Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SERATUS ENAM


__ADS_3

"Akh... Kenapa rasa sakit ini muncul lagi..."


Jeritan tertahan dari dalam kamar mandi yang tidak ada yang mendengar atau pun mengetahui kalau di dalam kamar mandi ada seseorang yang sedang kesakitan menahan, menempel kan tubuhnya ke dinding dingin sambil memejam kan kedua matanya yang sudah berada di atas lantai dingin kamar mandi.


Kedua tangan Kenzo sudah berada di kepalanya lalu menarik narik erat surai hitam legam yang sudah acak acak kan, rasa sakit makin menjalar di area kepalanya sampai sampai membuat tubuh kekar milik Kenzo limbung terbaring ke lantai dingin kamar mandi, tidak mempeduli kan pakaian yang dia pakai sudah basah atau pun lecet, Kenzo tidak mempeduli kan karena rasa sakit yang makin membuat dirinya kesakitan tidak bisa di acuh kan.


"Plis, jangan... Ku mohon..." lirih Kenzo dengan suara sangat pelan karena menahan rasa sakit yang makin menjalar di area kepalanya.


Kepala Kenzo sudah terbenam di bawah karena dirinya menyembunyi kan raut wajah kesakitan dirinya, Kenzo tidak mau untuk melihat raut wajah kesakitan dirinya sendiri, karena itu membuat Kenzo sangat kesal saat melihatnya.


Kenzo mencoba untuk berdiri dari terbaringnya, tetapi saat akan duduk tiba tiba rasa sakit di kepala mulai terasa lagi sehingga membuat Kenzo harus terbaring lagi untuk mereda kan rasa sakit di kepalanya sendiri.


Kenzo sangat tersiksa sekali dengan keadaan sekarang ini, dirinya ingin menyerah tetapi saat mengingat sang istri dan calon anaknya membuat Kenzo bersemangat lagi dan tidak mau untuk menyerah karena penyakit yang dia dera.


"Aku tidak boleh menyerah, tidak boleh." gumam Kenzo dengan nada pelan sambil menyanggah sebelah tangannya agar bisa bangkit dari tidurannya.


Dengan perlahan, Kenzo dari mulai duduk lalu berdiri dengan memegang dinding kamar mandi meskipun dirinya merasa kan rasa sakit yang makin membuat Kenzo pimgsan tetapi dia mencoba untuk menahannya.


Ceklek.


Membuka kamar mandi dengan pelan sambil menunduk tidak tau ada seseorang yang sedang duduk di kursi langsung menatap ke arah Kenzo yang mulai mendongak kan wajahnya, seorang yang sedang duduk menatap ke arah raut wajah pucat Kenzo dan Kenzo juga terkejut mendapati Almira yang sedang menatap ke arahnya.


Kenzo ingin membuat senyuman manis tetapi rasanya sangat susah sekali, sehingga hanya raut wajah pucat saja yang terlihat di kedua mata sang istri yang sedang sangat khawatir.


"KENZO." teriak Almira karena terkejut saat suaminya itu jatuh ke lantai dingin menjadi tengkurap membuat ada beberapa langkah kaki yang sangat cepat mendekat ke kamar mereka.


"Ada apa?" tanya Edo dengan nada khawatir menatap Almira yang sedang menggoyang goyang kan tubuh kekar milik Kenzo ke kanan dan ke kiri.


"Bang, Kenzo tiba tiba pingsan dan tadi wajahnya pucat." tangis Almira yang sudah banyak sekali air mata yang turun membuat mereka semua langsung mendekat ke Almira dan Kenzo tentunya dengan pandangan khawatir yang tercetak jelas.


"Apa Kenzo mulai kambuh lagi?" gumam Rio yang masih bisa di dengar oleh semua orang.


Semua yang ada di sana langsung saja makin khawarir atas gumaman dari Rio, berbeda lagi dengan Almira yang menatap bingung dan heran karena tidak tau apa apa yang mereka maksud.


"Langsung bawa ke rumah sakit saja." perintah Ayah dari Kenzo saat melihat Rio sudah menggendong tubuh kekar milik Kenzo yang masih memejam kan kedua matanya dan raut wajah yang sangat pucat sekali.


Saat semua orang sudah mulai menjauh, Edo akan ikut juga tetapi dia berhenti karena ada sebuah tangan yang mencengkal lengannya dan langsung saja menoleh mendapati Almira yang menatap dirinya dengan pandangan yang sulit di arti kan.

__ADS_1


"Apa maksud semua ini Bang? Kenzo kambuh apa?" pertanyaan dari Almira membuat Edo menegang di tempat karena bingung harus menjawab apa.


Edo terdiam menatap ke arah Almira membuat perempuan itu yang tidak mendapat kan jawabannya dari Abang sepupunya merasa jengkel.


"Bang, apa? Kasih tau aku semuanya apa yang sebenarnya terjadi sama Kenzo? Aku ini istrinya, Bang." ucap Almira dengan nada penuh penekanan di setiap katanya.


Edo yang mendapat kan respon seperti itu dari Almira, langsung saja membawa Almira untuk duduk terlebih dahulu ke kasur empuk karena Adek sepupunya itu sedang mengandung besar.


"Abang akan cerita semuanya, tetapi kamu jangan menyela pembicaraan Abang atau pun pertanyaan apa pun itu. Mengerti, Dek?" ucap Edo sambil mengelu elus puncak kepala Almira yang memakai hijab instannya.


Almira mengangguk mantap membuat Edo menarik nafas dalam dalam karena dirinya akan bercerita panjang kali lebar, bagi Edo berbicara panjang dan banyak akan membutuh kan tenaga ekstra.


"Sebenarnya saat di masa lalu, Kenzo membuat kamu benci dirinya itu ada alasannya, yaitu penyakit yang dia dera. Saat kecil Kenzo harus pergi ke luar negeri untuk waktu lama tidak tau sampai kapan, makanya dia memilih untuk membuat kamu benci sama dia agar kamu tidak tertekan saat Kenzo pergi dari hidup kamu. Waktu kecil dia sudah di vonis untuk hanya bisa bertahan hidup beberapa bulan lagi, makanya dia membuat kamu jadi benci sama Kenzo. Lalu saat Kenzo pergi ke luar negeri ternyata penyakitnya bisa di sembuh tetapi tidak sepenuhnya karena bisa saja penyakit itu tumbuh lagi di kepala Kenzo. Beberapa hari ini Kenzo sudah merasa kan penyakitnya kambuh lagi seperti dulu dan dia juga sudah datang ke Dokter, tetapi jawaban Dokter itu yang membuatnya kesal." ucap Edo satu tarik kan nafasnya lalu membuang helaan nafas tersebut dan menatap ke arah Almira yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit di arti kan seperti sebelumnya.


"Kenzo di vonis oleh Dokter hanya beberapa hari saja dia bisa bertahan, tetapi tidak tau juga dengan kekuatan Allah yang mentakdir kan bagaimana kepada hidup Kenzo. Sekarang kamu sudah tau alasannya Kenzo saat dia membuat kamu benci di masa lalu Almira, sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa saja kepada Allah agar Kenzo tidak pergi. Sekarang ayo kita pergi ke rumah sakit karena Abang sudah dapat pesan dari Rio, di mana Kenzo di rawat." ujar Edo sambil mengajak Almira dengan berdiri dari duduknya menatap ke arah sang Adek sepupunya itu.


"Abang saja, aku tidak ikut, aku disini saja." tolak Almira dengan pandangan yang lurus ke depan tanpa menatap ke arah Edo sama sekali.


"Tapi-"


"Abang pergi dulu ya Dek, jangan banyak pikiran yang aneh aneh. Ingat, kamu sedang hamil. Kalau ada kabar tentang Kenzo pasti Abang kasih tau ke kamu." ucap Edo sambil mengelus puncak kepala Almira dengan lembut lalu pergi meninggal kan Almira sendiri di dalam kamar.


Saat Edo sudah berada di ambang pintu, Edo membalik kan badannya ke belakang menatap Almira yang masih mempertahan kan seperti sebelumnya tanpa bergerak sedikit pun. Sebenarnya Edo sangat khawatir dengan Almira, tetapi dirinya faham dengan apa yang di rasa kan oleh perempuan itu agar memberi kan waktu sendiri terlebih dulu.


Almira itu sama seperti Edo kalau ada masalah pasti ingin waktu sendiri.


Ceklek.


Pintu tertutup membuat Almira menunduk kan wajahnya menatap perut besarnya dengan pandangan sendu dan sedih.


"Apa ini semua, Ya Allah..." lirih Almira pelan sambil mengelus elus perut besarnya tanpa mengalih kan pandangan dari kandungannya.


***


"Dimana istri ku? Almira, dimana?"


Pertanyaan beruntun dari mulut pria yang sedang terbaring lemah di brankar baru aaja membuka kedua mata langsung bertanya tentang istrinya saat melihat ke sekeliling tidak ada perempuan di cintainya. Mereka semua yang melihat wajah cemas dari Kenzo meskipun masih ada raut wajah pucat di area wajahnya, tetap saja masih terlihat jelas raut wajah cemas dari pria tersebut saat tidak melihat sang istri tercinta di sampingnya.

__ADS_1


Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Kenzo, karena mereka juga bingung harus menjawab apa. Takut kalau penyakit Kenzo kambuh lagi saat mendapati kebenaran kalau sejak tadi tidak ada Almira, Edo sudah memberitahu kan semua orang kecuali Kenzo tentang Almira yang ingin sendiri terlebih dahulu karena Almira sudah mengetahui rahasia yang di sembunyi kan Kenzo selama ini.


Mereka juga faham dengan perasaan Almira yang sekarang sedang hamil besar.


"Dimana Almira ku? Sayang, kamu dimana sayang... Sayang, aku akan cari ka-"


"Aku disini, Mas."


Sahutan dari seseorang yang berada di ambang pintu ruang rumah sakit, mereka semua mengenal nada suara membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut serempak menoleh ke arah ambang pintu yang menampil kan Almira sedang tersenyum ke arah mereka semua.


"Sayang..." rengek Kenzo sambil merentang kan kedua tangannya untuk memeluk, tetapi Almira lebih dulu mencegah dengan geleng geleng kepala.


"No no no, kamu kalau peluk selalu erat. Kasihan anak ku, nanti malah kegencet." jawab Almira lalu berjalan duduk di samping Edo dan Justin sehingga dirinya berada di tengah tengah sambil menatap santai ke arah Kenzo yang sudah kesal menampil kan raut wajah datar.


"Bang Edo sudah makan? Justin sudah makan? Bang Alex sama Bang E-"


"Sayang......." rengek Kenzo panjang memotong ucapan Almira yang sedang perhatian kepada sepupu laki lakinya membuat Kenzo makin kesal dengan perempuan hamil itu.


"Apa?" tanya Almira dengan raut wajah tanpa bersalahnya karena bagi perempuan itu tidak membuat kesalahan apa pun.


"Gak peka, yaudah." ujar Kenzo lalu membaring kan tubuhnya ke brankar lagi dan membalik kan badan memunggungi mereka semua yang cengo kecuali Almira yang terkekeh kecil.


Almira memberi kan isyarat untuk mereka semua agar keluar sebentar karena dirinya ingin membujuk bayi besarnya terlebih dahulu, padahal Almira sebenarnya tidak mau bertemu Kenzo terlebih dulu, dirinya ke rumah sakit untuk bertemu dengan Justin dan Edo untuk menanya kan bagaimana kesehatan suaminya itu yang lebih jelas lagi.


Mereka semua faham, lalu satu persatu mulai keluar dari ruangan Kenzo dan menutup pintu membuat Almira berdiri berjalan ke arah brankar tempat Kenzo terbaring.


"Tadi saja cariin aku, sekarang aku sudah disini malah kamu cuekkin." ucap Almira membuat telinga Kenzo memerah karena salting lalu membalik kan badannya menatap Almira.


Betapa terkejutnya saat Almira tiba tiba mengecup bibirnya singkat dan tersenyum manis yang terlihat aangat cantik di kedua mata Kenzo.


Cup.


Kenzo memerah seluruh wajahnya menatap Almira.


Kenzo salting dan baper menjadi satu, hanya satu orang yang bisa membuat Kenzo seperti itu.


Almira Sayyida Alindra.

__ADS_1


__ADS_2