Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

"Berhenti dulu, kenapa tidak menyalakan lampu depan? Silahkan ke pinggir dulu."


Suara yang sangat familiar dari telingga tiga gadis itu, langsung saja mereka menoleh kearah Kenzo yang berbicara sangat panjang itu menatap gadis SMA sedang di giring oleh Kenzo.


Dari seragam gadis itu, Almira bisa menebak kalau gadis itu bersekolah di sebelah sekolahnya. Sekolah mereka dengan sekolah sebelah adalah musuh, tidak mau kalah dari apapun. Saling mengunggulkan masing-masing.


Almira, Danera dan Nera mengernyitkan keningnya saat melihat senyuman senang dari gadis itu dan tatapan yang sedari tadi menatap Kenzo sangat intens.


Nera dan Danera saling pandang dengan diam, lalu beralih menoleh kearah Almira yang sedang memandang raut wajah tifak sahabat membuat Danera meringis melihatnya.


"Al, hemm gimana kalau kita ke sekolah saja, sekarang sudah jam setengah tujuh Al." ucap Danera dengan nada takut-takut melihat Almira.


Almira tidak mempedulikan ucapan Danera, dia mengambil botol berisi air putih lalu menghabiskan dengan satu tenggak membuat kedua sahabatnya cengo.


Setelah minuman itu habis, Almira meremas botol plastik itu sehingga menimbulkan sedikit keras membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


Kenzo menatap terkejut melihat Almira yang sedang menatap datar dengan tatapan tajam. Kenzo tidak mengerti dengan suasana hati Almira sama sekali.


"Kenapa sama Almira, sayang?" bisik Rio yang sudah tiba-tiba berada di samping Danera dengan nada pelan membuat cewek itu terlonjak kaget.


Danera menyingkut perut Rio agar diam membuat cowok itu meringis karena kaget bukan kesakitan.


Kenzo beralih mengalihkan pandangan menatap buku tilang yang dia tulis membuat Almira makin kesal.


Membuang botol plastik yang sudah remuk di tempat sampah, lalu pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada kedua sahabatnya.


Danera yang melihat itu langsung saja berteriak sambil menaikki kendaraan menyusul Almira. Berbeda dengan Nera yang menoleh kearah Kenzo yang sedang menatap punggung Almira dengan wajah bingung.


Saat tatapan Kenzo beralih menatap Nera, dengan cepat Nera memberikan tatapan membunuh membuat Kenzo makin bingung tidak mengerti.


"Ada apa sama dia?" batin Kenzo.


***


"Al, ayo ke kantin. Sudah istirahat nih, laper gue."


Suara dari mulut Danera dengab wajah memelas membuat Nera menatap sahabatnya dengan memutar bola matanya malas, selalu saja Danera kalau masalah makanan tidak tau tempat dan situasi.


Almira menatap Danera dan Nera bergantian dengan wajah bingung, sebab dirinya tadi ketiduran di kelas. Tidak tau kenapa, hari ini Almira merasa sangat lelah fisik dan batin.

__ADS_1


Mengingat Justin yang tidak memberikan jawaban dengan keadaan sang Oma membuat dia sensitif sekali.


"Kalian duluan saja, gue masih ngantuk." ucap Almira setelah itu dia langsung membenamkan kepala seperti semula.


Tanpa ada yang tau, Danera membuka ponselnya dan langsung mengirimi pesan ke nomor yang bernama Om Pacar -- itu adalah Rio.


[Beritahu ke Om Kenzo kalau Almira sedang tidak mood, sepertinya Almira marah karena Om Kenzo tidak mempedulikan dia dan malah masih berbicara dengan gadis SMA itu. Almira dari tadi hanya tidur, saat istirahat pun dia tidak mau pergi ke kantin.]


Itulah isi pesan dari Danera membuat Rio membola terkejut. Saat akan menghubungi nomor sang pacar tiba-tiba tidak online lagi membuat Rio mendengus kesal.


Rio langsung berlari kearah ruang Kenzo dengan tergesa-gesa sehingga para Polisi lainnya menatap heran dan aneh tapi tidak di pedulikan oleh Rio.


Di pikiran Rio, dia harus menyampaikan pesan dari sang kekasih. Bagi Rio, itu seperti amanah yang harus dia pertanggung jawabkan.


Ceklek.


Pintu bewarna hitam terbuka kasar oleh Rio membuat Kenzo yang sedang membaca buku mendongakkan kepala menatap heran sahabatnya.


"Ada apa?" tanya Kenzo sambil menutup buku tebalnya.


Menatap raut wajah Rio yang serius dan nafasnya tersengal-sengal membuat Kenzo merasa penasaran akan apa keluar dari mulut Rio. Melihat Rio masih mengatur nafas, Kenzo hanya diam saja memberi ruang waktu untuk sahabatnya.


"Kata Danera, Almira tidak mood dan dia hanya tidir fi kelas tanpa pergi ke kantin saat istirahat pun. Itu semua karena Lo." ucap Rio menjeda untuk melihat raut wajah bingung dari Kenzo.


Hening.


Rio menatap Kenzo yang menimbulkan raut wajah yang sangat sulit dia artikan, karena Kenzo menatap datar tanpa ekspresi kearah depan.


"Apa dia cemburu?" tanya Kenzo pelan dengan pandangan kosong ke depan yang masih bisa di dengar oleh Rio.


"Maybe, kalau gitu gue ke ruangan dulu. Masih banyak banget pekerjaan." ujar Rio yang langsung dianggukki oleh Kenzo.


Pintu tertutup oleh Rio membuat pandangan kosong Kenzo menghilang, menatap kearah cincin pernikahan yang ada nama Almira Sayyida Alindra dengan pandangan lekat.


"Cemburu ternyata, hem." senyum menyeringai sangat terpancar dari wajah tampan Kenzo.


Kenzo mengambil ponsel yang saat menyala terlihatlah wajah dirinya dan Almira memakai baju pengantin. Meskipun Almira hanya tersenyum terpaksa, tapi dia tetap terlihat sangat cantik.


Kenzo memandang wajah Almira yang cantik itu dengan pandangan penuh cinta dan sayang terlihat di kedua mata yang berbinar. Hati menghangat, jantung yang berdetak sangat kencang, membuat senyum manis menarik sudut bibirnya keatas.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai mu sayang, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Tidak menyangka kalau kamu bisa cemburu juga kepada suami mu ini. Tidak akan ku biarkan kamu merasakan sakit hati ataupun sedih, akan ku buat siapapun yang menyakiti kamu. Karena aku sangat mencintaimu, sangat."


***


"KAOS KAKINYA OM RIO BAU, IYUH..."


Teriakan sangat kencang dari mulut Danera dengan berlari menghampiri kedua sahabatnya dan kedua sahabat dari Rio. Rio berlari mengejar Danera sehingga sekarang berada di depan Nera yang memandang tajam karena Danera bersembunyi di belakang tubuh Nera.


"Sayang, ak-"


"Om Rio suruh gue cium bau kaos kaki yang seperti kandang ayam, bau banget." rengek Danera kepada Nera yang menaikkan satu alisnya.


Rio gelimpungan di tatap Nera makin tajam siap akan memangsanya, saat Nera melangkah mendekat dengan cepat Rio mundur ke belakang dan menghampiri Nigel dan Kenzo yang sudah berada di belakang tubuh kedua sahabatnya.


Kenzo hanya memandang seperti biasa yaitu datar tanpa ekspresi. Berbeda lagi dengan Nigel yang memandang Nera dengan senyuman manis, berniat membuat Nera agar terpesona.


Nera mengambil paksa kaos kaki yang berada di tangan kanan Rio, langsung saja Nera menempelkan kaos kaki itu di hidung Rio, sangat menempel sampai membuat Rio memerah wajahnya karena mencium bau tidak sedap dari kaos kaki dirinya sendiri.


"HAHAHAHA..."


Tawa dari Nigel, Danera dan Almira sangat kencang melihat betapa tersiksanya Rio atas tindakan Nera yang tiba-tiba sampai tidak bisa mengelak.


Kenzo yang merasa kasihan kepada Rio langsung saja mengambil kaos kaki itu sehingga Rio menghembuskan nafas lega. Betapa tersiksanya Rio, menghirup oksigen banyak-banyak dan mengatur wajah yang memerah.


Danera yang sudah meredakan tawanya langsung menghampiri Rio dan mengelus rambut hitam legamnya membuat cowok itu menatap sang kekasih dengan wajah memelas.


"Gimana? Enak bau kaos kakinya?" tanya Danera dengan nada menggoda kepada Rio.


Grep.


Rio langsung memeluk tubuh Danera dengan erat sambil bergumam kata maaf ke telinga Danera tanpa ada yang mendengar kecuali mereka berdua dan Allah.


Danera melepas pelukan mereka dengan kasar karena merasa terkejut ada cowok yang memeluknya, selama ini belum ada seperti Rio kepadanya.


Danera melepas pelukan mereka dengan kasar karena merasa terkejut ada cowok yang memeluknya, selama ini belum ada seperti Rio kepadanya.


Bagi Danera, ini sangat aneh.


"Ternyata bau kaos kaki ku tidaklah enak, kotoran ayam saja kalah bau tidak enaknya dari kaos kaki ku."

__ADS_1


Bagi Danera, ini sangat aneh.


"Ternyata bau kaos kaki ku tidaklah enak, kotoran ayam saja kalah bau tidak enaknya dari kaos kaki ku."


__ADS_2