Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
ENAM


__ADS_3

Di sebuah cafe anak zaman milenial terdapat tiga cewek duduk di arah pojok samping jendela transparan dengan canda tawa, mereka tidak mengetahui kalau ada seseorang yang memperhatikan, lebih tepatnya hanya kepada Almira.


"Yok cari tempat duduk, malah bengong." kesal Rio teman Kenzo.


Kenzo hanya mengangguk membuat Rio mendengkus kesal kepada kulkas berjalan, mereka tidak memakai seragam dinas polisi, tapi memakai baju santai dengan kaos hitam lalu Kenzo pakai topi putih bersih. keduanya mengedarkan pandangan mencari tempat.


Penuh. satu kata yang menggambarkan di pikiran mereka.


"Nah itu, duduk di mereka aja." tunjuk Rio kepada cewek-cewek yang sedang tertawa.


Kenzo menelan salivanya susah payah saat yang di tunjuk itu Almira dan teman-temannya. sebelum Kenzo menjawab, Rio sudah menariknya kearah mereka.


Sampai di tempat itu, Rio langsung meminta izin untuk bergabung dan Danera mengiyakan. Kenzo duduk di samping kanan Almira, dan Almira diam memasang wajah datar. Kenzo tahu kalau Almira sangat membencinya.


"Ternyata pak polisi ini calon suaminya Al ya, cieee pak polisi." goda Danera seketika membuat Kenzo gugup dan salting yang hanya ditutupi dengan wajah datar saja.


"Makanya, jangan terlalu benci sama polisi, jadinya lo dapat polisi kan." sambung Danera makin gencar menggoda Almira.


"Diem deh, Dan." ketus Almira membuat Danera dan Rio tertawa.


Danera menghentikan tawanya saat memikirkan sesuatu, "Gua penasaran Al, kenapa sih lo segitu bencinya sama profesi polisi?" tanya Danera membuat semua menatap kepo juga.


"Karena ada seseorang cita-citanya menjadi polisi." jawab Almira sambil mengaduk kopi latte-nya.


Danera menatap lekat kepada Almira lalu terpekik saat mengingat sesuatu, "Wah... gua tau, gua tau. pasti itu sahabat lo kan, itu loh namanya, aduh siapa sih—"


"Gara." ujar Almira membuat Kenzo menatapnya sendu.


Ada rasa sesak di hati menjalar di sekujur tubuhnya. Kenzo tahu, kalau ada dua pasang mata menatapnya. Kenzo tidak mengalihkan pandangannya dari Almira yang tidak menatapnya sama sekali.


Rio menepuk lengan kiri Kenzo menenangkan sahabatnya yang hanya diam. Nera yang kesal dengan Almira langsung menyenggol kakinya yang di bawah membuat si empu menoleh menatap dengan menaikkan satu alis bertanya dan di jawab menunjuk pakai dagu kearah Kenzo yang masih setia menatap lekat.


Almira menatap Kenzo dengan menaikkan satu alisnya membuat si empu gelagapan dan memalingkan wajahnya membuat tawa Danera dan Rio menggelegar, Nera hanya tersenyum tipis menatap sepupunya yang lagi salting.


"Coba aja kalau situasi gak kaya gini, pasti gua langsung ketawa bareng lo, Gara." batin Almira dengan diam.

__ADS_1


Mereka menikmati canda tawa kecuali Kenzo yang hanya tersenyum tipis menanggapi lelucon mereka. Kenzo mengingat saat masa kecil bersama Almira yang sedang bermain di rumah Kenzo, tapi tiba-tiba kejadian saat dirinya memarahi Almira sehingga membuat mereka berpisah dan saling membenci. di dalam hatinya Kenzo sangat menyesal saat tidak percaya dengannya ataupun mendengarkan penjelasannya.


Kenzo merutuki kebodohannya dan sekarang mereka di pertemukan oleh takdir Allah.


Tiba-tiba ada tepukkan di bahu membuatnya membuyarkan lamunan dan menoleh mendapati Rio yang menaikkan satu alis bertanya, Kenzo hanya menjawab dengan gelengan kepala membuat sang sahabat mendengkus kesal dengan kulkas satu ini.


"Kenzo, kita di suruh ke kantor Oma sekarang." ujar Almira membuat semua menatapnya.


Kenzo hanya mengangguk dan berdiri tanpa berpamitan dengan mereka. Almira langsung pamit ke sahabat-sahabatnya dan Rio, mereka menjawab mengangguk.


Amira berada di belakang Kenzo dengan menatap punggung tegap tatapan sendu. dia merasa di permainkan oleh takdir saat bertemu dengan orang yang sangat ia benci.


"Gua sayang lo, tapi juga gua benci lo, Gara." gumam Almira pelan tapi masih bisa di dengar Kenzo.


Apa Kenzo harus senang atau sedih disini? dia senang bila orang di cintainya sayang kepada dirinya, tapi sedih saat orang di cintainya membenci dirinya juga.


***


Hanya ada keheningan di dalam ruangan tunggu, Almira ataupun Kenzo membungkam mulutnya bingung mau membicarakan apa. selah lama keheningan ada seseorang yang membuka pintu hingga berbunyi nyaring karena tidak ada suara selain itu, keduanya menoleh menatap seseorang itu dengan berjalan anggun.


Oma Dania, yang biasanya hanya di panggil Oma saja.


"Sudah lama?" tanya Oma dengan senyum kecil.


Almira dan Kenzo mengangguk secara bersamaan membuat ketiga paruh baya melebarkan senyumnya. berbeda dengan Almira ataupun Kenzo yang terkejut saling tatap. Kenzo langsung cepat memasang wajah datar lagi dan Almira hanya menunduk malu.


Oma Dania dan Mama Mawar sangat heboh menggoda calon pasutri itu. sangat-sangat antusias.


"Sudahlah..." rengek Almira jengah dengan mereka yang makin gencar menggodanya.


"Sudah-sudah, lihat tuh pipinya Almira merah karena malu. kita lanjutin pembicaraan tentang pernikahan mereka." tegur Papa Andrian dengan tersenyum.


"Papa Andrian sama aja." kesal Almira dengan cemberut.


Kenzo yang melihat sangat gemas, dengan refleks Kenzo menarik mulut yang cemberut itu sambil tersenyum kearah Almira yang mematung kaget dan mengacak-acak puncuk hijab membuat berantakan.

__ADS_1


Ketiga paruh baya hanya tersenyum senang dan berdo'a dalam hati semoga mereka bisa menjadi suami istri yang berbakti dan bahagia.


"Silahkan duduk, mari kita menentukan tanggal pernikahan untuk mereka berdua." ujar Oma dengan tegas menatap Almira dan Kenzo yang berada di depannya.


"Katanya Kenzo, dia ingin tanggal saat Almira ulang tahun." ujar Andrian.


"HAH? DUA HARI LAGI DONG..." teriak Almira kaget membuat semua terlonjak kaget.


Oma melirik sinis kearah cucu laknatnya dan Almira yang tersadar dengan kesalahan langsung meminta maaf dan mereka mengangguk kecuali Oma-nya.


"Lebih cepat, lebih baik." tegas Oma tak ter-bantahkan.


Almira hanya menghela nafas kasar dan kesal secara bersamaan kepada Oma-nya. Almira memikirkan pacarnya, apa dia harus putus dengannya. Almira menarik pergelangan tangan Kenzo tanpa pamit, keluar menuju taman belakang kantor dan mereka duduk di kursi panjang bewarna coklat ke-emasan.


"Emang harus secepat itu?" tanya Almira dengan melipatkan kedua tangan di depan dada.


Tidak ada jawaban dari mulut Kenzo, hanya ada tatapan datar kearahnya.


"Gua punya pacar—"


"Putusin." potong Kenzo dengan singkat.


"Gak aka—"


"Kamu sama dia berbeda Al, tuhan kalian beda. kamu pergi ke masjid dan dia pergi ke gereja. islam melarang menikah dengan berbeda agama." ujar Kenzo dengan bernada lembut agar bisa di pahami dengan Almira.


Almira menunduk, ucapan Kenzo benar membuat dia malu sendiri. tapi otaknya menentang, dia ingin bersama dengan Roy.


"Putusin di—"


"Gak akan." ujar Almira langsung melengang pergi tanpa menghiraukan Kenzo yang sakit hati.


Kenzo hanya menatap punggung Almira dengan hati yang sakit, dia tahu kalau Almira tidak mencintai pacarnya. tapi kenapa dia tidak mau memutuskan hubungan antara mereka, apa yang membuat Almira tidak mau putus dengannya? apa karena kebencian terhadapnya? atau ingin membalaskan dendam kejadian masa lalu?


Kenzo mengusap wajahnya kasar lalu berdiri mengikuti Almira dari belakang mengikuti tanpa sepengetahuan Almira. keningnya berkerut saat Almira menuju roftoop bukan ruangan tadi.

__ADS_1


Almira memegang pembatas dan menatap langit dan Kenzo hanya berdiri di belakangnya tanpa ada suara. tidak ingin mengganggu Almira, Kenzo membalikkan badannya. tapi, saat suara Almira membuatnya berhenti mendadak.


"SAY CINTA KAMU, GARA. TAPI SAY JUGA MEMBENCI MU, GARA." teriaknya.


__ADS_2