Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TUJUH PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"Apa semuanya sudah beres? Saya tidak mau ada kesalahan sekecil pun, karena nanti malam adalah hari bahagia saya dan istri tercinta saya. Awas saja kalian semua tidak berguna, siap siap saja kalian akan terpisah dengan keluarga kalian masing masing. Ingat itu."


Setelah selesai mengata kan kata kata yang sangat menyeram kan bagi semua orang yang berada di dalam ruangan caffe tersebut merinding karena takut, lalu saat kedua mata tajam menatap mereka langsung saja mereka semua kembali mengerja kan yang tertunda.


Langkah kaki membawanya untuk keluar dari caffe tersebut, tiba tiba saja saat berada di ambang pintu dia berhenti karena ponsel yang berada di saku jasnya berdering sambil bergetar.


Melihat nama gadis yang dia cintai di layar ponselnya membuat pria itu tersenyum kecil tanpa ada yang menyadari karena dirinya langsung saja merubah raut wajahnya, tapi dalam tatapan kedua matanya terpancar berbinar karena senang dan bahagia.


Kebahagiaan sangat sederhana, hanya karena seseorang yang kita cintai saja.


"Assalamualaikum Mas, kamu dimana sih? Katanya kamu akan jemput aku, tapi apa kenyataannya? Tidak kan, menyebal kan." cerocos gadis yang di seberang tanpa henti dengan nada kesal membuat pria itu menatap jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya.


Raut wajah terkejut dengan melotot kan kedua mata saat melihat jam tangan yang menunjuk kan pukul empat sore, dirinya sangat lupa sekali karena menyiap kan sesuatu nanti malam.


"Waalaikum salam, sayang aku minta maaf. Aku jemput seka-"


"Tidak perlu Mas, aku menelfon kamu untuk izin keluar. Ada sesuatu yang penting tidak bisa aku tinggal kan, aku sudah berada di perjalanan. Kalau gitu aku tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum Mas, sepertinya aku pulangnya malam banget. Tidak perlu menunggu aku pulang, kamu langsung tidur saja." sahut Almira langsung memotong ucapan Kenzo membuat pria itu terdiam kaku di ambang pintu caffe tersebut.


Tut... Tut... Tut...


Sambungan terputus oleh sepihak dari seberang, Kenzo masih saja diam tanpa bergeming ke mana pun.


Dengan tatapan kosong, Kenzo menurun kan teleponnya lalu menatap layar yang sudah menjadi hitam gelap seperti perasaan di dalam hatinya yang tiba tiba sedih dan hampa.

__ADS_1


Kenzo mencengkram ponsel yang berada di genggamannya sangat erat sehingga menimbul suara retak yang cukup keras membuat mereka yang sedang menata caffe tersebut menoleh ke arah Kenzo yang sudah memerah membuat mereka semua meringis takut secara bersamaan.


"Padahal, sekarang adalah hari ulang tahun aku Al. Mimpi ku selama ini ternyata tidak terwujud." ucap Kenzo dengan nada pelan, sangat pelan sehingga tidak ada yang bisa mendengar lalu pergi meninggal kan caffe tersebut dengan perasaan marah dan dongkol.


Di lain tempat, seorang gadis memakai baju formal memasuki restoran yang sangat mewah dengan anggun dan pandangan lurus ke depan tanpa memperduli kan orang orang yang sedang menatapnya memuja.


Seorang pria melambai kan tangan ke arah Almira membuat gadis itu menampil kan raut wajah datar tanpa ekspresi saat melihat si pelaku. Almira berjalan dengan santai ke arah meja proa tersebut yang menampil kan raut wajah senang dan tersenyum lebar sehingga membuat Almira sangat muak melihatnya, betapa bodohnya dirinya dulu pernah menyukai pria yang berada di depannya yang saat ini.


Di lihat lihat dari wajahnya, bagi Almira lebih tampan dan keren suaminya dari pada mantan pacarnya yang sekarang di depannya.


"Sepertinya dulu gue buta deh, mau aja sama cowok yang seperti ini. Ngeri gue..." batin Almira masih menampil kan raut wajah datar meskipun di dalam hatinya menjerit muak.


"Kita makan du-"


Lama mereka diam, Almira tidak mengetahui kalau Roy sedang menatap sekeliling seperti mencari seseorang dan menatap ke arah pintu masuk itu terus.


Saat melihat tubuh tegap itu masuk dengan wajah datar tapi kening pria itu mengerut bingung, Roy tersenyum seringainya saat melihat tatapan tajam itu menatap ke arahnya sehingga pria itu tau siapa yang sedang duduk dibtempat tersebut.


Roy makin menyeringai saat melihat wajah memerah menahan marah dan emosi dari pria di ambang pintu tersebut menatap dirinya dan Almira, Roy tersenyum mengejak ke arah pria itu dengan wajah menjengkel kan yang malah membuat pria yang di ambang pintu mengepal kan kedua tangan di samping badannya lalu berjalan tempat duduk yang tidak jauh dari mereka.


Sebenarnya pria itu sangat ingin menghampiri Almira bersama mantan pacarnya, tapi mengingat ucapan Almira kalau gadis itu sedang ada sesuatu yang penting.


"Jangan terburu buru sayang, kita nikmati saja acara makan malam ini dengan bahagia. Aku tau kok, pasti kamu bersama pria tua itu pasti tertekan dan tidak menyukai." ujar Roy yang tiba tiba membuat Almira melotot kan kedua mata terkejut mendengar ucapan kurang ajar dari mulut pria tersebut.

__ADS_1


Saat Almira akan membuka suaranya, suara Roy lagi menyahutnya tidak membiar kan Almira berbicara sedikit pun membuat gadis itu mengepal kan kedua tangan sangat erat menyalur kan kekesalannya.


"Kamu mengingatnya tidak, kalau kita sering sekali ke taman dan bersenang senang meskipun kita hanya main kejar kejaran lalu beli ice cream. Waktu itu kamu tertawa sangat bahagia dan lepas sayang, meskipun kamu sudah mempunyai suami ternyata kamu masih mencintai ku. Terima kasih sayang, aku sangat senang atas kedatangan kamu dan hubungan kita seperti dulu lagi. Aku sangat senang sayang, tenang saja suami mu tidak akan tau kalau kita menjalin hubungan lagi di belakangnya." jelas Roy yang membuat Almira melotot kan kedua mata tidak terima dengan ucapan pria tersebut, tidak jauh beda lagi dengan pria yang berada di belakangnya yang sedari tadi mendengar.


"Ap-"


"Tenang saja sayang, hubungan kita tidak akan ada yang tau. Aku akam merahasia kan hubungan kita ini dengan rapat, benar kan ucapan ku kalau kamu memang masih mencintai ku dan tidak mau pergi dari ku." sahut Roy memotong ucapan Almira lagi yang menbuat gadis itu menghela nafas lelah yang malah salah di artikan oleh pria yang berada di belakangnya.


Pria itu berdiri dari tempat duduk dan pergi meninggal kan mereka dengan perasaan campur aduk, tidak kuat mendengar ucapan mereka selanjutnya yang membuat hatinya merasa kan nyeri dan sakit sekali.


Roy tersenyum tipis saat melihat punggung tubuh Kenzo yang sudah keluar dari restoran tersebut.


"Rencana dua sudah berhasil, tingga rencana selanjutnya." batin Roy dengan perasaan senang.


Plak.


Tamparan yang sangat keras dan nyaring sehingga membuat para pengunjung menatap ke arah tempat meja Almira dan Roy menjadi pusat perhatian, Almira lah si pelaku menampar sebelah pipi Roy karena sudah sangat muak dengan ucapan ucapan tidak jelas baginya, itu sangat menjengkel kan bagi Almira.


"Lo, cowok jelek sedunia. Jelek dari hati dan juga jelek di wajah lo, sangat sangat jelek dan tidak pantas di terima sama perempuan di luar sana. Gue pasti kan, lo akan di hujat oleh seluruh dunia atas perilaku lo dan ucapan lo. Gue sama sekali tidak sudi sama lo lagi, karena gue sudah dapat pria yang sangat tampan dan terbaik, lo tidak ada apa apanya kalau di sanding kan sama suami gue. Lo itu cuman sampah yang tidak ada yang memungut, sangat merendah kan. Jangan pernah lagi lo hubungi gue, kalau lo hubungi gue lagi maka siap siap lo akan tersiksa di dunia ini karena gue. Camkan itu? Lo pasti tidak lupa kan sama apa yang gue punya sekarang? Di banding kan sama lo sangat berbeda jauh. Ingat ucapan gue tadi." sentak Almira dengan nada keras sehingga para pengunjung menatap heboh dan bersorak karena mereka juga sebenarnya melihat dari awal sampai akhir, ada pula yang merekam.


Almira pergi dari restoran dengan dagu terangkat yang malah membuat mereka semua terpesona, saat Almira sudah tidak terlihat lagi.


Para pengunjung menyorakki Roy sehingga membuat pria itu malu karena di seret oleh satpam restoran dengan kasar.

__ADS_1


"Pertunjuk kan yang sangat menyenang kan, sepupu ku memang yang terbaik. Padahal aku belum ikut campur tangan dengan masalah ini, tapi adik perempuan ku sudah mengatasinya. Dek, kamu sudah dewasa, Abang bangga dan senang melihatnya. Oma, cucu kecil mu sudah menjadi dewasa." gumam pria yang memakai jaket hitam dan topi bewarna hitam duduk di pojok kan dengan senyuman kecilnya tanpa ada yang menyadari.


__ADS_2