
"WAHAI PARA BABU... KELUARLAH."
Teriakan sangat kencang dari luar rumah, sangat-sangat keras hingga semua penghuni rumah keluar dengan tergesa-gesa.
"HEH, LO! DIEM LO, INI RUMAH BUKAN HUTAN! OON!"
Sahutan Danera dengan suara cempreng melengking membuat orang yang berada di sampingnya langsung menutup telinga masing-masing.
Belum selesai suara melengking dari Danera, orang yang berada di luar rumah berteriak lebih kencang lagi.
"WAHAI PARA BABU, BUKALAH PINTU INI, SANG PANGERAN TELAH TIBA DI KEDIAMAN."
Danera dengan kesal langsung membukakan pintu secara paksa dan kasar membuat mereka semua hanya bisa mengelus dada.
"LO NGAPAIN TERIAK-TERIAK, HAH? PANGERAN, PANGERAN, PANGERAN KODOK HAH." bentakan Danera di depan wajah yang menatap bingung kearahnya.
Wajah yang cengo membuat Danera makin emosi dan kesal tentunya. Tanpa aba-aba, Danera menarik rambut hitam legam yang sudah rapi membuat rusak.
Sang empu meringis kesakitan dengan wajah sedih yang di tampilkan, semua yang ada di dalam rumah terkejut dengan Danera yang menarik seorang pria berpakaian dinas Polisi.
Mereka makin syok, saat jambakkan Danera sakit bukan main.
Pasti sakit tuh, pikir mereka dan meringis melihat raut wajah kesakitan Rio.
Yap, orang itu adalah Rio, sahabat Kenzo dan juga patner kerja Kenzo.
"Akh... Lepasin." lirih Rio mencoba melepaskan tangan Danera yang berada di rambut klimisnya.
Tapi, itu hanya sia-sia belaka. Rio juga bingung, apakah Danera ini keturunan Samson betawi atau Gatot Kaca.
Tenaganya sangatlah, kuat.
"Salah lo sendiri, main teriak-teriak di depan rumah orang. Sudah tau waktunya istirahat, malah lo ganggu waktu tidur berharga gue!" ucap Danera penuh penekanan membuat nyali Rio menciut.
***
"Ada apa ini?"
Suara yang sangat kentara sekali bahwa dirinya sedang bertanya dengan bingung, mereka semua menoleh bersamaan mendapati Almira dan Kenzo yang menampilkan raut wajah bingung.
Tak ada jawaban dari mereka semua, hanya ada senyuman menggoda kecuali Nera yang hanya menampilkan raut wajah senyum sangat kecil hingga tidak ada yang tahu.
"Wah... Pasutri baru sudah bangun."
__ADS_1
Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dengan senyum menggoda dari mulut Rio yang masih di tarik oleh Danera rambutnya.
"Lo ngapain pakai baju dinas kesini?" tanya Kenzo dengan wajah datar dan bersuara sangat dingin.
Diam-diam, ketiga paruh baya menghela nafas lelah menatapnya yang masih sama tidak berubah.
"Mau jemput lo lah, biar bisa berangkat bareng!" jawab Rio dengan cepat melepaskan tangan Danera dari rambutnya.
"Iyuhhh.... Lo gay ya, iihhh..." decih Danera dengan wajah tengilnya bagi Rio.
Tangan Rio mengusap wajah Danera membuat si empuk memekik kesal dan memukul-mukul lengan Rio yang kekar berotot.
"Pikiran lo!" kata Rio dengan nada kesal dan raut wajah yang sangat jelek bagi Danera.
Saat Danera akan menjawab ucapan Rio, papa dari Kenzo memotongnya dengan kalimat.
"Kenzo libur dua hari dulu, Rio." ujar papa Kenzo membuat Rio membelalakkan matanya kaget dan berubah menjadi berbinar.
Rio menghampiri papa Kenzo yang menatap datar kearahnya, dia sudah tahu apa yang akan di ucapkan Rio ataupun dilakukan Rio.
"Wah.... Rio juga dong, Om. Ya ya ya?" celetuk Rio.
Kan, benar pemikiran papa Kenzo yang langsung mendengkus kesal.
Danera dan sepupu dari Kenzo memahan tawa dengan membungkam mulutnya.
"Om... Ayolah, Om. Rio bakalan selalu jaga Kenzo dan menemani Kenzo kemana pun. Bahkan ke kamar mandi---"
"HEH." teriak Almira tiba-tiba memotong ucapan Rio dan membuat mereka semua menoleh kearahnya.
Dalam hati Almira sudah merutuki kebodohannya dan mengutuk Rio yang memancing dirinya meskipun Rio tidak sengaja, dia sudah kesal dan malu tentunya.
"WADUH, FROG."
Teriak keramat dari mulut Rio membuat mereka tertawa senang.
Kenzo yang sudah tidak tahan menahan tawanya saat melihat raut wajah Almira yang sudah memerah. Dia tertawa sangat lepas hingga memegang perutnya dan mengeluarkan air mata dari ujung mata ekor.
"Sudahlah, jangan membuat menantu ku malu. Rio, sana ganti baju mu."
***
"AAAAAA.... KENAPA ADA FOTONYA ANAK SETAN...."
__ADS_1
Teriakan sangat melengking membuat para anak muda menghampiri dengan berlarian khawatir dan juga kepo.
"Lo kenapa sih, dari tadi teriak mulu?" tanya Danera sangat dongkol sekali melihat Rio apalagi suara teriakannya.
"Di kamar gue, kenapa ada foto anak setan sih." ujar Rio dengan wajah kesal.
"Mana?" sahut Nera menatap datar kearah Rio.
"Itu..." tunjuk Rio kepada foto di atas nakas yang sedang tersenyum senang bersama kedua sahabatnya.
Saat telunjuk Rio mengarah ke seseorang yang berada di paling depan membuat mereka menoleh menatap yang di tunjuk.
Mata mereka membelalakkan kaget.
"Lihat kan kalian? Gue gak masalah sama dua orang itu. Tapi, yang gue permasalahin, kenapa tuh anak setan paling depan sendiri." ujar Rio pura-pura tidak tahu dengan wajah kesal.
"KAMPRET, LO RIO."
Teriakan Danera langsung menghampiri Rio yang dengan gesit menjauhi Danera yang sudah memerah menahan emosi dan juga kesal secara bersamaan. Yang di tunjuk Rio dan mengatai anak setan itu adalah Danera Kuiland.
Kenzo melihat sahabatnya yang senang dan tertawa bahagia itu, seketika merasa senang.
Rio tidak pernah pulang kerumah, dirinya hanya di rumahnya Kenzo, apartemen, ataupun di markas Polisi.
Tiba-tiba, Kenzo mengeluarkan air mata tanpa di sengaja membuat seorang di samping lelaki itu menoleh, kaget tentunya.
Seorang Polisi yang di takuti oleh para penjahat menangis. Tidak ada yang menyadari kalau Kenzo menangis, yang tahu hanyalah Almira Sayyida Alindra.
Mereka semua senang memperhatikan Danera mengejar Rio dan mereka juga yang berbagian mengompori Danera. Sehingga, Danera menaik pitam emosinya.
Tepukan lembut di bahu membuat Kenzo membuyarkan lamunannya dan menatap kearah Almira sambil menghapus jejak air mata di pipi dan mata.
"Ada apa?" tanya Kenzo menaikkan satu alisnya.
"Lo kenapa? Gak ada apa-apa, kah?" balik tanya Almira yang di jawab gelengan kepala.
Almira yang mendapat jawaban itu tersenyum sinis kearah Kenzo yang menatap datar tapi di mata sangat lekat dan dalam.
Almira memajukan wajahnya di samping telinga kanan Kenzo, sangat pas. Kenzo yang dapat perlakuan seperti itu membeku dan jantung berdebar, tak aman tapi sangat senang.
"Jangan lemah, gue belum buat lo tersiksa." bisik Almira membuat Kenzo menegang tak bergeming saat Almira pergi meninggalkannya ke kedua sahabatnya.
"Aku sangat mencintai mu, Say. Tak apa kalau kamu akan menyiksa ku. Yang terpenting adalah kamu selalu ada di samping ku dan menjadi milik ku selamanya. Hanya itu yang ku inginkan. Aku akan buat kamu bisa mencintai ku seperti dulu dan kamu bergantung kepada ku. Aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba, sayang."
__ADS_1