
"Temukan pria itu sampai dapat, saya tidak mau kalian gagal dalam penangkapannya."
Tut... Tut... Tut...
Sambungan telepon langsung saja dia mati kan dengan perasaan kesal dan campur khawatir.
Pria itu membuang nafasnya dengan kasar sambil mengusap wajahnya seperti sedang frustasi, Rio yang melihat sahabatnya menatap iba dan kasihan ke arah Kenzo yang sangat frustasi membuatnya mengusap bahu pria tersebut dengan telapak tangannya.
"Ken..." panggil Rio dengan nada pelan membuat pria itu mendongak kan wajahnya menatap ke arah sahabatnya yang sedang memandang khawatir terlihat sekali.
"Waktu gue tidak banyak, Rio." balas Kenzo dengan nada pelan seperti tidak punya tenaga membuat Rio mengepal kan sebelah tangan di ujung bajunya.
"Gue hanya ingin bersama Almira meskipun melaku kan cara kotor dan kejahatan sekali pun, gue tidak mau mengulangi kesalahan gue yang membuat kami berpisah. Tetapi kenapa rasanya sangat susah, gue sudah mendapat kan cinta gue lagi, lalu kenapa takdir makin memain kan kami Rio, kenapa? Apa yang gue lakukan semuannya ini untuk gue bisa bersama dengan perempuan gue cintai sampai gila seperti ini." ujar Kenzo dengan panjang sambil memandang lurus ke depan tidak tau apa yang sedang di fikir kan oleh pria tersebut.
"Begini saja, ajak Almira agar tidak sampai bertemu dengan mantan pacarnya dan gue akan cari pria itu sampai ketemu. Jadi jangan putus asa seperti di masa lalu Ken, ingat ini, lo pasti bahagia sama Almira suatu saat nanti." balas Rio dengan idenya lalu menepuk bahu sahabatnya lagi seperti menenang kan dan pergi dari tempat tersebut dengan lari.
Melihat tubuh Rio sang sahabat yang mulai menjauh dan tidak terlihat, Kenzo langsung saja duduk di kursi panjang yang sampingnya pintu ruangan gelap tadi. Dirinya tidak membersih kan badan melain kan Kenzo merenung dengan diam menatap ke depan.
"Waktu gue hanya sedikit, apa pun halangan untuk gue dan Almira bersatu bakal aku hilang kan dan aku basmi tanpa ampun. Gue gak mau kaya di masa lalu lagi yang membuat aku gila dan kambuh, huh... Rasanya sangat sakit..." ucap Kenzo dengan menyanggah badannya memegang dinding dan memejam kan kedua mata untuk bisa mengurangi rasa sakit.
Tanpa di ketahui sang istri, kalau sebenarnya Kenzo menyidap penyakit Kanker Otak stadium akhir saat ini, di masa lalu Kenzo sudah pergi ke luar negeri untuk penyembuhan otaknya meskipun dirinya tidak mau di operasi tapi Kenzo selama sembuh sudah tidak pernah merasa kan sakit. Yang mengetahui alasan kenapa Kenzo jahat telah menghina dan meninggal kan Almira adalah tentang penyakit yang di deritanya, yang tau pun hanya keluarganya, Rio, Edo, dan juga Almarhum Oma Diana. Makanya mereka sangat mendukung kalau Almira nikah dengan Kenzo saat itu.
Tetapi tiba tiba saja rasa sakit yang tidak pernah ia rasa kan muncul sekarang ini, Kenzo memejam kan kedua mata agar bisa menahan rasa sakit di kepalanya sampai sampai pria itu harus memeras rambut hitam legamnya sehingga mengakibat kan tidak rapi dan acak acak kan.
"Kenapa harus saat saat ini sih, ini adalah waktunya aku harus berjuang untuk menyingkir kan para hama yang ingin menjauh kan dirinya dan sang istri tercinta. Aku tidak boleh terlihat lemah seperti ini, meskipun aku mengetahui kapan waktu ku sudah habis, tetapi sebelum itu aku harus membuat kenangan indah bersama Almira." ujar Kenzo meskipun dengan suara pelan tapi masih ada tersirat suara tegasnya seperti biasa.
Kenzo tidak peduli dengan sebutannya kalau dirinya adalah pria yang kejam, dia hanya ingin menikmati waktunya dengan Almira sang perempuan yang dia cintai sangat dalam. Meskipun dirinya adalah seorang Polisi, Kenzo juga manusia yang mempunyai perasaan egois untuknya sendiri.
Kenzo sangat mencintai Almira sangat dalam, tidak peduli kalau cintanya itu di anggap obsesi oleh orang lain. Dirinya tidak memperduli kan orang lain yang menilainya.
Yang terpenting sekarang adalah dirinya sendiri dan sang istri.
Hanya itu saja tidak ada yang lain.
__ADS_1
"Akhhh..." geraman Kenzo keluar dengan nada keras sambil memukul keningnya berkali kali karena merasa kan kesakitan yang sangat dalam seperti di masa lalu.
Kenzo menyembunyi kan raut wajah kesakitannya di atas pahanya meskipun tidak ada orang sama sekali di ruangan rahasianya, tetapi dirinya sekarang merasa kan kesakitan yang begitu dalam saat memikir kan kalau Roy akan mengambil Almira darinya membuatnya makin pusing yang dia dera.
"Gue tidak peduli dengan orang lain yang menyebut kan kalau gue monster, yang terpenting adalah dirinya bersama Almira dan membuat kenangan yang indah." batin Kenzo sambil menahan rasa sakit yang terus saja menyerang.
Di lain tempat, seorangan perempuan yang sedang membolak balik kan badannya ke kanan dan ke kiri karena bosen sambil memain kan ponselnya dengan raut wajah cemberut, melirik ke arah pintu yang masih tertutup dan tidak ada tanda tanda terbuka dari luar membuat dia menghela nafas kesal.
Almira duduk dari rebahan malasnya dan menaruh ponsel ke meja kecil yang di sampingnya ada lampu sambil bersekedap dada menatap ke arah pintu yang tidak ada gerak geraknya sama sekali.
"Awas saja kamu Mas kalau masuk ke kamar ini, akan ku pasti kan kamu mendapat kan hukuman dari ku." ucap Almira dengan nada kesal yang sudah di ujung kekesalannya lalu mempergerak kan seperti meninju ninju seseorang meskipun hanya angin lalu saja.
Drt... Drt... Drt...
Ponsel yang berada di atas meja kecil itu berbunyi membut Almira yang sejak tadi menatap ke arah pintu terkunci itu segera mengalih kan pandangan ke arah ponselnya dan mengambil dengan pelan lalu melihat nama di layar yang bertulis kan Abang Tersayang alias Edo Alindra, dengan cepat Almira menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan mengarah kan ke sebelah telinga kirinya.
"Assalamualaikum, Dek." salam di seberang penelpon.
"Abang cuman mau ajak kamu liburan untuk pengganti hari bulan madu kamu waktu itu, tapi Abang sudah membeli kan tiket untuk kamu dan Kenzo di Bali hanya dua hari saja, besok kan kamu akan pulang karena udah selesai. Kamu mau kan Dek?" ucapan Edo dengan nada bertanya dengan panjang membuatnya harus menghela nafas berkali kali.
"Wah, aku mau Bang. Nanti aku langsung kasih tau ke Kenzo, terima kasih Bang Edo. Abang Edo yang memang terbaik, tau saja apa yang aku mau tanpa aku kasih tau." jawab Almira dengan nada gembira dan semangat tanpa curiga sama sekali.
"Iya Dek, karena Abang sangat menyanyangi kamu. Kalau gitu Abang mau lanjut dengan pekerjaan dulu ya, Assalamualaikum Adeknya Abanag yang cantik." ucap Edo dengan nada sedikit menggoda di akhir katanya.
"Waalaikum salam Abang yang tampan..." balas Aira dengan nada semangat yang membuat Edo yang di seberang sana geleng geleng kepala sambil tersenyum kecil mendengarnya.
Ceklek.
Pintu terbuka membuat Almira langsung menyimpan ponselnya dan menatap ke arah siapa yang akan masuk ke ruangannya, tapi saat melihat kalau yang masuk adalah suaminya membuat Almira menampil kan raut wajah kesal dan melipat kan kedua tangan di depan dadanya, Kenzo yang di tatap dengan pandangan kesal membuat pria itu tersenyum kecil melihatnya merasa lucu karena tatapan dari istrinya itu.
"Sini kamu Mas, mau ku hukum kamu karena mengunci kamar ini sehingga aku tidak bisa makan dan juga bosan tungguin kamu." ujar Almira yang masih mempertahan kan nada kesal dan tatapan raut wajahnya.
"Aku sangat mencintai kamu Almira, aku tidak akan membiar kan kejadian di masa lalu terulang lagi, aku tidak mau kalau kamu pergi meninggal kan aku sendiri, tidak akan pernah karena kamu hanya milik ku saja. Akan ku habis kan siapa pun yang menjadi penghalang di hubungan kita atau pun yang membuat kamu tidak nyaman." batin Kenzo di dalam hati dengan mantap dan pandangannya tidak mengalih kan ke arah mana pun hanya menatap ke arah Almira yang berada di atas kasur empuknya.
__ADS_1
***
"Besok hari terakhir pelatihan dan juga hari terakhir gue ketemu sama Almira."
Ucapan dengan nada lirih dan tatapan lurus yang ke depan berada di taman belakang dengan duduk di kursi panjang, hatinya sekarang sedang sedih karena dirinya harus berpisah dengan sahabatnya yang baru saja bertemu saat mereka ada di kota yang sama tanpa sengaja.
Tetapi dirinya sangat senang bisa bertemu dengan sahabatnya, sangat senang.
"Sayang, kenapa disini sendiri hem?"
Pertanyaan yang tiba tiba keluar suara dari arah belakang membuat perempuan itu menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah pria yang dengan seenaknya saja memanggil dirinya dengan kata yang sangat menjijikan bagi dirinya sendiri. Tatapannya makin menajam dan datar saat pria yang memanggilnya dengan kata menjijikan itu duduk di samping tubuhnya dengan anteng tanpa rasa bersalah sekali pun.
"Ngapain lo kesini hah? Gue lihat wajah lo saja sangat muak Rio." ujar Danera dengan nada ketus dan tatapan sinis membuat pria yang ada di sampingnya mencoba menahan emosinya karena perempuan itu sering sekali menolaknya mentah mentah.
Tetapi saat mengingat kelakuan dirinya yang membuat Danera seperti sekarang ini yang sangat benci sekali kepadanya membuat Rio menyesal sudah berselingkuh di belakang Danera. Rio sangat susah untuk menghilang kan sifat playboynya denhan cepat makanya dia harus butuh proses, tapi sekarang ini Rio sudah bisa mengendali kan rasa tertarik kepada perempuan lain.
Saat bisa mengandal kan perasaannya tetnyata perempuan yang dia cintai malah membenci dirinya, itu sangat menyakit kan bagi seorang Rio. Tetapi ini memang salahnya telah membuat Danera membenci kepadanya, Rio menerima akibatnya yang apa telah dia lakukan.
"Lo pergi atau gue yang pergi hah?" tanya Danera dengan nada tegas membuat tatapan Rio langsung menatap ke arah perempuan itu dengan lekat yang memandang datar ke arahnya.
"Dan, gue mau ngomong sama lo. Please jangan seperti i-"
"Oke, gue yang pergi." sahut Danera langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggal kan Rio yang tidak bisa mencegah dirinya.
Rio menatap terus ke arah punggung Danera yang masih terlihat, mengepal kan kedua tangan untuk menguat kan dirinya dan akan melaku kan ide yang tiba tiba ada di kepalanya.
"DANERA, GUE TIDAK AKAN MAU MENYERAH BUAT DAPETIN KAMU LAGI. KARENA KAMU HANYA MILIK KU SAJA, BUKAN ORANG LAIN." teriak Rio sangat lantang dan keras masih bisa di dengar oleb Danera karena perempuan itu belum jauh sekali dari tempat mereka tadi.
Danera yang mendengar itu bukannya senang melain kan dirinya makin kesal kepada Rio, kedua tangannya meremas ujung bajunya untuk menyalur kan kekesalan yang ada di dirinya.
Danera memutar bola matanya malas merasa tidak peduli dengan ucapan dari Rio, Dabera membuat kalau ucapan Rio hanya angin berlalu saja.
"Gue gak peduli sama anaknya Monyet." gumam Danera dengan suara pelan.
__ADS_1