masuk ke dalam dan tidak bisa membuat gadis itu untuk keluar dari kamarnya.


"Abang membentak Almira sambil mengumpatinya dengan kata kata kasar, yang membuat kesal dengan bang Alex yaitu Abang menyalahkan Almira atas kematian Oma Diana dan juga Abang menuduh Almira adalah pembunuh. Gue rasanya ingin sekali menonjok lo, Bang. Tapi ke duluan Kenzo, lo memang berengsek Bang. Danera saja nolak lo apalagi Almira, Bang." jelas Eza dengan nada yang sudah mengobar obar menatap wajah Alex ingin sekali memberi bogeman lagi tapi dia juga tidak berani.


Eza berlalu meninggalkan Alex yang masih duduk di kasur empuknya dengan pandangan kosong saat penjelasan Eza tiba tiba perilaku dirinya muncul di dalam pikirannya membuat Alex diam tidak tau harus bagaimana.


"Maaf Dek, maafin Abang, Dek..." lirih Alex sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan kasar.


Alex mengacak acak rambut rapihnya sehingga tatanan rambut sekarang menjadi sangat berantakan.


Brak...


Suara pukulan di dinding sangat keras dan kencang sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di dalam kamar Alex. Darah menetes dengan lancar di kepalan tangan yang sudah perih tapi tidak di hiraukan oleh Alex tentu, pria dewasa itu terus saja memukuli dinding sampai tangannya sudah banyak darah.


Tanpa sepengetahuan Alex, sedari tadi ada seseorang yang bersembunyi di balik dinding menatap diam saat Alex sedang berbicara kepada Eza, seorang itu sudah ada di sana menatap diam.


Beralih ke ruang tamu rumah Oma Diana yang mewah ada Nera dan Danera yang sudah bingung mondar mandir.


"Ner, coba lo telfon Justin suruh dia kesini. Siapa tau saja Al mau membuka pintu saat ada Justin." ujar Danera mengucapkan ide yang ada di pikiran otaknya.


"Lo lupa hah? Justin sedang berada di luar kota, Dan." balas Nera dengan nada kesal membuat Danera meringis pelan menatap gadis tersebut yang sudah emosi sejak kemarin dan melampiaskan kepada dirinya sejak tadi.


"Terus bagaimana?" tanya Danera kepada Nera dengan nada frustasi.


"Panggil Kenzo sekarang juga." jawab Nera membuat Danera menepuk keningnya pelan.


Danera udah pusing sekarang dengan permasalahan yang terjadi akhir akhir ini, dia juga merasakan capek tidak tau jalan keluarnya mana.


"AKH... GUE PUSING..." teriak Danera sangat kencang membuat Nera langsung memeluk gadis itu yang sudah menangis tanpa suara.


***


"Aku pembunuh..."


Suara lirih dari seorang gadis berhijab instan kesukaannya bewarna hitam itu menunduk sambil menahan isakkan tangis yang akan keluar.


Tidak tau kenapa, gadis itu merasakan sesak di dadanya membuat dia bersandar di dinding sambil menatap ke atas atap bewarna ke emasan.


"Waktunya makan, sayang..."


Ceklek!


Ucapan seseorang dari luar pintu sambil membuka pintu kamar Almira membuat gadis itu menoleh menatap Kenzo yang membawa makanan di plastik membuat Almira mengerutkan heran langsung menghapus air mata yang tiba tiba menetes agar tidak di ketahui sama pria tersebut.


Sudah dua hari ini Almira berada di kamar tanpa keluar dan yang masuk ke kamarnya hanya Kenzo saja. Almira tidak mau merepotkan kedua sahabatnya yang pastinya mencemaskan dirinya, tidak tau saja kalau Danera maupun Nera sudah sangat cemas kepada Almira.


Selama ini Kenzo sudah merawat dirinya tanpa mengeluh dan capek, padahal pagi sampai sore pria itu harus bertugas di jalan raya.


Almira menatap Kenzo dengan wajah penuh bersalah saat melihat keringat di keningnya, pasti Kenzo baru saja pulang dari tugasnya.


"Mandi dulu, Ken. Biar segar, aku saja sudah mandi." ucap Almira tiba tiba dengan nada pelan tapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh telinga Kenzo.


"Sudah mandi ternyata, sudah cantik." ucap Kenzo sambil mengusap puncak kepala Almira dengan tangan kekarnya sambil tersenyum kecil dan di balas oleh Almira senyuman manis.


"Aku mandi dulu ya, sayang. Nanti selesai mandi, kita makn barang, aku sudah beli kan kamu mie judes pedas." pamit Kenzo sambil menaruh tas belanjaannya di depan Almira.


Almira mengangguk semangat membuat Kenzo geleng geleng kepala sambil tersenyum senang, melihat Almira langsung melihat isi tas belanjaan dengan semangat membuat dia makin melebarkan senyuman tanpa di ketahui Almira.


"Dia masih baik seperti dulu, maaf kan aku." gumam Almira saat melihat ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


Sambil menunggu Kenzo selesai mandi, Almira membuka ponselnya lalu menyambungkan hospot dari ponsel Kenzo.


Saag menyalakan ponsel tersebut, betapa terkejutnya saat melihat wallpaper ponsel Kenzo ternyata foto mereka saat masih kecil membuat Almira melotot tidak percaya. Padahal waktu itu ponsel Oma Diana yang masih tidak canggih.


Almira terus menatap foto itu tanpa kedip, tiba tiba saja saat kenangan masa lalu terlintas.


Flashback On.


"Almira, Oma kan sudah larang kamu buat beli ice cream banyak banyak, kenapa kamu malah beli banyak sih."


"Biarin, suka suka aku dong. Gara jangan bilang Oma ya kalau aku beli ice cream lagi. Awas saja kalau Gara bilamg ke Oma, Say bakal tidak mau main sama Gara lagi."


"Iya..."


Kedua bocah berbeda kelamin dan berbeda umur sudah duduk taman bermain sambil menatap ke depan bercanda ria memakan ice cream dengan nikmat.


"Almira Sayyida Alindra, kenapa kamu makan ice cream lagi? Kan tadi sudah dua. Kamu juga Gara, kenapa tidak bilang ke Oma kalau cucu perempuan ini nakal."


"Gara... Ayo kabur..."


Saat mereke berdua sedang berlari dari kejaran Oma Diana, dengan cepat wanita tua itu memotret mereka yang sedang tertawa lepas.


Flashback Off.


"Sayang, sayang eh. Almira."


"Iya?" jawab linglung dari Almira langsung menatap kearah Kenzo yang sedang menatap khawatir lalu menghela nafas lega dari mulutnya saat gadis itu menyahutinya.


"Sedari tadi aku panggil kamu, kamu malah bengong. Kenapa hem?" tanya Kenzo dengan nada khawatir masih melekat.


Grep!

__ADS_1


Pelukan tiba tiba dari Almira membuat Kenzo terkejut lalu segera membalas pelukan itu meskipun heran tapi pria itu senang saat mereka kontak fisik. Mengelus lembut punggung Almira dengan telapak tangan yang kekar membuat Almira makin mengeratkan pelukan itu karena merasa kan kenyamanan yang hangat.


"Ada apa?" tanya Kenzo sambil mengecup kening Almira sekilas membuat gadis yang ada di pelukannya memejamkan kedua mata menikmati.


"Keluar nih manjanya." ucap Kenzo lagi dengan nada menggoda sehingga mendapatkan cubitan kecil dari tangan Almira di perutnya membuat Kenzo bukannya sakit melainkan geli.


Pelukan mereka terlepas karena Almira membuat Kenzo mendengus kesal, dirinya juga merasakan nyaman dan hangat di pelukan mereka yang membuatnya tidak melepaskan tapi mendengar suara perut bunyi pria itu malah merasakan khawatir.


"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar, hehe." ajak Almira dengan cengirannya membuat Kenzo sangat gemas lalu mencubit kedua pipi cubby gadis itu yang malah membuat Almira tertawa.


Mereka memakan mie judes pedas itu dengan nikmat tanpa ada yang bersuara karena kalau berbicara saat makan itu tidak sopan bagi Kenzo tentunya, jadinya Almira mengikuti saja.


Sambil makan Almira menatap Kenzo dengan lekat, dia tidak percaya kalau pernikahan yang tidak dia harapkan dan tidak yang dia inginkan malah sangat indah.


Betapa bodohnya dirinya yang malah mementingkan balas dendam untuk masa lalu.


"Semoga di masa depan kelak, kita lebih bahagia dari hari sekarang ini, Kenzo Sagara Samudra lebih tepatnya suami ku." batin Almira masih menatap Kenzo.


***


"Nera, kamu ada di sini juga. Berarti kita itu jodoh."


Celetukan dari mulut seorang pria memakai seragam Polisi membuat Nera menoleh dan menatap seorang itu langsung memutar bola matanya malas yang malah membuat pria itu tersenyum senang melihat wajah Nera.


Bagi pria itu, Nera makin sangat imut dan cantik tentunya. Bila dirinya mendapat kan Nera, pasti dirinya akan sangat beruntung dan bahagia hidup bersama gadis tersebut.


"Oh iya kalau boleh tau kamu ngapain di kantor Polisi?" tanya pria yang sudah duduk di samping Nera tanpa memperdulikan orang orang yang menatap keduanya dengan pandangan berbeda.


"Minta persetujuan." jawab Nera dengan nada singkat padat dan jelas.


"Buat apa?" tanya lagi pria itu dengan nada bingung dan mengerutkan kening menatap Almira yang tidak menatap dirinya malah menatap lurus ke depan.


"Om Nigel, jangan ikut campur urusan saya. Kita tidak saling akrab, jadi jangan bertanya apa pun." ujar Nera dengan nada penuh penekanan sambil menoleh kearah Nigel yang menatap dengan wajah menggeram membuat Nera sedikit terkejut.


Setelah itu Nera menghendik kan bahunya acuh mencoba tidak peduli dengan pria yang ada di sampingnya yang selalu mengganggu pikiran sejak kemarin kemarin karena Nigel sudah tidak datang menghampiri saat terakhir mereka masih berada di Surabaya.


Nera sebenarnya merasa heran dengan Nigel karena saat dirinya perpisahan sekolah, pria itu tidak datang atau pun mengucap kan kata selamat atas kelulusannya membuat Nera kesal tanpa sebab.


Hening, Nigel maupun Nera tidak berucap sepatah kata pun lagi. Mereka diam sehingga membuat para Polisi yang ada di ruangan menatap penasaran dan kepo, mereka langsung membuang muka saat tatapan tidak bersahabat dari Nigel memandang mereka.


Ada yang menahan tawa, ada juga menunduk untuk menyembunyikan tawa mengejek.


"Saudara Syainera Dwi Dullond, silahkan." panggil Kenzo membuat mereka semua menatap saat seorang gadis yang duduk di samping Nigel berdiri.


Mereka terkejut dengan nama itu, mereka mengenal sepupu dari ibu Kenzo.


Sebenarnya Kenzo terkejut dengan keputusan Nera yang memilih ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.


Nera sudah duduk di depannya dengan wajah datar seperti biasa membuat Kenzo menghela nafas pelan dan juga saat melihat Nigel duduk di samping tempat Nera makin membuat Kenzo menghela nafas lelah yang hanya di balas dengan Nigel cengiran tidak jelas.


"Nera, kamu tau kan kalau ini adalah keputusan yang sangat besar? Jangan terburu buru memutus kan ini semua, kamu diskusi kan dulu, Nera." ujar Kenzo menjelaskan panjang kali lebar sehingga membuat penghuni kantor Polisi menatap takjub kearah pria tersebut yang menatap Nera.


"Mereka sudah tau." sahut Nera memotong ucapan Kenzo yang langsung terdiam.


Kenzo langsung mengingat kalau ketiga gadis itu sudah berbicara, tapi saat melihat Almira yang seperti orang kerasukan membuat pria itu khawatir kalau kedua sahabatnya akan pergi meninggal kan Almira dengan cepat.


"Tapi kan-"


"Ekhem." deheman dari mulut Nigel memotong ucapan Kenzo membuat pria itu menatap tajam kearah Nigel yang hanya mengacuhkan saja membuat para Polisi yang lainnya sudah ketar ketir melihat tatapan tajam dari ketua mereka.


Mereka terus saja mengumpati Nigel di dalam hati karena sudah berani memotong ucapan Kenzo yang adalah ketua mereka.


Pernah waktu ada salah satu dari mereka tidak sengaja batuk sehingga memotong ucapan Kenzo, pria itu langsung saja marah dan menyangkut anggota Polisi yang lain sehingga tidak ada yang berani. Eh malah Nigel berdehem dengan sengaja dan sekarang pria itu bersikap biasa saja membuat para Polisi yang lain ingin sekali menghajar Nigel sekarang juga.


Rio yang tau situasi yang akan buruk terjadi kepada semua anggota Polisi langsung saja menarik lengan Nigel untuk pergi dari hadapan Kenzo membuat para anggota Polisi menghembus kan nafas lega. Untung saja ada Rio yang bisa mencegah terjadi bencana buruk.


"Lo apa apaan sih, gue mau tau apa yang di maksud Kenzo sama Nera yang tidak gue ketahu-"


"DIAM." bentak Rio membuat Nigel langsung terdiam dan menunduk takut dengan tatapan mengerikan dari Rio.


Padahal Nigel tadi sudah bersikap biasa saja saat mendapat tatapan lebih mengerikan dari Kenzo, tapi ternyata saat bersama Rio dia sudah takut di tambah takut dengan pria yang ada di depannya.


Beralih ke Kenzo dan Nera yang saling memandang datar lalu menghela nafas panjang bersamaan membuat aura menyeram kan menyeruak di area lingkungan kantor Polisi membuat para anggota hanya terdiam tidak berani bersuara karena aura mencengkam dari Kenzo dan Nera tentunya.


"Izin lebih dulu ke Almira dan Danera, maka saya akan memberikan tanda tangan ini. Kalau kamu tidak di izin kan, maka saya juga tidak akan tanda tangan. Paham?" ujar Kenzo dengan mengetuk ngetuk lantai dingin dengan sepatunya.


"Egois."


Setelah Nera mengucap kan kata itu, gadis itu pergi meninggal kantor Polisi dengan perasaan kesal dengan ucapan Kenzo.


Nera kalau meminta izin kepada Danera atau pun Almira, maka mereka pasti tidak akan mengizin kan. Nera kesal, kenapa harus meminta tanda tangan dari ketua kepolisian juga.


Apa kekuasaan Kenzo se luas itu sampai harus ada tanda tangan ketua Polisi?


Itu lah pertanyaan yang ada di kepala Nera sekarang ini. Padahal dirinya akan ke luar negeri, tapi harus meminta tanda tangan dari ketua Polisi.


Sangat Daebak.


"Assalamualaikum, kalian ada di mana? Gue akan langsung ke lokasi, ini masih on the way."


***


"Lo ngapain ke kantor Polisi?"


Pertanyaan dari mulut Almira saat Nera mengucap kan kalau dirinya dari kantor Polisi dan langsung ke lokasi yang di kirim oleh nomor ponsel Danera.


Almira dan Danera merasa penasaran membuat Nera menghela nafas panjang dan di balas oleh kedua sahabatnya dengan tertawa kecil sambil membungkam mulutnya dengan sebelah telapak tangan agar tidak membuat mereka menjadi pusat perhatian di caffe tersebut.


"Gue ke kantor Polisi buat minta tanda tangan ketua kepolisian. Al, kenapa lo gak bilang kalau Kenzo itu ketuanya?" tanya Nera menatap Almira dan juga Danera menatap kearah Almira.

__ADS_1


"Hah? Gue aja gak tau kalau dia ketua kepolisian, Ner." jawab Almira dengan nada terkejut membuat kedua sahabatnya juga kaget mendengarnya.


Ctak!


Sentilan di kening Almira sedikit keras sehingga membuat gadis itu mengadu kesakitan yang hanya di balas oleh si pelaku tertawa.


Danera lah si pelaku tersebut.


"Dasar lo Al, padahal suami lo sendiri saja tidak tau. Sungguh terlalu lo, Al." ujar Danera dengan nada kesal bercampur mengejek membuat Nera hanya geleng geleng kepala melihat mereka.


"Kenzo loh gak bicara tentang pekerjaannya, jadi otomatis gue gak tau." bela Almira kepada dirinya sambil menatap Danera.


"Meskipun dia gak bilang ke lo, ya lo harus tanya lah, Almira cantik imut lucu menggemaskan. Mengerti hem? Ingat, selama ini dia selalu ada di samping lo, setiap saat malah." ujar Danera yang membuat Almira terdiam.


Biasanya Almira akan memenang kan perdepatan antara dirinya dan Danera, tapi sekarang tiba tiba saja Almira tidak bisa mengucap kan apa pun.


Karena ucapan Danera benar, seratus persen benar. Makanya Almira tidak bisa menyegah ucapan Danera.


"Baiklah, baiklah, sahabat satu kita ini memang bodoh dalam percintaan. Nah, sebenarnya lo ngapain panggil kita ke sini, Ner?" ujar Danera mengalihkan pembicaraan agar Almira tidak murung.


Danera maupun Almira langsung menatap kearah Nera yang sedang memajukan kursinya untuk mendekat ke meja bundar kayu membuat kedua sahabatnya juga mendekat kan badannya ke meja bundar kayu tersebut.


"Gue kesini meminta izin buat pergi ke luar negeri, maafin gue karena pemberangkatan gue di maju kan menjadi satu bulan lagi. Kata Kenzo, gue harus izin ke kalian berdua dulu lalu dia mau tanda tangan di berkas gue."


Jedder...


Ucapan Nera seperti petir bagi Almira dan Danera, mereka langsung melototkan kedia mata tidak percaya. Ketiga gadis itu sama sama terdiam berpikir kemana mana.


Tanpa sadar, Almira sudah mengepal kan kedua tangan di dalam saku jaket jens warna hitam yang dia pakai. Menahan emosi dan kekesalan yang tiba tiba datang menyambut pikirannya.


Tidak ada yang tau kalau Almira sedang mengepalkan kedua tangan, Danera dan Nera melihat kalau Almira sama sama terdiam seperti mereka.


"Memang tanggal berapa berangkatnya, Ner?" tanya Almira mengeratkan kepalan tangan dengan mencoba nada biasa.


"Tanggal dua puluh lima bulan besok, Al." jawab Nera dengan nada datar yang mencoba agar tidak bergetar, Nera selalu susah menahan emosionalnya saat bersama Almira atau pun Danera.


"Haduh, gue kebelet nih. Gue ke kamar mandi dulu ya, kalau makanannya datang jangan di habisin." pamit Almira sambil berdiri menunjuk kearah Danera yang menampilkan cengiran tidak jelas sambil menunjuk kan tanda peace kepada Almira.


"Papay..."


"Papay..."


Setelah berpamitan Almira pergi meninggal kan meja tempat mereka dan Nera memandang punggung Almira dengan perasaan bersalah membiar kan sahabatnya ke kamar kecil meskipun sedikit aneh bagi Nera.


Almira terus berjalan sehingga sudah berada di depan pintu kamar mandi perempuan, dengan cepat gadis itu membuka pintu tidak ada siapa siapa membuat Almira menghela nafas.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan demi pukulan terus di layangkan oleh Almira di samping kaca walk in closet tanpa henti membuat punggung tangan kanan berdarah tapi tidak di pedulikan oleh Almira.


Rasa sakit di dalam hatinya lebih menyakitkan dari pada luka di punggung tangan yang kecil bagi Almira.


"Kenapa gue harus sendiri? Oma sudah pergi, sekarang kedua sahabat gue yang tinggalin gue sendiri di kota Jakarta ini. Gue sendiri, gue sendiri, hiks hiks." tangis Almira dengan nada lirih.


"Aku capek, Ya Allah. Aku capek. Kenapa harus susah seperti ini hidup ku? Sudah lulus sekolah bukannya bahagia melainkan menyedihkan dan banyak sekali masalah di dalam hidup ku, Ya Allah..."


"Butuh tisu mbak?"


Pertanyaan dari seseorang menyodorkan tisu ke depan Almira membuat gadis itu menoleh mendapati gadis cantik berambut panjang bewarna ke emasan.


"Terima kasih." ucap Almira sambil mengambil beberapa tisu untuk menghapus air mata.


"Mbak tidak sendiri di dunia ini, tenang saja ada Allah yang pasti membantu mbak. Hidup saja sudah masalah kok mbak, jadi jangan bersedih terus mbak. Tidak baik kalau sedih terus bukannya menghadapi masalah itu dengan semangat tanpa putus asa. Bukannya saya di sini untuk mengomentari mbak, tapi saya di sini hanya mengingatkan mbak saja. Oh iya, perkenal kan nama saya Julia, lebih tepatnya Julia Ashira Dwid. Kalau mbak siapa?" ujar gadis berambut panjang itu menyodorkan sebelah tangan di depan Almira.


"Kamu mantannya Justin Alindra?" balik tanya Almira sambil menunjuk kearah gadis tersebut.


Gadis itu terkejut saat mendapatkan pertanyaan itu tanpa jawaban dari pertanyaannya. Dengan pelan gadis itu menurun kan sebelah tangan meremas ujung bajunya tidak tau harus menjawab apa kepada Almira.


Almira langsung saja mengambil sebelah tangan kanan gadis itu lagi membuat gadia itu menatap kearah Almira.


"Gue, Almira Sayyida Alindra, sepupunya Justin Alindra." ujar Almira dengan senyuman mansi membuat gadis yang bernama Julia itu makin terkejut di depan Almira yang makin melebarkan senyum dari Almira menatap Julia tersebut.


"Ternyata mbak Almira aslinya cantik dan imut." ujar Julia memandang Almira dengan senyuman manis juga.


"Terima kasih, kamu juga kok cantik dan imut. Oh iya, dengar dengar kamu tinggal di Perancis, kenapa ada di Indonesia? Justin banyak cerita lho tentang kamu, kenapa sih kamu putusin dia? Apa karena dia ketahuan selingkuh ya?" tanya Almira penasaran dengan perasaan kesal saat mengingat sepupunya itu sangat lah playboy.


Gadis itu hanya tersenyum saja membuat Almira menerka kalau ucapannya memang benar kalau Justin itu ketahuan selingkuh.


"Tenang saja Julia, besok Justin pulang akan ku buat dia jadi sop daging." gerutu Almira yang makin membuat tawa Julia melebar dan di balas dengan Almira tertawa juga.


"Eh maaf mbak, aku harus segera pergi. Oh iya, boleh minta nomer telponnya gak mbak?" tanya Julia menyodorkan ponselnya kepada Almira.


"Boleh banget." jawab Almira sambil mengetikkan nomor di ponsel tersebut lalu selesai langsung mengembalikkan ke si punya ponsel.


"Yaudah, aku pamit dulu ya mbak. Ingat ucapan ku tadi mbak, kalau sahabat mbak pergi. Mbak bisa kok main sama aku, aku akan pindahan di Indonesia ini sepertinya sampai selamanya mbak. Kalau gitu, aku pamit. Assalamualaikum mbak Almira." pamit Julia tersenyum.


"Waalaikum salam." jawab Almira sambil menatap pungung Julia yang memulai menghilang.


Drt... Drt... Drt...


Tiba tiba ada panggilan dari ponselnya, langsung saja Almira mengeluarkan dari jaket jens dan melihat.


Tatapan kesal langsung dari wajah Almira saat melihat siapa yang menelpon dirinya.


"Saat lo pulang, akan ku jadikan sop daging beneran lo, Justin. Dasar tukang selingkuh memang."

__ADS_1


__ADS_2