Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

"Sudah sore, tapi kenapa Almira belum datang sih."


Sedari tadi Danera tidak berhenti mendumel dengan mulut yang sudah cemberut kesal menatap Nera yang sudah capek mendengar gerutuan dari gadis yang ada di depannya. Kedua telinga Nera serasa sudah terbakar panas hanya karena ucapan Danera yang tidak berhenti sedetik pun.


Nera menatap Danera yang sudah berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mondar mandir dengan menggigit jari-jarinya dengan wajah kesal memajukan bibirnya.


Melihat Danera seperti itu membuat Nera makin pusing. Saat tatapan Nera dan Danera bertemu, dengan cepat Nera memperlihatkan tatapan tajam menghunus kearah Danera yang membuat gadis itu seketika merinding di buatnya.


Danera menunjukkan kedua jari telunjuk dan tengah menandakan tanda peace kepada Nera, jangan lupakan dengan cengiran tidak jelas sehingga menampilkan deretan gigi putih gadis tersebut lalu duduk mendekat kearah Nera sambil menggoyangkan lengan gadis itu, mencoba menggoda.


Bukannya membuat Nera tenang, melainkan membuat Nera makin frustasi menghadapi orang gila seperti Danera tersebut yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.


Nera menyerah dengan Danera yang sudah kelewat gilanya, menundukkan kepala di lipatan tangan yang sedang ada di atas meja bundar dan memejamkan kedua mata mencoba menahan rasa kesal, emosi, frustasi yang ada di badannya.


"Nera, Danera."


Suara itu membuat kepala Nera yang sedang telungkap mendongak, ternyata itu adalah suara dari Almira yang berjalan kearah tempat meja mereka dengan pakaian yang sangat rapi tapi terkesan kharisma membuat semua pengunjung menatap kearah Almira dan berbisik karena terpesona akan iri kepada gadis yang sedang melewati mereka dengan pandangan santai.


Almira mengacuhkan pandangan semua orang meskipun dirinya sudah sangat risih dan muak menjadi pusat perhatian mereka. Tapi saat melihat wajah frustasi dari Nera dan wajah cemberut dari Danera membuat dia meringis di dalam hati.


"Mampus lo, Al." batin Almira sambil duduk di sebelah mereka berdua yang masih mamandangnya dengan pandangan berbeda.


"LO KEMANA AJ-"


"Makan dulu, oke? Gue laper." sahut Almira dengan raut wajah tidak ada dosa sambil menampilkan cengiran tidak jelasnya kepada kedua sahabatnya yang sudah pasti mereka kesal.


"Oke, kita makan dulu." ucap Nera yang membuat Danera mendengus kesal.


Berbeda lagi dengan Almira yang menghembuskan nafas pelan dan lirih tanpa ada yang tau, merasa aman saat tidak mendapatkan ceramahan dari Danera yang sudah seperti mak mak kompleks.


"Aman..." batin Almira.


***


"Gue sudah kangen banget sama Nera, akhh... Rindu ini sangat menyiksa bagi gue."

__ADS_1


Jeritan dari mulut Nigel sambil mengacak acak rambutnya dengan raut wajah memelas frustasi. Kenzo dan Rio hanya memandang saja tanpa mengeluarkan suara sekata pun, mereka sama-sama sedang memikirkan gadis-gadisnya sendiri.


Tiba-tiba kejadian Almira sedang memasangkan dasi terlintas di pikiran Kenzo membuat dia tersenyum kecil tanpa ada yang tau.


"HAHAHA, LO HARUS MINTA NOMOR HANDPHONE COWOK DISINI, ALMIRA."


Teriakan itu membuat ketiga pria menoleh menatap Danera yang sedang heboh sambil menunjuk kearah Almira yang sedang memelas membuat Kenzo menatap bingung dan heran kearah gadis tersebut.


Kenzo menghampiri meja mereka dengan pelan agar bisa mendengar ucapan para gadis itu, tidak lupa dengan Rio dan Nigel yang mengikuti Kenzo dari belakang sambil menatap ketiga gadis itu.


"Lo kalah Al, ayo cepat jalani hukuman lo sekarang juga." ujar Danera dengan nada menggoda sambil menaik turunkan satu alisnya.


"Yang lain saja, Dan. Lo tau kan kalau gue sudah punya suami. Lo jangan aneh-aneh deh." ucap Almira dengan nada kesal membuat Kenzo berhenti karena gadis itu mengakui dirinya sebagai suami.


"Hallah, Om Kenzo itu sahabatnya Rio. Mereka pasti sama lah, gak ada bedanya." ucap Danera dengan nada sinis saat menyebut nama mantan pacar pertamanya.


"Meskipun begitu, gue punya suami Dan. Gue sama Kenzo suami istri, bukan pacar lagi yang dengan gampangnya putus. Kalau gue sama Kenzo sudah ijab qobul di hadapan Allah dan di saksikan juga sama Allah. Meskipun gue gak ada perasaan apapun ke dia, tapi gue gak mau masuk neraka hanya karena menyakiti hati suami gue, Danera." jelas Almira panjang lebar dengan nada penuh penekanan membuat gadis itu terdiam.


Nera menenangkan Almira yang sedang mengebu-ngebu dan membisikkan sesuatu yang hanya mereka saja bisa mendengar, lalu Almira menghembuskan nafas lelah sambil menatap Danera dengan pandangan sendu dan beralih duduk di dekat Danera sambil mengelus bahu gadis tersebut.


"Gue gak marah sama lo, gue tadi cuman niat mengingatkan saja, Dan. Jangan galau terus hanya karena satu cowok saja dan melampiaskan ke orang lain karena lo sedang kesal. Gue sama Nera sayang banget sama lo, jadi jangan sedih lagi." ucap Almira langsung memeluk badan Danera dan gadis itu menarik lengan Nera agar ikut memeluk Danera juga.


"Maaf." ujar Danera dengan tulus yang masih sesenggukkan.


"It's okey." jawab Nera sambil menepuk nepuk bahu Danera dengan lembut.


Almira hanya tersenyum manis dan lembut di dalam pelukan mereka.


"Almira."


Panggilan dengan nada rendah dan serak membuat ketiga gadis itu yang sedang berpelukan langsung melepas dengan pelan lalu menoleh kearah ketiga pria menatap mereka dengan pandangan yang berbeda-beda.


Almira terkejut melihat Kenzo yang sedang menatap tajam tidak tau kenapa gadis itu merasa merinding dan aura di sekitar mereka menjadi dingin tiba-tiba. Semua pengunjung menatap mereka dengan pandangan aneh dan bingung dengan aura yang sangat menyesakkan.


Nera menyenggol lengan Almira untuk membawa Kenzo pergi dari tempat itu, hanya jawaban deheman saja dari Almira lalu berdiri menggenggam telapak tangan Kenzo yang sudah dingin membuat gadis itu meringis tanpa di ketahui pria tersebut.

__ADS_1


Almira membawa Kenzo keluar dari tempat itu menuju ke taman sebelah yang banyak sekali bunga bewarna warni, Almira melepaskan genggaman itu karena mereka sudah duduk di kursi panjang bewarna putih tulang.


"Kamu sedang apa di-"


"Kenapa tidak pulang lebih dulu? Kamu itu baru saja belajar bisnis, memang tidak capek apa hem? Pulang dulu, malah keluyuran." sahut Kenzo memotong ucapan Almira sehingga belum selesai melanjutkan kata-katanya.


Almira menghela nafas pelan karena mendapat ocehan dari Kenzo, Kenzo memang pendiam dan dingin. Tapi saat Kenzo bersama Almira saat kecil ataupun sebesar ini, Kenzo masih sangat suka mengomel seperti ibu tiri.


"Apaan itu tadi coba, mau minta nomor ponsel cowok lain." gumam Kenzo pelan tapi masih di dengar oleh Almira yang langsung menatap kearahnya karena sebelumnya Almira menatap lurus ke depan.


"Kamu tau? Berarti kamu sudah datang sejak tadi." tanya Almira dengan raut wajah syok.


Berbeda lagi dengan di dalam hati Almira yang sedang teriak bodoh, karena tadi Almira mengakui Kenzo sebagai suaminya. Bila Kenzo tau, maka habis sudah wajah tebal Almira karena malu kalau bertemu dengan Kenzo.


"Aku cemburu, sayang. Aku gak peduli kalau itu cewek lain, tapi kalau kamu aku tidak terima. Kamu itu hanya milikku saja, milikku seorang." ucap Kenzo tiba-tiba dengab wajah serius membuat Almira menatap kearahnya.


Almira terkejut.


Almira bingung dengan pikiran dan hatinya yang tidak searah.


Tidak tau mau membalas apa ke Kenzo, Almira memilih untuk diam sambil menatap kedua mata Kenzo yang sangat indah dan bisa membuat dirinya tenang tenggelam ke bola mata tersebut tatapan mereka.


Almira akui kalau Kenzo sangatlah sempurna bagi dirinya.


Tampan? Yes.


Baik? Yes.


Pengertian? Yes.


Pintar? Yes.


Beriman? Yes.


Dan tentunya, Kaya raya? Sangat yes.

__ADS_1


"Betapa indahnya ciptaan mu, Ya Allah." gumam Almira masih memandang kearah Kenzo sambil meneliti membuat pria tersebut salting memerah kedua telinga.


"Sayang, aku malu..." rengek Kenzo membuat raut wajah Almira terkejut.


__ADS_2