Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

"Kamu duduk disini saja ya, jangan ganggu aku loh. Awas saja kalau kamu ganggu saat aku sedang bekerja, gak akan ada rutinitas malam hari."


Ucapan Almira membuat Kenzo langsung menatap ke arahnya dengan pandangan terkejut dan Almira malah membalas dengan mengacuh kan pria tersebut.


Melihat Almira sudah duduk di kursi besarnya dan tatapan mata gadis itu sudah mengarah ke laptop yang berada di depannya. Kenzo langsung duduk juga di sofa yang bisa langsung melihat Almira di depannya, tapi jaraknya sedikit jauh dengan tempat duduk Almira.


Almira menoleh ke arah Kenzo yang sudah memain kan ponselnya dengan tenang dan tatapan datar seperti biasa, Almira menyanggah dagunya lalu menatap Kenzo dengan pandangan terpesona karena saat pria yang berperan menjadi suaminya itu sangat tampan saat memakai pakaian santai tapi bewarna hitam.


Tidak di sengaja ternyata Kenzo menoleh ke arah Almira juga sehingga mereka saling menatap lalu Kenzo mengangkat sudut bibirnya tercetak senyum tipis tapi bagi Almira sangat menawan dan manis senyuman itu sehingga gadis itu juga tersenyum lebar.


"Betapa beruntungnya aku di cintai kamu sebesar itu, Ken. Aku tidak tau itu cinta atau obsesi saja, tapi meskipun kamu cuman obsesi aku bersyukur, Ken." gumam Almira sangat pelan tidak bisa di dengar oleh Kenzo tentunya, setelah itu Almira memutus kan pandangan mereka lalu beralih ke arah kertas kertas yang ada di depannya.


Kenzo masih menatap selidik ke arah Almira, sedikit mengerut kan kening saat dirinya tidak sengaja melihat gerak gerik mulut Almira yang seperti sedang berbicara.


Saat Kenzo berdiri akan menghampiri meja Almira, saat itu juga suara pintu dari luar mengetuk terdengar sehingga dirinya duduk kembali sambil memain kan ponsel lagi.


"Masuk." ucap Almira sedikit keras membuat pintu itu terbuka menampil kan dua pegawai perempuan dan laki laki yang sama sama masih kelihatan muda.


Kedua pegawai tersebut berjalan menghampiri meja Almira dengan pandangan menunduk, tapi saat melihat Kenzo menatap mereka langsung saja mengangguk kan kepala sambil tersenyum tapi Kenzo hanya membalas dengan angguk kan kepala saja lalu memain kan ponsel lagi.


Brak.


Suara gebrak kan meja membuat ketiga manusia menoleh bersamaan ke arah Almira yang habis melempar kan map bewarna biru ke meja kacanya sangat keras sehingga menimbul kan suara.


Kedua pegawai itu langsung menghadap ke arah Almira dengan menunduk, berbeda lagi dengan Kenzo yang memandang Almira dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sampah. Laporan seperti apa ini, hah?" ucap Almira dengan nada dingin dan tegas membuat kedua pegawai itu sudah sangat ketakutan.


Hening, suasana menjadi sunyi dan mencengkam.


"Dimana senior El? Apa senior El tidak memberi arah ke kalian? Saya tau kalau kalian masih baru disini, tapi jangan seperti sampah. Membuat laporan dan hasil nyata tidak sama, sama sekali." ujar Almira dengan menunjuk nunjuk ke arah kedua pegawai itu dengan map laporan mereka.


"Ambil ini dan kerja kan lagi dengan benar." suruh Almira dengan menghela nafas panjang karena gadis itu tidak habis pikir dengan mereka yang sudah bekerja satu tahun lebih tapi kinerja masih seperti pemula sekali.


"Baik bos dan maaf kan kami." ujar salah satu pegawai di depan Almira dengan menunduk kan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan keluar." ucap Almira dengan angguk kan kepala.


Setelah itu kedua pegawai berjalan keluar tanpa menoleh ke arah Kenzo, mereka hanya menunduk saja sudah sangat takut dengan Almira. Saat suara pintu sudah tertutup, Almira berdiri lalu berjalan cepat menghampiri Kenzo yang sedang menatapnya dengan diam.


Grep.


Almira menubruk kan badannya ke Kenzo sehingga kepala gadis itu sudah bersandar ke dada bidang Kenzo sambil memeluk pinggang pria itu.


"Mas, kesel ih. Mereka tidak becus banget kinerjanya, sebel banget Mas..." suara rengek kan dari mulut Almira membuat Kenzo tersenyum lembut sambil mengelus puncak kepala Almira dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Rengekkan demi rengekkan terus saja Almira keluar kan membuat Kenzo makin melebar kan senyumannya melihat Almira yang sedang manja kepadanya, dia sangat senang kalau Almira manja kepadanya.


Hati Kenzo sekarang sedang berbunga bunga dan Kenzo mengerat kan pelukan mereka.


"Aku mencintai mu, sayang. Sedikit terkejut sih kamu bisa bersikap seperti itu juga, tapi saat bersama ku kamu sangat manis. Aku sangat mencintai mu paling dalam." batin Kenzo sambil mengecup puncak kepala Almira dengan lembut yang malah membuat Almira nyaman.


***


"Bagaimana dengan rencana kita? Gagal atau berhasil?"


"Gagal, tidak tau kenapa Almira menghindar. Padahal dulu, gadis bodoh itu sangat mencintai gue dan buat Omanya gak suka sama gue. Tapi Almira malah pilih gue, sekarang sangat beda sekali meskipun gue ada di kota sama." jawab pria sambil menghela nafas dengan pandangan tidak percaya menatap lurus ke depan menatap gadis yang menggeram kesal.


"Memang lo pakai cara gue gak?" tanya gadis itu dengan mengaduk adukkan minumannya.


"Sudah, sudah gue pakai. Sama sekali tidak ada hasilnya, gadis bodoh itu seperti sudah benci sama gue." balas pria itu sambil meminum coffe dengan nikmat.


"Kalau begitu, kita harus membuat rencana kedua buat gadis bodoh itu. Lo tau kan bagaimana perusahaan yang sekarang di pegang sama gadis bodoh itu, kalau kita bisa mengambil perusahaan itu dan kasih kan ke Kakek, pasti kita akan mendapat kan semua yang kita ingin kan. Dulu memang Kakek kalah dengan wanita tua yang sudah meninggal itu, tapi sekarang wanita tua itu sudah tidak ada dan hanya ada gadis bodoh. Jadi, mari buat rencana kedua yang sangat menyakit kan untuk gadis bodoh itu." ujar gadis itu dengan senyuman menyeringai membuat pria yang ada di depannya juga tersenyum misterius.


Tanpa mereka ketahui, kalau sedari tadi ada seorang pria yang mendengar pembicaraan mereka dari awal sampai akhir.


Pria memakai baju hitam, celana hitam, dan juga memakai topi bewarna hitam menutupi wajahnya sehingga tidak ada yang siapa pria tersebut.


Pria bertopi hitam itu mendongak kan kepalanya menarap ke meja duduk dua manusia yang berbeda gender itu dengan pandangan tajam dan menusuk tanpa di sadari oleh kedua manusia itu.


"Tidak akan ku biar kan kalian mendapat kan perusahaan Oma Diana lewat Almira, kalian maju saya akan juga maju buat membasmi kalian. Roy, Ella, tunggu saja hari dimana kalian jatuh sangat dalam karena saya. Itu pasti sangat menyenang kan melihat kalian memohon kepada saya dan sepupu tersayang saya." ucap pria bertopi bewarna hitam lalu berjalan pergi keluar dan tidak lupa membayar ke kasir untuk minumannya.

__ADS_1


Saat sudah keluar dari caffe tersebut, pria yang bertopi itu langsung saja memasuki mobil bewarna hitamnya dan melepas topi dan maskernya, terlihatlah wajah tampan dan pandangan tajamnya.


"Baru sampai di Indonesia sudah mendapat kan sambutan yang sangat memuak kan, mendengar suara mereka mengucap kan sepupu tersayang ku dengan panggilan gadis bodoh, rasanya ingin sekali merobek mulut mereka sampai ke mata." ujarnya dengan pandangan lurus ke depan sambil menghidup kan mobilnya lalu berlalu.


"Aku, Edo Sayyid Alindra akan membasmi kalian sampai ke keluarga kalian dengan rata tanpa ada sisa. Tunggu saja psikopat gila ini datang untuk menjemput kalian." ucap Edo dengan senyum mengerikan terpampang jelas di wajahnya.


"Akhh... Aku jadi merindu kan sepupu tersayang ku..." jerit Edo melebar kan senyum membayang kan Almira, dengan cepat pria itu mengemudi kan mobilnya.


***


"Siapa pria itu, sangat tampan..."


"Betul, sangat tampan. Apa dia pangeran tampan dari kerajaan..."


"Sepertinya lebih dari pangeran, karena dia sangat tampan dan berkharisma..."


"Huuhh, aku sangat ingin menjadi pacarnya..."


"Kamu sama dia, tidak cocok sama sekali..."


"Hahahaha...."


"Diam kalian, kembali bekerja." suara menusuk membuat para perempuan langsung terdiam dan menoleh ternyata itu suara dari Bos mereka dan di sebelah suaminya dengan pandangan datar ke arah mereka semua.


Saat kedua mata Almira menoleh ke arah pintu, langsung saja kedua bola mata Almira melotot karena terkejut melihat pria yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Bang Edo?" gumam Almira membuat Kenzo menoleh ke arah yang di tatap sama gadis itu.


"Edo?" gumam Kenzo membuat Almira tersadar lalu menatap ke arah Kenzo dengan pandangan bertanya dan di balas oleh pria itu mengangguk sambil mengusap puncak kepala Almira dengan lembut.


Almira berjalan cepat ke arah pria itu dan di ikuti Kenzo karena mereka saling memegang tangan tanpa ingin lepas.


"Bang Edo beneran ada di sini? Ini bukan halusinasi aku kan?" tanya Almira dengan pandangan tidak percaya.


Pria tersebut dengan cepat mencubit sebelah pipi Almira membuat kedua mata gadis itu yang tadi menatap ke arah Kenzo langsung menatap ke arah pria yang serba hitam itu.

__ADS_1


Almira langsung masuk ke dalam pelukan pria itu dengan erat membuat pria itu tersenyum tipis, sangat tipis sehingga yang tau kalau pria itu sedang tersenyum hanya Kenzo yang menatap saja.


__ADS_2