Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TUJUH PULUH TUJUH


__ADS_3

"Apa apaan ini hah, apa yang anda lakukan di perusahaan saya? Anda sangat bodoh, padahal ini adalah pekerjaan yang sangat mudah. Karena anda, saya kehilangan uang sangat banyak hanya karena proyek gak jelas ini."


Bentakan dari mulut Almira sambil menggebrak meja kaca sangat keras sehingga menimbul kan suara yang sangat nyaring memenuhi ruangan kerjanya, Almira menatap tajam ke arah pria yang masih lumayan muda sedang menunduk kan wajahnya ke bawah tidak berani menatap Almira sama sekali sambil menaut kan jari jarinya di depan.


Almira tidak peduli dengan para pegawai lain yang sedang mengintip depan pintu karena pintunya sengaja Almira buka agar mereka semua tau bagaimana tidak becusnya kepala manajer di perusahaannya.


Semalam Almira sudah capek capek sekali bagun tengah malam hanya untuk memeriksa kertas kertas dokumen yang di kirim kan Edo untuknya tanpa sepengetahuan Kenzo tentunya saat dia bangun, lalu Almira tidak tidur sampai sekarang ini karena dirinya sangat terkejut saat melihat laporan yang bagi dirinya sangat aneh. Dengan cepan, Almira bersiap siap lalu pergi ke perusahaan sangat pagi sekali dan tanpa meminta izin ke Kenzo karena pria itu sudah terlelap lagi setelah sholah subuh.


"Apa anda tau berapa banyak yang anda habis kan hanya karena proyek gak jelas ini hah? Bagaimana bisa anda mengganti uang sebanyak itu hah? Anda sangat sangat bodoh." bentak Almira lagi sambil menepuk nepuk bahu pria yang berada di depannya dengan map dokumen yang ada di tangannya sangat keras.


Almira sekarang tidak peduli dengan sopan santun meskipun pria yang berada di depannya lebih tua darinya, tapi Almira sangat mementing kan perusahaan yang di olah oleh Oma Diana selama ini. Maka Almira tidak segan segan untuk melakukan seperti kepada yang lain.


"Anda bekerja disini dari saat Oma Diana masih hidup dan masih menjadi CEO di perusahaan ini, tapi kenapa anda melakukan kesalah yang sangat fatal bagi perusahaan ini hah? Yang anda keluar kan itu tidak sedikit totalnya, tapi SANGAT BANYAK." bentak Almira dengan wajah memerah karena marah dan emosi membuat semua orang yang berada di sana terlonjak terkejut dengan suara teriakan dari Almira.


Mereka makin takut dengan Almira.


"Maaf kan saya, Bos..." ucap pria kepala manajer dengan suara lirih karena masih merasa kan ketakutan yang sangat dalam di tubuhnya.


"Hahaha, maaf saja tidak cukup. Dalam waktu satu minggu anda harus sudah melunasi uang perusahaan tersebut, anda boleh mencicilnya ke sekretaris saya. Saya tau itu sangat banyak dan juga saya tau kalau anda sudah sangat setia kepada Oma Diana saat wanita tua itu masih hidup, saya sangat menghormati anda. Saya tidak memecat anda, anda boleh bekerja seperti sebelumnya. Tapi saya berpesan kepada anda, anda harus lebih teliti dengan proyek proyek lainnya yang akan tim kerjakan. Kalau begitu anda boleh keluar dari ruangan saya dan tutup pintunya." ucap Almira yang sudah mulai tenang dan nada bicaranya santai seperti semula dengan memijat keningnya.


Pria yang berada di depan Almira seketika mendongak dengan melebar kan kedua matanya tidak menyangka kalau Almira sangat baik kepadanya tidak memecat dari perusahaan ini, padahal dirinya sudah pasrah kalau Almira akan memecat dirinya.


"Te- Terima kasih, terima kasih. Saya janji kepada anda, saya akan melunasi uang itu dan saya akan lebih teliti lagi dengan pekerjaan saya. Terima kasih banyak Bos, kalau begitu saya pamit ke ruangan saya." ucap pria itu dan di jawab dengan angguk kan kepala oleh Almira yang langsung menunduk kan badannya dan berjalan pergi ke arah pintu.


Klek.


Suara pintu sudah tertutup rapat dan Almira langsung meluruh ke kursi tempat kerjanya dengan memijat kepalanya karena sangat pusing, perutnya pun juga sangat perih karena Almira belum sarapan tadi pagi.


Almira menghembus kan nafasnya lelah lalu mengambil foto pigura yang ada dirinya, Nera, Danera dan juga Oma Diana sedang tersenyum senang.


Di dalam foto itu mereka tersenyum lebar kecuali Nera tentunya yang hanya tersenyum tipis membuat Almira yang sedang memandang foto pigura tersebut tersenyum lirih dan tiba tiba air mata menetes jatuh ke foto pigura tersebut.

__ADS_1


"Aku rindu... Coba saja waktu bisa di putar, pasti aku tidak akan membiar kan kalian meninggal kan diriku sendiri menghadapi semuanya." ucap Almira dengan nada lirih dengan wajah sendu.


"Nera, kenapa lo harus menerima permintaan keluarga lo? Gue disini sendiri Ner, gue capek dengan semua masalah ini Ner, gue capek. Lo juga Danera, kenapa lo harus pergi juga dari gue sama seperti Nera. Padahal setelah perginya Oma Diana untuk selamanya, gue hanya punya kalian berdua. Tapi kenapa kalian juga pergi meninggal kan gue sendiri disini, hah? Gue kecewa sama kalian berdua, gue sangat kecewa sama persahabatan ini." lanjut Almira dengan nada lirih sambil melempar kan foto pigura tersebut di lantai dingin sehingga kaca pigura itu pecah dan menimbul kan suara sangat nyaring karena di ruangan Almira sangat sepi dan sunyi.


Almira meremas jari jarinya menaut kan satu sama lain dengan menunduk kan wajahnya karena menahan air mata yang akan turun lagi, Almira sangat tidak menyukai dengan air mata saat ini.


Almira sudah sangat lemah, bertambah lagi dengan masalah perusahaan Almira makin pusing memikir kannya.


Setelah beberapa menit berlalu, Almira masih tidak bergerak dari sebelumnya. Gadis itu masih setia menunduk kan wajahnya di sela sela tumpuk kan tangannya dan kertas kertas dokumen yang berada di atas meja kacanya.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketuk kan itu membuat Almira mengangkat kepalanya menatap pintu kerjanya yabg terus saja menimbul kan suara, dengan cepat Almira menghapus air matanya dan menampil kan raut wajah biasa saja.


"Masuk." teriak Almira dengan membalik balik kan kertas dokumennya.


Saat mendengar suara pintu terbuka, Almira seketika menoleh ke arah pintu tersebut.


Melihat pria itu menutup pintu sambil mengunci dengan pelan lalu berjalan menghampiri dirinya yang masih menatap ke arahnya dengan wajah terkejut, saat pria itu sudah berada di depan Almira dengan cepat sebelah tangannya berada di pinggang ramping Almira dan menarik tubuh gadis itu mendekat tubuhnya.


Sebelah tangannya lagi terangkat membenar kan hijab pasmina Almira dengan gerak kan lembut membuat gadis itu hanya diam saja membiar kan pria yang ada di depannya melaku kan apa pun kepadanya.


"Sudah mulai nakal ya kamu hem? Mau aku kasih hukuman yang membuat mu capek tapi nikmat hem? Atau hukuman yang lain, yang hanya nikmat saja Almira Sayyida Samudra, istri ku Kenzo Sagara Samudra." ucapnya dengan nada penuh penekanan di setiap perkataannya sambil memandang lekat ke arah Almira yang malah menampil kan raut wajah terkejut dan badannya menegang di tempat.


Almira sangat merinding mendengar ucapan sang suaminya yang berada di depannya, pandangan Almira masih takut menatap ke arah Kenzo.


Almira mengalih kan pandangan ke sana kemari saat tatapan seringai yang di lihat kan oleh Kenzo untuknya, saat menatap lukisan yang berada dindingnya yang menampil kan sepasang laki laki dan perempuan sedang berpeluk kan membuat Almira mempunyai ide yang sangat cemerlang bagi dirinya.


Grep.


Almira memeluk tubuh Kenzo sangat erat membuat pria itu terkejut tapi hanya sebentar lalu merubah raut wajahnya menjadi biasa saja tapi di dalam hatinya sangat senang saat Almira memulai lebih dulu.

__ADS_1


Kenzo membalas pelukannya sangat erat dan tersenyum geli saat Almira menggesek gesek kan hidungnya ke dada bidangnya yang tertutupi baju formalnya, mencari kenyamanan bagi sang istri tercinta.


"Aku sangat mencintai kamu sayang dan aku tidak akan membiar kan kamu pergi tanpa aku. Tunggu lah hukuman mu nanti malam, istri ku." bisik Kenzo tepat di telinga Almira membuat gadis itu cemberut kesal karena apa yang dia lakukan sia sia juga karena Kenzo masih akan menghukum dirinya.


Almira menjawab Kenzo dengan deheman saja karena kesal kepada pria tersebut, Kenzo yang mendengar itu melebar kan senyum gelinya lalu menggoyang kan pelukan mereka ke kanan dan ke kiri seperti mengikuti alunan meskipun tidak ada lagu yang terputar.


***


"Sialan, gadis bodoh itu malah menjawab seperti itu. Padahal rencana kita ini sudah sangat bagus agar mereka bertengkar dan gadis bodoh itu di tuduh selingkuh tapi malah menjadi seperti ini, tidak berjalan dengan sesuai hanya ucapan gadis bodoh itu. Akh..."


Teriak seorang perempuan sangat kencang dengan wajah merah sedang marah dan emosi menjadi satu, barang barang yang di sekitarnya sudah tidak berbentuk lagi karena perempuan itu membanting satu persatu sehingga keadaan kamar yang semulanya rapi dan bersih menjadi kotor dan berantak kan karena amarah perempuan itu.


Brak.


Pintu bewarna ungu tersebut terbuka sangat keras membuat perempuan yang akan membanting barang lain terhenti menatap ke arah pintu siapa yang beraninya mendobrak pintu kamarnya.


Saat melihat sang sepupu berdiri menatap ke arahnya dengan raut wajah khawatir membuatnya merasa bersalah ke arahnya.


Pria yang berstatus menjadi sepupunya tersebut tiba tiba memeluknya sangat erat, diabtau kalau pria itu sangat khawatir dengan keadaannya membuat dia makin merasa bersalah lalu mengusap punggung sepupunya dengan sebelah tangan dan melepas kan barang yang sedari tadi dia pegang.


"Lo jangan seperti ini lagi, gue sangat khawatir saat Bibi hubungi gue kalau lo sedang marah dan mengunci pintu kamar lo dan marah marah seperti orang sedang kerasuk kan. Lo tau kan kalau gue itu sangat sayang ke lo, jadi jangan seperti ini." ucap pria itu makin mengerat kan pelukannya tidak mau melepas kan.


"Sorry... Maaf kan gue, gue..." balas perempuan itu dengan nada pelan dan lirih tapi masih bisa di dengar jelas dengan sang sepupunya.


"Janji lo tidak akan melaku kan seperti ini lagi?" tanya pria itu dengan menatap ke arah perempuan di depannya setelah melepas kan pelukan mereka.


"Gue janji. Tapi bagaimana dengan gadis bodoh itu? Gue tidak terima kalau gadis bodoh itu damai dan bahagia, gue mau gadis bodoh itu menderita sampai mengingin kan kematian menjemput." jawab perempuan itu, ada kobaran penuh benci yang terpancar di kedua matanya membuat pria yang berada di depannya tersenyum senang dan seringai kecil tanpa di ketahui oleh sepupunya.


Pria itu menatap sekeliling bagaimana situasi di kamar sang sepupu tersayangnya, sangat berantak kan dan seperti tempan hewan karena kotor. Pria itu hanya bisa geleng geleng kepala melihat apa yang di lakukan oleh sepupu perempuannya.


"Tenang saja, rencana pertama gue sudah berhasil lewat perusahaan gadis bodoh itu. Pasti saat ini gadis bodoh itu sedang pusing dan marah marah karena uang yang jumlahnya sangat banyak itu hilang karena gue. Lihat saja pertunjuk kan lainnya dari gue untuk gadis bodoh itu, lo pasti sangat menikmati melihat gadis bodoh itu Ella. Percaya kan kepada sepupu tampan lo ini, lo pasti tidak akan pernah kecewa dengan rencana licik dari seorang Roy Saputra." ucapnya dengan wajah senyum seringai yang membuat perempuan yang ada di depannya tiba tiba merinding seketika tapi lalu ikut tersenyum devilnya membayang kan musuhnya menderita.

__ADS_1


__ADS_2