
"ALMIRA, YUHU... BERANGKAT SEKOLAH YUK..."
Teriakan sangat kencang dan memenuhi di luar rumah, sehingga pintu rumah yang di sebelah terbuka menampilkan raut wajah garang sambil berkacak pinggang menatap Danera yang sudah bersembunyi di belakang tubuh Nera.
"DANERA KUILAND, JANGAN BERTERIAK... KALAU KAMU TERIAK LAGI, KU SEMBELIH DIRIMU. PAHAM?" teriak seorang wanita paruh baya yang memakai baju daster bercorak bunga-bunga warna warni.
Danera mengangguk berkali-kali dengan cepat, dia hanya bisa mendumel di dalam hati saat mendengar kalau seorang wanita paruh baya itu juga teriak malah lebih kencang.
Setelah itu, wanita paruh baya masuk ke rumah lagi sambil menutup pintu bewarna coklat itu dengan kerasa hingga meninmbulkan bunyi membuat Danera terlonjak kaget.
Tawa Almira terdengar dari dalam rumah lalu berjalan menghampiri kedua sahabatnya dengan tawa. Danera mendengus kesal melihat Almira yang sedang menertawakan dirinya, berbeda lagi dengan Nera yang hanya tersenyum tipis menatap raut wajah dari kedua sahabatnya yang menampilkan raut wajah yang berbeda.
Di dalam hati, Nera sangat bersyukur mendapatkan sahabat yang seperti Almira dan Danera.
Betapa beruntungnya Nera.
"Gak berangkat ke sekolah? Sudah jam tujuh pas loh." ucap Kenzo tiba-tiba keluar dari rumahnya dengan nada santai berjalan kearah Almira sambil merapihkan hijab istrinya.
"HAH, JAM TUJUH?"
Setelah teriakan Almira dan Danera, mereka langsung melihat jam tangan masing-masing yang membenarkan ucapan Kenzo membuat mereka melototkan kedua mata.
Danera dan Nera sudah lari, berbeda lagi dengan Almira yang bersalaman dulu kepada Kenzo dengan tidak santai membuat Kenzo merasa gemas. Almira mencoba melepaskan kedua tangan Kenzo yang masih mencubit kedua pipi untuk segera lari bersama kedua sahabatnya, tapi itu sia-sia belaka.
Almira memohon dengan raut wajah menatap Kenzo untuk melepaskannya.
Kenzo yang melihat raut wajah dari Almira menjadi tidak tega, langsung melepaskan dan dalam sekejap Almira berlari meninggalkan tempat Kenzo berdiri yang hanya geleng-geleng kepala karena lucu melihat Almira.
"Gemas banget sih, istri ku."
***
"PAK, BUKA DONG GERBANGNYA..."
Teriakan itu terus terucap dari mulut Almira dan Danera yang berada di luar sekolah membuat pak satpam menghela nafas lelah menanggapi mereka.
Pak satpam itu hanya melihat dari pos menatap mereka yang terus saja berteriak kata-kata yang sama.
"Wah... Wah... Seorang Almira Sayyida Alindra juara satu paralel, terlambat... Uluh kasihan sekali..."
Suara itu dengan nada mengejek membuat ketiga gadis menoleh kearah sumber suara, saat mengetahui siapa yang berbicara itu membuat mereka mengepalkan kedua tangan di samping badannya.
Ella, yups yang bicara seperti adalah Ella musuh dari Almira.
"Dasar, Setan." gumam Almira sangat pelan yang hanya bisa di dengar dirinya dan Nera yang berada di sampingnya.
"Pak satpam, jangan bukain gerbang untuk mereka. Bukain saat jam istirahat saja, pak." suruh Ella kepada pak satpam yang hanya mengangguk pelan sambil menatap Almira.
Almira dan pak satpam itu cukup terbilang dekat, karena Almiralah yang mencarikan pekerjaan dan mendapatkan kerja di sekolah itu sebagai satpam.
"Bay, bay, bay cabe." lambaian tangan Ella kepada Almira dan kedua sahabatnya.
"LO TUH, CABE." teriak Danera sangat kencang akibat dia sudah kesal dan emosi kepada Ella.
"Lihat saja nanti, Ella. Gue akan bales lo dengan setimpal." batin Almira tersenyum sinis menatap punggung Ella yang mulai menjauh.
__ADS_1
Nera hanya memandang tanpa mengucapkan apapun, dia sudah cukup mengerti dengan pembalasan Almira kepada musuhnya.
Dia hanya diam.
***
"Al, sudah selesai. Gue pastikan, kalau dia akan teriak heboh."
Ucapan Danera dengan memandang lurus ke depan dan bernada senang kepada Almira yang tersenyum penuh arti menatap lurus ke depan. Nera hanya memandang diam menampilkan raut wajah seperti biasa, tanpa ekspresi.
"Ayo ke kantin." ajak Nera yang langsung di anggukki senang oleh Almira dan Danera.
Almira langsung merangkul pundak kedua sahabatnya sambil berjalan bergembira. Danera tersenyum lebar dan Nera hanya tersenyum tipis.
Mereka baru saja bisa masuk saat bel istirahat, ucapan Ella membuat pak satpam itu menjadi kenyataan bagi ketiga gadis tersebut. Tapi mereka tidak marah kepada pak satpam, melainkan kepada Ella.
Saat berada di kantin, Almira langsung saja memesan makanan dan minuman untuk dirinya dan kedua sahabatnya yang sedang mencari tempat duduk.
Almira membayangkan raut wajah ketakutan tercetak jelas di Ella, dia merasa sangat bahagia padahal itu masih membayangkan saja apalagi menjadi kenyataan.
Di lain tempat, Ella beserta ketiga temannya berjalan memasuki kelas mereka yang tertutup.
Ella membuka pintu dengan gaya pelan, tiba-tiba ada air diatas pintu itu sehingga mengenai Ella membuat si empu basah kuyup seluruh badan. Seragam yang di kenakan Ella sangatlah tipis sehingga lekuk badannya tercetak jelas membuat dia sangat malu.
Kedua mata Ella memejamkan saat air itu jatuh ke badannya.
Ketiga teman Ella hanya menatap terkejut dan diam di tempat.
Saat Ella melangkah satu kali, tiba ada tepung jatuh ke kepala Ella sehingga membuat dia memejamkan kedua mata merasakan tepung yang menjadi lengket di badannya.
"AKKHHH...." teriak Ella saat telur busuk jatuh diatas kepala.
Sebab teriakan Ella, semua murid berlarian melihat si empu. Saat melihat Ella yang sudah bercampur telur busuk yang membuatnya memancarkan bau tidak enak, semua murid langsung menutup hidung dan mulut karena terkejut melihat penampilan Ella.
Berbeda dengan Almira yang tersenyum senang menatapnya. Ella yang merasa di tatap mencemooh dari para murid lainnya merasa kesal dan malu.
Tidak ada yang tau kalau Almira dan kedua sahabatnya sedang tersenyum sinis kearah Ella yang sedang di bantu oleh ketiga sahabatnya untuk keluar dari kelas yang banyak sekali kerumunan para murid lainnya.
"Lo salah cari lawan, Ella." batin Almira tersenyum senang menatap punggung Ella yang sudah sedikit jauh dari kerumunan.
"Almira di lawan." batin Danera dan Nera secara bersamaan.
***
Kring... Kring... Kring...
Bel berbunyi tiga kali menandakan saatnya waktu pulang membuat para murid bersorak senang, tak lupa juga dengan Almira dan Danera ikut seperti murid lainnya. Kecuali Nera yang hanya diam sambil membereskan peralatan sekolah yang berada di atas meja tempat duduknya.
Sejenak, Almira melupakan Ella yang masih berada di dalam toilet wanita bersama ktiga temannya.
Ketiga gadis itu keluar dari kelas menuju parkiran, betapa terkejutnya saat ada Kenzo, Rio, dan Nigel di dalam mobil terparkir di depan yang masih mengenakan baju dinas Polisi.
"Sorry, gue yang tadi telfon Rio." ucap Danera sambil menyengir menampilkan deretan gigi putihnya kepada Almira dan Danera yang sedang menatap tajam sampai seperti mereka akan memangsanya hidup-hidup.
"Lo-"
__ADS_1
"ALMIRA SAYYIDA ALINDRA, TERNYATA LO BIANG KEROKNYA. SIALAN LO."
Bentak seseorang dari arah belakang sangat kencang, sehingga para murid lainnya yang masih berada di area sekolah menatap kearahnya dengan pandangan tertarik akan penasaran apa yang akan muncul dalam drama mereka.
"Itu balasan yang setimpal buat lo, Ella. Sebenarnya sih, gue belum puas sama lo." ujar Almira dengan nada penuh remeh sambil menatap kearah Ella dengan pandangan sinis.
"Lo-"
"Almira."
Panggilan bernada berat dan seksi membuat semua pandangan teralihkan kearah Kenzo yang berjalan sambil menampilkan raut wajah datar seperti biasa yang tanpa ekspresi.
Kata-kata kagum dari mulut murid lainnya atas ketampanan Kenzo dan yang lebih membuat Kenzo menjadi pusat perhatian adalah karena baju dinas Polisi yang membuat mereka menatap bingung. Kenzo berada di depan Rio dan Nigel yang berjalan menghampiri suasana ramai itu.
"JAGA TUH PANDANGAN, MAU GUE COLOK LO SEMUA, HAH?" bentak Danera sambil menatap tajam kearah para murid sehingga mereka merasa ketakutan dengan pandangan Danera.
Rio langsung berada di samping Danera sambil menampilkan senyuman goda kepada pacarnya. "Cie, lagi cemburu." bisiknya yang hanya di balas tatapan tajam dari Danera.
Berbeda lagi dengan Nigel dan Nera yang saling melemparkan tatapan sinis dan mencemooh antara satu sama lain.
Kenzo menghampiri Almira yang di depannya Ella sedang merapihkan tatanan rambut panjangnya sambil melembutkan raut wajah yang tadi sedang marah agar membuat Kenzo terpesona atau tertarik dengannya.
Almira yang menatap Ella memutar bola matanya malas memandang Ella yang berlaku sok kecantikan di depan Kenzo.
Almira beralih menatap Kenzo saat cowok itu memegang sebelah tangan dengan tatapan datar yang di terima Almira, dia tidak tau apa arti pandangan itu.
Semua terkejut saat melihat Almira tidak menghempaskan seseorang yang memegang tangannya.
"Ayo pulang." ajak Kenzo langsung menarik pergelangan tangan Almira agar pergi dari area sekolah.
Prok... Prok... Prok...
Suara tepuk tangan membuat Almira dan Kenzo berhenti tanpa menoleh kearah si pelaku.
"Wah... Ternyata selama ini Almira hanya sok suci saja. Saat masih berpacaran dengan ketua Osis kita saja, dia tidak mau berpegangan tangan. Tapi sekarang sama Om ini, MAU GAES..." ucap Ella menekankan kata terakhir membuat Almira dan Kenzo menoleh kearahnya yang sedang tersenyum remeh.
Semua mata mengarah kearah Almira dan Kenzo yang berjalan menghampiri Ella yang masih menampilkan raut wajah sama.
Plak!
Bugh!
Tamparan dan Pukulan melayang ke pipi Ella dan perutnya yang membuat dia langsung tersungkur ke bawah, para murid lainnya memandang terkejut saat melihat kemarahan Almira yang sangat menakutkan.
Wajah merah, kepalan tangan yang mengerat, dan jangan lupakan tatapan tajam yang sangat mematikan beserta senyuman seringai yang di tampilkan Almira kepada musuhnya yang membuat lawannya merasakan ketakutan dan gemetar hebat.
"Seenaknya lo bilang begitu tentang gue, maka pembalasan yang sangat mengerikan jatuh kepada lo." ujar Almira yang membuat semua membeku takut.
Tidak jaug beda dengan Dabera yang sudah berada di belakang tubuh Nera setelah melihat kemarahan Almira yang seperti masa lalu. Itu yang membuat Danera merasa takut saat mengingat sahabatnya sangat kejam.
Nera mencoba menenangkan ketakutan Danera dengan mengelus sambil memeluk tubuh yang sudah gemetar itu, diantara mereka Danera lah yang lemah.
Almira menundukkan kepala, berjongkok untuk mensejajarkan ke telinga Ella. "Selamanya." bisiknya dengan nada penuh penekanan yang membuat Ella makin merasa ketakutan.
"Marahnya orang ceria itu lebih menakutkan." ucap Nera.
__ADS_1