Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SEMBILAN PULUH EMPAT


__ADS_3

"Lo kenapa sih Al? Sudah satu minggu lo menjauhi suami lo sendiri, kenapa hah? Gue yang lihat saja kesal, apalagi suami lo yang di cuekki."


Ucapan Danera bernada tinggi sambil mendorong Almira sehingga sahabatnya itu mundur beberapa langkah, tetapi hanya diam tidak mau membuka mulutnya untuk menjawab.


Danera membawa Almira ke gudang belakang yang tidak ada siapa pun di dalamnya atau pun sekelilingnya, selama satu minggu Danera melihat pasangan suami istri seperti orang yang tidak kenal, sebenarnya yang menjauh dan menjaga jarak adalah sahabatnya yaitu Almira lalu Kenzo malah sering mendekat tetapi hanya ada jawaban menjauh begitu saja dari Almira. Meskipun raut wajah Kenzo selalu datar tanpa ekspresi, tetapi tatapannya menyirat kan pandangan sedih meskipun dia menyembunyi kan dari semua orang hanya bisa di mengerti kalau itu pandangan sedih saat meneliti dengan benar.


Melihat Almira tidak menjawab pertanyaannya sama sekali membuat Danera memegang bahunya dengan penuh penekanan. Danera tau dengan watak Almira yang rendah diri saat meninggalnya Oma Diana, meskipun dirinya tidak mendapat kan penghinaan langsung tetapi Almira selalu merasa rendah dari yang lain. Dia sudah kalah dengan fisik dan juga kalah dari pendidikan, itu lah pemikiran dari Almira saat ini.


"Al, lo pasti sudah hafal dengan tugas seorang istri kan?" tanya Danera dengan nada lembut agar tidak membuat sahabatnya makin tertekan dengannya.


Almira mengangguk menjawab pertanyaan dari Danera dengan menunduk kan wajahnya menatap ke arah lantai.


"Lo harus jawab pertanyaan gue dengan suara Almira! Apa sekarang yang lo lakukan sudah tugas sang istri untuk suami? Atau yang lo lakukan saat ini sama saja dengan istri durhaka kepada suami?" pertanyaan dari Danera beruntun membuat Almira menegang langsung.


Hati Almira terasa sakit seperti di tusuk pedang berkali kali, ucapan Danera langsung menancap di hatinya. Lidahnya terasa kelu hanya untuk di gerak kan saja, tubuhnya tidak bisa bergerak juga.


"Sebaiknya itu lo harus membicara kan sama suami lo Al. Ingat! Kalian itu bukan hanya pacaran saja, melain kan suami istri yang menikah di hadapan Allah yang menjadi saksi. Akan tetapi lo malah memilih jalan yang seperti ini." ucap Danera membuat Almira mendongak kan wajahnya menatap sahabatnya dengan kedua mata yang berkaca kaca.


Dengan melihat kedua mata Almira yang berembun membuatnya langsung saja memeluk tubuh sahabatnya sambil menenang kan dengan usapan lembut di bahunya.


"Gue harus minta maaf ke suami gue..." lirih Almira dengan nada pelan seperti berbisik tetapi masih bisa di dengar oleh Danera tentunya.


"Iya benar, cepat sana pergi ke suami lo dan umum kan status lo, Al. Biar lo tenang dan nyaman melaku kan apa pun." pesan Danera yang langsung di anggukki Almira dengan setuju sambil bersemangat.


"Kalau gitu gue pergi dulu Dan, doa kan gue agar bisa." pamit Almira sambil memeluk tubuh Danera lagi lalu pergi dari gudang dengan berlari.


Danera menatap punggung Almira dengan diam, lalu tiba tiba ada yang mengacak acak puncak kepalanya dan langsung saja Danera menepis tangan itu dengan kasar lalu membalik kan badan melihat siapa yang melaku kan itu yang bagi Danera kurang ajar. Tetapi saat melihat pria yang berstatus mantan pacarnya membuat Danera memutar bola matanya malas karena dirinya sangat muak hanya melihat saja, bukannya Rio marah atau kesal melain kan pria itu menampil kan senyum menawannya ke arah Danera.


"Kamu berhasil sayang, betapa bangganya aku saat kamu men-"


"Yang gue lakukan bukan buat lo, tapi buat sahabat gue." ucap Danera dengan nada ketus yang malah di sambut baik oleh Rio dengan senyuman lebarnya membuat Danera tiba tiba bergidik ngeri melihatnya.


Dengan cepat Danera pergi dari gudang tersebut meninggal kan Rio sendiri di dalam gudang tersebut dengan senyuman menyeringai menatap ke arah punggung gadis tersebut.


Rio menyugar rambutnya ke belakang masih mempertahan kan senyuman seringai yang sangat menyeram kan bagi orang lain.


"Akan ku pasti kan kalau kamu menjadi milik ku selamanya Danera sayang, aku tidak peduli cara apa yang aku lakukan buat mendapat kan kamu. Bersih atau pun kotor sekali pun sayang." gumam Rio menyeringai makin lebar lalu pergi meninggal kan gudang dan menguncinya lalu tidak lupa untuk memberi kan informasi ke sahabat bucinnya itu sebelum menjauhi tempat tersebut.


***


"Mas suami..."


Teriakan yang cukup kencang membuat semua orang yang berada di aula pelatihan yang sedang mencatat untuk keperluan lainnya langsung menoleh ke arah ambang pintu yang menampil kan perempuan sedang menatap lurus ke depan sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal senggal, semua mata tertuju ke gadis tersebut yang tidak terlalu mencolok di antara peserta perempuan lainnya.


Sehingga ada yang mengenalnya atau pun hanya mengenal nama saja.


Tetapi ada salah satu pria menatap perempuan yang sedang mengatur nafas dengan seringai kecil dan tipis sehingga hanya menampil kan raut wajah datar tanpa ekspresi seperti biasanya. Menaruh kedua tangannya ke saku celana seperti menanti ucapan perempuan itu selanjutnya yang akan pasti menggempar kan ruangan pelatihan ini, pria tersebut tidak sabar untuk menanti kan waktu itu tiba.


Selama satu minggu dia mencoba untuk menahan emosi dan amarahnya untuk rencananya. Lalu sekarang adalah waktunya yang tepat sekali untuk menggempar kan.


"Mas suami, maaf kan aku." teriak perempuan itu sambil melangkah kan kakinya berjalan menghampiri membuat mereka semua heran bertanya tanya dan diam karena penasaran karena perempuan itu sambil berkaca kaca.


"Satu... Dua... Tiga..." ucap pria di dalam hati menatap perempuan yang lumayan jauh darinya.


"Kapten Kenzo Sagara Samudra, maaf kan istri mu ini."


Setelah mengucap kan kata itu dari mulut perempuan yang mereka tatap, betapa terkejutnya saat mendengar nama itu dan ucapannya. Mereka semua langsung heboh tak terkecuali, para peserta pelatihan para perempuan sangat heboh tidak terima dengan ucapan dari Almira tapi Almira mencoba untuk tidak peduli dengan hinaan hinaan kata kata pedas dari mereka, dirinya hanya membutuh kan maaf dari sang suami, itu saja.


Melihat Kenzo yang merentang kan kedua tangan ke arah Almira membuat perempuan itu langsung saja berlari masuk ke dalam pelukan suaminya.


Grep.


"Maaf, Mas." bisik Almira dengan nada lirih tapi masih bisa di dengar oleh Kenzo dengan sangat jelas di telinganya.


Kenzo membalas pelukan Almira dengan erat seperti takut kehilangan istrinya, Kenzo sangat merindu kan Almira yang selama satu minggu perempuan itu menjauhinya sambil mengecup puncak kepala Almira berkali kali membuat semua orang yang berada di sana cengo seketika kecuali Danera dan Rio yang memandang diam saja.


Kenzo melepas kan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Almira sambil mengelus lembut dengan ibu jarinya seperti biasa, Kenzo sangat merindu kan istrinya lalu Kenzo memeluk tubuh Almira lagi dan di balas dengan perempuan tersebut tidak kalah eratnya, sebenarnya Almira juga sangat merindu kan suaminya.

__ADS_1


"Kapten, anda sudah menikah?" tanya seorang perempuan peserta dengan wajah linglungnya, perempuan itu adalah yang membuat Almira menjauhi Kenzo selama satu minggu ini membuat Kenzo tanpa sadar mengeras kan rahangnya yang langsung di sadari oleh Almira lalu melepas kan.


Almira berada di samping tubuh Kenzo lalu mengelus punggung belakang suaminya dengan lembut agar emosinya tenang dan mereda, lalu Almira juga menatap ke arah perempuan itu yang juga menatapnya dengan tatapan sinis yang malah membuat Kenzo mengepal kan sebelah tangannya yang tidak menggenggam tangan Almira.


"Saya sudah menikah sejak satu tahun yang lalu, istri saya memang tidak memperboleh kan saya untuk memberitahu kan nama marga karena istri saya sudah daftar memakai marga. Istri saya sangat sempurna dari pada perempuan yang lain yang tidak ada apa apanya." jawaban Kenzo membuat semua mata mengarah ke arah pria tersebut tidak jauh beda dengan tatapan Almira ke arah suaminya lalu Kenzo membalas tatapan sang istri dengan lembut.


"Tapi Kapten, perempuan itu tidak berpendidik kan tinggi dan juga tidak terkenal. Coba kamu lihat bagaimana aku Kapten, aku segalanya dari itu Kap-"


"Rio, tangkap perempuan tidak tau diri ini. Lakukan tugas lo yang sebenarnya." sahut Kenzo memerintah kan Rio sambil menatap sahabatnya yang di seberang sana bersama Danera sahabat dari Almira istrinya.


"Siap, bro." jawab Rio dengan nada santai lalu menarik lengan perempuan yang berbicara tadi dengan kasar membuatnya jatuh ke lantai sehingga menimbul kan suara dan teriakan dari mereka yang lain yang sangat terkejut melihatnya.


"KAPTEN, APA APAAN INI. SIALAN, SAYA- AKH..." teriakan dan kesakitan dari mulut perempuan yang di tarik kasar oleh Rio terus saja sambil menatap ke arah Kenzo yang di balas dengan tatapan tajam oleh pria tersebut.


Almira dan Danera sangat terkejut sehingga membuat mereka linglung secara mendadak dengan diam. Almira menatap ke arah Kenzo saat pria itu menarik pinggang rampingnya sehingga tubuhnya menempel dengan tubuh sang suami, hanya senyuman manis yang seperti biasa di tampil kan oleh Kenzo membuat Almira makin linglung tidak tau harus mengucap kan kata kata.


"Itulah akibatnya kalau kalian semua membuat istri saya tidak nyaman disini. Bubar sekarang." ujar Kenzo dengan nada perintah membuat para peserta langsung berlari terbirit birit dengan kepala menunduk sehingga yang ada di dalam aula pelatihan para anggotan Polisi dan Danera yang berada lumayan jauh dari Kenzo dan Almira.


"Kakak ipar." panggil dengan nada serempak sambil bernada tegas membuat Almira dan Kenzo menoleh ke arah para anggota Polisi yang sudah ada di depan mereka.


Almira menyerngit kan keningnya melihat mereka, berbeda lagi dengan Kenzo yang tersenyum kecil yang membuat para anggota Polisi bernafas lega melihatnya. Almira menoleh ke arah Kenzo yang mengusap puncak kepalanya dengan tangan kekar tersebut, tetapi saat melihat angguk kan kepala dari suaminya untuk para anggota Polisi dan di balas dengan angguk kan kepala juga dari mereka lalu hormat pamit ke arah Kenzo dan pergi dari aula meninggal kan mereka.


"Danera, thanks." ucap Kenzo dengan angguk kan kepala ke arah Danera yang sejak tadi menatap ke arah mereka berdua dengan diam.


Danera berdehem saja ke arah Kenzo, lalu menatap ke arah Almira yang tersenyum lebar dan menunjuk kan tanda jempol ke arah sahabatnya yang membalas dengan senyuman lalu Danera pergi dari aula tersebut.


Sekarang yang hanya ada di aula pelatihan adalah Almira dan Kenzo saja, lalu Kenzo membawa Almira ke tempat duduk di ruangan tersebut dengan menarik pergelangan tangan istrinya dengan gerak kan lembut dan Almira hanya menatap saja mengikuti sang suami tanpa menolak.


"Jangan jauhi aku lagi sayang, selama satu minggu ini aku seperti orang gila. Beruntung saja ada Rio yang menjadi pelampiasan amarah ku." ucap Kenzo dengan raut wajah cemberut menatap ke arah istrinya.


"Maafin aku Mas, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." balas Almira sambil merapih kan tatanan rambut hitam legam dari suaminya yang acak acak kan.


Kenzo langsung saja merebah kan kepalanya ke atas paha Almira sambil memejam kan kedua mata saat merasa kan usapan lembut dari tangan kecil Almira yang berada di keningnya. Kenzo sangat senang merasa kan usapan dari Almira, sangat nyaman bagi dirinya.


Hening, tiba tiba suasana menjadi sunyi dan sepi.


"Mas, terima kasih untuk semuanya. Dari awal pernikahan kita kamu sangat sabar menghadapi aku dan kamu sangat mencintai ku sedalam ini Mas. Aku malu sama kamu Mas, karena kamu yang berjuang untuk pernikahan kita dan cinta kamu. Tetapi aku akan membuat kita untuk berjuang satu sama lain, apa pun itu masalahnya aku pasti kan kalau kita selalu bersama." ucap Almira lalu tangannya berlalih ke sebelah pipi Kenzo untuk mengusapnya.


"Aku sekarang egois untuk memiliki kamu Mas, aku tidak mau jauh dengan kamu lagi Mas, aku tidak mau itu terjadi lagi. Maaf kan aku dengan satu minggu ini, tapi aku bisa belajar bagaimana berharganya kamu bagi aku Mas, aku merasa kehilangan saat kita jauh seperti satu minggu yang lalu. Lucu ya Mas, padahal waktu itu aku sangat benci sama kamu, tapi sekarang aku sangat mencintai kamu Mas." lanjut Almira lagi dengan terkekeh kecil meskipun tidak di jawab oleh lawan bicaranya karena Kenzo sedang tidur bagi Almira.


"Tapi sebenarnya aku masih bingung dan penasaran kenapa kamu waktu itu meninggal kan aku dan membuat aku benci sama kamu Mas, tapi kamu tidak pernah membahas masalah ini sama aku Mas. Padahal waktu itu aku sangat kecewa sama kamu Mas, apa yang kamu lakukan waktu itu masih membekas di dalam ingatan ku, aku masih ingat banget kesalahan kamu di masa lalu. Semoga kamu bisa memberi kan penjelasan ke aku, saat waktu itu tiba aku janji ke kamu untuk selalu ada di samping kamu Kenzo Sagara Samudra, sang suami ku." ujar Almira mendekat kan wajahnya ke wajah Kenzo, lalu.


Cup.


Almira mencium bibir seksi Kenzo hanya menempel saja tidak bergerak sama sekali lalu melepas kan dan Almira menyender kan kepalanya ke dinding yang ada di belakangnya lalu memejam kan kedua matanya.


Saat kedua mata Almira tertutup dan ada suara dengkuran halus dari perempuan itu, kedua mata pria yang ada di atas pahanya terbuka lebar lalu menatap wajah Almira dengan perasaan bersalah. Sebenarnya sejak tadi Kenzo hanya memejam kan kedua mata saja tanpa tertidur masuk ke alam mimpi, dirinya sejak tadi mendengar ucapan demi ucapan istri dengan perasaan tidak tentu.


Kenzo bangun dari tidurannya lalu duduk di samping sang istri dan menatap lekat ke arah Almira, tangan Kenzo terangkat ke arah wajah cantik istrinya dan mengusapnya pelan dan lembut.


"Maaf kan aku sayang, aku masih belum bisa memberitahu semuanya ke kamu. Maaf, aku ini memang pria pengecut, aku takut saat kamu tau alasan perilaku ke kamu di masa lalu, aku takut sayang." ucap Kenzo pelan dan mengangkat badan Almira membawa ke ruangannya.


Saat berada di jalan, Kenzo tau kalau mereka semua menatapnya meskipun menunduk tapi Kenzo tidak peduli kan. Kenzo mengelus bahu belakang Almira dengan lembut agar tidak terganggu dengan bisikan bisikan dari mereka, sebenarnya Kenzo ingin sekali menghentak mereka, tetapi saat mengingat kalau istrinya sedang tidur membuat Kenzo menunda rencananya agar tidak membuat Almira terbangun dari tidur nyenyaknya.


Kenzo membaring kan tubuh Almira ke kasur empuknya dengan pelan pelan, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut dan mengusap pelan.


"Perempuan tidak tau diri, bersiap lah untuk menikmati lah permainan yang kejam karena sudah membuat istri ku menjauhi ku. Pasti sangat menyenang kan." batin Kenzo menyeringai lalu mengecup bibir mungil Almira tanpa ada ******* dan pergi meninggal kan istrinya menutup pintu ruangannya dan tidak melupa kan untuk mengunci pintu tersebut agar tidak ada yang mengganggu waktu tidur istrinya.


***


"TOLONG LEPAS KAN SAYA, INI SANGAT SAKIT..."


Teriakan demi teriakan terus saja keluar dari mulut perempuan yang sedang di ikat kaki dan tangan di kursi besi sambil di taruh air panas di bawah yabg mengakibat kan kaki perempuan itu melepuh karena di masuk kan oleh Rio yang sedang menatap saja tanpa menghirau kan, Rio malah menikmati setiap teriakan kesakitan dari mulut perempuan itu karena dia juga butuh hiburan yang di tonton karena kesal dengan Danera yang terus saja ketus kepadanya. Mendapat kan tontonan saat ini membuat Rio terhibur dan senang secara bersamaan menatap perempuan tersebut.


Ceklek.


Pintu ruangan gelap terbuka membuat tatapan Rio dan perempuan yang sedang meringis kesakitan itu menoleh menatap, saat melihat pria tampan bertubuh tegap dengan tatapan tajam mengarah lurus ke depan membuat Rio tersenyum lebar, karena Rio menanti kan hiburan yang menyenang kan dari sahabatnya ini. Dirinya selalu terhibur dengan permainan menyiksa dari Kenzo yang pria baru saja masuk ke ruangan gelap mereka.

__ADS_1


Perempuan yang melihat Kenzo yang mulai mendekat ke arahnya membuat dirinya ketakutan dan gemetar tanpa sebab, Rio mengambil kan sebuah kursi untuk Kenzo lalu di terima dengan baik dan duduk di samping Rio yang sekarang berada di depan perempuan yang sedang bergetar ketakutan itu.


Sret.


Tiba tiba saja sato goresan ke arah pipi peempuan itu dari Kenzo membuat si cewek berteriak kesakitan yang malah di sambut baik oleh Rio dengan senyuman lebarnya, Kenzo menggores dengan silet kecil yang sejak tadi dia pegang tanpa sepengetahuan siapa pun yang sudah berkarat yang malah membuat perempuan itu makin kesakitan.


Kenzo menatap karyanya yang sedang mengeluar kan darah yang menguncur dan juga air mata yang terus berderai, tidak lupa juga suara ringisan kesakitan yang keluar dari mulut perempuan itu.


"Kau sudah membuat istri ku menjauh dari ku, perempuan tidak tau diri. Maka balasannya harus lebih kejam dari hukuman yang lain. Sepertinya main main dengan kematian mu sangat menyenang kan, benar bukan bro?" ucap Kenzo dengan nada rendah tidak main main lalu memberi kan pertanyaan menatap ke arah Rio sahabatnya yang tersenyum lebar.


"Benar banget, gue setuju. Itu pasti sangat menyenang kan, rasanya gue pingin Ken." balas Rio dengan nada semangat dan berbinar di kedua matanya.


Kenzo tidak membalas ucapan dari Rio, dia malah menggores lengan perempuan itu dengan silet yang sudah berkarat dengan cepat dan senyuman seringai yang membuat siapa pun yang melihat ketakutan.


Rio bertepuk tepuk tangan dengan semangat menatap perempuan yang makin manangis sangat kencang dan meminta ampun kepada Kenzo, Rio yang melihatnya saja merasa senang apalagi dirinya yang melaku kan seperti sahabatnya ini. Dia sangat ingin melaku kan seperti Kenzo, tapi melihat sahabatnya yang tidak membalas membuatnya mengubur hidup hidup keinginannya.


Srek.


Srek.


Dua goresan mendarat ke kening perempuan itu dan ke bibirnya sehingga bagian atas membelah dan mengeluar kan darah sangat banyak sehingga darahnya mengenai ke tangan Kenzo dan kaos hitam milik Rio yang membuat dua pria itu menatap jijik karena terkena darah kotor.


"Sialan." geram Rio menatap kesal dan jijik ke kaos hitamnya.


Berbeda dengan Kenzo yang memilih mengumpat di dalam hati sambil berteriak karena kesal juga melihat darah kotor yang ada di area tangannya.


"Sa- saya mohon, to- tolong am- ampuni saya, lep- lepas kan saya..."


Suara yang bernada terbata bata membuat tatapan kedua pria yang menatap darah kotor langsung teralih kan ke arah perempuan hang berada di depannya yang sudah bernafas tidak beraturan yang malah menimbul kan senyuman seringai terbit ke dua pria tersebut.


Mendengar nada mohon yang sudah sekarat membuat Kenzo maupun Rio merasa bangga dan senang dengan maha karyanya. Rio bertepuk tangan dengan gembira membuat Kenzo makin melebar kan seringainya, Kenzo dan Rio saling mengerti apa pun makanya mereka sudah bersahabat sejak lama.


Itulah nyatanya.


"Kau belum saatnya untuk ke neraka, perempuan hina." ucap Rio dengan nada penuh penekanan menyirat kan banyak makna di dalam kata katanya yang makin membuat Kenzo tersenyum seringai bangga kepada sahabatnya ini.


"To- tolong, jangan mem- membunuh sa- saya. Sa- saya masih mau i- ingin hidup, saya mo- mohon." ucapnya dengan nafas yang sudah mulai susah.


"Anda sangat sia sia berbicara seperti itu perempuan hina, karena anda akan menghampiri neraka dengan hukuman hukuman kecil dari kami. Di setiap perbuatan pasti ada akibatnya." ucap Rio lagi dan lagi dengan penuh penekanan dengan nada datar dan dingin seperti Kenzo.


"Kelamaan, ambil alat lo Rio, jangan banyak bicara." sungut Kenzo kesal karena sahabatnya ini terlalu banyak bicara, padahal dia ingjn cepat cepat menyiksa perempuan ini.


"Sabar elah, bro." ucap Rio dengan nada bercanda lalu berdiri dari duduknya mengambil senjata bambu yang sudah dia lincip kan di bagian ujungnya dan kembali duduk di samping Kenzo yang tersenyum seringai menatap perempuan itu yang tiba tiba memucat seluruh wajahnya.


Clep.


Tusukan dari bambu lincip yang ada di pegang oleh Rio menancap di paha kaki kiri perempuan itu membuatnya berteriak kesakitan, ini benar benar sakit dan malah saat Kenzo memotong jari jari yang berkuku panjang yang dia rawat membuatnya merasa kan makin sakit dan nyeri. Dirinya sudah tidak tahan untuk menahan rasa sakit yang dia terima dari pria yang berstatus seorang Polisi.


"Aku menyesal sudah membuat kesalahan ke istri dari Kapten Kenzo, bagi ku itu hanya lah masalah sepele saja tapi dapat balasan yang sangat kejam seperti ini." batin perempuan itu dengan sangat menyesal.


"Ada kata kata terakhir yang ingin kau ucap kan perempuan tidak tau diri?" tanya Kenzo sambil menusuk nusuk lengan perempuan itu dengan silet kecil yang berkarat itu.


"Bu- bunuh saja a- aku..." jawabnya yang sudab tidak kuat dengan rasa sakit yang dia terima dari mereka berdua.


"Permintaan di kabul kan." ujar Kenzo dengan nada santai tapi sangat menusuk.


Jleb.


Tusukan dari Rio mengenai jantung perempuan itu setelah mendapat kan kode dari Kenzo, sehingga banyak darah dari perempuan itu mengenai Kenzo dan Rio tentunya yang malah di balas dengan senyuman lebar menatap bangga pada karyanya. Lalu Kenzo dan Rio bertos ala ria dengan bangganya berdiri menatap, Rio langsung saja memfoto tubuh perempuan itu yang sudah tidak bernyawa seperti baiasanya pria itu lakukan.


Drt... Drt... Drt...


Ponsel Kenzo berdering membuat langkah mereka berhenti di luar pintu ruangan gelap tersebut, Rio menatap Kenzo yang sedang menatap layarnya yang bertulis kan nama Edo dengan cepat pria itu menggeser tombol hijau meskipun di bantu oleh Rio karena tangannya yang sebelah banyak sekali terkena darah kotor itu, lalu tidak lupa menloudspeker.


"ROY KABUR."


Tut...

__ADS_1


"Sialan..." umpat kedua pria itu dengan raut wajah gelap.


__ADS_2