
Malam yang sunyi dan gelap membuat gadis berhijab bergo bewarna merah maroon terpaksa membuka mata, karena tenggorokannya terasa sangat kering lalu langsung melengang pergi menuju dapur. saat akan berjalan ke dapur, keningnya mengernyitkan heran dengan suasana rumahnya yang gelap.
Aneh, pikirnya.
Almira tidak menghiraukan suasana rumah yang sedikit mengerikan untuknya, dia berusaha bodo amat dengan keadaan.
Saat akan menuangkan air, Almira mendengar suara sangat nyaring di arah jendela pojok membuatnya menatap dan memincingkan matanya. Almira menghendikan bahunya acuh, tapi di dalam hatinya sudah ber-istigfar dan menyebut nama Allah.
Srettt...
Bunyi pelan yang masih bisa di dengar oleh Telinga Almira membuat si empu refleks menoleh kearahnya. mata Almira melebar, ternyata itu kursi yang berubah tempat. kening Almira berkeringat dingin menguncur tanpa henti dan mulutnya berkomat-kamit ber-istigfar.
Almira tidak pernah takut, tapi kalau suasananya tidak mencengkam seperti sekarang ini.
Prang...
"AAAAA..... GARA...."
Teriakan sangat kencang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan langsung berjongkok gemetar. dia tidak sadar dengan teriakannya.
Almira merasakan ada yang memeluk dia sangat erat langsung saja dirinya memberontak ingin lepas, tapi itu sia-sia belaka saja. bahu Almira gemetar dengan isak tangis keluar dari mulut tipisnya.
"Maaf dan selamat ulang tahun, Almira." bisik seseorang yang memeluknya.
Almira sangat mengenali suara itu dan mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang memeluknya, ternyata itu adalah Kenzo Segara Samudra dengan tatapan lembut dan hangat. Almira makin mengeratkan pelukannya di pinggang Kenzo.
"Kalian keluar, Almira ketakutan." teriak Kenzo kencang.
Almira bingung dan mengusap ingusnya di baju Kenzo membuat si empu menatapnya dan yang di tatap hanya menaikkan satu alisnya tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kenapa?" tanya Almira menatap Kenzo yang raut wajah datar.
Dari arah belakang muncullah Oma, Mawar, Andrian, Nera, Danera, Rio, dan sepupu dari Kenzo. mereka menampilkan cengiran yang bagi Almira itu menjengkelkan. Almira bingung dengan mereka, ada apa? Kenzo paham dengan raut wajahnya dan meraup wajah itu dengan tangan kanan kekarnya.
"Tadi bukan hantu, tapi mereka buat nakut-nakutin kamu. kamu kan i—"
"OH... KALIAN..." teriak Almira memotong ucapan Kenzo dengan wajah kesal menatap mereka.
"Eh, Happy Birthday Almira." sahut Danera gelagapan.
Almira berkaca-kaca terharu dengan mereka, demi dirinya mereka kesini malam-malam hanya untuk bikin ulang tahunnya. dia menatap kue yang di pegang Nera dengan lilin angka delapan belas.
Mengingat angka itu membuat dia mengingat bahwa besok akan menjadi istri seseorang yang dia benci, Almira sedikit melirik Kenzo yang menatapnya lekat, sangat lekat. tapi, malah di balas dengan tatapan jengah dan ketus membuat Oma menghembuskan nafas kasar.
"Yang mengingatkan ini hari spesial lo itu pak Polisi, Al. Ah, calon suami idaman Al." nyerocos Danera dengan kegirangan.
__ADS_1
Almira langsung merubah raut wajahnya menjadi kaget, apa tadi? Gara yang mengingatkan mereka. Almira menatap Kenzo lagi, di wajah itu hanya menampilkan senyuman sangat manis, seketika Almira terpana dengan senyuman itu.
"Tiup lilinnya, Al." ujar Nera yang tersenyum kecil kearah Almira yang ikut terseyum juga.
Almira langsung memeluk tubuh Nera sangat erat dengan isak tangis tanpa hiraukan tatapan bingung kearah keduanya.
"Gua gak mau nikah sama Gara..." lirih Almira yang bisa di dengar oleh mereka.
Seketika ruangan tersebut hening tak ada yang bersuara. mereka semua menatap Kenzo yang hanya diam dengan raut wajah datar.
"Gua benci banget sama dia. Gara sudah jahat sama gua Ner. gua sendirian, gua rapuh, dan Gara malah tinggalkan gua." lirih Almira lagi membuat semua menatap sendu apalagi sang punya nama hanya bisa menunduk tak berani melihat air mat yang terus-terusan mengalir.
Nera hanya diam sambil mengelus punggung sang sahabat dan mengkode Danera untuk ikut berpelukan, dengan senang hati Danera berhamburan di kedua sahabat, sangat erat.
"Keputusan sudah bulat, nanti malam pernikahan Almira dan Kenzo dilaksanakan."
***
Selesai dari acara ulang tahun Almira, dia tidak sama sekali tidur hingga shubuh menjemput. ucapan sang Oma yang tidak ingin di bantahkan membuat dia menjadi pendiam dan melamun dari tadi.
Dia hanya tidak mau menikah dengan Kenzo, kejadian masa lampau masih terbayang-bayang di pikiran. rasa sakit di hati masih belum kering.
"Gua benci lo, Gara!" ucap Almira penuh amarah.
Seseorang yang melihat dari jendela hanya bisa menghela nafas dan menatap sendu kearah Almira yang mengepalkan kedua tangan.
"Seandainya, kejadian mengerikan itu tidak terjadi, pasti gua terima perjodohan ini dengan senang hati." ujar Almira menatap pancaran kaca yang menampilkan dirinya yang meneteskan air mata.
Ucapan Almira membuat seseorang yang mengintip merasakan sesak di hatinya. Dia sangat menyesal.
Kenapa harus ada kejadian itu? Kenapa Almira tidak bisa melupakan?
Itulah pikiran seorang itu, dia hanya ingin menjaga Almira dan selalu ada untuk Almira. Tapi, yang dia jaga tidak mau dengannya.
Dia Kenzo, calon suami Almira.
"Gua dari dulu, sudah jatuh cinta sama lo, Gara." ucapan Almira membuat Kenzo melebarkan kedua matanya tidak percaya.
Apakah ini mimpi?
***
"HAPPY BRITHDAY, ALMIRA..."
Teriakan sangat kencang dan ramai membuat Almira berkaca-kaca menatap teman sekelasnya yang begitu semangat dan ceria.
__ADS_1
Tiba-tiba mereka semua berhamburan memeluk Almira yang masih bergeming dari tempat, dirinya makin syok.
Sebuah kue datang bersama nyanyian dari mereka, sang pembawa kue tersenyum manis kearah Almira. siapa lagi kalau bukan sang kekasih, Roy Saputra.
"Selamat ulang tahun, Al." ucap Roy masih mempertahankan senyuman manis.
"Makasih, Roy." kata Almira memperlihatkan senyuman lebar.
"CIE... CIE..."
Sorakan makin kencang dari mereka semua, kecuali Danera yang menatap kesal dan Nera yang hanya menampilkan wajah datar.
"Sudah-sudah, mari tiup lilin." ujar Roy membuat mereka membungkam mulutnya.
"Tiup lilin, Al." ujar Danera dengan senyuman yang di jawab dengan anggukan kepala.
"Semoga ini pilihan yang terbaik." batin Almira.
Fyuh...
Suara tepukkan tangan dari semua dengan banyak mengucapkan selamat dan senyuman ceria.
"Selamat ulang tahun, Say. Aku selalu berdo'a, semoga kamu gak benci sama aku lagi. Aku mencintaimu, Say. Selalu."
***
"ALMIRA... PRINCESS CANTIK DATANG, NIH..."
Teriakan sangat kencang dari seseorang yang berada di pintu masuk membuat si pemilik nama kesal, acara menonton televisi terganggu.
Almira membukakan pintu dengan wajah kesal, wajah Danera yang lagi tersenyum kearah Almira membuatnya makin kesal dan cemberut.
"Lo ganggu aja." kata Almira sinis yang hanya di jawab nyengir tak jelas.
Danera menggaruk rambut yang tidak gatal sambil celinguk-celinguk ke kanan dan kiri. Danera langsung masuk di rumah Almira yang sepi tanpa izin membuat si punya rumah mengeplak lengan Danera dengan kencang.
Almira tak peduli, dia sudah sangat kesal.
"Gua tahu, pasti lo kesal sama gua gara-gara ganggu nonton flim india lo. maaf lah!" ujar Danera cengengesan menampilkan gigi putih.
"Ye. udahlah, lo ngapain kesini? kan nanti malam acaranya." tanya Almira mendudukan di sofa empuk.
"Gua kesini mau bilang. hati-hati sama Roy, Al." ujar Danera serius membuat Almira kaget.
Tatapan Danera yang sangat serius membuat Almira mencerna ucapannya. Danera yang jarang sekali serius, ini pasti sangat penting.
__ADS_1
"Maksud lo apa, Dan?" tanya Almira membuat Danera mendekatkan tubuhnya ke samping Almira.
"Putusin Roy, Al. dia gak baik buat lo. Orang baik di luar, belum tentu baik. begitupun sebaliknya, Al."