Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SERATUS TIGA


__ADS_3

"Ganti baju sayang, jangan yang itu."


Protes dari mulut Kenzo membuat Almira yang berada di depan meja rias sedang menabur kan bedak dengan tipis langsung saja menoleh ke belakang mendapati Kenzo yang baru saja duduk di kasur empuk mereka dengan menatap datar ke arahnya, Almira yang melihat itu langsung saja meringis pelan dan berdiri melihat ke arah pantulan cermin menatap penampilannya. Tidak buruk dan sopan seperti biasa, tetapi kenapa dengan suaminya itu protes sampai segitunya.


"Tidak ada yang salah Mas sama pakaian ku, ini penampilan seperti biasa kok." balas Almira tanpa melihat ke arah Kenzo membuat pria itu berdiri berjalan menuju ke arah sang istri.


Kedua tangan Kenzo langsung melilit ke pinggang Almira yang mulai sedikit buncit perutnya membuat Almira melirik bingung ke arah suaminya.


"Kenapa Mas?" tanya Almira dengan nada lembut.


"Kamu kalau pakai pakaian ini terlihat sangat cantik dan imut sayang, aku tidak mau kamu di lihat sama orang lain seperti ini. Ganti ya, yang biasa saja gitu." jawaban Kenzo dengn nada bisik kan di samping telinga Almira membuat perempuan itu langsung saja cengo tidak percaya dengan ucapan suaminya yang terkesan merengek.


Almira terkekeh setelah tersadar dari cengonya lalu membalik kan badan, sehingga mereka saling menatap dan kedua tangan Kenzo tidak terlepas sama sekali dari pinggang Almira.


Almira tersenyum lembut sambil merapih kan tatanan rambut hitam legam dari Kenzo dengan lembut, setelah selesai Almira menatap ke arah Kenzo yang sedari tadi menatap lekat ke arahnya.


"Mereka hanya bisa melihat saja, tetapi kamu bisa memiliki aku Mas. Kalau disana kamu peluk aku saja, biar mereka yang melihat aku tau kalau aku sudah berpawang, yaitu kamu Mas." jelas Almira dengan nada lembut dan senyuman manisnya membuat Kenzo tersenyum tipis juga karena ucapan dari istrinya yang menghangat kan hatinya.


Cup.


"Sudah, jangan berpikir aneh aneh lagi ya Mas..." ucap Almira setelah mengecup sebelah pipi Kenzo membuat pria itu langsung memerah salting sampai sampai ke telinganya.


Kenzo baper.


Almira melihat raut wajah memerah dari Kenzo membuat dia tertawa melihatnya, bagi Almira raut wajah Kenzo sedang baper sekarang ini sangat lucu seperti bukan seorang Kapten Kenzo yang saat berada di pelatihan waktu itu.


"Sayang... Malu..." rengek Kenzo sambil menyembunyi kan wajahnya memeluk tubuh Almira yang sudah memerah yang malah di balas oleh Almira tertawa kencang sambil menepuk nepuk bahu Kenzo pelan.

__ADS_1


"Lucu, gemesin pula suami ku ini..." batin Almira di dalam hati sambil tersenyum senang karena pelukan Kenzo sangat nyaman dan hangat yang dia rasa kan.


***


"Oma, cucu kesayang Oma sekarang mau jadi seorang ibu. Seandainya kalau masih ada Oma disini, pasti Oma sangat heboh dan membuat semua orang kerepotan dengan tingkah Oma."


Seorang pria yang memakai jas formal di pagi pagi sekali, pria itu sudah berada di pemakaman tanpa memberitahu siapa pun dengan memakai kacamata hitam yang sudah sejak tadi, tidak ada yang tau kalau kedua mata pria itu sudah berkaca kaca seperti tidak biasa yang selalu tatapan tajam dari kedua mata tersebut.


Menatap gunduk kan tanah yang bertulis kan batu nisan Diana membuat pria itu menjadi sangat lemah seperti di masa lalu, pria itu pasti akan lemah bila di depan Oma Diana.


"Aku tidak bisa mencari siapa yang mengganggu Almira Oma, apa itu aku gagal menjaga Almira? Aku memang selalu payah dalam hal apa pun, maaf kan aku Oma." ucapnya dengan wajahn menunduk sehingga menatap tanah gunduk kan tersebut dengan jelas.


"Aku selalu payah seperti dulu, aku makin payah." lanjutnya dengan nada pelan sehingga hanya dia saja yang mendengar.


Tanpa sepengetahuan pria itu, kalau sejak tadi ada seseorang yang sedang menatapnya dan mendengar semua ucapan pria itu dengan sangat jelas sedang bersembunyi di pohon besar yang memakai baju serba hitam dan topi juga kacamata hitam menyeringai.


"Ternyata Master Alindra sangat payah, haha tunggu saja permainan gue selanjutnya, Edo Alindra." ucap seseorang misterius di balik pohon besar dan langsung saja pergi meninggal kan tempat pemakaman itu.


"Lo main main sama gue, maka gue lebih main main ke lo. Siapa pun lo, akan gue bales lebih kejam dari apa pun yang lain. Gue menunggu rencana selanjutnya dari lo dan lo akan menerima rencana jahat yang tidak pernah di bayang kan siapa pun." gumam Edo menyeringai lebar lalu berdiri dari tempatnya, tetapi sebelum itu Edo lebih dulu mengusap batu nisan yang bertulis kan nama sang Oma dengan lembut sambil menatap lekat.


"Oma, Edo berjanji, akan selalu menjaga Almira dan kenzo dari apa pun. Meskipun Edo harus mengorban kan hidup Edo sendiri, doa kan Edo dan minta kan maaf ke Allah sang pencipta karena perlakuan Edo yang sangat keji. Maaf!" batin Edo berlalu pergi dari pemakaman menuju mobil hitamnya dan melaju lumayan kencang.


***


"Sayang, Almira sayang... Kamu dimana, sayang?"


Teriakan demi teriakan terus saja keluar dari mulut Kenzo yang sedang berkeliling di sekitar rumah mereka dengan raut wajah khawatir dan kesal menjadi satu sehingga rumah mewah tersebut menjadi ramai karena suara teriakan dari pria datar tersebut, Edo dan Bibi yang berada di meja makan karena sekarang sudah waktunya untuk makan siang membuat mereka secara bersamaan terkejut akan suara yang kencang lalu dengan cepat mereka menoleh ke arah Kenzo yang sudah berjalan menghampiri mereka dengan teriakan yang terus saja keluar dari mulutnya tanpa henti membuat Edo menghela nafas panjang.

__ADS_1


Berbeda lagi dengan Bibi yabg sedang menyiap kan makanan menata di meja makan terkekeh kecil melihat Kenzo yang seperti anak kecil sedang mencari mamanya, sangat konyol dan lucu.


"Bibi, Edo, tau istri ku dimana? Saya cari cari kemana mana tidak ada." tanya Kenzo menatap dua manusia secara bergantian dengan pandangan menuntut dan datar tanpa ekspresi seperti biasa.


Bibi itu sudah pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Kenzo karena masak kannya yang ada di atas kompor, tetapi sebelum pergi Bibi itu sudah berpamitan kepada dua pria yang berwajah datar tanpa ekspresi seperti biasanya sehingga tidak terkejut lagi.


Berbeda lagi dengan Edo yang menatap jengah ke arah Kenzo yang menatap datar dan menuntut jawaban dari pria yang sedang duduk menyedu minuman dinginnya, Edo lebih dulu menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Kenzo.


"Bro, dimana istri gue? Lo kalau di tanya, jawab." ujar Kenzo dengan nada imitidasi sambil menatap jengkel ke arah Edo yang menaruh gelas minumannya yang cukup keras sehingga menimbul kan bunyi.


"Almira sudah pergi ke butik, puas hah? Sekarang, lo pergi jauh jauh dari gue." ucap Edo dengan nada kesal ke arah Kenzo yang menatapnya penuh selidik.


Setelah Edo mengucap kan kata kata itu langsung saja Kenzo pergi meninggal kan Edo sendiri di meja makan dan menatap punggung sahabatnya yang mulai menjauh keluar dari rumah mereka, Edo geleng geleng kepala melihat kebucinan dari Kenzo untuk Almira, tetapi dirinya senang kalau ada yang mencintai sangat dalam ke Adek sepupunya seperti seorang Kenzo Sagara Samudra.


Edo tidak perlu khawatir kalau Kenzo ada di samping Almira, sebenarnya Adek sepupunya itu sudah berpesan agar Kenzo tidak menyusul perempuan itu karena ada sesuatu yang penting dan rahasia. Tetapi Edo tidak membiar kan Almira sendiri dan bahaya karena ada seorang yang sedang mengincar perempuan itu, maka dirinya memilih Kenzo untuk menyusul Almira agar menjaga perempuan itu bersama kandungannya.


Ting...


Edo langsung saja membuka ponsel yang berdering menanda kan ada pesan, langsung saja Edo membuka pesan dari nomor tidak ada nama membuatnya sedikit menyerngit kan bingung. Tetapi saat mengetahui isi dari pesan membuatnya mengepal kan kedua tangan menanda kan marah.


Isi dari pesan itu ada foto Almira yang di ambil dari samping tubuhnya sedang berada di caffe sendirian dan ada tulisan MATI dengan hurus besar semua membuat Edo langsung saja berdiri dari duduknya dan pergi dari rumahnya dengan langkah cepat karena sudah sangat khawatir dengan Adek sepupunya.


Tidak lupa, Edo menghubungi Kenzo untuk menyusul dirinya ke caffe tersebut dan juga memberi kan isi pesan dari nomor tanpa nama ke Kenzo. Tidak jauh beda dengan ekspresi Kenzo sekarang ini, pria itu sudah melaju kan kendaraannya dengan ugal ugalan tidak mempeduli kan pengendara lainnya.


Banyak sekali para pengendara lainnya marah marah ke Kenzo karena kecepatan penuh dari pria itu di jalan raya, tetapi bukannya memperlambat lajunya melain kan Kenzo makin mempercepat lajunya.


"Siapa pun yang menyentuh istri ku sampai lecet sedikit pun, akan ku buat dia tidak tenang di dunia ini. Awas saja kalau orang itu ketemu, maka bersiap lah untuk mendapat kan neraka dunia dari seorang Kenzo Sagara Samudra." gumam Kenzo dengan pelan yang makin cepat kendaraannya tidak mempeduli kan rasa sakit di kepala karena pusing, ini pertama kalinya dirinya melaju kan secepat ini saat penyakitnya kembali lagi.

__ADS_1


Tetapi Kenzo mencoba untuk tidak peduli dengan rasa pusing yang dia rasa kan di kepalanya, yang terpenting sekarang adalah istrinya dan calon anaknya harus berada di sampingnya agar aman. Kenzo tidak akan membiar kan Almira pergi tanpa dirinya lagi, apa pun itu.


"Gue harus minta alat pendeteksi ke Rio untuk Almira, yaps benar." batin Kenzo dengan senyum seringainya karena memikir kan Almira akan memakai alat tersebut yang seperti CCTV tanpa di ketahui.


__ADS_2